Faidah Hadits Arba’in

Hadits no. 2

2. عَنْ عُمَرَ بن الخَطَّابِ – رضي الله عنه -، قال : بَينَمَا نَحْنُ جلوس عندَ رَسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – ذاتَ يومٍ ، إذْ طَلَعَ علينَا رَجُلٌ شَدِيدُ بياضِ الثِّيابِ ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعْرِ ، لا يُرى عليهِ أثَرُ السَّفَر ، ولا يَعرِفُهُ مِنّا أحدٌ ، حتَّى جَلَسَ إلى النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، فأسنَدَ رُكْبَتَيْهِ إلى رُكْبَتَيْهِ ، ووضع كَفَّيه على فَخِذيه ، وقالَ : يا مُحَمَّدُ ، أخبِرني عَنِ الإسلامِ . فقال رَسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – : (( الإسلامُ : أنْ تَشْهَدَ أنْ لا إلهَ إلاَّ الله ، وأنَّ محمَّداً رسولُ اللهِ ، وتُقيمَ الصَّلاةَ ، وتُؤتِي الزَّكاةَ ، وتصومَ رمضَانَ ، وتَحُجَّ البَيتَ إن استَطَعتَ إليه سبيلاً )) . قال : صَدَقتَ ، قال : فَعَجِبنا لَهُ يسأَلُهُ ويصدِّقُهُ .قال: فأخْبِرني عَنِ الإيمان . قال : (( أنْ تُؤْمِنَ باللهِ وملائِكَته وكُتُبِه، ورُسُله، واليَومِ الآخِرِ ، وتُؤْمِنَ بالقَدرِ خَيرِهِ وشَرِّهِ )) . قالَ : صَدَقتَ . قالَ : فأخْبِرنِي عنِ الإحْسَانِ ، قال : (( أنْ تَعبُدَ اللهَ كأنَّكَ تَراهُ ، فإنْ لَمْ تَكُنْ تَراهُ فإنَّهُ يراكَ )) .قال : فأخبِرني عَنِ السَّاعةِ ؟ قال : (( مَا المَسؤُولُ عَنْهَا بأعلَمَ مِنَ السَّائِل )) .قال : فأخبِرني عنْ أَمارَتِها ؟ قال : (( أنْ تَلِد الأمَةُ رَبَّتَها وأنْ تَرى الحُفاة العُراة العَالةَ رعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلونَ في البُنيانِ )) . ثُمَّ انْطَلَقَ ، فلبثْتُ مَليّاً ، ثمَّ قال لي : (( يا عُمَرُ ، أتَدرِي مَنِ السَّائل ؟ )) قلتُ : الله ورسولُهُ أعلَمُ . قال : (( فإنَّهُ جِبريلُ أتاكُم يُعَلِّمُكُم دِينَكُم )) . رواه مسلم

_

2.Dari Umar rodhiallohu ‘anhu juga : Ketika kami duduk-duduk di sisi rosululloh pada suatu hari tiba-tiba seorang laki-laki yang sangat putih bajunya, sangat hitam rambutnya, tidak terlihat dari bepergian dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya, muncul di antara kami sampai ia mendekat kepada nabi lalu menyandarkan lutunya ke lutut rosululloh dan meletakkan tangannya d atas pahanya lalu berkata,’Hai Muhammad kabarkan kepadaku tentang Islam’, maka rosululloh berkata,’Islam kamu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh dan Muhammad adalah rosululloh, menegakkan sholat, berpuasa di bulan romadlon, membayar zakat dan hajji ke baitulloh jika kamu mampu menempuh jalannya’, ia berkata,’Kamu benar’, kami heran, ia bertanya dan membenarkannya. Lalu ia berkata,’Kabarkan kepadaku tentang Iman’, rosul berkata,’Iman kamu beriman kepada Alloh, malaikat-malaikatNya, rosul-rosulNya, kitab-kitabNya, hari ahir dan takdir yang baik dan buruk’. Ia berkata,’Kamu benar’. Ia berkata,’Kabarkan kepadaku tentang ihsan’. Rosul menjawab,’Ihsan kamu beribadah kepada Alloh seolah kamu melihatNya, jika tidak melihatNya maka Ia melihat kamu’. Ia berkata,’Kamu benar’. Ia berkata,’Kabarkan kepadaku tentang hari kiamat’. Rosul berkata,’Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya’. Ia berkata,’Kabarkan kepadaku tanda-tandanya’. Rosul berkata,’Kamu melihat budak perempuan melahirkan tuannya dan kamu melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang dada dan mengambal kambing saling berlomba meninggikan bangunan’. Kemudian lelaki tadi pergi, lalu diam beberapa lama, kemudian rosul berkata,’Hai Umar apakah kamu tahu siapa yang bertanya tadi ? Aku berkata,’Alloh dan rosulNya yang lebih mengetahui’. Rosul berkata,’Dia adalah Jibril datang mengajarkan agama kalian”. (HR.Muslim dalam Shohihnya)[1]

[1] FAIDAH : Pentingnya hadits di mana rosul menyebutkan tingkatan-tingkatan agama, di antara cara mengajar adalah tanya jawab, adab tholabul ilmu didahulukan atas tholabul ilmu sehingga Jibril beradab lalu bertanya, adab pencari ilmu di hadapan guru, memakai baju putih dan mengatur rambut bukan termasuk kesombongan, bertanya termasuk kunci ilmu barangsiapa yang malu bertanya atau enggan terhadap ilmu maka tidak mendapat ilmu, menghadiri majlis ilmu karena padanya terdapat faidah-faidah yang terkadang terluput, sadar dan konsentrasi di majlis ilmu memberikan faidah dalam hapalan dan menyebarkannya sehingga Umar menghapal pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawabannya, jika pertanyaannya umum maka yang utama membatasi jawaban pada masalah yang amat penting, misalnya pertanyaan tentang Islam dan bagian-bagiannya adalah pertanyaan yang umum yang masuk di bawahnya amal-amal luar semuanya akan tetapi rosul membatasi jawabannya pada masalah yang amat penting yaitu rukun Islam, jika berkumpul Islam dan Iman dalam satu nash maka Islam diartinya amalan-amalan yang nampak dan iman ditafsirkan dengan amalan-amalan batin, agama tidak satu tingkatan tetapi bertingkat-tingkat sebagiannya di atas sebagian yang lainnya, paling rendah Islam kemudian Iman kemudian Ihsan, semangat berlomba dalam kebaikan diketahui ketika rosul menyebutkan Ihsan ada dua tingkatan yang satu lebih tinggi dari yang lainnya, jika hati telah menerima iman maka anggota badan tunduk mengamalkan amalan Islam yang nampak, merasa diawasi Alloh dalam ibadah tingkatan Ihsan yang tertinggi yaitu menyembah Alloh seolah melihatnya dan ini menghasilkan rasa takut, jujur dan ikhlas, jika tidak bisa menggapai derajat tertinggi maka hendaklah merasakan dilihat Alloh, rohmat Alloh dilihat dengan bermacam-macam dalil-dalil petunjukNya untuk manusia yang terkadang berupa wahya langsung kepada Nabi, terkadang mengutus Jibril, terkadang berupa lelaki Badui dan terkadang berupa Dahyah alKalbi rodhiallohu ‘anhu, dalil wajibnya sholat dilihat dari perintah sholat selalu memakai kalimat “menegakkan sholat” bukan menunaikan, karena tujuan sholat adalah meluruskannya sampai tidak bengkok dengan menegakkan semua rukun-rukun, kewajiban- kewajiban dan sunnah- sunnahnya sampai terlihat buahnya, perkataan : Aku tidak tahu, tidak mengurangi kehormatan seseorang, jika seseorang ditanya dan tidak tahu jawabannya mengucapkan Allohu a’lam meskipun di majlis yang besar, ahlus sunnah menghususkan kecintaannya kepada Jibril dibanding malaikat-malaikat yang lainnya karena : ia penyampai wahyu kepada Nabi صلى الله عليه وسلم , pujian Alloh kepadanya, membantu orang-orang beriman dalam peperangan melawan kaum kafir, semangatnya mengajarkan agama kepada kaum muslimin, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui perkara ghoib kecuali sedikit yang Alloh kabarkan kepada beliau, menjawab pertanyaan lebih dari apa yang ditanyakan, tidak ada yang mengetahui kapan terjadi hari kiamat, hari kiamat memiliki tanda-tanda yang menunjukkan akan segera terjadi, di antara tanda-tandanya disebutkan Nabi di atas, hadits menunjukkan perubahan keadaan di mana orang-orang pedalaman berkuasa dan menguasai negeri-negeri dengan paksa, lalu harta mereka bertambah banyak dan cita-cita mereka terfokus pada peninggian dan kebanggaan bangunan, tercelanya meninggikan bangunan kecuali bila diperlukan, terjadinya kerusakan di jaman mendekat kiamat di mana ahlak rusak, anak-anak durhaka kepada orang tua dan memperlakukan orang tua seperti memperlakukan budak, urusan-urusan berbalik dan bercampur sampai orang-orang rendahan menjadi raja-raja dan penguasa, segala urusan diserahkan kepada selain ahlinya, banyak harta di tangan manusia dan kemewahan, manusia berbangga-bangga dengan tingginya bangunan rumah, banyak barang rumah tangga dan perhiasan, terjadi banyak kesombongan dan urusan manusia dipegang oleh orang rendahan. Hadits ini dinamakan induk sunnah (Ummus Sunnah) karena meliputi pokok-pokok ilmu sunnah.

Advertisements

April 13, 2014 at 8:17 am Leave a comment

Disyari’atkannya Sholat Memakai Sandal

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّه نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ سَيِّئاَتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Sesungguhnya segala pujian hanyalah milik Alloh, kami memuji, meminta ampunan kepadaNya, berlindung kepadaNya dari kejelekan jiwa-jiwa dan amal-amal kami. Barangsiapa yang ditunjuki Alloh maka tidak ada yang menyesatkannya dan barangsiapa disesatkanNya maka tidak ada yang dapat menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak di sembah selain Alloh tidak ada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya.
Alloh تَعاَلىَ berfirman :
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ }

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam”.

Alloh تَعاَلىَ berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Robbmu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Allah menciptakan isterinya (Hawa). Dari keduanya (Adam dan Hawa) Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan taatlah kepada Allah yang dengan mempergunakan namaNya kamu saling meminta dan peliharalah hubungan silaturrahim . Sesungguhnya Allah selalu menjaga semua keadaanmu dan mengawasi kamu”.

Alloh تَعاَلىَ berfirman :
} يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا {
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang lurus, niscaya Allah memberi taufik amal shalih kepadamu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”.
Amma ba’du : Sungguh banyak sunnah Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ yang tidak diketahui kaum muslimin, sehingga mereka meninggalkannya, selanjutnya mereka membenci orang yang berusaha mengamalkan dan hendak menghidupkannya, lalu mereka menuduhnya dengan kesesatan yang jauh.
Termasuk sunnah tersebut adalah sholat dengan memakai sandal. Hadits-hadits mutawatir menyebutkan bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat dengan mamakai sandal. Alloh تَعاَلىَ berfirman :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.
Dan telah tetap dalam hadits bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memerintahkan sholat memakai sandal. Alloh تَعاَلىَ berfirman :

وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا
“Dan apa yang diperintahkan Rasul kepadamu, maka lakukanlah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”.
Alloh تَعاَلىَ berfirman :
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
“Dan tidak halal bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.
Alloh تَعاَلىَ berfirman :

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Maka orang-orang yang menyelishi syari’at Rasul (yang lahir maupun batin) haruslah takut akan ditimpa fitnah (hati) atau ditimpa azab yang pedih di dunia”.
Oleh karena itulah aku berhasrat untuk mengumpulkan hadits-hadits yang aku ketahui dalam masalah disyari’atkannya sholat memakai sandal.
Dan Alloh lah yang memberi taufiq bagi kebenaran dan kepadaNyalah tempat kembali.

Abu Abdirrohman Muqbil bin Hadi AlWadi’i

Dalil-dalil Atas Disyari’atkannya Sholat Memakai Sandal

Hadits pertama :
Imam Bukhari berkata dalam kitab Shahihnya juz 1 halaman 494 :
حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو مَسْلَمَةَ سَعِيدُ بْنُ يَزِيدَ الْأَزْدِيُّ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ
أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي نَعْلَيْهِ قَالَ نَعَمْ
” Telah mengatakan kepada kami Adam bin Abi Iyas, ia berkata, telah mengatakan kepada kami Syu’bah, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Abu Maslamah Sa’id bin Yazid AlAzdi, ia berkata,”Aku bertanya kepada Anas bin Malik, apakah Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat memakai kedua sandalnya ?” Ia menjawab,”Ya”.
Hadits diriwayatkan Imam Muslim (5/42) – dengan syarah Nawawi – , Tirmidzi (1/310) – dengan Tuhfatul Ahwadzi- dan beliau berkata,”Hasan shohih dan ahli ilmu mengamalkan dengannya”, Nasai (2/58), Ibnul Jarud, 68, Ahmad (3/100,166,189), Abu Dawud AthThoyalisi (1/84), Darimi,(1/320), Ibnu Sa’d (1/511) dan AlBaigaqi (2/431).

Hadits kedua :
Imam Muslim رَحِمَهُ الله berkata dalam kitab Shahihnya (1/390) nomor 554 :
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا كَهْمَسٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَأَيْتُهُ تَنَخَّعَ فَدَلَكَهَا بِنَعْلِهِ
” Telah mengatakan kepada kami ‘Ubaidulloh bin Mu’adz Al’Anbari, telah mengatakan kepada kami ayahku, telah mengatakan kepada kami Kahmasun dari Yazid bin ‘Abdillah AsySyihhir dari ayahnya, ia berkata,”Aku sholat bersama Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ lalu aku melihat beliau berdahak lalu menggosok dahaknya dengan sandalnya”.
و حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ عَنْ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ أَبِي الْعَلَاءِ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ
عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَتَنَخَّعَ فَدَلَكَهَا بِنَعْلِهِ الْيُسْرَى
“Dan telah mengatakan kepadaku Yahya bin Yahya, telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Zurai’ dari AlJaziri dari Abil ‘Ala Yazid bin ‘Abdillah AsySyihhir dari ayahnya bahwa sholat bersama Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ,Ia berkata,” Beliau berdahak lalu menggosok dahaknya dengan sandal kirinya”.

Hadits ketiga :
قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقُ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ سَعِيْدٍ الْجَرِيْرِيُّ عَنْ أَبِيْ الْعَلاَءِ ابْنِ عَبْدِ الله ِبْنِ الشِّخِّيْرِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيْ نَعْلَيْه
‘Abdurrozaq dalam Mushonnafnya (1/384) berkata : Dari Ma’mar dari Sa’id AlJariri dari Abil ‘Ala’ bin ‘Abdillah AsySihhir, ia berkata,’Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat memakai kedua sandalnya”.
Hadits ini perowi-perowinya perowi-perowi kitab Shohih.

Hadits keempat :
قاَلَ بْنُ مَاجَهَ : حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ أَبِي أَوْسٍ قَالَ
كَانَ جَدِّي أَوْسٌ أَحْيَانًا يُصَلِّي فَيُشِيرُ إِلَيَّ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَأُعْطِيهِ نَعْلَيْهِ وَيَقُولُ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي نَعْلَيْهِ
Berkata Imam Ibnu Majah : “Telah mengatakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, telah mengatakan kepada kami Ghundar dari Syu’bah dari AnNu’man bin Salim dari Ibni Abi Aus, ia berkata,”Adalah kakekku Aus pernah mengisyaratkan kepadanya pada waktu sholat lalu aku memberikan sandalnya, ia berkata,’Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat memakai sandal”.
AlBushiri berkata dalam Mishbah AzZujajah, 125,”Sandanya baik”.
Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi Syaibah (2/415), Thohawi (1/512), Ahmad (4/8,9,10) dan AlHaitsami berkata dalam Majma’ AzZawaid (2/55),”Diriwayatkan Thobroni dalam AlKabir dan perowi-perowinya amanah”.

Hadits kelima :
Imam Ahmad berkata dalam Musnadnya (2/422):
حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَنِي الْحَارِثِ بْنِ كَعْبٍ قَالَ
كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَسَأَلَهُ فَقَالَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْتَ نَهَيْتَ النَّاسَ أَنْ يَصُومُوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَالَ لَا لَعَمْرُ اللَّهِ غَيْرَ أَنِّي وَرَبِّ هَذِهِ الْحُرْمَةِ لَقَدْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَّا فِي أَيَّامٍ يَصُومُهُ فِيهَا فَجَاءَ آخَرُ فَقَالَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْتَ نَهَيْتَ النَّاسَ أَنْ يُصَلُّوا فِي نِعَالِهِمْ قَالَ لَا لَعَمْرُ اللَّهِ غَيْرَ أَنِّي وَرَبِّ هَذِهِ الْحُرْمَةِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي إِلَى هَذَا الْمَقَامِ وَإِنَّ عَلَيْهِ نَعْلَيْهِ ثُمَّ انْصَرَفَ وَهُمَا عَلَيْهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Telah mengatakan kepada kami ‘Affan,ia berkata, telah mengatakan kepada kami Abu ‘Awanah, ia berkata telah mengatakan kepada kami ‘Abdul Malik bin ‘Umair dari seorang lelaki dari bani AlHarits bin Ka’ab, ia berkata,”Aku pernah duduk di sisi Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ , lalu seorang lelaki datang menemuinya dan bertanya kepadanya,’Hai Abu Huroiroh, apakah kamu melarang manusia puasa pada hari Jum’at ?’ Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ menjawab,’Tidak, demi Alloh, selain aku, demi robb Ka’bah, mendengar Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Jangan sekali-kali seorang dari kalian puasa pada hari Jum’at kecuali hari-hari yang biasa ia puasa padanya’. Lalu seorang lelaki lainnya datang kepada dan berkata,’Hai Hai Abu Huroiroh, apakah kamu melarang manusia sholat memakai sandal ?’ Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ menjawab,’Tidak, demi Alloh, selain aku, demi robb Ka’bah, selain aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat menghadap makom (tempat berdiri nabi Ibrohim di Ka’bah), memakai sandal, kemudian beliau pergi dengan memakai sandalnya”.
Hadits ini beliau keluarkan juga dalam tempat lainnya pada halaman (348, 365, 377, 458,537) dan pada sebagian jalan sanadnya disebutkan nama lelaki yang datang yaitu Abul Aubar Ziyad AlHaritsi), dikeluarkan juga oleh ‘Abdurrozaq, 1/385, Ibnu Abi Syaibah, 2/415 dan Thohawi,1/511).
Perowi-perowi hadits di atas semuanya perowi-perowi kitab shohih kecuali Abul Aubar Ziyad AlHaritsi dinyatakan amanah oleh Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban sebagaimana disebutkan dalam kitab Ta’jilul Manfa’ah.
Adapun ucapan AlHafidz AlHaitsami dalam kitabnya Majma’ AzZawaid, 2/54,” Perowi-perowinya amanah selain Ziyad Abul Aubar AlHaritsi, aku tidak menemukan orang yang menyatakan amanah maupun melamahkannya dalam biografinya”, maka ucapannya telah dibantah oleh Ibnu Hajar dalam kitab Ta’jilul Manfa’ah dengan membawakan rekomendasi Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban.

Hadits Keenam :
Ibnu Majah berkata dalam Sunanya (1/330):
سنن ابن ماجه – (ج 3 / ص 327)
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَقَدْ رَأَيْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي النَّعْلَيْنِ وَالْخُفَّيْنِ
“Telah mengatakan kepada kami ‘Ali bin Muhammad, telah mengatakan kepada kami Yahya bin Adam, telah mengatakan kepada kami Zuhair dari Abi Ishaq dari ‘Alqomah dari Ibnu Mas’ud, ia berkata,”Sungguh aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat memakai sandal dan khufnya”.
Dikeluarkan oleh Abu Dawud AthThoyalisi, 1/84, Ibnu Abi Syaibah, 2/416, Ahmad 1/461 dan Thohawi 1/511.
Di sebagian kitab ditegaskan bahwa Abu Ishaq tidak mendengar dari ‘Alqomah
AlBushiri mengatakan dalam kitab Mishbah AzZujajah fi Zawaid Ibni Majah, 125,”Sanadnya terdapat Abu Ishaq AsSabi’I yang pada ahir umurnya mengalami pikun, Zuhair adalah Mu’awiyyah bin Khudaij diriwayatkan darinya hadits setelah ia pikun sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Zur’ah”.
Dengan sanad ini hadits dinilai lemah akan tetapi bisa dipakai sebagai penguat.

Hadits Ketujuh :
Abu Dawud berkata dalam Sunannya (1/247,248) berkata :
حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي حَافِيًا وَمُنْتَعِلًا
Telah mengatakan kepada kami Muslim bin Ibrohim, telah mengatakan kepada kami ‘Ali bin Mubarok dari Husain AlMu’allim dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata,”Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ terkadang sholat tidak beralas kaki dan terkadang memakai sandal”.
Hadits dikeluarkan oleh Ibnu Majah (1/330), Ahmad (2/174,178,190,210), Ibnu Abi Syaibah (2/425), Ibnu Sa’d (1/ ق 2,168) Thohawi (1/512) dan AlBaihaqi (1/4121).
Dan hadits ini hasan.

Hadits Kedelapan :
Imam Ahmad berkata dalam Musnadnya (4/307):
حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ السُّدِّيِّ حَدَّثَنِي مَنْ سَمِعَ عَمْرَو بْنَ حُرَيْثٍ قَالَ رََأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي نَعْلَيْنِ مَخْصُوفَيْنِ
“Telah mengatakan kepada kami Waki’, telah mengatakan kepada kami Sufyan dari AsSudi dari orang yang mendengar dari ‘Amr bin Huraits, ia berkata,”Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat dengan sandalnya – dalam jalan yang lainnya – dengan sandalnya yang ditambal “.
Hadits dikeluarkan oleh Tirmidzi dalam Syamail Muhammadiyyah, 66, ‘Abdurrozaq (1/386), Ibnu Abi Sayibah (2/415), Ibnu Sa’d (1/ق 2, 167) dan Thohawi, 1/512.
Hadits ini dalam sanadnya ada perowi yang tidak dikenal.
Penulis Syarah Syamail Muhammadiyyah berkata,”Berkata AlQistholani, aku tidak mengetahui pada satu riwayat ketegasan nama orang yang meriwayatkan hadits dari AsSudi , dan aku perkirakan namanya ‘Atho bin AsSaib, di ahir umurnya ia pikun. Dan AsSud termsuk orang mendengar darinya setelah usia pikunnya lalu namanya disamarkan agar tidak diketahui kelamahan sanadnya.

Hadits Kesembilan

AlBaihaqi dalam Sunannya (2/420) berkata :
)انبأ) أبو بكر بن الحارث الفقيه انبأ أبو محمد بن حيان ثنا على بن سعيد ثنا محمد بن سنان القزاز ثنا أبو غسان العنبري ثنا شعبة عن حميد بن هلال عن عبد الله بن الصامت عن ابى ذر قال رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يصلى في نعلين مخصوفتين من جلود البقر
“Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar bin AlHarits AlFaqih, telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad bin Hayyan, telah mengatakan kepada kami ‘Ali bin Sa’id, telah mengatakan kepada kami Muhammad bin Sinan AlQozaz, telah mengatakan kepada kami Abu Ghossan Al’Anbari, telah mengatakan kepada kami Syu’bah dari Humaid bin Hilal dari ‘Abdulloh bin AshShomit dari Abi Dzar, ia berkata,”Aku melihat Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat dengan sandalnya yang ditambal dari kulit sapi”.
AlBaihaqi berkata,” Abu Ghossan Al’Anbari Yahya bin Katsir menyendiri meriwayatkan hadits ini”.

Hadits Kesepuluh
Imam Ahmad berkata dalam Musnadnya (3/502):
قَالَ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا الْعَطَّافُ قَالَ حَدَّثَنِي مُجَمِّعُ بْنُ يَعْقُوبَ عَنْ غُلَامٍ مِنْ أَهْلِ قُباءٍ أَنَّهُ أَدْرَكَهُ شَيْخًا أَنَّهُ قَالَ جَاءَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقُبَاءٍ فَجَلَسَ فِي فَيْءِ الْأَحْمَرِ وَاجْتَمَعَ إِلَيْهِ نَاسٌ فَاسْتَسْقَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسُقِيَ فَشَرِبَ وَأَنَا عَنْ يَمِينِهِ وَأَنَا أَحْدَثُ الْقَوْمِ فَنَاوَلَنِي فَشَرِبْتُ وَحَفِظْتُ أَنَّهُ صَلَّى بِنَا يَوْمَئِذٍ الصَّلَاةَ وَعَلَيْهِ نَعْلَاهُ لَمْ يَنْزِعْهُمَا
“Telah mengatakan kepada kami Yunus bin Muhammad, ia berkata, telah mengatakan kepada kami Al’Atho, ia berkata, telah mengatakan kepadaku Majma’ bin Ya’qub dari Ghulam dari penduduk Quba bahwa ia menjumpai seorang Syaikh yang berkata,”Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ mendatangi kami di Quba lalu beliau duduk di….dan manusia berkumpul di sekelilingnya, Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ meminta air minum, lalu beliau diberi air minum dan meminumnya sedangkan aku di samping kanannya, aku orang yang paling muda……dan aku menghapal bahwa ketika beliau bersama kami sholat memakai sandalnya tidak melepasnya”.
Hadits ini dikeluarkan Ahmad juga dalam juz 4 halaman 221, 334, Thohawi, 1/512 dan menyebutkan antara Majma’ bin Ya’qub dan seorang sahabat, Muhammad bin Ismail dan menyebutkan nama sahabatnya Abdulloh bin Abi Habibah dan diriwayatkan Ibnu Sa’d juz 1/ ق 2/167)
AlHafidz AlHaitsami dalam Majma’ Zawaidnya (2/53) berkata,”Diriwayatkan oleh Ahmad dan beliau menyebutkan nama sahabatnya Abdulloh bin Abi Habibah dalam riwayat lainnya, demikian juga diriwayatkan oleh Thobroni dalam AlKabir dan perowi-perowi Ahmad amanah semuanya”.

Hadits Kesebelas :

AlBaihaqi dalam Sunan Kubronya (2/431) berkata :
(انبأ) أبو الحسين بن بشران العدل ببغداد انبأ اسمعيل بن محمد الصفار ثنا سعدان بن نصر ثنا أبو بدر عن زياد ابن خيثمة عن عبد الله بن عيسى عن عبد الله بن عطاء عن عائشة رضى الله عنها قالت رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلى حافيا ومتنعلا ويشرب قائما وقاعدا وينصرف عن يمينه وعن شماله ولا يبالى أي ذلك كان
“Telah mengabarkan kepada kami Abul Husain bin Busyron Al’Adl di Baghdad, telah mengabarkan kepada kami Ismail bin Muhammad AshShoffar, telah mengatakan kepada kami Sa’dan bin Nashr, telah mengatakan kepada kami Abu Badr dari Ziyad bin Khoitsamah dari ‘Abdillah bin ‘Isa dari ‘Abdillah bin ‘Atho dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ ,”Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat terkadang tidak beralas kaki dan terkadang tidak memakai sandal, minum berdiri dan minum dengan duduk……
AlHafidz AlHaitsami dalam Majma’ Zawaidnya (2/55) berkata,”Diriwayatkan Thobroni dalam AlAusath”, dan perowi-perowi amanah.
Akan tetapi dalam kitab Majma’ Zawaid kalimat وينصرف عن يمينه وعن شماله diganti dengan و ينفتل ……

Hadits Keduabelas :

جدثنا إبراهيم بن مرزوق قال حدثنا حماد بن سلمة عن الحجاج بن أرطأة عن عبد الله عن سعيد بن فيروز عن أبيه أن وفد ثقيف قدموا على رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قالوا : فرأيناه يصلي وعليه نعلان متقابلتان
Berkata Thohawi (1/512),” Telah mengatakan kepada kami Ibrohim bin Marzuq, ia berkata, telah mengatakan kepada kami Abu Rabi’ah, ia berkata,’telah mengatakan kepada kami Hammad bin Salamah dari AlHajjaj bin Arthoh dari ‘Abdil Malik dari Sa’id bin Fairuz dari ayahnya bahwa utusan Tsaqif menemui Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ lalu berkata,’Kami melihat beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sedang sholat memakai sandal berpasangan”.
Dalam sanad hadits terdapat AlHajjaj bin Arthoh seorang mudallis .
Akan tetapi AlHaitsami berkata dalam Majma’ Zawaidnya (2/55),”Diriwayatkan oleh Thobroni dalam AlAusath dan perowi-perowinya amanah”.
Maka perlu dilihat apakah ia punya jalan lain atau AlHajjaj dengan tegas mendengar langsung dari perowi yang ia ambil haditsnya atau AlHafidz AlHaitsami yang menggampang-gampangkan penshohihan hadits ?”

Hadits Ketigabelas
‘Abdurrozaq dalam Mushonnafnya (1/386) berkata:
عبد الرزاق عن عبد الله بن عبد الرحمن بن يزيد قال حدثني محد بن عباد بن جعفر عن شيخ منهم قال : رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي في نعليه
Dari ‘Abdillah bin ‘Abdirrohman bin Yazid, ia berkata, telah mengatakan kepadaku Muhamamd bin ‘Ibad bin Ja’far dari seorang Syaikh dari mereka,”Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat memakai sandal dan mengisyaratkan ke makam Ibrohim”.

Hadits Keempatbelas

Imam Abu Dawu dalam Sunannya (1/247) berkata :
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْفَزَارِيُّ عَنْ هِلَالِ بْنِ مَيْمُونٍ الرَّمْلِيِّ عَنْ يَعْلَى بْنِ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَالِفُوا الْيَهُودَ فَإِنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ وَلَا خِفَافِهِمْ
Telah mengatakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah mengatakan kepada kami Marwan bin Mu’awiyyah AlFazari dari Hilal bin Maimun ArRomli dari Ya’la bin Syaddad bin Aus dari ayahnya, ia berkata, Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda :”Selisihilah Yahudi, sesungguhnya mereka tidak sholat dengan sandal dan khuf “.
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Mawaridul Dhoman, 107 di dalam sanadnya ada tambahan “dan Nasrani”, AlBaihaqi, 2/432, AlHakim, 1/26, ia berkata,”Ini hadits shohih sanadnya dan tidak dikeluarkan Bukhori dan Muslim”, dan Dzahabi tidak berkomentar apa-apa.
Al’Iroqi berkata,”Sanadanya hasan”, sebagaimana disebutkan dalam Faidhul Qadir dan Thobroni dalam AlKabir, 7/348 dengan kalimat hadits,
صَلُّوا فِي نِعَالِكُمْ، وَلا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ” “Sholatlah kalian dengan sandal dan jangan menyerupai Yahudi !”.
Hadits Kelimabelas
AlHakim dalam Mustadroknya (1/139) berkata,
حدثنا محمد بن صالح ، وإبراهيم بن عصمة ، قالا : ثنا السري بن خزيمة ، ثنا موسى بن إسماعيل ، وأنبأ أبو الوليد الفقيه ، ثنا الحسن بن سفيان ، ثنا إبراهيم بن الحجاج ، قالا : ثنا عبد الله بن المثنى الأنصاري ، عن ثمامة ، عن أنس ، أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يخلع نعليه في الصلاة قط إلا مرة واحدة خلع فخلع الناس ، فقال : « ما لكم » قالوا : خلعت فخلعنا ، فقال : « إن جبريل أخبرني أن فيهما قذرا – أو أذى » . « هذا حديث صحيح على شرط البخاري ، فقد احتج بعبد الله بن المثنى ولم يخرجاه ، وشاهده الحديث المشهور عن ميمون الأعور »
“Telah mengatakan kepada kami Muhammad bin Sholih dan Ibrohim bin ‘Ishmah keduanya berkata, telah mengatakan kepada kami AsSurri bin Khozimah, telah mengatakan kepada kami Musa bin Isma’il dan mengabarkan kepada kami Abul Walid AlFaqih, telah mengatakan kepada kami AlHasan bin Sufyan, telah mengatakan kepada kami Ibrohim bin AlHajjaj keduanya mengatakan, telah mengatakan kepada kami ‘Abdulloh bin AlMutsanna AlAnshori dari Tsumamah dari Anas bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ tidak pernah melepas sandalnya dalam sholat kecuali sekali saja lalu sahabat melepasnya, beliau bertanya,’Ada apa dengan kalian ?’ Mereka menjawab,’Anda melepas sandal maka kami melepasnya’. Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda :”Sesungguhnya Jibril mengabarkan kepadaku bahwa di sandalku ada kotoran atau najis lalu aku melepasnya”.
AlHakim berkata,”Hadits ini shohih sesuai syarat Bukhori, ia memakai perowi ‘Abdulloh AlMutsanna dan Bukhori – Muslim tidak mengeluarkan hadits ini dalam kitab mereka”. Dan Dzahabi tidak berkomentar apa-apa.
AlHafidz AlHaitsami mengatakan dalam Majma Zawaid (juz 1/56),”Diriwayatkan Thobroni dalam AlAusath dan perowi-perowinya perowi kitab Shohih dan diriwayatkan AlBazzar dengan ringkas”.

Hadits Keenambelas
AlHakim dalam Mustadroknya (1/181) berkata,
حدثناه أبو جعفر محمد بن محمد بن عبد الله البغدادي ، ثنا المقدام بن داود بن تليد الرعيني ، ثنا عبد الغفار بن داود الحراني ، ثنا حماد بن سلمة ، عن عبيد الله بن أبي بكر ، وثابت ، عن أنس ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، قال : « إذا توضأ أحدكم ولبس خفيه (1) فليصل فيهما ، وليمسح عليها ، ثم لا يخلعهما إن شاء إلا من جنابة (2) » . « هذا إسناد صحيح على شرط مسلم ، وعبد الغفار بن داود ثقة غير أنه ليس عند أهل البصرة عن حماد »
“Telah mengatakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Muhammad bin ‘Abdillah AlBaghdadi, telah mengatakan kepada kami AlMiqdam bin Dawud dari Talid ArRo’ini, telah mengatakan kepada kami ‘Abdul Ghoffar bin Dawud Alharani, telah mengatakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ubaidillah Ibni Abi Bakar dan Tsabit dari Anas bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Jika salah seoarang dari kalian telah wudhu dan memakai khufnya maka sholatlah dengan keduanya dan usaplah (ketika wudhu) kemudian jangan ia lepas jika ia kehendaki kecuali karena ia junub”.
Sanadnya shohih sesuai syarat Muslim, ‘Abdul Ghoffar bin Dawud amanah akan tetapi tidak ada penduduk dari Bashroh yang meriwayatkan dari Hammad”.
Hadits ini diriwayatkan AlBaihaqi (1/279) dan menyebutkan penguat bagi ‘Abdul Ghoffar yaitu Asad bin Musa yang digelari Asadus Sunnah (Singa Sunnah). Dan haditsnya syadz (ganjil).
AlBaihaqi berkata,”Berkata Ibnu Sho’id,’Aku tidak mengetahui seorang yang datang membawa hadits ini kecualil Asad bin Musa”. AlBaihaqi berkata,”Hadits ini dikuatkan oleh ‘Abdul Ghoffar bin Dawud AlHaroni akan tetapi tidak ada penduduk dari Bashroh yang meriwayatkan dari Hammad dan hadits ini tidak terkenal, wallohu a’lam.
Itulah hadits-hadits yang bisa aku sampaikan, meski aku tinggalkan beberapa hadits yang menunjukkan disyari’atkannya sholat memakai sandal dalam kitab Majma Zawaid, Mushonnaf ‘Abdurrozaq dan selain keduanya karena terdapat kritikan pada kedua kitab tersebut meskipun sebagiannya bisa dijadikan penguat.
Terlebih Thohawi dalam Musykil Atsar juz 1/511 menyatakan dengan tegas bahwa hadits-hadits yang menunjukkan disyari’atkannya sholat memakai sandal mencapai mutawatir, beliau mengatakan,”Hadits-hadits datang, menunjukkan bahwa disyari’atkannya sholat memakai sandal mencapai mutawatir dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dari perbuatan beliau yang memakai sandal dalam sholatnya, melepas sandalnya waktu melepasnya karena najis dan pembolehannya sholat memakai sandal”.
Dan ulama رَحِمَهُمَ اللهُ tidak mensyaratkan kemutawatiran dalam menentukan hadits shohih atau hasan bahkan mereka hanya menyebutkan hadits shohih, hasan dan dho’if.

Bab Bila Seorang Sedang Sholat Melepas Sandalnya Di Manakah Ia Meletakannya ?

Hadits Pertama :
Abu Dawud dalam Sunannya (2/248) berkata :
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ رُسْتُمَ أَبُو عَامِرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلَا يَضَعْ نَعْلَيْهِ عَنْ يَمِينِهِ وَلَا عَنْ يَسَارِهِ فَتَكُونَ عَنْ يَمِينِ غَيْرِهِ إِلَّا أَنْ لَا يَكُونَ عَنْ يَسَارِهِ أَحَدٌ وَلْيَضَعْهُمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ
“Telah mengatakan kepada kami AlHasan bin ‘Ali, telah mengatakan kepada kami ‘Utsman bin ‘Umar, telah mengatakan kepada kami Sholih bin Rustam Abu ‘Amir dari ‘Abdirrohman bin Qois dari Yusuf bin Malik dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ bahwa Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda :’Jika salah seorang dari kalian hendak sholat maka janganlah meletakkan sandalnya di samping kanan maupun samping kirnya, sehingga menjadi di samping kanan temannya kecuali bila tidak ada seorang di samping kirinya (maka letakkanlah di samping kirinya), tetapi letakkanlah di depannya”.
Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Mawaridul Dhoman, 107 dan AlHakim dalam Mustadroknya juz 1/259 dan berkata,”Shohih sesuai syarat Bukhori dan Muslim dan keduanya tidak mengeluarkannya dalam kitab mereka”. Dikeluarkan juga AlBaihaqi juz 2/432.

Hadits Kedua :
Abu Dawud dalam Sunannya (2/246) berkata :
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ عَنْ ابْنِ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ السَّائِبِ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي يَوْمَ الْفَتْحِ وَوَضَعَ نَعْلَيْهِ عَنْ يَسَارِهِ
“Telah mengatakan kepada kami Musaddad, telah mengatakan kepada kami Yahya dari Ibni Juraij, telah mengatakan kepadaku Muhammad bin ‘Abbad bin Ja’far dari Ibni Sufyan dari ‘Abdillah bin AsSaib, ia berkata,”Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ meletakkan sandalnya di samping kirinya”.
Hadits ini perowi-perowinya perowi kitab shohih.
Dikeluarkan juga oleh Nasai (2/58), Ibnu Majah (1/416), Ibnu Abi Syaibah (2/418), AlHakim (1/259) dan AlBaihaqi (2/432)

Hadits Ketiga :
Abu Dawud dalam Sunannya (2/246) berkata :
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ نَجْدَةَ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ وَشُعَيْبُ بْنُ إِسْحَقَ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْوَلِيدِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَخَلَعَ نَعْلَيْهِ فَلَا يُؤْذِ بِهِمَا أَحَدًا لِيَجْعَلْهُمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَوْ لِيُصَلِّ فِيهِمَا
“Telah mengatakan kepada kami ‘Abdul Wahhab bin Najdah, telah mengatakan kepada kami Baqiyyah dan Syu’aib bin Ishaq dari AlAuza’I, telah mengatakan kepadaku Muhammad bin AlWalid dari Sa’id bin Abi Sa’id dari ayahnya dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ, beliau bersabda,”Jika salah seorang dari kalian hendak sholat lalu melepas sandalnya maka janganlah ia mengganggu seorang pun dengannya, hendaklah ia letakkan di antara kedua kakinya atau ia sholat memakai sandalnya”.
Hadits dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah juz 2 hal 418, Thobroni dalam AshShoghir juz 2/hal 8, AlHakim juz 1/259 dan AlBaihaqi juz 2 hal 432.
Al Hakim berkata,”Hadits shohih sesuai syarat Muslim dan Bukhori – Muslim tidak mengeluarkan dalam kitab mereka”. Dan Dzahabi tidak mengomentari penshohihanya.

Hadits Keempat :
Ibnu Abi Syaibah berkata dalam kitabnya juz 2 hal 418 :
حدثنا عفان قال ثنا حماد بن سلمة قال انا أبو نعامة السعدي عن أبي نضرة عن سعيد قال بينما رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي فخلع نعليه فوضعها عن يساره.
“Telah mengatakan kepada kami ‘Affan, ia berkata, telah mengatakan kepada kami Hammad bin Salamah, ia berkata, telah mengatakan kepada kami Abu Na’amah AsSa’di dari Abi Nadhroh dari Abi Sa’id, ia berkata,” Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat, lalu melepas sandalnya, beliau letakkan di samping kirinya”.
Hadits ini sanadnya sesuai syarat Muslim.

Bab Bagaimana Mensucikan Khuf dan Sandal

Hadits Pertama :
Abu Dawu dalam Sunannya juz 1 halaman 148 berkata :
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ يَعْنِي الصَّنْعَانِيَّ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَعْنَاهُ قَالَ إِذَا وَطِئَ الْأَذَى بِخُفَّيْهِ فَطَهُورُهُمَا التُّرَابُ
“Telah mengatakan kepada kami Ahmad bin Ibrohim, telah mengatakan kepadaku Muhammad bin Katsir AshShon’ani dari AlAuza’I dari Ibni ‘Ajlan dari Sa’id bin Abi Sa’id dari ayahnya dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ dari Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ,”Jika khuf salah seorang kalian menginjak najis maka tanah berikutnya adalah pensuci baginya”.
Dikeluarkan oleh Ibnu Majah juz 1 halaman 148, Ibnu Hibban dalam Mawaridudh Dhoman halaman 8, AlHakim juz 1 halaman 11 dan berkata,”Hadits shohih sesuai syarat Muslim”, AlBaihaqi juz 2 halaman 430 dan Ibnu Hazm dalam AlMuhalla juz 1 halaman 93.

Hadits Kedua :
Abu Dawu dalam Sunannya juz 1 halaman 247 berkata :
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ أَبِي نَعَامَةَ السَّعْدِيِّ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ
بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ قَالَ مَا حَمَلَكُمْ عَلَى إِلْقَاءِ نِعَالِكُمْ قَالُوا رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ جِبْرِيلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا أَوْ قَالَ أَذًى وَقَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَنْظُرْ فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ قَذَرًا أَوْ أَذًى فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا
“Telah mengatakan kepada kami Musa bin Ismail, telah mengatakan kepada kami Hammad bin Yazid dari Abi Na’amah AsSa’di dari Abi Nadhroh dari Abi Sa’id AlKhudri,”Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersama sahabatnya, tiba-tiba beliau melepas sandalnya lalu meletakkannya di samping kirinya. Ketika sahabat melihat perbuatan Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ maka mereka melemparkan sandal mereka. Ketika Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ menyelesaikan sholatnya bertanya,’Apa yang menyebabkan kalian melemparkan sandal-sandal kalian ?’ Sahabat menjawab,’Kami melihat anda melemparkan sandal anda maka kami melemparkan sandal-sandal kami’. Maka Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda :’Sesungguhnya Jibril عَلَيْهِ السَّلاَمُ mendatangiku lalu mengabarkan bahwa di sandalku najis’ ada atau adza (kotoran). Dan Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Jika salah seorang kalian datang ke masjid maka lihatlah, jika ia melihat di sandalnya ada kotoran atau najis maka bersihkanlah dan sholatlah dengannya”.
Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya juz 1 halaman 384, Ibnu Hibban dalam Mawaridudh Dhoman halaman 108, Musnad Ahmad juz 3 halaman 20, AlHakim juz 1 halaman 260, ‘Abdurrozaq juz 1 halaman 388, Ibnu Abi Syaibah juz 2 halaman 416, Abu Dawud Thoyalisi juz 1 halaman 84, Darimi juz 1 halaman 32, Thohawi juz 1 halaman 511, AlBaihaqi juz 2 halaman 431 dan Ibnu Hazm dalam AlMuhalla juz 1 halaman 93.
AlHakim berkata,”Hadits shohih sesuai syarat Muslim”. Dan Dzahabi tidak mengomentari apa-apa.

Bahaya-bahaya Sholat Tidak Memakai Sandal

Pertama : Bahaya terbesar sholat tidak memakai sandal kaum muslimin menjadi tidak mengetahui sunnah ini dan menganggap orang yang sholat memakai sandal melakukan dosa yang amat besar dan mereka menghalalkan darinya sebagaimana menghalalkan pada orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar.
Aku pernah mendengar seorang petugas masjid bercerita,”Lelaki itu dahulu pernah di Saudi kemudian pulang ke Yaman, ia hendak masuk masjid. Aku katakan padanya katakan,’Demi Alloh kalau kamu masuk masjid dengan sandalmu pasti kaki akan dipatahkan”. Ia sendiri mengaku orang berilmu padahal ia tidak mengetahui madzhabnya.
AsySyaukani رَحِمَهُ اللهُ berkata mengatakan tentang disyari’atkannya sholat memakai sandal,”Dan termasuk orang yang berpendapat sunnahnya sholat memakai sandal adalah AlHadawiyyah, meskipun orang-orang awamnya mengingkarinya. Imam Mahdi berkata dalam kitabnya AlBahr,’ Msalah, dan disunnahkan memakai sandal yang suci ketika sholat berdasarkan sabda Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ,’ صَلُّوْا فِيْ نِعاَلِكُمُ Sholatlah kalian dengan sandal kalian”.
Aku melihat sekelompok orang di tanah di Masjidil Haram Makkah mengerumi seorang lelaki di bahwa pengeras suara, mereka mengingkarinya sholat memakai sandal. Seorang di antara mereka berkata,”Ini setan “.– orang yang sholat memakai sandal – Sangat disesalkan orang yang bicara tersebut termasuk orang yang rajin berjama’ah di Masjidil Haram. Tidak diragukan seandainya ia mengetahui hukumnya pasti ia tidak akan berani mengatakan setan kepada saudaranya sesama muslim.
Aku melihat di Bisyah seorang lelaki berpenampilan sholih dan baik mengingkari orang yang sholat memakai sandalnya. Dikatakan kepadanya,”Ia sunnah “. maka ia membantah,”Aku berlindung kepada Alloh dari sunnah ini !”.
Dan yang lebih besar daripada kenyataan itu semua bahwa sebagian ikhwan yang hendak sholat di salah satu masjid di Madinah diingkari dengan keras.
Semua itu disebabkan tidak ada amalan ahli ilmu terhadap sunnah ini. Kalau ahli ilmu mengamalkannya niscaya kami tidak perlu mengumpulkan hadits-hadits ini dan menyebarkannya di antara manusia.
Sebab lainnya, kebanyakan kaum muslimin berpaling dari kitab-kitab sunnah. Seandainya mereka merujuk kepada kitab-kitab tersebut pasti tidak akan timbul keraguan tentang disyari’atkannya sholat memakai sandal dan sesungguhnya ia sunnah yang diperintahkan.
Kedua : Termasuk bahaya tidak sholat memakai sandal, sebagian orang yang sholat mengumpulkan sandal-sandal di satu tempat, maka terkadang sandal-sandal itu sebagai sebagai sebab bengkokonya barisan sholat yang diperintahkan untuk meluruskannya dan ada ancaman neraka atas kebengkokannya. Kami menyaksikan kebengkokan shoff (barisan) di Masjidil Haram disebabkan banyaknya tumpukan sandal karena tidak ditemukan satu tempat di shooff
Ketiga : Banyak dari orang yang mau sholat tidak mau melihat sandal di depan pintu masjid ketika akan masuk masjid karena mereka tidak menginginkan sholat dengan sandal. Sehingga terkadang sandalnya terkena najis, jika meletakkan di dalam masjid maka najis berjatuhan di dalamnya. Ini semua dengan sebab meninggalkan sunnah yaitu melihat sandal di depan pintu masjid ketika hendak masuk masjid dan menggosoknya dengan tanah bila ada najis atau kotorannya.
Keempat : Terkang orang yang sholat hawatir sandalnya dicuri, lalu pikirannya kacau ketika ia sedang sholat yang menghilangkan kehusyuannya. Sedangkan khusyu adalah otaknya (inti) sholat sebagaimana yang Alloh firmankan :
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2)
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya”.
Banyak hadits yang menganjurkan untuk menghilangkan kekacauan pikiran dalam sholat :
Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shohihnya dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ baha Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,
لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ
“Tidak ada sholat di hadapan makanan maupun menahan buang air dan kentut”.
Imam Bukhori dan Imam Muslim mengeluarkan dalam kitab mereka dari Anas رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,
عَنْ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قُدِّمَ الْعَشَاءُ وَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَابْدَءُوا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوا صَلَاةَ الْمَغْرِبِ
“Jika telah disungguhkan makan malam maka mulailah dengannya sebelum kamu sholat maghrib”.
Perintah dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ini dalam rangka menjaga kekhusyu’an.

Kerancuan Orang-orang yang Mengingkari Sholat Memakai Sandal

Orang-orang yang mengingkari sholat memakai sandal mempunyai kerancuan berpikir (syubhat) yang harus dibicarakan sampai jelas kebenaran. Insya Alloh.
Meskipun aku tidak perna seorang alim pun yang berhujjah denga syubhat mereka dan orang-orang jahil bukanlah dalil bagi syari’at yang suci.
Adapun Syubhat mereka di antaranya :
Pertama :
Sesungguhnya masjid-masjid sekarang telah dihiasi dan diberi hamparan karpet tidak seperti masjid-masjid di jaman Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ.
Jawaban : Sesungguhnya kebaikan itu pada apa yang Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ di atasnya. Kalau masjid-masjid sekarang tetap seperti masjid di jaman Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ niscaya lebih baik. Adapun hiasan masjid-masjid maka telah ada nash yang melarangnya.
Dikeluarkan oleh Abu Dawud juz 1/hal. 171, Ibnu Majah juz 1/ hal. 244, Darimi juz 1/hal 327, Ahmad juz 3/hal 134, 145, 152,230,283 dan Ibnu Hibban dalam Mawaridudh Dhom’an dari Anas رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ : Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ
“Tidak terjadi hari kiamat sampai manusia saling membanggakan bangunan masjidnya”.
Dan dalam sebagian jalan hadits disebutkan,
Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ melarang manusia bermegah-megahan membangun masjid”.
Dikeluarkan oleh Abu Dawud juz 1/hal. 170 dari Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ , Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أُمِرْتُ بِتَشْيِيدِ الْمَسَاجِدِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتْ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى
“Aku tidak diperintahkan meninggikan dan memperpanjang bangunan masjid”. Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ berkata,”Kalian benar-benar akan menghiasinya sebagaimana Yahudi dan Nasrani menghiasinya”.
Perowi-perowinya perowi kitab Shohih kecuali Syaikh (guru) Abu Abu Dawud, Muhammad bin Shobbah bin Sufyan, jujur (shoduq)
Imam AshShon’ani رَحِمَهُ اللهُ berkata,”AlMahdi berkata dalam kitab AlBahr,’Sesungguhnya hiasan masjid Haramain bukan usul dari ahli halli wal ‘aqdi (ulama dan umara) dan bukan dari diam keridhoaannya ulama akan tetapi dilakukan oleh penduduk negeri yang diktator tanpa persetujuan seorang pun dari orang yang utama. Dan kaum muslimin diam tidak ridho’. Ini adalah perkataan yang bagus”. Selesai ucapan Shon’ani.
Aku (Syaikh Muqbil) katakan,”Adapun penghaparan masjid dengan sajadah yang berwarna warni jelas menyibukkan orang yang sholat dan melalaikannya darinya. Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dalam kitab mereka dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي خَمِيصَةٍ لَهَا أَعْلَامٌ فَنَظَرَ إِلَى أَعْلَامِهَا نَظْرَةً فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ اذْهَبُوا بِخَمِيصَتِي هَذِهِ إِلَى أَبِي جَهْمٍ وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلَاتِي وَقَالَ هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْتُ أَنْظُرُ إِلَى عَلَمِهَا وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ فَأَخَافُ أَنْ تَفْتِنَنِي
bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat di atas kain miliknya yang bergambar-gambar, beliau melihat banyak gambarnya, setelah selesai sholat beliau berkata,
“Bawalah kain ini kepada Abi Jahm dan berikan aku kain tebal Abi Jahm yang yang tidak bergambar, sesungguhnya kainnya (yang bergambar) melalaikanku dari sholat “. Berkata Hisyam dari ‘Urwah dari ayahnya dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata,”Aku melihat gambar-gambarnya ketika aku sedang sholat lalu aku takut terganggu”.
Ini kalimat riwayat Bukhori.
Dan dikeluarkan Bukhori dari Anas Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ , ia berkata,
كَانَ قِرَامٌ لِعَائِشَةَ سَتَرَتْ بِهِ جَانِبَ بَيْتِهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمِيطِي عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا فَإِنَّهُ لَا تَزَالُ تَصَاوِيرُهُ تَعْرِضُ فِي صَلَاتِي
“Adalah qirom milik ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ menutupi salah satu sisi rumahnya, lalu Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata,”Singkirkan dariku kain sitarmu ini karena gambar-gambarnya menghalangiku dalam sholatku”.
Dan dikeluarkan juga dari ‘Uqbah bin ‘Amir,
أُهْدِيَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرُّوجُ حَرِيرٍ فَلَبِسَهُ فَصَلَّى فِيهِ ثُمَّ انْصَرَفَ فَنَزَعَهُ نَزْعًا شَدِيدًا كَالْكَارِهِ لَهُ وَقَالَ لَا يَنْبَغِي هَذَا لِلْمُتَّقِينَ
“Dihadiahkan kepada Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ kain-kain dari sutera, lalu beliau mengenakannya, beliau sholat dengannya kemudian berpaling dan melepasnya dengan keras seperti tidak suka dan berkata,”Tidak sepantasnya pakaian ini untuk orang-orang bertakwa”.
Imam AshShon’ani رَحِمَهُ اللهُ berkata mengenai hadits ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ di atas dalam Subulus Salam,”Dalam hadits ada dalil atas dimakruhkannya apa-apa yang menyibukkan diri dari sholat seperti ukiran dan yang semisal dengannya dari perkara yang menyibukkan hati, Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersegera melindungi sholat dari apa yang melalaikannya dan menghilangkan apa yang menyibukkan dari konsentrasi sholat”.
AthThibi رَحِمَهُ اللهُ berkata,”Padanya terdapat pemberitahuan bahwa gambar-gambar dan benda-benda yang terlihat berpengaruh jelek bagi hati-hati yang suci dan jiwa-jiwa yang bersih terlebih bagi hati yang kurang bersih, dimakruhkan sholat di atas hamparan-hamparan dan sajadah-sajadah yang berhias dan dimakruhkannya mengukir masjid serta yang semisalnya”. Selesai ucapannya رَحِمَهُ اللهُ .

Kerancuan Kedua :
Sebagian mereka terkadang berdalil dengan firman Alloh تَعاَلىَ yang memerintahkan Musa عَلَيْهِ السَّلاَمُ (فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى) ” maka lepaslah kedua terompahmu sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.
“.
Pendalilan yang amat jauh. Dan semoga Alloh Ibnu Mas’ud رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ ketika mengatakan kepada Abu Musa AlAsy’ari ketika menjadi imam manusia lalu melepas sandalnya,”Mengapa kamu melepas sandalmu ? Apakah kamu berada di lembah yang suci ?”
Berkata Abu Muhammad bin Hazm رَحِمَهُ اللهُ dalam kitabnya AlIhkam fi Ushulil Ahkam,”Dan termasuk syi’ar Musa عَلَيْهِ السَّلاَمُ firman Alloh تَعاَلىَ (فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى) ” maka lepaslah kedua terompahmu sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa”. Dan kami tidak melepas sandal kami di tanah suci tersebut “. Selesai ucapan beliau.
Maksud Ibnu Hazm bahwa kita tidaklah beribadah dengan syari’at orang-orang sebelum kita. Dan aku tidak mengetahui satu kerancuan yang serupa dengannya yang sepantasnya disebutkan. Adapun kekacauan dan anggapan baik orang-orang bodoh, maka tidak ada manfaat padanya kecuali amalan orang-orang yang mengetahui AsSunnah. Maka mereka jika melihat orang yang alim terhadap AsSunnah mengamalkannya pasti mereka akan mengamalkannya.

Penginkaran Terhadap Orang yang Menolak AsSunnah Dengan Akal dan Anggapan Baik

Karena banyak manusia menolak sunnah-sunnah dengan akal dan anggapan baik, dan termasuk sunnah yang mereka tolak adalah disyari’atkannya sholat memakai sandal, maka aku memandang perlunya menyebutkan dalil-dalil dan ucapan ulama yang menjelaskan kerusakan perbuatan mereka dan menejelaskan bahaya-bahayanya terhadap agama :

Hadits pertama :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى فِي امْرَأَتَيْنِ مِنْ هُذَيْلٍ اقْتَتَلَتَا فَرَمَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى بِحَجَرٍ فَأَصَابَ بَطْنَهَا وَهِيَ حَامِلٌ فَقَتَلَتْ وَلَدَهَا الَّذِي فِي بَطْنِهَا فَاخْتَصَمُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَضَى أَنَّ دِيَةَ مَا فِي بَطْنِهَا غُرَّةٌ عَبْدٌ أَوْ أَمَةٌ فَقَالَ وَلِيُّ الْمَرْأَةِ الَّتِي غَرِمَتْ كَيْفَ أَغْرَمُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ لَا شَرِبَ وَلَا أَكَلَ وَلَا نَطَقَ وَلَا اسْتَهَلَّ فَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الْكُهَّانِ

Dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ bahwa Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memutuskan hukum terhadap dua orang wanita dari Hudzail yang saling membunuh. Salah satunya melempar dengan satu batu mengenai perut wanita lawannya yang sedang hamil hingga mematikan janinnya yang di dalam perutnya. Lalu masyarakat mengadukan kepada Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ, lalu Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memutuskan bahwa diat/tebusan janin yang di dalam perutnya karena mati terbunuh adalah membebaskan satu budak laki-laki atau satu budak perempuan. Wali perempuan yang didenda berkata ,”Ya rosululloh bagaimana kami membayar denda atas orang yang belum makan dan minum, belum bicara dan menangis ? Maka yang semisal ini adalah sia-sia”. Maka Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata,”Sesungguhnya ini termasuk teman-teman dukun”.
Diriwayatkan oleh Bukhori juz 1 hal 328, Muslim juz 11 hal. 177 dan padanya ada tambahan setelah sabda Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الْكُهَّانِ “Sesungguhnya ini termasuk teman-teman dukun”, مِنْ أَجْل سَجْعه الَّذِي سَجَعَ “Karena sajaknya yang ia bersajak dengannya”.
Dan dikeluarkan oleh Abu Dawud juz 4 hal. 318, Nasai juz 8 hal. 43 dan Ibnu Majah juz 2 hal. 882.

Hadits Kedua :

عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ امْرَأَةً قَتَلَتْ ضَرَّتَهَا بِعَمُودِ فُسْطَاطٍ فَأُتِيَ فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَضَى عَلَى عَاقِلَتِهَا بِالدِّيَةِ وَكَانَتْ حَامِلًا فَقَضَى فِي الْجَنِينِ بِغُرَّةٍ فَقَالَ بَعْضُ عَصَبَتِهَا أَنَدِي مَنْ لَا طَعِمَ وَلَا شَرِبَ وَلَا صَاحَ فَاسْتَهَلَّ وَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ قَالَ فَقَالَ سَجْعٌ كَسَجْعِ الْأَعْرَابِ
Dari AlMugiroh bin Syu’bah,”Seorang wanita memukul istri yang lain dari suaminya dengan tongkat tenda. Lalu Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dipanggil untuk memutuskan hukum. Maka beliau صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memutuskan hukum atas keluarga wanita yang dilempar – dan dia sedang hamil- dengan denda atau ganti rugi, maka Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ menghukumi bahwa janinnya terbunuh. Lalu sebagian wali dari wanita yang terkena denda berkata,’ Apakah kami membayar denda kepada orang yang belum makan dan minum, belum teriak dan menangis, maka yang semisal ini sia-sia’. Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,”Ini adalah salah satu sajak orang-orang Arab Badui”.
Diriwayatkan Muslim juz 11 hal. 179 dan Nasai juz 8 hal. 44.
Maka anda melihat bahwa Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ mengingkarinya karena ia menentang hadits dengan akalnya dan mengatakan,” Sesungguhnya ini termasuk teman-teman dukun”. Karena sajaknya.

Hadits Ketiga :

عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ كَادَ الْخَيِّرَانِ أَنْ يَهْلِكَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا رَفَعَا أَصْوَاتَهُمَا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَدِمَ عَلَيْهِ رَكْبُ بَنِي تَمِيمٍ فَأَشَارَ أَحَدُهُمَا بِالْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ أَخِي بَنِي مُجَاشِعٍ وَأَشَارَ الْآخَرُ بِرَجُلٍ آخَرَ قَالَ نَافِعٌ لَا أَحْفَظُ اسْمَهُ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ لِعُمَرَ مَا أَرَدْتَ إِلَّا خِلَافِي قَالَ مَا أَرَدْتُ خِلَافَكَ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا فِي ذَلِكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ } يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ {الْآيَةَ قَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ فَمَا كَانَ عُمَرُ يُسْمِعُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ هَذِهِ الْآيَةِ حَتَّى يَسْتَفْهِمَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ ذَلِكَ عَنْ أَبِيهِ يَعْنِي أَبَا بَكْرٍ
“Hai orang-orang beriman janganlah kalian meninggikan suaramu….” Dari Ibni Abi Mulaikah,”Hampir-hampir dua orang pilihan binasa, Abu Bakar dan ‘Umar, keduanya meninggikan suaranya di sisi Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ketika rombongan Bani Tamim. Salah satu dari keduanya mengisyaratkan kepada Aqro’ bin Habis saudara lelaki Mujazyi’ dan yang lainnya menunjuk kepada seorang lelaki yang lainnya, Nafi mengatakan, aku tidak hapal namanya. Maka Abu Bakar berkata kepada ‘Umar,”Kamu hanya menginginkan beda pendapat denganku”. Umar berkata kepada Abu Bakar,”Kamu hanya menginginkan perselesihan”. Lalu suara keduanya terdengar keras, kemudian turunlah firman Alloh : } يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ { “Hai orang-orang beriman janganlah kamu mengeraskan suaramu…”
Ibnu Zubari berkata,’Tidaklah Umar mendengar perkataan Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ setelah turun ayat ini kecuali ia meminta penjelasannya”, dan ia (Ibnu Abi Mulaikah) tidak menyebutkan Abu Bakar dari ayanya (Abu Mulaikah).
Dikeluarkan oleh Bukhori juz 10 hal 212, 214, padanya terdapat riwayat Ibnu Abi Mulaikah dari ‘Abdillah bin Az Zubair, dan juz 17 hal. 39, Tirmidzi juz 4 hal. 185 dan terdapat ketegasan ‘Abdulloh bin Abi Mulaikah bahwa ‘Abdillah bin Az Zubair menyampaikan hadits kepadanya, Ahmad dalam Musnadanya juz 4 hal. 6, Thobari juz 26 hal. 119, dan padanya terdapat ucapan Nafi’ : Telah mengatakan kepadaku Ibnu Abi Mulaikah dari ibni Az Zubair”, maka diketahuilah hadits ini bersambung sebagaimana diisyaratkan oleh AlHafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Barinya juz 10 hal. 212.

Hadits Keempat :

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي مَرَضِهِ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ يُصَلِّي بِالنَّاسِ قَالَتْ عَائِشَةُ قُلْتُ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِي مَقَامِكَ لَمْ يُسْمِعْ النَّاسَ مِنْ الْبُكَاءِ فَمُرْ عُمَرَ فَلْيُصَلِّ فَقَالَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ لِلنَّاسِ قَالَتْ عَائِشَةُ لِحَفْصَةَ قُولِي لَهُ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِي مَقَامِكَ لَمْ يُسْمِعْ النَّاسَ مِنْ الْبُكَاءِ فَمُرْ عُمَرَ فَلْيُصَلِّ لِلنَّاسِ فَفَعَلَتْ حَفْصَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْ إِنَّكُنَّ لَأَنْتُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ لِلنَّاسِ قَالَتْ حَفْصَةُ لِعَائِشَةَ مَا كُنْتُ لِأُصِيبَ مِنْكِ خَيْرًا

Dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ Ummul Mukminin bahwa Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata saat sakitnya,”Perintahkan Abu Bakar sholat dengan manusia (menjadi imam)”. ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ berkata,’Sesungguhnya Abu Bakar jika berdiri sholat pada posisi anda manusia tidak mendengar suaranya karena tangisannya waktu sholat maka perintahkanlah ‘Umar untuk sholat bersama manusia (menjadi imam)’. Maka Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Perintahkan Abu Bakar untuk sholat bersama manusia’. ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ berkata kepada Hafshoh,’Katakanlah kepada beliau, sesungguhnya Abu Bakar jika berdiri sholat pada posisi anda manusia tidak mendengar suaranya karena tangisannya waktu sholat maka perintahkanlah ‘Umar untuk sholat bersama manusia (menjadi imam)’. Hafshoh melaksanakan perintah ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ , lalu Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata,’ Sesungguhnya kalian ini showahib (saudara-saudara ) Yusuf, perintahkan Abu Bakar untuk sholat mengimami manusia”. Hafshoh berkata kepada ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ,’Tidaklah aku ditimpa kebaikan darimu”.
Diriwayatkan Bukhori juz 17 hal. 39 dan Muslim juz 5 hal. 140,141.

Hadits Kelima :

عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ عَنْ عُرْوَةَ قَالَ حَجَّ عَلَيْنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْزِعُ الْعِلْمَ بَعْدَ أَنْ أَعْطَاكُمُوهُ انْتِزَاعًا وَلَكِنْ يَنْتَزِعُهُ مِنْهُمْ مَعَ قَبْضِ الْعُلَمَاءِ بِعِلْمِهِمْ فَيَبْقَى نَاسٌ جُهَّالٌ يُسْتَفْتَوْنَ فَيُفْتُونَ بِرَأْيِهِمْ فَيُضِلُّونَ وَيَضِلُّونَ
Dari ‘Abdillah bin ‘Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهُماَ ,”Aku mendengar Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Sesungguhnya Alloh tidak mencabut ilmu (agama ) setelah Ia memberikannya kepada kalian dengan sekali cabutan akan tetapi Ia mencabutnya dari manusia bersamaan dengan mematikan para ulama dengan ilmu mereka lalu tinggallah manusia-manusia bodoh yang diminta fatwa lalu mereka berfatwa dengan akal mereka lalu mereka menyesatkan dan sesat”.

Diriwayatkan Bukhori juz 17 hal. 145 dan Muslim, lafadznya dari Bukhori.

Atsar (Jejak) Salaf

Adapun atsar salaf tentang pengingkaran terhadap orang yang menolak sunnah-sunnah dengan akal tak terhitung, akan tetapi aku isyaratkan saja sebagiannya:

Atsar pertama :
لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أسفل الخف أولى بِالْمَسْحِ مِنْ أعلاها وَقَدْ رأيت النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمَْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ
“Kalau agama ini ditentukan dengan akal pasti bagian bawah khuf lebih utama diusap daripada bagian atasnya, dan sungguh aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ mengusap bagian atas khufnya”.
Dikeluarkan Abu Dawud juz 1 hal. 63, perowi-perowinya perowi kitab Shohih kecuali ‘Abdu Khori, ia amanah sebagaimana disebutkan dalam kitab “AtTaqrib”.
Dan berkata AlHafidz Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom,”Sanadnya hasan”. Dan berkata dalam Talkhishnya,”Diriwayatkan Abu Dawud dan sanadnya shohih”.

Atsar kedua :
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا
قَالَ فَقَالَ بِلَالُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَاللَّهِ لَنَمْنَعُهُنَّ قَالَ فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ فَسَبَّهُ سَبًّا سَيِّئًا مَا سَمِعْتُهُ سَبَّهُ مِثْلَهُ قَطُّ وَقَالَ أُخْبِرُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقُولُ وَاللَّهِ لَنَمْنَعُهُنَّ
Bahwa ‘Abdulloh bin ‘Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ berkata,”Aku mendengar Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Jangan sekali-kali kamu menghalangi wanita-wanita pergi masjid-masjid jika mereka meminta ijin kamu pergi ke masjid- masjid’. Ia, Salim bin ‘Abdulloh, berkata,’Berkata Bilal bin ‘Abdulloh, anaknya, ‘Demi Alloh kami akan menghalngi wanita-wanita pergi ke masjid-masjid’. Lalu ‘Abdulloh bin ‘Umar menoleh kepadanya, kemudian mencelanya dengan celaan yang jelek yang aku belum pernah mendengar celaan yang semisal dengannya dan berkata,’Aku kabarkan kepadamu dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan kamu bantah,”Demi Alloh kami akan menghalngi wanita-wanita pergi ke masjid-masjid ?’.
Diriwayatkan Muslim juz 4 hal. 161 dan Jami’ Bayan ‘Ilmi wa Fadhlihi juz 2 hal 139 karya AlHafidz ibnu ‘Abdil Barr bahwa Ibnu Umar berkata kepada anaknya,
لعنك الله لعنك الله لعنك الله تسمعني أقول : إن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمر ألا يمنعن ، وقام مغضبا
‘Alloh melaknat kamu, ‘Alloh melaknat kamu, ‘Alloh melaknat kamu, aku katakan : Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memerintahkan mereka tidak menghalangi mereka’. Dan ia berdiri dengan marah.”

Atsar Ketiga :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ َنَّهُ رَأَى رَجُلًا يَخْذِفُ فَقَالَ لَهُ لَا تَخْذِفْ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْخَذْفِ أَوْ كَانَ يَكْرَهُ الْخَذْفَ وَقَالَ إِنَّهُ لَا يُصَادُ بِهِ صَيْدٌ وَلَا يُنْكَى بِهِ عَدُوٌّ وَلَكِنَّهَا قَدْ تَكْسِرُ السِّنَّ وَتَفْقَأُ الْعَيْنَ ثُمَّ رَآهُ بَعْدَ ذَلِكَ يَخْذِفُ فَقَالَ لَهُ أُحَدِّثُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنْ الْخَذْفِ أَوْ كَرِهَ الْخَذْفَ وَأَنْتَ تَخْذِفُ لَا أُكَلِّمُكَ كَذَا وَكَذَا
Dari ‘Abdillah bin Mughofal bahwa ia melihat seorang lelaki melempar binatang buruan dengan batu kecil, maka ia berkata kepadanya,”Janganlah kamu melemparnya dengan batu kecil, sesungguhnya Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ melarangnya atau beliau tidak menyukainya dan bersabda,’Melempar itu tidak bisa menangkap binatang buruan dan tidak bisa menyakitkan musuh akan tetapi hanya memecahkan gigi dan mencongkel mata”. Beberapa waktu kemudian ia melihat lelaki itu melempar buruan lagi dengan batu kecil, maka ia berkata kepadanya,’Aku katakan dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bahwa beliau melarang yang demikian atau tidak menyukainya dan kamu tetap melemparnya, maka aku tidak akan bicara kepadamu selamanya !”.

Atsar Keempat :

عَنْ أََبِيْ قَتَادَةَ حَدَّثَ قَالَ كُنَّا عِنْدَ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ فِي رَهْطٍ مِنَّا وَفِينَا بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ فَحَدَّثَنَا عِمْرَانُ يَوْمَئِذٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ قَالَ أَوْ قَالَ الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ فَقَالَ بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ إِنَّا لَنَجِدُ فِي بَعْضِ الْكُتُبِ أَوْ الْحِكْمَةِ أَنَّ مِنْهُ سَكِينَةً وَوَقَارًا لِلَّهِ وَمِنْهُ ضَعْفٌ قَالَ فَغَضِبَ عِمْرَانُ حَتَّى احْمَرَّتَا عَيْنَاهُ وَقَالَ أَلَا أَرَانِي أُحَدِّثُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُعَارِضُ فِيهِ قَالَ فَأَعَادَ عِمْرَانُ الْحَدِيثَ قَالَ فَأَعَادَ بُشَيْرٌ فَغَضِبَ عِمْرَانُ قَالَ فَمَا زِلْنَا نَقُولُ فِيهِ إِنَّهُ مِنَّا يَا أَبَا نُجَيْدٍ إِنَّهُ مِنَّا لَا بَأْسَ بِهِ
Dari Abi Qotadah Tamim bin Nadzir Al’Adawi bahwa ia berkata,”Kami pernah di sisi ‘Imron bin Hushoin dalam satu kelompok manusia dan Busyair bin Ka’ab, lalu ‘Imron menyampaikan hadits, ia berkata, ‘ Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Malu semuanya baik’. Maka Busyair bin Ka’ab berkata,’Kami menemukan pada sebagian kitab bahwa di antara malu ada ketenangan, kewibaan dan di di antaranya ada kelemahan’. Lalu ‘Imron marah sampai memeraha wajahnya dan berkata,’Bukankah aku memperlihatkan pada diriku, aku menyampaikan hadits padamu dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan kamu bantah’. Abu Qotadah berkata,’ ‘Imron mengulang hadits tersebut’. Busyair membantah lagi, ‘Imron marah besar’. Abu Qotadah berkata,’Maka kami tetap mengatakan hai Abu Nujaid (‘Imron), sesungguhnya di antara kami tidak mengapa”.
Diriwayatkan oleh Muslim juz 2 hal 7, Ahmad juz 4 hal. 436, 440, 442, 445 dan Thoyalisi juz 2 hal. 41).

Atsar Kelima :
عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ : قَالَ عُرْوَةُ لِابْنِ عَبَّاسٍ حَتَّى مَتَى تُضِلُّ النَّاسَ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ أَضْلَلْتَ النَّاسَ, قَالَ : وَ مَا ذَاكَ يَا عُرَيَّةُ قَالَ تَأْمُرُنَا بِالْعُمْرَةِ فِي هَؤُلاَءِ الْعَشَرُ وَ لَيْسَتْ فِيْهِنَّ عُمْرَةٌ ! قَالَ : أَوَ لاَ تَسْأَلُ أُمَّكَ عَنْ ذَلِكَ ؟ قاَلَ عُرْوَةُ : فَإِنَّ أَباَ بَكْرٍ ، وَعُمَرَ لَمْ يَفْعَلاَ ذَلِكَ قَالَ ابْنُ عَباَّسٍ : هَذاَ الَّذِيْ أَهْلَكَكُمْ . وَ اللهِ مَا أَرَى إِلاَّ سَيُعَذِّبُكُمْ إِنِّيْ أُحَدِّثُكُمْ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ تَجِيؤُنِيْ بِأَبِيْ بَكْرٍ ، وَ عُمَرَ ؟

Dari Abi Mulaikah bahwa ‘Urwah bin Az Zubair berkata kepada Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ : Kamu menyesatkan banyak manusia. Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ bertanya :’Mengapa hai ‘Urwah ? ‘Urwah menjawab,’Kamu memerintahkan ‘umroh pada sepuluh hari bulan haji padahal tidak ada perintah ‘umroh ! Maka Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ berkata,’Mengapakah kamu tidak bertanya kepada ibumu tentang masalah ini ? ‘Urwah berkata,’Sesungguhnya Abu Bakar dan ‘Umar tidak mengerjakannya’. Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ berkata,’ Inilah yang membinasakan kalian, demi Alloh aku tidak melihat kecuali Ia akan mengazab kalian, aku menyampaikan hadits dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan kalian bantah dengan Abu Bakar dan ‘Umar….”.

Diriwayatkan Ahmad juz 1 hal. 337 dan Ishaq bin Rohawaih sebagaimana dalam kitab AlMatholib Al’Aliyyah juz 1 hal. 360 dan padanya terdapat perkataan, نجئيكم برسول الله صلى الله عليه و سلم وَ تَجِيؤُنِيْ بِأَبِيْ بَكْرٍ ، وَ عُمَر ؟َ
“Kami mendatangkan hadits Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan kalian membatahnya dengan Abu Bakar dan ‘Umar ?”
Diriwayatkan AlKhothib dalam AlFaqih wal Mutafaqih juz 1 hal. 145, Ibnu Hazm dalam Hajjatul Wada’ hal. 268 dan 269 dari jalan-jalan yang sanadnya sampai ke Ibni Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al’Ilmi wa Fadhlihi juz 2 hal. 239 dan 240.

Atsar Keenam :

أنا محمد بن أحمد بن رزق ، أنا عثمان بن أحمد الدقاق ، نا محمد بن إسماعيل الرقي ، أنا الربيع بن سليمان ، قال : سمعت الشافعي ، وسأله ، رجل عن مسألة ، فقال : يروى فيها كذا وكذا عن النبي صلى الله عليه وسلم ، فقال له السائل : يا أبا عبد الله تقول به ؟ فرأيت الشافعي أرعد (1) وانتقص ، فقال : « يا هذا ، أي أرض تقلني (2) ، وأي سماء تظلني ، إذا رويت عن النبي صلى الله عليه وسلم حديثا فلم أقل به ؟ نعم على السمع والبصر ، نعم على السمع والبصر » Berkata AlKhothib AlBaghdadi رَحِمَهُ اللهُ ,”Mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Rizq, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Utsman bin Ahmad AdDaqoq, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Isma’il ArRoqi, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami ArRobi ‘ bin Sulaiman, ia berkata, ‘Aku mendengar AsySyafi’i ditanya seorang lelaki tentang satu masalah, lalu beliau berkata, ‘Diriwayatkan pada masalah ini demikian dan demikian dari Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ‘. Lelaki itu berkata,’Hai Abu ‘Abdillah, apa yang anda katakan tentangnya ? Maka aku melihat AsySyafi’i bergetar badannya karena takut kepada Alloh dan bangkit dari duduknya, lalu berkata,’Apa ini, bumi mana yang akan membawaku dan langit mana yang akan menaungiku jika aku meriwayatkan dari Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ satu hadits lalu aku tidak berpendapat dengannya ? Ya, atas pendengaran dan penglihatan, ya, atas pendengaran dan penglihatan (wajib menerimanya).
Dan AlKhothib berkata,”Telah mengabarkan kepada kami ArRobi, ia berkata, aku mendengar AsySyafi’I meriwayatkan satu hadits dan sebagian orang yang hadir berkata kepadanya,’Apakah anda mengambil hadits ini ?’ Maka beliau berkata,’Jika aku meriwayatkan satu hadits yang shohih lalu aku tidak mengambilnya, maka aku mempersaksikan pada kalian bahwa akalku telah hilang’, dan beliau membentangkan kedua tangannya.
Atsar ini dikeluarkan oleh AlHafidz AlBaihaqi dalam Manaqib AsySyafii juz 1 hal. 474, 475 dan Abu Nu’aim dalam AlHilyah juz 9 hal. 106. Dan AlKhothib telah menyebutkan dalam kitab AlFaqih wal Mutafaqih satu ucapan yang bagus dalam membantah orang yang mengagungkan akal, beliau رَحِمَهُ اللهُ berkata,”Dan demi umurku, sungguh sunnah-sunnah dan sisi-sisi kebenaran banyak datang menyelisihi dan menjauhi akal dengan sangat jauh, maka kaum muslimin haruslah mengikuti dan tunduk kepadanya. Untuk yang semisal ini ahli ilmu dan agama sangat berhati-hati. Lalu kehati-hatian mereka menahan dari mendahulukan akal dan menunjukkan pada mereka atas kebutaan dan hilang akalnya, bahwasanya kebenaran itu datang menyelisihinya dalam banyak sisi, di antaranya :
Bahwa memotong jemari tangan seperti memotong tangannya dari pundak maka didenda ribu dinar.
Memotong kaki pada paling sedikit daruratnya seperti memotong kaki dari pangkal pahanya maka dendanya ribu dinar.
Dua mata jika tercongkel maka keadaan daruratnya seperti bagian tubuh yang dipotong dari ujung telinganya didenda duabelas ribu dinar .
Dula luka kecil di kepala dendanya duaratus dinar……
Wanita yang haidl mengqodho puasa tidak mengqodho sholat.
Maka sisi-sisi manakah dari hukum Islam di atas yang masuk akal ? Namun sunnah-sunnah dari Islam, di mana Alloh menjadikannya sebagai inti dan tiang agama yang dibangun di atasnya Islam dan ucapan mana yang lebih berbahaya daripada apa yang disabdakan Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dalam haji perpisahannya ketika beliau berkhutbah di hadapan ratusan ribu manusia :”Dan sungguh akau tinggalkan kalian wahai manusia, selama kalian berpegang teguh dengan maka kalian tidak akan sesat selamanya, dua perkara di antara kita : kitabulloh dan sunnah nabiNya”, maka Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ mengaitkan di antara keduanya. Demi Alloh, jika kita memungut sunnah-sunnah dari ahli fiqih dan orang-orang yang terpercaya dan mempelajarinya seperti kita mempelajari ayat-ayat AlQur’an. Kita senantiasa menjumpai orang-orang utama dan ahli fiqih dari orang-orang terpilih sangat mencela orang-orang yang suka berdebat dan mendahulukan akalnya, melarang kita bertemu dengan mereka dan bermajlis dengan mereka, memperingatkan kita dengan keras agar menjauhi mereka dan mengabarkan kepada kita bahwa mereka adalah orang-orang sesat, tukang menyimpangkan makna dalil dengan menafsirkan kitabulloh dan sunnah Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dengan kesesatan. Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ tidaklah wafat sampai beliau membenci banyak pertanyaan dan membahas urusan-urusan yang tidak bermanfaat dalam agama hingga ucapan beliau yang menunjukkan ketidaksukaannya : Biarkan aku, apa yang aku tinggalkan pada kalian, sesungguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kalian banyaknya pertanyaan dan penyelisihan terhadap nabi mereka, jika aku larang sesuatu pada kalian maka jauhilah, jika aku perintahkan sesuatu pada kalian maka ambillah darinya semampu kalian”, maka perkara apa yang lebih mencukupi daripada melebihkan akal atas perkataan Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ? Kaum yang dikatakan Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ tidak akan mencapai satu persenpun dari seratus persen pengetahuan syariat yang telah dicapai oleh kaum yang bersama beliau صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ . Bukankah pengikut hawa nafsu atau ahli bid’ah dan orang-orang yang menyelisihi kebenaran binasa dengan sebab perdebatan dan pemikiran mereka ? Maka mereka itu tiap hari di atas agama yang sesat dan kesamaran yang baru, tidak tegak di atas satu agama. Yang paling menakjubkan mereka hanyalah berdebat dan memikirkan selain agama ini. Seandainya mereka berpegang teguh dengan sunnah-sunnah, agama sahabat, mengambil urusan yang diperintahkan dan diridhoi Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan meninggalkan perdebatan pasti hilanglah kesamaran agama mereka. Namun mereka memaksakan diri pada apa yang telah dicukupkan hasilnya dan mereka memikul di atas akal-akal mereka penelitian dalam urusan Alloh yang akal mereka tidak mampu menelaahnya. Dan hak akal adalah mencukupkan diri di bawah syariat Alloh. Maka di sanalah mereka menempatkan diri pada posisi yang sulit. Di manakah ilmu……
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan husus Robbku, dan kamu hanyalah diberi sedikit ilmu Allah “.

Alloh telah mengkisahkan Musa yang mencela urusan seorang yang ia jumpai
فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آَتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
“Lalu keduanya bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”.
Lelaki ini melubangi sebuah perahu, membunuh seorang anak kecil dan membangun sebuah dinding sebagaimana yang telah Alloh kisahkan dalam kitabNya, lalu Musa mengingkari perbuatannya, tindakan-tindakan yang terlihat aneh oleh Musa dan diingkari hati dan tidak bisa dicapai oleh pikiran manusia sampai Alloh menyingkapkan rahasianya kepada Musa hingga ia mengetahuinya. Demikianlah syari’at yang datang dari sunnah-sunnah Islam dan syari’at-syari’at agama yang tidak sesuai dengan pikiran dan akal manusia. Seandainya disingkapkan kepada manusia pokok-pokonya pasati ia datang dengan jelas tidak ada kesulitan apa pun seperti perbuatan Khodhir yang diperlihatkan kepada Musa. Sesungguhnya syari’at yang dibawa Muhammad َصلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ mirip apa yang dibawa oleh Musa. Dan tidak ada yang lebih bodoh, sedikit mengenal hak Alloh, rosulNya, cahaya Islam dan keterangannya daripada orang yang mengatakan, aku tidak menerima AsSunnah maupun urusan kaum muslimin yang dahulu (sahabat) sampai tersingkap kepadaku hal ghoib dan aku mengetahui pokok-pokoknya ? Atau ia tidak mengucapkan penolakannya tetapi demikianlah perbuatan dan pikirannya. Padahal Alloh تَعاَلىَ berfirman :
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
” Maka demi Rabbmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian hati mereka tidak merasa keberatan terhadap hukum yang kamu putuskan dan mereka menerima dan tunduk secara lahir dan batin”.

 

 

 

 

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّه نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ سَيِّئاَتِ أَعْمَالِنَامَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

       Sesungguhnya segala pujian hanyalah milik Alloh, kami memuji, meminta ampunan kepadaNya, berlindung kepadaNya dari kejelekan jiwa-jiwa dan amal-amal kami. Barangsiapa yang ditunjuki Alloh maka tidak ada yang menyesatkannya dan barangsiapa disesatkanNya maka tidak ada yang dapat menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak di sembah selain Alloh tidak ada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya.

Alloh تَعاَلىَ berfirman :

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ }

 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam”.[1]

 

Alloh تَعاَلىَ berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Robbmu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Allah menciptakan isterinya (Hawa). Dari keduanya (Adam dan Hawa) Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan taatlah kepada Allah yang dengan mempergunakan namaNya kamu saling meminta[2] dan peliharalah hubungan silaturrahim[3]. Sesungguhnya Allah selalu menjaga semua keadaanmu dan mengawasi kamu”.[4]

 

Alloh تَعاَلىَ berfirman :

} يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا {

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang lurus, niscaya Allah memberi taufik amal shalih kepadamu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”.[5]

     Amma ba’du : Sungguh banyak sunnah Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ yang tidak diketahui kaum muslimin, sehingga mereka meninggalkannya, selanjutnya mereka membenci orang yang berusaha mengamalkan dan hendak menghidupkannya, lalu mereka menuduhnya dengan kesesatan yang jauh.

     Termasuk sunnah tersebut adalah sholat dengan memakai sandal. Hadits-hadits mutawatir menyebutkan bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat dengan mamakai sandal. Alloh تَعاَلىَ berfirman :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.[6]

     Dan telah tetap dalam hadits bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memerintahkan sholat memakai sandal. Alloh تَعاَلىَ berfirman :

 

وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Dan apa yang diperintahkan Rasul kepadamu, maka lakukanlah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”.[7]

Alloh تَعاَلىَ berfirman :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidak halal bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.[8]

     Alloh تَعاَلىَ berfirman :

 

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka orang-orang yang menyelishi syari’at Rasul (yang lahir maupun batin) haruslah takut akan ditimpa fitnah (hati) atau ditimpa azab yang pedih di dunia”.[9]

     Oleh karena itulah aku berhasrat untuk mengumpulkan hadits-hadits yang aku ketahui dalam masalah disyari’atkannya sholat memakai sandal.

       Dan Alloh lah yang memberi taufiq bagi kebenaran dan kepadaNyalah tempat kembali.

 

 

                                                           Abu Abdirrohman Muqbil bin Hadi AlWadi’i

 

 

Dalil-dalil Atas Disyari’atkannya Sholat Memakai Sandal

 

Hadits pertama :

       Imam Bukhari berkata dalam kitab Shahihnya juz 1 halaman 494 :

حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو مَسْلَمَةَ سَعِيدُ بْنُ يَزِيدَ الْأَزْدِيُّ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ

أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي نَعْلَيْهِ قَالَ نَعَمْ

” Telah mengatakan kepada kami Adam bin Abi Iyas, ia berkata, telah mengatakan kepada kami Syu’bah, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Abu Maslamah Sa’id bin Yazid AlAzdi, ia berkata,”Aku bertanya kepada Anas bin Malik, apakah Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat memakai kedua sandalnya ?” Ia menjawab,”Ya”.

       Hadits diriwayatkan Imam Muslim (5/42) – dengan syarah Nawawi – , Tirmidzi (1/310) – dengan Tuhfatul Ahwadzi- dan beliau berkata,”Hasan shohih dan ahli ilmu mengamalkan dengannya”, Nasai (2/58), Ibnul Jarud, 68, Ahmad (3/100,166,189), Abu Dawud AthThoyalisi (1/84), Darimi,(1/320), Ibnu Sa’d (1/511) dan AlBaigaqi (2/431).

Hadits kedua :

       Imam Muslim رَحِمَهُ الله berkata dalam kitab Shahihnya (1/390) nomor 554 :

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا كَهْمَسٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَأَيْتُهُ تَنَخَّعَ فَدَلَكَهَا بِنَعْلِهِ

” Telah mengatakan kepada kami ‘Ubaidulloh bin Mu’adz Al’Anbari, telah mengatakan kepada kami ayahku, telah mengatakan kepada kami Kahmasun dari Yazid bin ‘Abdillah AsySyihhir dari ayahnya, ia berkata,”Aku sholat bersama Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ lalu aku melihat beliau berdahak lalu menggosok dahaknya dengan sandalnya”.

و حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ عَنْ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ أَبِي الْعَلَاءِ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ

عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَتَنَخَّعَ فَدَلَكَهَا بِنَعْلِهِ الْيُسْرَى

“Dan telah mengatakan kepadaku Yahya bin Yahya, telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Zurai’ dari AlJaziri dari Abil ‘Ala Yazid bin ‘Abdillah AsySyihhir dari ayahnya bahwa sholat bersama Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ,Ia berkata,” Beliau berdahak lalu menggosok dahaknya dengan sandal kirinya”.

 

Hadits ketiga :

قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقُ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ سَعِيْدٍ الْجَرِيْرِيُّ عَنْ أَبِيْ الْعَلاَءِ ابْنِ عَبْدِ الله ِبْنِ الشِّخِّيْرِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيْ نَعْلَيْه

‘Abdurrozaq dalam Mushonnafnya (1/384) berkata : Dari Ma’mar dari Sa’id AlJariri dari Abil ‘Ala’ bin ‘Abdillah AsySihhir, ia berkata,’Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat memakai kedua sandalnya”.

       Hadits ini perowi-perowinya perowi-perowi kitab Shohih.

 

Hadits keempat :

قاَلَ بْنُ مَاجَهَ : حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ أَبِي أَوْسٍ قَالَ

كَانَ جَدِّي أَوْسٌ أَحْيَانًا يُصَلِّي فَيُشِيرُ إِلَيَّ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَأُعْطِيهِ نَعْلَيْهِ وَيَقُولُ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي نَعْلَيْهِ

Berkata Imam Ibnu Majah : “Telah mengatakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, telah mengatakan kepada kami Ghundar dari Syu’bah dari AnNu’man bin Salim dari Ibni Abi Aus, ia berkata,”Adalah kakekku Aus pernah mengisyaratkan kepadanya pada waktu sholat lalu aku memberikan sandalnya, ia berkata,’Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat memakai sandal”.

   AlBushiri berkata dalam Mishbah AzZujajah, 125,”Sandanya baik”.

     Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi Syaibah (2/415), Thohawi (1/512), Ahmad (4/8,9,10) dan AlHaitsami berkata dalam Majma’ AzZawaid (2/55),”Diriwayatkan Thobroni dalam AlKabir dan perowi-perowinya amanah”.

 

Hadits kelima :

Imam Ahmad berkata dalam Musnadnya (2/422):

حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَنِي الْحَارِثِ بْنِ كَعْبٍ قَالَ

كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَسَأَلَهُ فَقَالَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْتَ نَهَيْتَ النَّاسَ أَنْ يَصُومُوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَالَ لَا لَعَمْرُ اللَّهِ غَيْرَ أَنِّي وَرَبِّ هَذِهِ الْحُرْمَةِ لَقَدْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَّا فِي أَيَّامٍ يَصُومُهُ فِيهَا فَجَاءَ آخَرُ فَقَالَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْتَ نَهَيْتَ النَّاسَ أَنْ يُصَلُّوا فِي نِعَالِهِمْ قَالَ لَا لَعَمْرُ اللَّهِ غَيْرَ أَنِّي وَرَبِّ هَذِهِ الْحُرْمَةِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي إِلَى هَذَا الْمَقَامِ وَإِنَّ عَلَيْهِ نَعْلَيْهِ ثُمَّ انْصَرَفَ وَهُمَا عَلَيْهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Telah mengatakan kepada kami ‘Affan,ia berkata, telah mengatakan kepada kami Abu ‘Awanah, ia berkata telah mengatakan kepada kami ‘Abdul Malik bin ‘Umair dari seorang lelaki dari bani AlHarits bin Ka’ab, ia berkata,”Aku pernah duduk di sisi Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ , lalu seorang lelaki datang menemuinya dan bertanya kepadanya,’Hai Abu Huroiroh, apakah kamu melarang manusia puasa pada hari Jum’at ?’ Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ menjawab,’Tidak, demi Alloh, selain aku, demi robb Ka’bah, mendengar Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Jangan sekali-kali seorang dari kalian puasa pada hari Jum’at kecuali hari-hari yang biasa ia puasa padanya’. Lalu seorang lelaki lainnya datang kepada dan berkata,’Hai Hai Abu Huroiroh, apakah kamu melarang manusia sholat memakai sandal ?’ Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ menjawab,’Tidak, demi Alloh, selain aku, demi robb Ka’bah, selain aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat menghadap makom (tempat berdiri nabi Ibrohim di Ka’bah), memakai sandal, kemudian beliau pergi dengan memakai sandalnya”.

     Hadits ini beliau keluarkan juga dalam tempat lainnya pada halaman (348, 365, 377, 458,537) dan pada sebagian jalan sanadnya disebutkan nama lelaki yang datang yaitu Abul Aubar Ziyad AlHaritsi), dikeluarkan juga oleh ‘Abdurrozaq, 1/385, Ibnu Abi Syaibah, 2/415 dan Thohawi,1/511).

       Perowi-perowi hadits di atas semuanya perowi-perowi kitab shohih kecuali Abul Aubar Ziyad AlHaritsi dinyatakan amanah oleh Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban sebagaimana disebutkan dalam kitab Ta’jilul Manfa’ah.

       Adapun ucapan AlHafidz AlHaitsami dalam kitabnya Majma’ AzZawaid, 2/54,” Perowi-perowinya amanah selain Ziyad Abul Aubar AlHaritsi, aku tidak menemukan orang yang menyatakan amanah maupun melamahkannya dalam biografinya”, maka ucapannya telah dibantah oleh Ibnu Hajar dalam kitab Ta’jilul Manfa’ah dengan membawakan rekomendasi Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban.

  

Hadits Keenam :

       Ibnu Majah berkata dalam Sunanya (1/330):

سنن ابن ماجه – (ج 3 / ص 327)

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَقَدْ رَأَيْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي النَّعْلَيْنِ وَالْخُفَّيْنِ

“Telah mengatakan kepada kami ‘Ali bin Muhammad, telah mengatakan kepada kami Yahya bin Adam, telah mengatakan kepada kami Zuhair dari Abi Ishaq dari ‘Alqomah dari Ibnu Mas’ud, ia berkata,”Sungguh aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat memakai sandal dan khufnya“.[10]

       Dikeluarkan oleh Abu Dawud AthThoyalisi, 1/84, Ibnu Abi Syaibah, 2/416, Ahmad 1/461 dan Thohawi 1/511.

       Di sebagian kitab ditegaskan bahwa Abu Ishaq tidak mendengar dari ‘Alqomah

       AlBushiri mengatakan dalam kitab Mishbah AzZujajah fi Zawaid Ibni Majah, 125,”Sanadnya terdapat Abu Ishaq AsSabi’I yang pada ahir umurnya mengalami pikun, Zuhair adalah Mu’awiyyah bin Khudaij diriwayatkan darinya hadits setelah ia pikun sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Zur’ah”.

       Dengan sanad ini hadits dinilai lemah akan tetapi bisa dipakai sebagai penguat.

 

Hadits Ketujuh :

     Abu Dawud berkata dalam Sunannya (1/247,248) berkata :

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي حَافِيًا وَمُنْتَعِلًا

Telah mengatakan kepada kami Muslim bin Ibrohim, telah mengatakan kepada kami ‘Ali bin Mubarok dari Husain AlMu’allim dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata,”Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَterkadang sholat tidak beralas kaki dan terkadang memakai sandal”.

       Hadits dikeluarkan oleh Ibnu Majah (1/330), Ahmad (2/174,178,190,210), Ibnu Abi Syaibah (2/425), Ibnu Sa’d (1/ ق 2,168) Thohawi (1/512) dan AlBaihaqi (1/4121).

Dan hadits ini hasan.[11]

 

Hadits Kedelapan :

      Imam Ahmad berkata dalam Musnadnya (4/307):

حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ السُّدِّيِّ حَدَّثَنِي مَنْ سَمِعَ عَمْرَو بْنَ حُرَيْثٍ قَالَ رََأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي نَعْلَيْنِ مَخْصُوفَيْنِ

“Telah mengatakan kepada kami Waki’, telah mengatakan kepada kami Sufyan dari AsSudi dari orang yang mendengar dari ‘Amr bin Huraits, ia berkata,”Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat dengan sandalnya – dalam jalan yang lainnya – dengan sandalnya yang ditambal “.

     Hadits dikeluarkan oleh Tirmidzi dalam Syamail Muhammadiyyah, 66, ‘Abdurrozaq (1/386), Ibnu Abi Sayibah (2/415), Ibnu Sa’d (1/ق 2, 167) dan Thohawi, 1/512.

     Hadits ini dalam sanadnya ada perowi yang tidak dikenal.

     Penulis Syarah Syamail Muhammadiyyah berkata,”Berkata AlQistholani, aku tidak mengetahui pada satu riwayat ketegasan nama orang yang meriwayatkan hadits dari AsSudi[12], dan aku perkirakan namanya ‘Atho bin AsSaib, di ahir umurnya ia pikun. Dan AsSud termsuk orang mendengar darinya setelah usia pikunnya lalu namanya disamarkan agar tidak diketahui kelamahan sanadnya.

  

Hadits Kesembilan

 

       AlBaihaqi dalam Sunannya (2/420) berkata :

)انبأ) أبو بكر بن الحارث الفقيه انبأ أبو محمد بن حيان ثنا على بن سعيد ثنا محمد بن سنان القزاز ثنا أبو غسان العنبري ثنا شعبة عن حميد بن هلال عن عبد الله بن الصامت عن ابى ذر قال رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يصلى في نعلين مخصوفتين من جلود البقر

“Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar bin AlHarits AlFaqih, telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad bin Hayyan, telah mengatakan kepada kami ‘Ali bin Sa’id, telah mengatakan kepada kami Muhammad bin Sinan AlQozaz, telah mengatakan kepada kami Abu Ghossan Al’Anbari, telah mengatakan kepada kami Syu’bah dari Humaid bin Hilal dari ‘Abdulloh bin AshShomit dari Abi Dzar, ia berkata,”Aku melihat Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat dengan sandalnya yang ditambal dari kulit sapi”.

     AlBaihaqi berkata,” Abu Ghossan Al’Anbari Yahya bin Katsir menyendiri meriwayatkan hadits ini”.

 

Hadits Kesepuluh

     Imam Ahmad berkata dalam Musnadnya (3/502):

قَالَ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا الْعَطَّافُ قَالَ حَدَّثَنِي مُجَمِّعُ بْنُ يَعْقُوبَ عَنْ غُلَامٍ مِنْ أَهْلِ قُباءٍ أَنَّهُ أَدْرَكَهُ شَيْخًا أَنَّهُ قَالَ جَاءَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقُبَاءٍ فَجَلَسَ فِي فَيْءِ الْأَحْمَرِ وَاجْتَمَعَ إِلَيْهِ نَاسٌ فَاسْتَسْقَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسُقِيَ فَشَرِبَ وَأَنَا عَنْ يَمِينِهِ وَأَنَا أَحْدَثُ الْقَوْمِ فَنَاوَلَنِي فَشَرِبْتُ وَحَفِظْتُ أَنَّهُ صَلَّى بِنَا يَوْمَئِذٍ الصَّلَاةَ وَعَلَيْهِ نَعْلَاهُ لَمْ يَنْزِعْهُمَا

“Telah mengatakan kepada kami Yunus bin Muhammad, ia berkata, telah mengatakan kepada kami Al’Atho, ia berkata, telah mengatakan kepadaku Majma’ bin Ya’qub dari Ghulam dari penduduk Quba bahwa ia menjumpai seorang Syaikh yang berkata,”Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ mendatangi kami di Quba lalu beliau duduk di….dan manusia berkumpul di sekelilingnya, Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ meminta air minum, lalu beliau diberi air minum dan meminumnya sedangkan aku di samping kanannya, aku orang yang paling muda……dan aku menghapal bahwa ketika beliau bersama kami sholat memakai sandalnya tidak melepasnya”.

     Hadits ini dikeluarkan Ahmad juga dalam juz 4 halaman 221, 334, Thohawi, 1/512 dan menyebutkan antara Majma’ bin Ya’qub dan seorang sahabat, Muhammad bin Ismail dan menyebutkan nama sahabatnya Abdulloh bin Abi Habibah dan diriwayatkan Ibnu Sa’d juz 1/ ق 2/167)

       AlHafidz AlHaitsami dalam Majma’ Zawaidnya (2/53) berkata,”Diriwayatkan oleh Ahmad dan beliau menyebutkan nama sahabatnya Abdulloh bin Abi Habibah dalam riwayat lainnya, demikian juga diriwayatkan oleh Thobroni dalam AlKabir dan perowi-perowi Ahmad amanah semuanya”.

 

Hadits Kesebelas :

 

     AlBaihaqi dalam Sunan Kubronya (2/431) berkata :

(انبأ) أبو الحسين بن بشران العدل ببغداد انبأ اسمعيل بن محمد الصفار ثنا سعدان بن نصر ثنا أبو بدر عن زياد ابن خيثمة عن عبد الله بن عيسى عن عبد الله بن عطاء عن عائشة رضى الله عنها قالت رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلى حافيا ومتنعلا ويشرب قائما وقاعدا وينصرف عن يمينه وعن شماله ولا يبالى أي ذلك كان

“Telah mengabarkan kepada kami Abul Husain bin Busyron Al’Adl di Baghdad, telah mengabarkan kepada kami Ismail bin Muhammad AshShoffar, telah mengatakan kepada kami Sa’dan bin Nashr, telah mengatakan kepada kami Abu Badr dari Ziyad bin Khoitsamah dari ‘Abdillah bin ‘Isa dari ‘Abdillah bin ‘Atho dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ ,”Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat terkadang tidak beralas kaki dan terkadang tidak memakai sandal, minum berdiri dan minum dengan duduk…

         AlHafidz AlHaitsami dalam Majma’ Zawaidnya (2/55) berkata,”Diriwayatkan Thobroni dalam AlAusath”, dan perowi-perowi amanah.

         Akan tetapi dalam kitab Majma’ Zawaid kalimat وينصرف عن يمينه وعن شماله diganti dengan و ينفتل  ……

 

Hadits Keduabelas :

 

جدثنا إبراهيم بن مرزوق قال حدثنا حماد بن سلمة عن الحجاج بن أرطأة عن عبد الله عن سعيد بن فيروز عن أبيه أن وفد ثقيف قدموا على رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قالوا :فرأيناه يصلي وعليه نعلان متقابلتان

Berkata Thohawi (1/512),” Telah mengatakan kepada kami Ibrohim bin Marzuq, ia berkata, telah mengatakan kepada kami Abu Rabi’ah, ia berkata,’telah mengatakan kepada kami Hammad bin Salamah dari AlHajjaj bin Arthoh dari ‘Abdil Malik dari Sa’id bin Fairuz dari ayahnya bahwa utusan Tsaqif menemui Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ lalu berkata,’Kami melihat beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sedang sholat memakai sandal berpasangan”.

     Dalam sanad hadits terdapat AlHajjaj bin Arthoh seorang mudallis .[13]

     Akan tetapi AlHaitsami berkata dalam Majma’ Zawaidnya (2/55),”Diriwayatkan oleh Thobroni dalam AlAusath dan perowi-perowinya amanah”.

Maka perlu dilihat apakah ia punya jalan lain atau AlHajjaj dengan tegas mendengar langsung dari perowi yang ia ambil haditsnya atau AlHafidz AlHaitsami yang menggampang-gampangkan penshohihan hadits ?”

      

Hadits Ketigabelas

     ‘Abdurrozaq dalam Mushonnafnya (1/386) berkata:

عبد الرزاق عن عبد الله بن عبد الرحمن بن يزيد قال حدثني محد بن عباد بن جعفر عن شيخ منهم قال : رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي في نعليه

Dari ‘Abdillah bin ‘Abdirrohman bin Yazid, ia berkata, telah mengatakan kepadaku Muhamamd bin ‘Ibad bin Ja’far dari seorang Syaikh dari mereka,”Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat memakai sandal dan mengisyaratkan ke makam Ibrohim”.

 

Hadits Keempatbelas

 

       Imam Abu Dawu dalam Sunannya (1/247) berkata :

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْفَزَارِيُّ عَنْ هِلَالِ بْنِ مَيْمُونٍ الرَّمْلِيِّ عَنْ يَعْلَى بْنِ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَالِفُوا الْيَهُودَ فَإِنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ وَلَا خِفَافِهِمْ

Telah mengatakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah mengatakan kepada kami Marwan bin Mu’awiyyah AlFazari dari Hilal bin Maimun ArRomli dari Ya’la bin Syaddad bin Aus dari ayahnya, ia berkata, Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda :”Selisihilah Yahudi, sesungguhnya mereka tidak sholat dengan sandal dan khuf “.[14]

     Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Mawaridul Dhoman, 107 di dalam sanadnya ada tambahan “dan Nasrani”, AlBaihaqi, 2/432, AlHakim, 1/26, ia berkata,”Ini hadits shohih sanadnya dan tidak dikeluarkan Bukhori dan Muslim”, dan Dzahabi tidak berkomentar apa-apa.

     Al’Iroqi berkata,”Sanadanya hasan”, sebagaimana disebutkan dalam Faidhul Qadir dan Thobroni dalam AlKabir, 7/348 dengan kalimat hadits,

صَلُّوا فِي نِعَالِكُمْ، وَلا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ” “Sholatlah kalian dengan sandal dan jangan menyerupai Yahudi !”.

Hadits Kelimabelas

       AlHakim dalam Mustadroknya (1/139) berkata,

حدثنا محمد بن صالح ، وإبراهيم بن عصمة ، قالا : ثنا السري بن خزيمة ، ثنا موسى بن إسماعيل ، وأنبأ أبو الوليد الفقيه ، ثنا الحسن بن سفيان ، ثنا إبراهيم بن الحجاج ، قالا : ثنا عبد الله بن المثنى الأنصاري ، عن ثمامة ، عن أنس ، أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يخلع نعليه في الصلاة قط إلا مرة واحدة خلع فخلع الناس ، فقال : « ما لكم » قالوا : خلعت فخلعنا ، فقال : « إن جبريل أخبرني أن فيهما قذرا – أو أذى » . « هذا حديث صحيح على شرط البخاري ، فقد احتج بعبد الله بن المثنى ولم يخرجاه ، وشاهده الحديث المشهور عن ميمون الأعور »

“Telah mengatakan kepada kami Muhammad bin Sholih dan Ibrohim bin ‘Ishmah keduanya berkata, telah mengatakan kepada kami AsSurri bin Khozimah, telah mengatakan kepada kami Musa bin Isma’il dan mengabarkan kepada kami Abul Walid AlFaqih, telah mengatakan kepada kami AlHasan bin Sufyan, telah mengatakan kepada kami Ibrohim bin AlHajjaj keduanya mengatakan, telah mengatakan kepada kami ‘Abdulloh bin AlMutsanna AlAnshori dari Tsumamah dari Anas bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ tidak pernah melepas sandalnya dalam sholat kecuali sekali saja lalu sahabat melepasnya, beliau bertanya,’Ada apa dengan kalian ?’ Mereka menjawab,’Anda melepas sandal maka kami melepasnya’. Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda :”Sesungguhnya Jibril mengabarkan kepadaku bahwa di sandalku ada kotoran atau najis lalu aku melepasnya”.

       AlHakim berkata,”Hadits ini shohih sesuai syarat Bukhori, ia memakai perowi ‘Abdulloh AlMutsanna dan Bukhori – Muslim tidak mengeluarkan hadits ini dalam kitab mereka”. Dan Dzahabi tidak berkomentar apa-apa.

       AlHafidz AlHaitsami mengatakan dalam Majma Zawaid (juz 1/56),”Diriwayatkan Thobroni dalam AlAusath dan perowi-perowinya perowi kitab Shohih dan diriwayatkan AlBazzar dengan ringkas”.

 

Hadits Keenambelas

       AlHakim dalam Mustadroknya (1/181) berkata,

حدثناه أبو جعفر محمد بن محمد بن عبد الله البغدادي ، ثنا المقدام بن داود بن تليد الرعيني ، ثنا عبد الغفار بن داود الحراني ، ثنا حماد بن سلمة ، عن عبيد الله بن أبي بكر ، وثابت ، عن أنس ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، قال : « إذا توضأ أحدكم ولبس خفيه (1) فليصل فيهما ، وليمسح عليها ، ثم لا يخلعهما إن شاء إلا من جنابة (2) » . « هذا إسناد صحيح على شرط مسلم ، وعبد الغفار بن داود ثقة غير أنه ليس عند أهل البصرة عن حماد »

“Telah mengatakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Muhammad bin ‘Abdillah AlBaghdadi, telah mengatakan kepada kami AlMiqdam bin Dawud dari Talid ArRo’ini, telah mengatakan kepada kami ‘Abdul Ghoffar bin Dawud Alharani, telah mengatakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ubaidillah Ibni Abi Bakar dan Tsabit dari Anas bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Jika salah seoarang dari kalian telah wudhu dan memakai khufnya maka sholatlah dengan keduanya dan usaplah (ketika wudhu) kemudian jangan ia lepas jika ia kehendaki kecuali karena ia junub”.

Sanadnya shohih sesuai syarat Muslim, ‘Abdul Ghoffar bin Dawud amanah akan tetapi tidak ada penduduk dari Bashroh yang meriwayatkan dari Hammad”.

     Hadits ini diriwayatkan AlBaihaqi (1/279) dan menyebutkan penguat bagi ‘Abdul Ghoffar yaitu Asad bin Musa yang digelari Asadus Sunnah (Singa Sunnah). Dan haditsnya syadz (ganjil).

     AlBaihaqi berkata,”Berkata Ibnu Sho’id,’Aku tidak mengetahui seorang yang datang membawa hadits ini kecualil Asad bin Musa”. AlBaihaqi berkata,”Hadits ini dikuatkan oleh ‘Abdul Ghoffar bin Dawud AlHaroni akan tetapi tidak ada penduduk dari Bashroh yang meriwayatkan dari Hammad dan hadits ini tidak terkenal, wallohu a’lam.

     Itulah hadits-hadits yang bisa aku sampaikan, meski aku tinggalkan beberapa hadits yang menunjukkan disyari’atkannya sholat memakai sandal dalam kitab Majma Zawaid, Mushonnaf ‘Abdurrozaq dan selain keduanya karena terdapat kritikan pada kedua kitab tersebut meskipun sebagiannya bisa dijadikan penguat.

     Terlebih Thohawi dalam Musykil Atsar juz 1/511 menyatakan dengan tegas bahwa hadits-hadits yang menunjukkan disyari’atkannya sholat memakai sandal mencapai mutawatir, beliau mengatakan,”Hadits-hadits datang, menunjukkan bahwa disyari’atkannya sholat memakai sandal mencapai mutawatir dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dari perbuatan beliau yang memakai sandal dalam sholatnya, melepas sandalnya waktu melepasnya karena najis dan pembolehannya sholat memakai sandal”.

     Dan ulama رَحِمَهُمَ اللهُ tidak mensyaratkan kemutawatiran dalam menentukan hadits shohih atau hasan bahkan mereka hanya menyebutkan hadits shohih, hasan dan dho’if.

 

Bab Bila Seorang Sedang Sholat Melepas Sandalnya Di Manakah Ia Meletakannya ?

 

Hadits Pertama :

Abu Dawud dalam Sunannya (2/248) berkata :

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ رُسْتُمَ أَبُو عَامِرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلَا يَضَعْ نَعْلَيْهِ عَنْ يَمِينِهِ وَلَا عَنْ يَسَارِهِ فَتَكُونَ عَنْ يَمِينِ غَيْرِهِ إِلَّا أَنْ لَا يَكُونَ عَنْ يَسَارِهِ أَحَدٌ وَلْيَضَعْهُمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ

“Telah mengatakan kepada kami AlHasan bin ‘Ali, telah mengatakan kepada kami ‘Utsman bin ‘Umar, telah mengatakan kepada kami Sholih bin Rustam Abu ‘Amir dari ‘Abdirrohman bin Qois dari Yusuf bin Malik dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ bahwa Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda :’Jika salah seorang dari kalian hendak sholat maka janganlah meletakkan sandalnya di samping kanan maupun samping kirnya, sehingga menjadi di samping kanan temannya[15] kecuali bila tidak ada seorang di samping kirinya (maka letakkanlah di samping kirinya), tetapi letakkanlah di depannya”.

       Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Mawaridul Dhoman, 107 dan AlHakim dalam Mustadroknya juz 1/259 dan berkata,”Shohih sesuai syarat Bukhori dan Muslim dan keduanya tidak mengeluarkannya dalam kitab mereka”. Dikeluarkan juga AlBaihaqi juz 2/432.

 

Hadits Kedua :

     Abu Dawud dalam Sunannya (2/246) berkata :

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ عَنْ ابْنِ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ السَّائِبِ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي يَوْمَ الْفَتْحِ وَوَضَعَ نَعْلَيْهِ عَنْ يَسَارِهِ

“Telah mengatakan kepada kami Musaddad, telah mengatakan kepada kami Yahya dari Ibni Juraij, telah mengatakan kepadaku Muhammad bin ‘Abbad bin Ja’far dari Ibni Sufyan dari ‘Abdillah bin AsSaib, ia berkata,”Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ meletakkan sandalnya di samping kirinya”.[16]

     Hadits ini perowi-perowinya perowi kitab shohih.

       Dikeluarkan juga oleh Nasai (2/58), Ibnu Majah (1/416), Ibnu Abi Syaibah (2/418), AlHakim (1/259) dan AlBaihaqi (2/432)

Hadits Ketiga :

     Abu Dawud dalam Sunannya (2/246) berkata :

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ نَجْدَةَ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ وَشُعَيْبُ بْنُ إِسْحَقَ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْوَلِيدِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَخَلَعَ نَعْلَيْهِ فَلَا يُؤْذِ بِهِمَا أَحَدًا لِيَجْعَلْهُمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَوْ لِيُصَلِّ فِيهِمَا

“Telah mengatakan kepada kami ‘Abdul Wahhab bin Najdah, telah mengatakan kepada kami Baqiyyah dan Syu’aib bin Ishaq dari AlAuza’I, telah mengatakan kepadaku Muhammad bin AlWalid dari Sa’id bin Abi Sa’id dari ayahnya dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ, beliau bersabda,”Jika salah seorang dari kalian hendak sholat lalu melepas sandalnya maka janganlah ia mengganggu seorang pun dengannya, hendaklah ia letakkan di antara kedua kakinya atau ia sholat memakai sandalnya”.

     Hadits dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah juz 2 hal 418, Thobroni dalam AshShoghir juz 2/hal 8, AlHakim juz 1/259 dan AlBaihaqi juz 2 hal 432.

     Al Hakim berkata,”Hadits shohih sesuai syarat Muslim dan Bukhori – Muslim tidak mengeluarkan dalam kitab mereka”. Dan Dzahabi tidak mengomentari penshohihanya.

Hadits Keempat :

Ibnu Abi Syaibah berkata dalam kitabnya juz 2 hal 418 :

حدثنا عفان قال ثنا حماد بن سلمة قال انا أبو نعامة السعدي عن أبي نضرة عن سعيد قال بينما رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي فخلع نعليه فوضعها عن يساره.

“Telah mengatakan kepada kami ‘Affan, ia berkata, telah mengatakan kepada kami Hammad bin Salamah, ia berkata, telah mengatakan kepada kami Abu Na’amah AsSa’di dari Abi Nadhroh dari Abi Sa’id, ia berkata,” Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat, lalu melepas sandalnya, beliau letakkan di samping kirinya”.

     Hadits ini sanadnya sesuai syarat Muslim.

 

 

Bab Bagaimana Mensucikan Khuf dan Sandal

 

Hadits Pertama :

   Abu Dawu dalam Sunannya juz 1 halaman 148 berkata :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ يَعْنِي الصَّنْعَانِيَّ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَعْنَاهُ قَالَ إِذَا وَطِئَ الْأَذَى بِخُفَّيْهِ فَطَهُورُهُمَا التُّرَابُ

“Telah mengatakan kepada kami Ahmad bin Ibrohim, telah mengatakan kepadaku Muhammad bin Katsir AshShon’ani dari AlAuza’I dari Ibni ‘Ajlan dari Sa’id bin Abi Sa’id dari ayahnya dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ dari Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ,”Jika khuf salah seorang kalian menginjak najis maka tanah berikutnya adalah pensuci baginya”.[17]

       Dikeluarkan oleh Ibnu Majah juz 1 halaman 148, Ibnu Hibban dalam Mawaridudh Dhoman halaman 8, AlHakim juz 1 halaman 11 dan berkata,”Hadits shohih sesuai syarat Muslim”, AlBaihaqi juz 2 halaman 430 dan Ibnu Hazm dalam AlMuhalla juz 1 halaman 93.

  

Hadits Kedua :

   Abu Dawu dalam Sunannya juz 1 halaman 247 berkata :

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ أَبِي نَعَامَةَ السَّعْدِيِّ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ

بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ قَالَ مَا حَمَلَكُمْ عَلَى إِلْقَاءِ نِعَالِكُمْ قَالُوا رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ جِبْرِيلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا أَوْ قَالَ أَذًى وَقَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَنْظُرْ فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ قَذَرًا أَوْ أَذًى فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا

“Telah mengatakan kepada kami Musa bin Ismail, telah mengatakan kepada kami Hammad bin Yazid dari Abi Na’amah AsSa’di dari Abi Nadhroh dari Abi Sa’id AlKhudri,”Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersama sahabatnya, tiba-tiba beliau melepas sandalnya lalu meletakkannya di samping kirinya. Ketika sahabat melihat perbuatan Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ maka mereka melemparkan sandal mereka. Ketika Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ menyelesaikan sholatnya bertanya,’Apa yang menyebabkan kalian melemparkan sandal-sandal kalian ?’ Sahabat menjawab,’Kami melihat anda melemparkan sandal anda maka kami melemparkan sandal-sandal kami’. Maka Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda :’Sesungguhnya Jibril عَلَيْهِ السَّلاَمُ mendatangiku lalu mengabarkan bahwa di sandalku najis’ ada atau adza[18] (kotoran). Dan Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Jika salah seorang kalian datang ke masjid maka lihatlah, jika ia melihat di sandalnya ada kotoran atau najis maka bersihkanlah dan sholatlah dengannya”.[19]

     Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya juz 1 halaman 384, Ibnu Hibban dalam Mawaridudh Dhoman halaman 108, Musnad Ahmad juz 3 halaman 20, AlHakim juz 1 halaman 260, ‘Abdurrozaq juz 1 halaman 388, Ibnu Abi Syaibah juz 2 halaman 416, Abu Dawud Thoyalisi juz 1 halaman 84, Darimi juz 1 halaman 32, Thohawi juz 1 halaman 511, AlBaihaqi juz 2 halaman 431 dan Ibnu Hazm dalam AlMuhalla juz 1 halaman 93.

     AlHakim berkata,”Hadits shohih sesuai syarat Muslim”. Dan Dzahabi tidak mengomentari apa-apa.[20]

Bahaya-bahaya Sholat Tidak Memakai Sandal

 

Pertama : Bahaya terbesar sholat tidak memakai sandal kaum muslimin menjadi tidak mengetahui sunnah ini dan menganggap orang yang sholat memakai sandal melakukan dosa yang amat besar dan mereka menghalalkan darinya sebagaimana menghalalkan pada orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar.

     Aku pernah mendengar seorang petugas masjid bercerita,”Lelaki itu dahulu pernah di Saudi kemudian pulang ke Yaman, ia hendak masuk masjid. Aku katakan padanya katakan,’Demi Alloh kalau kamu masuk masjid dengan sandalmu pasti kaki akan dipatahkan”. Ia sendiri mengaku orang berilmu padahal ia tidak mengetahui madzhabnya.

     AsySyaukani رَحِمَهُ اللهُ berkata[21] mengatakan tentang disyari’atkannya sholat memakai sandal,”Dan termasuk orang yang berpendapat sunnahnya sholat memakai sandal adalah AlHadawiyyah, meskipun orang-orang awamnya mengingkarinya. Imam Mahdi berkata dalam kitabnya AlBahr,’ Msalah, dan disunnahkan memakai sandal yang suci ketika sholat berdasarkan sabda Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ,’ صَلُّوْا فِيْ نِعاَلِكُمُ Sholatlah kalian dengan sandal kalian”.

     Aku melihat sekelompok orang di tanah di Masjidil Haram Makkah mengerumi seorang lelaki di bahwa pengeras suara, mereka mengingkarinya sholat memakai sandal. Seorang di antara mereka berkata,”Ini setan “.– orang yang sholat memakai sandal – Sangat disesalkan orang yang bicara tersebut termasuk orang yang rajin berjama’ah di Masjidil Haram. Tidak diragukan seandainya ia mengetahui hukumnya pasti ia tidak akan berani mengatakan setan kepada saudaranya sesama muslim.

     Aku melihat di Bisyah seorang lelaki berpenampilan sholih dan baik mengingkari orang yang sholat memakai sandalnya. Dikatakan kepadanya,”Ia sunnah “. maka ia membantah,”Aku berlindung kepada Alloh dari sunnah ini !”.

     Dan yang lebih besar daripada kenyataan itu semua bahwa sebagian ikhwan yang hendak sholat di salah satu masjid di Madinah diingkari dengan keras.[22]

     Semua itu disebabkan tidak ada amalan ahli ilmu terhadap sunnah ini. Kalau ahli ilmu mengamalkannya niscaya kami tidak perlu mengumpulkan hadits-hadits ini dan menyebarkannya di antara manusia.

     Sebab lainnya, kebanyakan kaum muslimin berpaling dari kitab-kitab sunnah. Seandainya mereka merujuk kepada kitab-kitab tersebut pasti tidak akan timbul keraguan tentang disyari’atkannya sholat memakai sandal dan sesungguhnya ia sunnah yang diperintahkan.

     Kedua : Termasuk bahaya tidak sholat memakai sandal, sebagian orang yang sholat mengumpulkan sandal-sandal di satu tempat, maka terkadang sandal-sandal itu sebagai sebagai sebab bengkokonya barisan sholat yang diperintahkan untuk meluruskannya dan ada ancaman neraka atas kebengkokannya. Kami menyaksikan kebengkokan shoff (barisan) di Masjidil Haram disebabkan banyaknya tumpukan sandal karena tidak ditemukan satu tempat di shooff

     Ketiga : Banyak dari orang yang mau sholat tidak mau melihat sandal di depan pintu masjid ketika akan masuk masjid karena mereka tidak menginginkan sholat dengan sandal. Sehingga terkadang sandalnya terkena najis, jika meletakkan di dalam masjid maka najis berjatuhan di dalamnya. Ini semua dengan sebab meninggalkan sunnah yaitu melihat sandal di depan pintu masjid ketika hendak masuk masjid dan menggosoknya dengan tanah bila ada najis atau kotorannya.

     Keempat : Terkang orang yang sholat hawatir sandalnya dicuri, lalu pikirannya kacau ketika ia sedang sholat yang menghilangkan kehusyuannya. Sedangkan khusyu adalah otaknya (inti) sholat sebagaimana yang Alloh firmankan :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2)

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu`[23] dalam shalatnya”.[24]

     Banyak hadits yang menganjurkan untuk menghilangkan kekacauan pikiran dalam sholat :

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shohihnya dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ baha Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ

“Tidak ada sholat di hadapan makanan maupun menahan buang air dan kentut”.

     Imam Bukhori dan Imam Muslim mengeluarkan dalam kitab mereka dari Anas رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

عَنْ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قُدِّمَ الْعَشَاءُ وَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَابْدَءُوا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوا صَلَاةَ الْمَغْرِبِ

“Jika telah disungguhkan makan malam maka mulailah dengannya sebelum kamu sholat maghrib”.

       Perintah dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ini dalam rangka menjaga kekhusyu’an.

 

 

Kerancuan Orang-orang yang Mengingkari Sholat Memakai Sandal

 

         Orang-orang yang mengingkari sholat memakai sandal mempunyai kerancuan berpikir (syubhat) yang harus dibicarakan sampai jelas kebenaran. Insya Alloh.

         Meskipun aku tidak perna seorang alim pun yang berhujjah denga syubhat mereka dan orang-orang jahil bukanlah dalil bagi syari’at yang suci.

         Adapun Syubhat mereka di antaranya :

        Pertama :

       Sesungguhnya masjid-masjid sekarang telah dihiasi dan diberi hamparan karpet tidak seperti masjid-masjid di jaman Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ.

         Jawaban : Sesungguhnya kebaikan itu pada apa yang Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ di atasnya. Kalau masjid-masjid sekarang tetap seperti masjid di jaman Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ niscaya lebih baik. Adapun hiasan masjid-masjid maka telah ada nash yang melarangnya.

       Dikeluarkan oleh Abu Dawud juz 1/hal. 171, Ibnu Majah juz 1/ hal. 244, Darimi juz 1/hal 327, Ahmad juz 3/hal 134, 145, 152,230,283 dan Ibnu Hibban dalam Mawaridudh Dhom’an dari Anas رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ : Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ

“Tidak terjadi hari kiamat sampai manusia saling membanggakan bangunan masjidnya”.[25]

     Dan dalam sebagian jalan hadits disebutkan,

Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ melarang manusia bermegah-megahan membangun masjid”.[26]

     Dikeluarkan oleh Abu Dawud juz 1/hal. 170 dari Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ, Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أُمِرْتُ بِتَشْيِيدِ الْمَسَاجِدِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتْ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

“Aku tidak diperintahkan meninggikan dan memperpanjang bangunan masjid”. Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ berkata,”Kalian benar-benar akan menghiasinya sebagaimana Yahudi dan Nasrani menghiasinya”.

     Perowi-perowinya perowi kitab Shohih kecuali Syaikh (guru) Abu Abu Dawud, Muhammad bin Shobbah bin Sufyan, jujur (shoduq)

     Imam AshShon’ani رَحِمَهُ اللهُ berkata,”AlMahdi berkata dalam kitab AlBahr,’Sesungguhnya hiasan masjid Haramain bukan usul dari ahli halli wal ‘aqdi (ulama dan umara) dan bukan dari diam keridhoaannya ulama akan tetapi dilakukan oleh penduduk negeri yang diktator tanpa persetujuan seorang pun dari orang yang utama. Dan kaum muslimin diam tidak ridho’. Ini adalah perkataan yang bagus”. Selesai ucapan Shon’ani.

     Aku (Syaikh Muqbil) katakan,”Adapun penghaparan masjid dengan sajadah yang berwarna warni jelas menyibukkan orang yang sholat dan melalaikannya darinya. Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dalam kitab mereka dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي خَمِيصَةٍ لَهَا أَعْلَامٌ فَنَظَرَ إِلَى أَعْلَامِهَا نَظْرَةً فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ اذْهَبُوا بِخَمِيصَتِي هَذِهِ إِلَى أَبِي جَهْمٍ وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلَاتِي وَقَالَ هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْتُ أَنْظُرُ إِلَى عَلَمِهَا وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ فَأَخَافُ أَنْ تَفْتِنَنِي

bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat di atas kain miliknya yang bergambar-gambar, beliau melihat banyak gambarnya, setelah selesai sholat beliau berkata,

“Bawalah kain ini kepada Abi Jahm dan berikan aku kain tebal Abi Jahm yang yang tidak bergambar, sesungguhnya kainnya (yang bergambar) melalaikanku dari sholat “. Berkata Hisyam dari ‘Urwah dari ayahnya dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata,”Aku melihat gambar-gambarnya ketika aku sedang sholat lalu aku takut terganggu”.[27]

       Ini kalimat riwayat Bukhori.

       Dan dikeluarkan Bukhori dari Anas Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ , ia berkata,

كَانَ قِرَامٌ لِعَائِشَةَ سَتَرَتْ بِهِ جَانِبَ بَيْتِهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمِيطِي عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا فَإِنَّهُ لَا تَزَالُ تَصَاوِيرُهُ تَعْرِضُ فِي صَلَاتِي

“Adalah qirom[28] milik ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ menutupi salah satu sisi rumahnya, lalu Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata,”Singkirkan dariku kain sitarmu ini karena gambar-gambarnya menghalangiku dalam sholatku”.[29]

     Dan dikeluarkan juga dari ‘Uqbah bin ‘Amir,

أُهْدِيَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرُّوجُ حَرِيرٍ فَلَبِسَهُ فَصَلَّى فِيهِ ثُمَّ انْصَرَفَ فَنَزَعَهُ نَزْعًا شَدِيدًا كَالْكَارِهِ لَهُ وَقَالَ لَا يَنْبَغِي هَذَا لِلْمُتَّقِينَ

“Dihadiahkan kepada Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ kain-kain dari sutera, lalu beliau mengenakannya, beliau sholat dengannya kemudian berpaling dan melepasnya dengan keras seperti tidak suka dan berkata,”Tidak sepantasnya pakaian ini untuk orang-orang bertakwa”.

     Imam AshShon’ani رَحِمَهُ اللهُ berkata mengenai hadits ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ di atas dalam Subulus Salam,”Dalam hadits ada dalil atas dimakruhkannya apa-apa yang menyibukkan diri dari sholat seperti ukiran dan yang semisal dengannya dari perkara yang menyibukkan hati, Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersegera melindungi sholat dari apa yang melalaikannya dan menghilangkan apa yang menyibukkan dari konsentrasi sholat”.

     AthThibi رَحِمَهُ اللهُ berkata,”Padanya terdapat pemberitahuan bahwa gambar-gambar dan benda-benda yang terlihat berpengaruh jelek bagi hati-hati yang suci dan jiwa-jiwa yang bersih terlebih bagi hati yang kurang bersih, dimakruhkan sholat di atas hamparan-hamparan dan sajadah-sajadah yang berhias dan dimakruhkannya mengukir masjid serta yang semisalnya”. Selesai ucapannya رَحِمَهُ اللهُ .

 

Kerancuan Kedua :

     Sebagian mereka terkadang berdalil dengan firman Alloh تَعاَلىَ yang memerintahkan Musa عَلَيْهِ السَّلاَمُ (فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى) ” maka lepaslah kedua terompahmu sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.

“.[30]

     Pendalilan yang amat jauh. Dan semoga Alloh Ibnu Mas’ud رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ ketika mengatakan kepada Abu Musa AlAsy’ari ketika menjadi imam manusia lalu melepas sandalnya,”Mengapa kamu melepas sandalmu ? Apakah kamu berada di lembah yang suci ?”[31]

     Berkata Abu Muhammad bin Hazm رَحِمَهُ اللهُ dalam kitabnya AlIhkam fi Ushulil Ahkam,”Dan termasuk syi’ar Musa عَلَيْهِ السَّلاَمُfirman Alloh تَعاَلىَ(فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى) ” maka lepaslah kedua terompahmu sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa”.[32] Dan kami tidak melepas sandal kami di tanah suci tersebut “. Selesai ucapan beliau.

     Maksud Ibnu Hazm bahwa kita tidaklah beribadah dengan syari’at orang-orang sebelum kita. Dan aku tidak mengetahui satu kerancuan yang serupa dengannya yang sepantasnya disebutkan. Adapun kekacauan dan anggapan baik orang-orang bodoh, maka tidak ada manfaat padanya kecuali amalan orang-orang yang mengetahui AsSunnah. Maka mereka jika melihat orang yang alim terhadap AsSunnah mengamalkannya pasti mereka akan mengamalkannya.

 

Penginkaran Terhadap Orang yang Menolak AsSunnah Dengan Akal dan Anggapan Baik

 

       Karena banyak manusia menolak sunnah-sunnah dengan akal dan anggapan baik, dan termasuk sunnah yang mereka tolak adalah disyari’atkannya sholat memakai sandal, maka aku memandang perlunya menyebutkan dalil-dalil dan ucapan ulama yang menjelaskan kerusakan perbuatan mereka dan menejelaskan bahaya-bahayanya terhadap agama :

 

Hadits pertama :

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى فِي امْرَأَتَيْنِ مِنْ هُذَيْلٍ اقْتَتَلَتَا فَرَمَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى بِحَجَرٍ فَأَصَابَ بَطْنَهَا وَهِيَ حَامِلٌ فَقَتَلَتْ وَلَدَهَا الَّذِي فِي بَطْنِهَا فَاخْتَصَمُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَضَى أَنَّ دِيَةَ مَا فِي بَطْنِهَا غُرَّةٌ عَبْدٌ أَوْ أَمَةٌ فَقَالَ وَلِيُّ الْمَرْأَةِ الَّتِي غَرِمَتْ كَيْفَ أَغْرَمُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ لَا شَرِبَ وَلَا أَكَلَ وَلَا نَطَقَ وَلَا اسْتَهَلَّ فَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الْكُهَّانِ

 

Dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُbahwa Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memutuskan hukum terhadap dua orang wanita dari Hudzail yang saling membunuh. Salah satunya melempar dengan satu batu mengenai perut wanita lawannya yang sedang hamil hingga mematikan janinnya yang di dalam perutnya. Lalu masyarakat mengadukan kepada Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ, lalu Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memutuskan bahwa diat/tebusan janin yang di dalam perutnya karena mati terbunuh adalah membebaskan satu budak laki-laki atau satu budak perempuan. Wali perempuan yang didenda berkata ,”Ya rosululloh bagaimana kami membayar denda atas orang yang belum makan dan minum, belum bicara dan menangis ? Maka yang semisal ini adalah sia-sia”. Maka Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata,”Sesungguhnya ini termasuk teman-teman dukun”.[33]

     Diriwayatkan oleh Bukhori juz 1 hal 328, Muslim juz 11 hal. 177 dan padanya ada tambahan setelah sabda Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَإِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الْكُهَّانِ “Sesungguhnya ini termasuk teman-teman dukun”, مِنْ أَجْل سَجْعه الَّذِي سَجَعَ “Karena sajaknya yang ia bersajak dengannya”.

   Dan dikeluarkan oleh Abu Dawud juz 4 hal. 318, Nasai juz 8 hal. 43 dan Ibnu Majah juz 2 hal. 882.  

Hadits Kedua :

 

عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ امْرَأَةً قَتَلَتْ ضَرَّتَهَا بِعَمُودِ فُسْطَاطٍ فَأُتِيَ فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَضَى عَلَى عَاقِلَتِهَا بِالدِّيَةِ وَكَانَتْ حَامِلًا فَقَضَى فِي الْجَنِينِ بِغُرَّةٍ فَقَالَ بَعْضُ عَصَبَتِهَا أَنَدِي مَنْ لَا طَعِمَ وَلَا شَرِبَ وَلَا صَاحَ فَاسْتَهَلَّ وَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ قَالَ فَقَالَ سَجْعٌ كَسَجْعِ الْأَعْرَابِ

Dari AlMugiroh bin Syu’bah,”Seorang wanita memukul istri yang lain dari suaminya dengan tongkat tenda. Lalu Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dipanggil untuk memutuskan hukum. Maka beliau صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memutuskan hukum atas keluarga wanita yang dilempar – dan dia sedang hamil- dengan denda atau ganti rugi, maka Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ menghukumi bahwa janinnya terbunuh. Lalu sebagian wali dari wanita yang terkena denda berkata,’ Apakah kami membayar denda kepada orang yang belum makan dan minum, belum teriak dan menangis, maka yang semisal ini sia-sia’. Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,”Ini adalah salah satu sajak orang-orang Arab Badui”.

     Diriwayatkan Muslim juz 11 hal. 179 dan Nasai juz 8 hal. 44.

     Maka anda melihat bahwa Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ mengingkarinya karena ia menentang hadits dengan akalnya dan mengatakan,” Sesungguhnya ini termasuk teman-teman dukun”. Karena sajaknya.

 

Hadits Ketiga :

 

عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ كَادَ الْخَيِّرَانِ أَنْ يَهْلِكَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا رَفَعَا أَصْوَاتَهُمَا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَدِمَ عَلَيْهِ رَكْبُ بَنِي تَمِيمٍ فَأَشَارَ أَحَدُهُمَا بِالْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ أَخِي بَنِي مُجَاشِعٍ وَأَشَارَ الْآخَرُ بِرَجُلٍ آخَرَ قَالَ نَافِعٌ لَا أَحْفَظُ اسْمَهُ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ لِعُمَرَ مَا أَرَدْتَ إِلَّا خِلَافِي قَالَ مَا أَرَدْتُ خِلَافَكَ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا فِي ذَلِكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ } يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ    {الْآيَةَ قَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ فَمَا كَانَ عُمَرُ يُسْمِعُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ هَذِهِ الْآيَةِ حَتَّى يَسْتَفْهِمَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ ذَلِكَ عَنْ أَبِيهِ يَعْنِي أَبَا بَكْرٍ

“Hai orang-orang beriman janganlah kalian meninggikan suaramu….” Dari Ibni Abi Mulaikah,”Hampir-hampir dua orang pilihan binasa, Abu Bakar dan ‘Umar, keduanya meninggikan suaranya di sisi Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ketika rombongan Bani Tamim. Salah satu dari keduanya mengisyaratkan kepada Aqro’ bin Habis saudara lelaki Mujazyi’ dan yang lainnya menunjuk kepada seorang lelaki yang lainnya, Nafi mengatakan, aku tidak hapal namanya. Maka Abu Bakar berkata kepada ‘Umar,”Kamu hanya menginginkan beda pendapat denganku”. Umar berkata kepada Abu Bakar,”Kamu hanya menginginkan perselesihan”. Lalu suara keduanya terdengar keras, kemudian turunlah firman Alloh : } يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ    { “Hai orang-orang beriman janganlah kamu mengeraskan suaramu…”

Ibnu Zubari berkata,’Tidaklah Umar mendengar perkataan Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ setelah turun ayat ini kecuali ia meminta penjelasannya”, dan ia (Ibnu Abi Mulaikah) tidak menyebutkan Abu Bakar dari ayanya (Abu Mulaikah).

     Dikeluarkan oleh Bukhori juz 10 hal 212, 214, padanya terdapat riwayat Ibnu Abi Mulaikah dari ‘Abdillah bin Az Zubair, dan juz 17 hal. 39, Tirmidzi juz 4 hal. 185 dan terdapat ketegasan ‘Abdulloh bin Abi Mulaikah bahwa ‘Abdillah bin Az Zubair menyampaikan hadits kepadanya, Ahmad dalam Musnadanya juz 4 hal. 6, Thobari juz 26 hal. 119, dan padanya terdapat ucapan Nafi’ : Telah mengatakan kepadaku Ibnu Abi Mulaikah dari ibni Az Zubair”, maka diketahuilah hadits ini bersambung sebagaimana diisyaratkan oleh AlHafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Barinya juz 10 hal. 212.

 

Hadits Keempat :

 

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي مَرَضِهِ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ يُصَلِّي بِالنَّاسِ قَالَتْ عَائِشَةُ قُلْتُ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِي مَقَامِكَ لَمْ يُسْمِعْ النَّاسَ مِنْ الْبُكَاءِ فَمُرْ عُمَرَ فَلْيُصَلِّ فَقَالَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ لِلنَّاسِ قَالَتْ عَائِشَةُ لِحَفْصَةَ قُولِي لَهُ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِي مَقَامِكَ لَمْ يُسْمِعْ النَّاسَ مِنْ الْبُكَاءِ فَمُرْ عُمَرَ فَلْيُصَلِّ لِلنَّاسِ فَفَعَلَتْ حَفْصَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْ إِنَّكُنَّ لَأَنْتُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ لِلنَّاسِ قَالَتْ حَفْصَةُ لِعَائِشَةَ مَا كُنْتُ لِأُصِيبَ مِنْكِ خَيْرًا

 

       Dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَUmmul Mukminin bahwa Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata saat sakitnya,”Perintahkan Abu Bakar sholat dengan manusia (menjadi imam)”. ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ berkata,’Sesungguhnya Abu Bakar jika berdiri sholat pada posisi anda manusia tidak mendengar suaranya karena tangisannya waktu sholat maka perintahkanlah ‘Umar untuk sholat bersama manusia (menjadi imam)’. Maka Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Perintahkan Abu Bakar untuk sholat bersama manusia’. ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ berkata kepada Hafshoh,’Katakanlah kepada beliau, sesungguhnya Abu Bakar jika berdiri sholat pada posisi anda manusia tidak mendengar suaranya karena tangisannya waktu sholat maka perintahkanlah ‘Umar untuk sholat bersama manusia (menjadi imam)’. Hafshoh melaksanakan perintah ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ , lalu Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata,’ Sesungguhnya kalian ini showahib (saudara-saudara )[34] Yusuf, perintahkan Abu Bakar untuk sholat mengimami manusia”. Hafshoh berkata kepada ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ,’Tidaklah aku ditimpa kebaikan darimu”.

   Diriwayatkan Bukhori juz 17 hal. 39 dan Muslim juz 5 hal. 140,141.

 

Hadits Kelima :

 

عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ عَنْ عُرْوَةَ قَالَ حَجَّ عَلَيْنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْزِعُ الْعِلْمَ بَعْدَ أَنْ أَعْطَاكُمُوهُ انْتِزَاعًا وَلَكِنْ يَنْتَزِعُهُ مِنْهُمْ مَعَ قَبْضِ الْعُلَمَاءِ بِعِلْمِهِمْ فَيَبْقَى نَاسٌ جُهَّالٌ يُسْتَفْتَوْنَ فَيُفْتُونَ بِرَأْيِهِمْ فَيُضِلُّونَ وَيَضِلُّونَ

Dari ‘Abdillah bin ‘Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهُماَ ,”Aku mendengar Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Sesungguhnya Alloh tidak mencabut ilmu (agama ) setelah Ia memberikannya kepada kalian dengan sekali cabutan akan tetapi Ia mencabutnya dari manusia bersamaan dengan mematikan para ulama dengan ilmu mereka lalu tinggallah manusia-manusia bodoh yang diminta fatwa lalu mereka berfatwa dengan akal mereka lalu mereka menyesatkan dan sesat”.[35]

 

Diriwayatkan Bukhori juz 17 hal. 145 dan Muslim, lafadznya dari Bukhori.

 

 

Atsar (Jejak) Salaf

 

        Adapun atsar salaf tentang pengingkaran terhadap orang yang menolak sunnah-sunnah dengan akal tak terhitung, akan tetapi aku isyaratkan saja sebagiannya:

 

Atsar pertama :

لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أسفل الخف أولى بِالْمَسْحِ مِنْ أعلاها وَقَدْ رأيت النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمَْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

“Kalau agama ini ditentukan dengan akal pasti bagian bawah khuf lebih utama diusap daripada bagian atasnya, dan sungguh aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ mengusap bagian atas khufnya”.

     Dikeluarkan Abu Dawud juz 1 hal. 63, perowi-perowinya perowi kitab Shohih kecuali ‘Abdu Khori, ia amanah sebagaimana disebutkan dalam kitab “AtTaqrib”.

     Dan berkata AlHafidz Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom,”Sanadnya hasan”. Dan berkata dalam Talkhishnya,”Diriwayatkan Abu Dawud dan sanadnya shohih”.

 

Atsar kedua :

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا

قَالَ فَقَالَ بِلَالُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَاللَّهِ لَنَمْنَعُهُنَّ قَالَ فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ فَسَبَّهُ سَبًّا سَيِّئًا مَا سَمِعْتُهُ سَبَّهُ مِثْلَهُ قَطُّ وَقَالَ أُخْبِرُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقُولُ وَاللَّهِ لَنَمْنَعُهُنَّ

Bahwa ‘Abdulloh bin ‘Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ berkata,”Aku mendengar Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Jangan sekali-kali kamu menghalangi wanita-wanita pergi masjid-masjid jika mereka meminta ijin kamu pergi ke masjid- masjid’. Ia, Salim bin ‘Abdulloh, berkata,’Berkata Bilal bin ‘Abdulloh, anaknya, ‘Demi Alloh kami akan menghalngi wanita-wanita pergi ke masjid-masjid’. Lalu ‘Abdulloh bin ‘Umar menoleh kepadanya, kemudian mencelanya dengan celaan yang jelek yang aku belum pernah mendengar celaan yang semisal dengannya dan berkata,’Aku kabarkan kepadamu dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan kamu bantah,”Demi Alloh kami akan menghalngi wanita-wanita pergi ke masjid-masjid ?’.[36]

     Diriwayatkan Muslim juz 4 hal. 161 dan Jami’ Bayan ‘Ilmi wa Fadhlihi juz 2 hal 139 karya AlHafidz ibnu ‘Abdil Barr bahwa Ibnu Umar berkata kepada anaknya,

لعنك الله لعنك الله لعنك الله تسمعني أقول : إن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمر ألا يمنعن ، وقام مغضبا

‘Alloh melaknat kamu, ‘Alloh melaknat kamu, ‘Alloh melaknat kamu, aku katakan : Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memerintahkan mereka tidak menghalangi mereka’. Dan ia berdiri dengan marah.”

 

Atsar Ketiga :

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ َنَّهُ رَأَى رَجُلًا يَخْذِفُ فَقَالَ لَهُ لَا تَخْذِفْ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْخَذْفِ أَوْ كَانَ يَكْرَهُ الْخَذْفَ وَقَالَ إِنَّهُ لَا يُصَادُ بِهِ صَيْدٌ وَلَا يُنْكَى بِهِ عَدُوٌّ وَلَكِنَّهَا قَدْ تَكْسِرُ السِّنَّ وَتَفْقَأُ الْعَيْنَ ثُمَّ رَآهُ بَعْدَ ذَلِكَ يَخْذِفُ فَقَالَ لَهُ أُحَدِّثُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنْ الْخَذْفِ أَوْ كَرِهَ الْخَذْفَ وَأَنْتَ تَخْذِفُ لَا أُكَلِّمُكَ كَذَا وَكَذَا

Dari ‘Abdillah bin Mughofal bahwa ia melihat seorang lelaki melempar binatang buruan dengan batu kecil, maka ia berkata kepadanya,”Janganlah kamu melemparnya dengan batu kecil, sesungguhnya Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ melarangnya atau beliau tidak menyukainya dan bersabda,’Melempar itu tidak bisa menangkap binatang buruan dan tidak bisa menyakitkan musuh akan tetapi hanya memecahkan gigi dan mencongkel mata”. Beberapa waktu kemudian ia melihat lelaki itu melempar buruan lagi dengan batu kecil, maka ia berkata kepadanya,’Aku katakan dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bahwa beliau melarang yang demikian atau tidak menyukainya dan kamu tetap melemparnya, maka aku tidak akan bicara kepadamu selamanya !”.[37]

 

Atsar Keempat :

 

عَنْ أََبِيْ قَتَادَةَ حَدَّثَ قَالَ كُنَّا عِنْدَ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ فِي رَهْطٍ مِنَّا وَفِينَا بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ فَحَدَّثَنَا عِمْرَانُ يَوْمَئِذٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ قَالَ أَوْ قَالَ الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ فَقَالَ بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ إِنَّا لَنَجِدُ فِي بَعْضِ الْكُتُبِ أَوْ الْحِكْمَةِ أَنَّ مِنْهُ سَكِينَةً وَوَقَارًا لِلَّهِ وَمِنْهُ ضَعْفٌ قَالَ فَغَضِبَ عِمْرَانُ حَتَّى احْمَرَّتَا عَيْنَاهُ وَقَالَ أَلَا أَرَانِي أُحَدِّثُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُعَارِضُ فِيهِ قَالَ فَأَعَادَ عِمْرَانُ الْحَدِيثَ قَالَ فَأَعَادَ بُشَيْرٌ فَغَضِبَ عِمْرَانُ قَالَ فَمَا زِلْنَا نَقُولُ فِيهِ إِنَّهُ مِنَّا يَا أَبَا نُجَيْدٍ إِنَّهُ مِنَّا لَا بَأْسَ بِهِ

Dari Abi Qotadah Tamim bin Nadzir Al’Adawi bahwa ia berkata,”Kami pernah di sisi ‘Imron bin Hushoin dalam satu kelompok manusia dan Busyair bin Ka’ab, lalu ‘Imron menyampaikan hadits, ia berkata, ‘ Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Malu semuanya baik’. Maka Busyair bin Ka’ab berkata,’Kami menemukan pada sebagian kitab bahwa di antara malu ada ketenangan, kewibaan dan di di antaranya ada kelemahan’. Lalu ‘Imron marah sampai memeraha wajahnya dan berkata,’Bukankah aku memperlihatkan pada diriku, aku menyampaikan hadits padamu dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan kamu bantah’. Abu Qotadah berkata,’ ‘Imron mengulang hadits tersebut’. Busyair membantah lagi, ‘Imron marah besar’. Abu Qotadah berkata,’Maka kami tetap mengatakan hai Abu Nujaid (‘Imron), sesungguhnya di antara kami tidak mengapa”.[38]

       Diriwayatkan oleh Muslim juz 2 hal 7, Ahmad juz 4 hal. 436, 440, 442, 445 dan Thoyalisi juz 2 hal. 41).

 

Atsar Kelima :

عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ : قَالَ عُرْوَةُ لِابْنِ عَبَّاسٍ حَتَّى مَتَى تُضِلُّ النَّاسَ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ أَضْلَلْتَ النَّاسَ, قَالَ : وَ مَا ذَاكَ يَا عُرَيَّةُ قَالَ تَأْمُرُنَا بِالْعُمْرَةِ فِي هَؤُلاَءِ الْعَشَرُ وَ لَيْسَتْ فِيْهِنَّ عُمْرَةٌ ! قَالَ : أَوَ لاَ تَسْأَلُ أُمَّكَ عَنْ ذَلِكَ ؟ قاَلَ عُرْوَةُ : فَإِنَّ أَباَ بَكْرٍ ، وَعُمَرَ لَمْ يَفْعَلاَ ذَلِكَ قَالَ ابْنُ عَباَّسٍ : هَذاَ الَّذِيْ أَهْلَكَكُمْ . وَ اللهِ مَا أَرَى إِلاَّ سَيُعَذِّبُكُمْ إِنِّيْ   أُحَدِّثُكُمْ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ تَجِيؤُنِيْ بِأَبِيْ بَكْرٍ ، وَ عُمَرَ ؟

 

Dari Abi Mulaikah bahwa ‘Urwah bin Az Zubair berkata kepada Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ: Kamu menyesatkan banyak manusia. Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَbertanya :’Mengapa hai ‘Urwah ? ‘Urwah menjawab,’Kamu memerintahkan ‘umroh pada sepuluh hari bulan haji padahal tidak ada perintah ‘umroh ! Maka Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَberkata,’Mengapakah kamu tidak bertanya kepada ibumu tentang masalah ini ? ‘Urwah berkata,’Sesungguhnya Abu Bakar dan ‘Umar tidak mengerjakannya’. Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَberkata,’ Inilah yang membinasakan kalian, demi Alloh aku tidak melihat kecuali Ia akan mengazab kalian, aku menyampaikan hadits dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan kalian bantah dengan Abu Bakar dan ‘Umar….”.

 

Diriwayatkan Ahmad juz 1 hal. 337 dan Ishaq bin Rohawaih sebagaimana dalam kitab AlMatholib Al’Aliyyah juz 1 hal. 360 dan padanya terdapat perkataan, نجئيكم برسول الله صلى الله عليه و سلم وَ تَجِيؤُنِيْ بِأَبِيْ بَكْرٍ ، وَ عُمَر ؟َ

“Kami mendatangkan hadits Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan kalian membatahnya dengan Abu Bakar dan ‘Umar ?”

       Diriwayatkan AlKhothib dalam AlFaqih wal Mutafaqih juz 1 hal. 145, Ibnu Hazm dalam Hajjatul Wada’ hal. 268 dan 269 dari jalan-jalan yang sanadnya sampai ke Ibni Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al’Ilmi wa Fadhlihi juz 2 hal. 239 dan 240.

 

Atsar Keenam :

 

أنا محمد بن أحمد بن رزق ، أنا عثمان بن أحمد الدقاق ، نا محمد بن إسماعيل الرقي ، أنا الربيع بن سليمان ، قال : سمعت الشافعي ، وسأله ، رجل عن مسألة ، فقال : يروى فيها كذا وكذا عن النبي صلى الله عليه وسلم ، فقال له السائل : يا أبا عبد الله تقول به ؟ فرأيت الشافعي أرعد (1) وانتقص ، فقال : « يا هذا ، أي أرض تقلني (2) ، وأي سماء تظلني ، إذا رويت عن النبي صلى الله عليه وسلم حديثا فلم أقل به ؟ نعم على السمع والبصر ، نعم على السمع والبصر »

BerkataAlKhothib AlBaghdadi رَحِمَهُ اللهُ,“Mengabarkan kepada kamiMuhammad bin Ahmad bin Rizq, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Utsman bin Ahmad AdDaqoq, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Isma’il ArRoqi, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami ArRobi ‘ bin Sulaiman, ia berkata, ‘Aku mendengar AsySyafi’i ditanya seorang lelaki tentang satu masalah, lalu beliau berkata, ‘Diriwayatkan pada masalah ini demikian dan demikian dari Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ’. Lelaki itu berkata,‘Hai Abu ‘Abdillah, apa yang anda katakan tentangnya ? Maka aku melihatAsySyafi’i bergetarbadannya karena takutkepada Allohdan bangkit dari duduknya, lalu berkata,’Apa ini, bumi mana yang akan membawaku dan langit mana yang akan menaungikujika aku meriwayatkan dari Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ satu hadits lalu aku tidak berpendapat dengannya ? Ya, atas pendengaran dan penglihatan, ya, atas pendengaran dan penglihatan (wajib menerimanya).

     Dan AlKhothib berkata,”Telah mengabarkan kepada kami ArRobi, ia berkata, aku mendengar AsySyafi’I meriwayatkan satu hadits dan sebagian orang yang hadir berkata kepadanya,’Apakah anda mengambil hadits ini ?’ Maka beliau berkata,’Jika aku meriwayatkan satu hadits yang shohih lalu aku tidak mengambilnya, maka aku mempersaksikan pada kalian bahwa akalku telah hilang’, dan beliau membentangkan kedua tangannya.

     Atsar ini dikeluarkan oleh AlHafidz AlBaihaqi dalam Manaqib AsySyafii juz 1 hal. 474, 475 dan Abu Nu’aim dalam AlHilyah juz 9 hal. 106. Dan AlKhothib telah menyebutkan dalam kitab AlFaqih wal Mutafaqih satu ucapan yang bagus dalam membantah orang yang mengagungkan akal, beliau رَحِمَهُ اللهُ berkata,”Dan demi umurku, sungguh sunnah-sunnah dan sisi-sisi kebenaran banyak datang menyelisihi dan menjauhi akal dengan sangat jauh, maka kaum muslimin haruslah mengikuti dan tunduk kepadanya. Untuk yang semisal ini ahli ilmu dan agama sangat berhati-hati. Lalu kehati-hatian mereka menahan dari mendahulukan akal dan menunjukkan pada mereka atas kebutaan dan hilang akalnya, bahwasanya kebenaran itu datang menyelisihinya dalam banyak sisi, di antaranya :

     Bahwa memotong jemari tangan seperti memotong tangannya dari pundak maka didenda ribu dinar.

     Memotong kaki pada paling sedikit daruratnya seperti memotong kaki dari pangkal pahanya maka dendanya ribu dinar.

     Dua mata jika tercongkel maka keadaan daruratnya seperti bagian tubuh yang dipotong dari ujung telinganya didenda duabelas ribu dinar .

     Dula luka kecil di kepala dendanya duaratus dinar……

     Wanita yang haidl mengqodho puasa tidak mengqodho sholat.

     Maka sisi-sisi manakah dari hukum Islam di atas yang masuk akal ? Namun sunnah-sunnah dari Islam, di mana Alloh menjadikannya sebagai inti dan tiang agama yang dibangun di atasnya Islam dan ucapan mana yang lebih berbahaya daripada apa yang disabdakan Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dalam haji perpisahannya ketika beliau berkhutbah di hadapan ratusan ribu manusia :”Dan sungguh akau tinggalkan kalian wahai manusia, selama kalian berpegang teguh dengan maka kalian tidak akan sesat selamanya, dua perkara di antara kita : kitabulloh dan sunnah nabiNya”, maka Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ mengaitkan di antara keduanya. Demi Alloh, jika kita memungut sunnah-sunnah dari ahli fiqih dan orang-orang yang terpercaya dan mempelajarinya seperti kita mempelajari ayat-ayat AlQur’an. Kita senantiasa menjumpai orang-orang utama dan ahli fiqih dari orang-orang terpilih sangat mencela orang-orang yang suka berdebat dan mendahulukan akalnya, melarang kita bertemu dengan mereka dan bermajlis dengan mereka, memperingatkan kita dengan keras agar menjauhi mereka dan mengabarkan kepada kita bahwa mereka adalah orang-orang sesat, tukang menyimpangkan makna dalil dengan menafsirkan kitabulloh dan sunnah Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dengan kesesatan. Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ tidaklah wafat sampai beliau membenci banyak pertanyaan dan membahas urusan-urusan yang tidak bermanfaat dalam agama hingga ucapan beliau yang menunjukkan ketidaksukaannya : Biarkan aku, apa yang aku tinggalkan pada kalian, sesungguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kalian banyaknya pertanyaan dan penyelisihan terhadap nabi mereka, jika aku larang sesuatu pada kalian maka jauhilah, jika aku perintahkan sesuatu pada kalian maka ambillah darinya semampu kalian”, maka perkara apa yang lebih mencukupi daripada melebihkan akal atas perkataan Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ? Kaum yang dikatakan Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ tidak akan mencapai satu persenpun dari seratus persen pengetahuan syariat yang telah dicapai oleh kaum yang bersama beliau صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ. Bukankah pengikut hawa nafsu atau ahli bid’ah dan orang-orang yang menyelisihi kebenaran binasa dengan sebab perdebatan dan pemikiran mereka ? Maka mereka itu tiap hari di atas agama yang sesat dan kesamaran yang baru, tidak tegak di atas satu agama. Yang paling menakjubkan mereka hanyalah berdebat dan memikirkan selain agama ini. Seandainya mereka berpegang teguh dengan sunnah-sunnah, agama sahabat, mengambil urusan yang diperintahkan dan diridhoi Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan meninggalkan perdebatan pasti hilanglah kesamaran agama mereka. Namun mereka memaksakan diri pada apa yang telah dicukupkan hasilnya dan mereka memikul di atas akal-akal mereka penelitian dalam urusan Alloh yang akal mereka tidak mampu menelaahnya. Dan hak akal adalah mencukupkan diri di bawah syariat Alloh. Maka di sanalah mereka menempatkan diri pada posisi yang sulit. Di manakah ilmu……

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Mereka bertanya kepadamu tentang roh.[39] Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan husus Robbku, dan kamu hanyalah diberi sedikit ilmu Allah “.[40]

 

Alloh telah mengkisahkan Musa yang mencela urusan seorang yang ia jumpai

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آَتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

“Lalu keduanya bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”.[41]

     Lelaki ini melubangi sebuah perahu, membunuh seorang anak kecil dan membangun sebuah dinding sebagaimana yang telah Alloh kisahkan dalam kitabNya, lalu Musa mengingkari perbuatannya, tindakan-tindakan yang terlihat aneh oleh Musa dan diingkari hati dan tidak bisa dicapai oleh pikiran manusia sampai Alloh menyingkapkan rahasianya kepada Musa hingga ia mengetahuinya. Demikianlah syari’at yang datang dari sunnah-sunnah Islam dan syari’at-syari’at agama yang tidak sesuai dengan pikiran dan akal manusia. Seandainya disingkapkan kepada manusia pokok-pokonya pasati ia datang dengan jelas tidak ada kesulitan apa pun seperti perbuatan Khodhir yang diperlihatkan kepada Musa. Sesungguhnya syari’at yang dibawa Muhammad َصلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ mirip apa yang dibawa oleh Musa. Dan tidak ada yang lebih bodoh, sedikit mengenal hak Alloh, rosulNya, cahaya Islam dan keterangannya daripada orang yang mengatakan, aku tidak menerima AsSunnah maupun urusan kaum muslimin yang dahulu (sahabat) sampai tersingkap kepadaku hal ghoib dan aku mengetahui pokok-pokoknya ? Atau ia tidak mengucapkan penolakannya tetapi demikianlah perbuatan dan pikirannya. Padahal Alloh تَعاَلىَ berfirman :

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا 

” Maka demi Rabbmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian hati mereka tidak merasa keberatan[42] terhadap hukum yang kamu putuskan dan mereka menerima dan tunduk secara lahir dan batin”.[43]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Ali Imron :102.

[2] Misal,”Aku meminta atau bertanya kepadamu dengan nama Allah”.

[3] Hubungan kekerabatan yang satu nasab..

[4] AnNisa :1.

[5] AlAhzab :70-71.

[6]. AlAhzab :21.

[7] AlHasyr :7.

[8] AlAhzab :36.

[9] AnNur :63.

[10] Kaos kaki terbuat dari kulit yang menutupi mata kaki – penerj.

[11] Karena ‘Amr bin Syu’aib jika sanad haditsnya benar darinya maka haditsnya hasan. Dan telah benar sanad hadits disandarkan kepadanya.

[12] AsSudi yang lebih tua Ismail bin ‘Abdirrozaq dari perowi Muslim, adapun AsSudi muda cucu dari Ismail namanya Muhammad bin Marwan, ia dituduh pendusta.

[13] Yaitu menyamarkan sanad hadits seolah dari orang yang mendengarnya langsung padahal melalui perantara orang lain atau menyembunyikan orang yang ia ambil riwayatnya dengan memakai nama kunyahnya agar orang tidak mengetahuinya karena ia perowi lemah – penerj.

[14] Paling tidak hadits di atas menunjukkan sunnah memakai sandal dalam sholat demikian juga hadits Abi Sa’id AlKhudri di depan dan hadits-hadits yang lainnya menunjukkan atas sunnahnya memakai sandal dalam sholat. Dan mungkin mengambil dalil bagi tidak disunnahkannya memakai sandal dalam sholat dengan hadits ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya dan Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ berikutnya (dalam Sunan Abi Dawud). Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dengan sanadnya sendiri sampai kepada ‘Abdirrohman bin Abi Laila, berkata,”Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat dengan sandal dan sahahabat sholat dengan sandal, lalu beliau melepas sandalnya maka sahabat melepas sandalnya, ketika akan sholat lagi beliau berkata,’Bagi yang mau sholat dengan sandalnya maka sholatlah dan bagi yang mau melepas sandalnya maka lepaslah”. Al’Iroqi mengatakan,”Ini hadits mursal shohih”. Dan bila dikompromikan antara hadits-hadits bab ini dengan menjadikan hadits ‘Amr bin Syu’aib dan setelahnya sebagai pemaling dari perintah memakai sandal dengan alasan untuk menyelisihi Yahudi, dari wajib kepada sunnah karena memilih dan membiarkan kehendak sahabat setelah adanya perintah tersebut tidak menghilangkan sunnah memakai sandal sebagaimana disebut dalam hadits, ” بَيْن كُلّ أَذَانَيْنِ صَلَاة لِمَنْ شَاءَ ” ‘Di antara dua adzan (adzan dan qomat ) ada sholat bagi yang mau”, dan ini adalah madzhab yang paling adil dan kuat menurutku. (Pensyarah kitab ‘Anul Ma’bud 2/ 173 – penerj )

[15] Yakni sandalnya menjadi di samping kanan temannya. AthThibi berkata,”Ini adalah jawaban larangan meletakkan sandal di samping kirinya bila ada orang lain di samping kirinya sehingga sandalnya di samping kanan temannya (orang lain) dan ini merupakan tindakan tidak sopan. Maka seorang mukmin hendaklah mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya”. (   ‘Aunul Ma’bud 2/17, penerj)

 

[16] Yakni jika di samping kirinya tidak ada orang lain. ( ‘Aunul Ma’bud 2/17, penerj)

 

[17] AlBaghowi berkata dalam Syarhus Sunnahnya,” Kebanyakan ahli ilmu berpendapat sesuai dengan teks hadits ini, mereka mengatakan jika najis mengenai kebanyakan khuf atau sandal digosok dengan tanah sampai hilang mayoritas najisnya maka sandal suci dan boleh sholat dengannya dan ini adalah pendapat Syafii yang lama….( ‘Aunul Ma’bud 1/432 – penerj )

[18] Kotoran apahakah najis atau tidak. ( ‘Aunul Ma’bud 2/171 – penerj )

[19] Imam Shon’ani dalam Subulus Salam berkata,”Dalam hadits ini terdapat dalil atas disyari’atkannya sholat memakai sandal, menggosok sandal dari najis mensucikan dari najis dan kotoran apakah najis yang basah atau kering…..AlKhothobi berkata,”Padanya ada fiqih baha orang yang sholat dan di bajunya ada najis yang tidak ia ketahui maka sholatnya sah cukup dan tidak perlu diulang, mencontoh perbuatan Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ wajib seperti mencontoh ucapan terbukti sahabat ketika meliht Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ melepas sandalnya mereka ikut melepasnya, terdapat ada yaitu seorang yang sholat sendiri dan melepas sandalnya maka ia letakkan di samping kirinya dan jika ia sholat berjama’ah dan di samping kanan kirinya ada orang lain maka ia letakkan sandalnya di di antara kedua kakinya dan gerakan sedikit dalam sholat tidak membatalkannya”. ( ‘Aunul Ma’bud 2/171 – penerj ).

[20] Faidah : dalam catatan kaki kitab Muhalla disebutkan : Thoyalisi, AlHakim dan AlBaihaqi meriwayatkan dari Hammad bin Salamah, dan Abu Dawud meriwayatkannya dari Hammad bin Zaid, menurut pendapat kami ini salah disebabkan mereka bersepakat pada satu perowi yaitu Hammad bin Salamah dan tidak disebutkan Hammad bin Zaid dari Abi Na’amah demikian juga tidak disebutkan riwayat Musa bin Ismail dari Hammad bin Zaid bahkan ia meriwayatkan dari Hammad bin Salamah, mungkin kesalahannya pada Abu Dawud atau perowi-perowi kitabnya. Dan AlHakim telah menshohihkannya sesuai syarat Muslim. Selesai secara ringkas.

[21] Dalam Nailul Author, 2/135.

[22] Dan ia dibawa ke kantor Masjidil Haram dan diadakan perjanjian untuk tidak memakai sandal dalam sholatnya.

[23] Khusyu’ adalah takut dalam hati yang nampak di gerakan dan badan, tenang, menghadirkan hati, merendahkan diri, memperhatikan apa yang diucapkan dan dibaca dan menundukkan pandangan ke arah sujud dalam shalat. Pendapat yang kuat khusyu wajib dalam shalat. (Ibnu Katsir dan Taisir, Fathul Qadir, 1181 alKarimir Rahman, AsSa’dy, 637)

[24] AlMukminun :12.

[25] Yakni masing-masing orang membanggakan keadaan dan bangunan masjidnya, yakni mereka mengatakan,”Masjidku lebih tinggi, indah, luas dan bagus”, mereka riya, sum’ah dan ingin dipuji. Ibnu Ruslan mengatakan,”Hadits ini mu’jizat yang nampak sekali karena berita beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ terhadap apa yang akan terjadi sepeninggalnya. Penghiasan dan pemegahana masjid dengan hiasan dan ukirannya dan pendirian madrasah-madrasah dalam bentuk bangunan yang modern banyak dilakukan oleh para raja dan penguasa di jaman ini di Mesir, Syam dan Baitul Maqdis dengan mengambil harta manusia dengan cara dholim. Kami memohon kepada Alloh kesalamatan dan ampunananNya. (‘Aunul Ma’bud 1/484 – penerj )

[26] AlMunawi berkata dalam Faidhul Qodir,”Manusia berbangga-bangga dalam membangun masjid, mengukir dan menghiasinya seperti perbuatan ahli kitab terhadap gereja mereka. Dan dikatakan, yang dimaksudkan adalah memakmurkannya dengan sholat bukan dengan bangunannya”. Aku (Syaikh Muqbil) katakan ,”Berbangga-bangga (tabaha) mencakup dua hal di atas dan selainnya”.

[27] Dalam Riwayat Malik dalam Muwatho’nya disebutkan hampir-hampir menggangguku. (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 2/78) Jadi gambar-gambarnya belum sampai mengganggu dan melalaikan Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ . – penerj

[28] Sitar tipis dari wol yang berwarna-warni. (Fathul Bari, Ibnu Hajar 2/80).

[29] Hal ini menunjukkan sholat di hadapan kaim bergambar dan berwarna-warna tidak membatalkan sholat karena Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ tidak memutus dan mengulangi sholatnya. (Fathul Bari, Ibnu Hajar 2/80)

[30] Thoha :12.

[31] Abdurrozaq juz 1/hal. 386 dan Ibnu Abi Syaibah juz 2 hal. 418 dan perowi-perowinya perowi kitab Shohih. Bunyi haditsnya adalah :

عَنْ ابنِ مَسْعُوْدٍ أَنَّ أَبَا مُوْسَى أَمَّهُمْ فَخَلَعَ نَعْلَيْهِ ، فَقَالَ لَهُ عَبْدُ اللهِ : لِمَ خَلَعْتَ نَعْلَيْكَ ؟ أَبِا لْوَادِيْ الْمُقَدَّسِ أَنْتَ ؟ “Dari Ibnu Mas’ud رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ bahwa Abu Musa AlAsy’ari ketika menjadi imam manusia lalu melepas sandalnya, Ibnu Mas’ud berkata kepadanya, “Mengapa kamu melepas sandalmu ? Apakah kamu berada di lembah yang suci ?” – penerj.

[32] Thoha :12.

[33] Ibnu Bathol berkata,”Padanya terdapat celaan terhadap orang-orang kafir dan orang-orang yang suka meniru-niru ucapan orang-orang kafir, Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ tidak menghukum orang tersebut karena beliau diperintahkan Alloh untuk memaafkan orang-orang bodoh”. Dengan hadits ini sebagian ulama yang membenci sajak dalam berbicara. Padahal tidak secara mutlak sajak dibenci, bahkan dibenci apabila memberat-beratkan diri dalam suasana membela kebenaran. Adapun apabila terjadi tanpa memberat-beratkan diri dalam masalah-masalah yang mubah maka dibolehkan. Dan pada yang demikian dimaknakan kalam Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ yang terkadang bersajak….Wal hasil jika mengumpulkan dua perkara yaitu memberat-beratkan diri dan mengalahkan kebatilan maka tercela, jika mencukupkan diri pada salah satu dari keduanya maka lebih ringan tercelanya. Dan yang tidak termasuk dalam ketercelaan terbagi menjadi empat : terpuji bila terjadi tanpa sengaja dalam membela kebenaran, kurang terpuji jika memberat-beratkan diri dalam membela kebenaran dan selain keduanya tercela. Faidah lainnya wajib diat pada janin meskipun keluar dalam keadaan mati….(Fathul Bari, juz 16 hal. 292)

[34] Showahib, jama’ dari dari shohibah (satu teman), dan yang dimaksudkan bahwa mereka seperti teman-teman Yusuf di dalam menampakkan perbedaan apa yang di batin. Kemudian kata ganti ini (antunna, kalian wahai perempuan-perempuan/istri-istri Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ) meskipun dengan bentuk jamak tapi yang dimaksudkan adalah satu yaitu ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ saja sebagaimana kata Showahib berbentuk jama dan yang dimaksud satu yaitu Zulaikho yang menggoda Yusuf. Dan sisi persamaan di antara keduanya, Zulaikho memanggil wanita-wanita dan menampakkan pemuliaan kepada mereka dengan menjamu mereka tetapi yang ia maksudkan lebih dari itu yaitu agar mereka melihat ketampanan Yusuf dan agar ia diberi maaf dalam mencintai Yusuf, sementara ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَmenampakkan keadaan lahirnya bahwa sebab keinginannya memalingkan keimaman dari ayahnya disebabkan ia tidak bisa memperdengarkan makmum dari bacaannya karena tangisannya waktu sholat, dan yang dimaksud ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ lebih daripada itu yaitu agar manusia tidak merasa sial karenanya. Dan setelah itu ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ dengan terang-terangan berkata, ” لَقَدْ رَاجَعْته وَمَا حَمَلَنِي عَلَى كَثْرَة مُرَاجَعَته إِلَّا أَنَّهُ لَمْ يَقَع فِي قَلْبِي أَنْ يُحِبَّ النَّاس بَعْدَهُ رَجُلًا قَامَ مَقَامَهُ أَبَدًا ” الْحَدِيث “Sungguh aku merayu Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan tidak ada yang mendorongku untuk merayu beliau kecuali tidak ada di hatiku kecintaan kepada seorang lelaki setelah Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ untuk menduduki posisi beliau selamanya”. (Fathul Bari, Ibnu Hajar, juz 2 hal.142. – penerj)

[35] Makna hadits, tercelanya berfatwa dengan kebodohan oleh karena itu mereka disifati dengan sesat dan menyesatkan. Jika tidak, maka akal yang sesuai dengan AsSunnah atau ijma’ maka terpuji dan yang tidak sesuai dengan salah satu dari keduanya maka tercela. (Fathul Bari, Ibnu Hajar, juz 20 hal.363 – penerj)

 

[36] Dibolehkannya menghukum orang yang berpaling dari AsSunnah dan menentang AsSunnah dengan akalnya dan orang tua menghukum anaknya meski sudah dewasa. (Syarah Muslim, Nawawi, juz 2 hal 185 – penerj )

[37] Hadits ini membolehkan memutus hubungan atau mendiamkan dan tidak mau bicara pada orang yang menyelisihi AsSunnah. (Fathul Bari, Ibnu Hajar, juz 15 hal. 412 – – penerj )

[38] Maknanya, di antara kami tidak ada orang yang dicurigai munafik, zindiq, ahli bid’ah atau selain itu dari perbuatan yang menyelisihi orang-orang yang istiqomah. (Syarah Muslim, Nawawi, juz 1 hal 116 – penerj ).

[39] Ruh adalah bahan dasar dan materi jiwa. Jiwa tersusun dari ruh dan badan. Ruh adalah satu bagian jiwa. Ruh yang ditanyakan menurut Ibnu Abbas adalah ruh manusia. Wallahu a’lam – penerj .

[40] AlIsro :85. Artinya ilmumu dibandingkan ilmu Allah sangat sedikit, ruh yang kamu tanyakan termasuk perkara kehususanNya, mahluk ciptaanNya, tidak diberitahukan kepada siapa pun kecuali sedikit. Ayat ini merupakan jawaban yang membungkam terhadap pertanyaan yang tidak bermanfaat dan sebaiknya bagi yang ditanya berpaling dari pertanyaan yang semisal ini kemudian menunjukkan kepada pertanyaan yang lebih penting dan bermanfaat. (Ibnu Katsir dan Taisir AlKarimir Rahman, AsSa’dy, 534 – penerj )

[41] AlKahfi :65. Dialah Khodhir sebagaimana yang disebutkan banyak hadits shahih. Nash-nash menunjukkan ia bukan rasul maupun nabi akan tetapi ia seorang shalih untuk menunjukkan kepada Musa bahwa tidak semua ilmu ia miliki. Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu ghaib yang tidak diketahui manusia bukan ilmu kenabian. (Ibnu al’Utsaimin)

[42] Termasuk sikap keberatan terhadap hukum Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ adalah : merasa berat AlQur’an turun dari sisi Allah عَزَّ وَ جَلّ dan kebenaran dariNya, berat untuk berdalil dengannya, menyatakan bahwa AlQur’an adalah mahluk, meragukan bahwa AlQur’an dapat menjamin keselamatan hidup hamba bahkan hamba masih membutuhkan ilmu-ilmu filsafagt, kias atau politik yang tidak syar’i, berat dilihat dari sisi pendalilannya dan hakikatnya, menginginkan penafsirannya dan mengeluarkannya dari hakikatnya kepada tafsiran yang tidak dibenarkan…..(Ibnul Qayyim AlFawaid, 95 – penerj )

[43] AnNisa :65.

 

 

April 12, 2014 at 3:30 am Leave a comment

Faidah Hadits Arba’in

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Hadits no. 1

1. عَنْ عُمَرَ – رضي الله عنه – ، قال : سَمِعْتُ رَسولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -يقولُ : (( إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ )) . رواهُ البُخاريُّ ومُسلِمٌ .

 

1.Dari Amiril Mukminin Abi Hafshin Umar bin Khothob rodhialloh ‘anhu,berkata,”Aku mendengar rosulallohu ‘alaihi wa sallam berkata,’Sesungguhnya amal-amal seseorang tergantung dengan niatnya, barangsiapa hijrahnya kepada Alloh dan rosulNya maka hijrahnya kepada Alloh dan rosulNya dan barangsiapa hijrohnya kepada dunia dan wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan”. (HR.Bukhori dan Muslim).[1]

 

[1] FAIDAH : Pentingnya niat yang baik dan besar keutamaannya di mana seluruh amalan perputarannya di atas niat, manusia berbeda-beda dalam diterima dan ditolak amalannya sesuai dengan perbedaan niatnya, perputaran pahala di sisi Alloh terikat dengan niat-niat tidak sekedar amalan dari sini amalan orang munafik tidak bermanfaat karena tidak ada niat yang lurus, faidah niat dilihat dari sisi amalan yaitu membedakan antara ibadah dan kebiasaan, antara satu ibadh dengan ibadah lainnya dan maksud amalan apakah untuk Alloh atau bukan, dengan niat yang lurus amal-amal mubah berubah menjadi sunnah, hadits menunjukkan wajibnya terus menerus memperbaharui dan memperhatikan niat, niat yang lurus haruslah disertai dengan petunjuk Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam, termasuk cara mengajar adalah menyebutkan kaidah kemudianmenjelaskannya, terkadang amal besar menjadi kecil karena niat yang jelek, perkara yang paling melalaikan adalah dunia dan yang paling mengurangi agama adalah syahwat, oleh karena itu Nabi menghususkan dalam menyebutkannya, was-was dan betikan-betikan hati tidak mempengaruhi niat.

April 12, 2014 at 3:15 am Leave a comment

Pelajaran Manhaj

 

Pembahasan Kedua

 

Dalil-dalil atas wajibnya mengikuti assalaf dan menetapi madzhab mereka.

Dalil dari AlQur’an AlKarim :
Firman Alloh :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

 

“Dan barangsiapa menyelisihi rasul setelah jelas petunjuk baginya dan mengikuti selain jalan orang-orang beriman maka Kami palingkan dia ke mana hendak berpaling dan Kami akan masukkan dia ke jahannam dan

itulah sejelek-jelek tempat kembali”. (AnNisa :115)

dan firman Alloh :

 

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا

“Dan orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam dari Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh meridhoi mereka dan mereka meridhoiNya”.(AtTaubah :100) Maka Alloh mengancam orang yang mengikuti selain jalanNya dengan siksaan neraka jahannam dan menjanjikan orang yang mengikuti jalanNya dengan sorga dan keridhoanNya.

Dari Hadits :

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِىء أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ، وَيَمِينُهُ شَهَادة

 

Dari ‘Abdillah bin Mas’ud rodhiallohu ‘anhu berkata, berkata Rosululloh shollalloh ‘alaihi wa sallam : sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian yang setelah mereka, kemudian yang setelah mereka kemudian datang satu kaum persaksian seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya”. (Muttafaq ‘alaihi) Ibnul Jauzy berkata,”Mereka tidak berhati-hati dengan persaksian dan sumpah”. (Fathul Bari 5/260-penerjemah)

Dalam hadits ‘Irbadl bin Sariyah yang panjang :

 

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى بَعْدِي اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Sesungguhnya orang hidup dari kalian sepeninggalku nanti akan melihat perselisihan yang banyak, maka kalian harus berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang diberi petunjuj dan gigitlah ia dengan gigi geraham dan hati-hatilah terhadap perkara-perkara yang baru dalam agama sesungguhnya setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR.Ahmad, 4/126-127, Abu Dawud, 4607, Tirmidzi, 2676, Darimi, 1/44, Baghowi, 1/205) Hadits dishohihkan Syaikh AlAlbany dalam AsShohihah 3/11, Shohih Abu Dawud,10/107, Shohih Ibnu Majah 407-penerj.)

Maka Nabi shollallohu ‘alaih wa sallam mengabarkan umatnya untuk sunnahnya dan sunnah khulafaurrosyidin setelahnya ketika terjadi perselisihan dan perpecahan sebagaimana datang berita tentang sifat golongan yang selamat dalam hadits perpecahan umat yaitu golongan yang berada di atas petunjuk beliau dan sahabatnya. Maka yang mengikuti mereka menjadi golongan yang selamat dan yang menjauhi mereka menjadi golongan yang diancam neraka.

 

Tambahan penerjemah :

 

Syaikh Abul ‘Ala berkata dalam Tuhfatul Ahwadzi pada juz 7 hal 307, berkata AlHafidz Ibnu Rojab AlHanbali dalam kitabnya Jami’ul ‘Ulum wal Hikam,”Di dalam hadits ini ada peringatan bagi umat dari mengikuti perkara-perkara baru dan bid’ah dalam agama dan beliau menekankan dengan ucapannya,’Tiap bid’ah adalah sesat’. Dan yang dimaksud dengan bid’ah adalah apa yang diadakan dari perkara yang tidak ada dasarnya dalam syari’at yang menunjukkannya. Adapun perkara yang mempunyai dasar atau pokok dalam syari’at yang ditunjukkannya maka bukan bid’ah secara syar’i meskipun bisa dikatakan bid’ah secara bahasa. Maka ucapan nabi shollalloh ‘alaihi wa sallam,’Tiap bid’ah adalah sesat” termasuk jawami’ul kalim (kalimat yang ringkas dan padat) tidak ada yang keluar darinya sesuatu apa pun dan dia dasar yang besar dari dasar-dasar agama. Adapun apa yang terjadi pada ucapan salaf dari anggapan baik bid’ah hanyalah terjadi pada bid’ah secara bahasa (yang tidak terkait dengan agama) bukan syar’i. Di antaranya ucapan Umar bin Khothob rodhiallohu ‘anhu mengenai sholat tarwih,’Sebaik-baik bid’ah adalah ini…”

 

Maka yang disebut dengan madzhab as salafy adalah ajaran yang dipegangi para

sahabat yang mulia, tabiin dan pengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat, para ulama dari orang-orang yang dipersaksikan sebagai imam/pemimpin Islam, dikenal mempunyai kedudukan besar dalam agama, dan kaum muslimin menerima fatwa mereka seperti para imam yang empat, Sufyan Tsaury, Laits bin Sa’d, Ibnul Mubarok, Nakho’i, Bukhory, Muslim dan semua penulis kitab Sunan bukan orang yang tertuduh dengan kebid’ahan atau orang-orang yang terkenal dengan gelar yang tidak layak semisal Khowarij, Rofidhoh, Murjiah, Jabariyah, Jahmiyah dan Mu’tazilah. Maka tiap orang yang berpegang teguh dengan aqidah dan fiqih para imam tersebut dinisbatkan kepada mereka meskipun berjauhan jarak dan waktu antara dirinya dan mereka. Dan tiap orang yang menyelisihi mereka bukan dari mereka meskipun hidup di di tengah-tengah mereka sejaman dan satu tempat dengan mereka. Maka yang dimaksud dengan as salaf adalah sahabat, orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dari tabiin, tabiut tabiin dari ulama agama yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat apakah dari generasi yang terbaik maupun orang-orang yang datang setelah mereka sebagaimana yang disebutkan dalam surat atTaubah ayat 100 di atas. Salafiyyah adalah madrasah yang menjaga aqidah dan manhaj Islamy dengan pemahaman generasi sahabat rodhiallohu ‘anhum terutama setelah munculnya kelompok-kelompok sempalan Islam. Salafiyyah mengikuti petunjuk nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dan dia adalah manhaj yang turun dengannya Jirbril yang terpercaya menyampaikan wahyuNya kepada Nabi   shollallohu ‘alaihi wa sallam yang tidak berbicara kecuali dengan wahyu tidak dengan kemauan pribadinya.

(وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى*إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى) (النجم:4 -3)

“Dan tidaklah dia berbicara dari hawa nafsunya tidak lain dari wahyu yang diturunkan kepadanya”. (AnNajam:3-4) dan firman Alloh ta’ala :

 

وقوله تعالى: (قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلا تَتَفَكَّرُونَ)(الأنعام:50)

“Katakanlah, hai Muhammad, Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa aku mempunyai perbndaharaan Alloh, tidak mengetahui perkara ghaib dan tidak mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku, katakanlah, apakah sama antara orang yang buta dengan orang yang melihat, mengapa kamu tidak berpikir?” (AlAn’am :50) Maka AsSalafiyyah bukan agama buatan manusia, akan tetapi dia adalah Islam itu sendiri dengan pemahaman yang benar secara keilmuan dan amalan yaitu berpegang teguh dengan ajaran Rasul dan sahabatnya tidak keluar dari ajaran mereka sedikit pun. Jika kaum muslimin berpegang teguh dengan satu jalan untuk bangkit dari keterpurukannya maka tidak ada bagi mereka jalan kecuali persatuan jama’ah mereka dan persatuan jama’ah tidak ada jalan baginya kecuali Islam yang benar yang bersumberkan AlQur’an dan AsSunnah. Inilah ringkasan pandangan seorang salafy, mengembalikan Islam kepada sumbernya yang murni dari Kitabulloh dan Sunnah rosulNya shollallohu ‘alaihi wa sallam. Sehingga da’wah salafiyyah adalah da’wah yang mengupayakan persatuan manusia dan mengarahkan mereka kepada kebenaran dan jalan yang lurus dengan ucapan dan perbuatan yaitu kepada agama Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dan syari’atnya yang datang dengannya dengan pemahamannya salafush sholih, sahabat Nabi karena mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui kitabulloh dan sunnah Nabi. alQur’an turun dengan bahasa mereka yang memahaminya dengan baik, turun di tengah-tengah mereka dan mereka mengatahui kapan turun dan pada masalah apa turun bersamaan dengan pemahaman makna-makna dan maksud-maskudnya, perkara yang belum mereka ketahui maka mereka menanyakan langsung kepada Rosululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam lalu beliau menjelaskannya kepada mereka dengan terang. Maka da’wah kepada agama ini dan dengan pemahaman ini adalah da’wah kepada kebenaran dan jalan dan agama yang lurus, bukan da’wah perpecahan !.

Da’wah salafiyyah tegak dengan dua pondasi yang besar yang keduanya adalah da’wah nabi kita dan para rosul yang lainnya. Oleh karenanya ini adalah pondasi yang suci dan terjaga disebabkan pokok agama yang datang dari rosululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam dari sisi Alloh ta’ala. Dua pokok itu adalah tauhid yang bersih dari kesyirikan. Dan tauhid dalam pemahaman salaf ada tiga macam yaitu : tauhid rububiyah, tauhid ululuhiyah dan tauhid asma dan sifat. Tauhid rububiyah adalah keimanan terhadap perbuatan-perbuatan Alloh seperti mencipta, memberi rizki menghidupkan, mematikan, memiliki, mengatur, menghukum,…Tauhid Uluhiyah adalah mempersembahkan segala macam ibadah hanya untuk Alloh tidak menyekutukan dengan sesuatu apa pun dalam ibadah kepadaNya. Tauhid asma dan sifat adalah mensifati Alloh dengan apa yang sifati diriNya dalam kitabNya dan dengan apa yang rosul sifati dalam hadits-haditsnya tanpa menyerupakan, memisalkan, menafsirkan dengan salah, meniadakan, menanyakan bagaimananya dan membiarkan maknanya.

Da’wah nabi kita sama dengan da’wah rosul-rosul sebelumnya yang dimulai dengan tauhid sebagaimana yang Alloh terangkan :

 

(وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ )(النحل: من الآية36)

“Dan sungguh Kami telah mengutus di setiap umat seorang rosul yang memerintahkan,’Sembahlah Alloh semata dan jauhilah thoghut”. (AnNahl :36)

(وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ) (الأنبياء:25)

Dan firmanNya :

“Dan tidaklah Kami mengutus sebelum kamu dari seorang rosul kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Dia maka

sembahlah Aku”. (AlAnbiya : 25)

(وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ) (الزخرف:45)

“Dan tanyakanlah orang-orang yang Kami utus sebelum kamu dari rosul-rosul Kami apakah Kami jadikan selain arrohman sesembahan-sesembahan yang mereka sembah”.(AzZukhruf : 45)

Maka bagi kaum salaf adalah pokok pertama dan inti daripada pokok-pokok agama dan lebih diutamakan daripada perkara agama yang lainnya. (Sampai di sini dari penerjemah)

Beberapa ucapan Salaf :

Ibnu Mas’ud rodhiallohu ‘anhu berkata,”Ikutilah dan janganlah kalian mengadakan kebida’ahan sungguh kalian telah dicukupi”. (dikeluarkan oleh Waki’ dalam Zuhud , (315), Ahmad (2/110), Darimi (211) dan Ibnu Wadhoh (13).

Dari beliau rodhiallohu ‘anhu juga berkata,”Kami hanyalah mengikuti jejak rosul tidak memulaim, mengikuti dan tidak mengadakan kebid’ahan dan tidak akan sesat selama mengikuti atsar (hadits)”. (Dikeluarkan oleh AlLalikai dalam Syarhul Ushul I’tiqod,…106-115)

Dari beliau rodhiallohu ‘anhu berkata,”Barangsiapa dari kalian mau mengikuti maka ikutilah sahabat rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya mereka adalah manusia yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit memberat-beratkan diri, paling lurus petunjuk dan paling baik keadaannya, kaum yang dipilih Alloh untuk menemani nabiNya, menegakkan agamaNya, maka kenalilah keutamaan mereka dan ikutilah mereka dalam jejak mereka sesungguhnya mereka di atas petunjuk yang lurus”.(Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyah dan Ibnu Abdil Barr dalam Bayan Ilmi wa Fadhlihi)

AlAuza’i berkata,”Sabarlah dirimu di atas sunnha, berhentilah di mana kaum itu berhenti, berkatalah dengan apa yang mereka katakan, dan tahanlah dari apa yang mereka tahan dan tempuhlah jalan pendahulumu yang sholih sesungguhnya ia meluaskanmu apa yang meluaskan mereka”. (AlAjury dalam AsySyar’iah, 58)

 

Manhaj Salaf dalam ‘Aqidah :

Pokok-pokok terpenting dari manhaj mereka dalam ‘Aqidah

1. Semangatnya mereka berpegang teguh kitabulloh dan sunnah rosulillah dalam menerima ilmu ‘aqidah.

2. Berdalil dengan hadits yang shohih dalam ‘aqidah tidak membedakan antara mutawatir dan hadits ahad. Adapun hadits-hadits lemah yang mereka tulis di buku-buku mereka mengenai ‘aqidah tidak mereka jadikan sebagai pokok dalil tetapi sebagai penguat dari hadits yang shohih.

3. Memahami dalil-dalil di atas cahaya ucapan salaf dan tafsir mereka dan apa yang dinukil dari mereka.

4. Menerima apa yang datang dari wahyu bersamaan dengan memberikan hak akal dan tidak berdalam-dalam memikirkan perkara ghaib yang tidak masuk akal.

5. Tidak mendalami ilmu kalam, filsafat dan menolak penafsiran ahli kalam.

6. Mengumpulkan dan memadukan dalil-dalil dalam satu masalah.

 

Kehususan dan Perbedaan Aqidah Salaf Dibanding Aqidah yang lainnya :

 

1. Aqidah salaf diambil dari sumber yang asli dan bersih dari kitabulloh dan sunnah rosululloh yang jauh dari kotoran nafsu dan kesamaran dan kosong dari penafsiran dari luar Islam.

2. Aqidah salaf meninggalkan ketenangan dalam jiwa dan menjauhkan seorang muslim dari keraguan dan angan-angan kosong.

3. Aqidah salaf menjadikan sikap seorang muslim mengagungkan nash-nash AlQur’an dan AsSunnah karena ia tahu bahwa tiap apa yang di dalamnya kebenaran dan pada yang demikian itu terdapat keselamatan yang besar dan keistimewaan yang husus.

4. Aqidah salaf mewujudkan bagi muslimin karakter yang Alloh ridhai dengan firmanNya :

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya : “Maka demi Robmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian hati mereka tidak merasa keberatan terhadap hukum yang kamu putuskan dan mereka menerima dan tunduk secara lahir dan batin”.(AnNisa :65)

5. Aqidah salaf menghubungkan seorang muslim dengan pendahulunya yang sholih.

6. Aqidah salaf menyatukan barisan muslimin dan menyatukan mereka karena ia jawaban bagi firman Alloh :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Artinya :”Dan berpegangteguhlah kamu dengan tali Alloh (kitabulloh dan agamaNya) semuanya dan janganlah berpecah belah”. (Ali Imron:103)

6. Di dalam aqidah salaf terdapat keselamatan bagi yang berpegang teguh dengannya dan termasuk orang yang diberi kabar gembira rosululloh shollalloh ‘alaihi wa sallam dengan kemenangan dan pertolongan di dunia dan keselamatan dari neraka dan keberuntungan mendapat sorga di ahirat.

7. Berpegang teguh dengannya merupakan sebab terbesar kekokohan di atas agama.

8. Aqidah salaf mempunyai pengaruh yang besar pada perilaku dan ahlak orang yang berpegang teguh dengannya dan selanjutnya menjadi sebab terbesar keistiqomahan di atas agama yang benar.

8. Aqidah salaf merupakan sebab terbesar kedekatan kepada Alloh dan

keberuntungan medapatkan keridhoaanNya.

April 12, 2014 at 2:37 am Leave a comment

Menjawab Syubhat Seputar Pasca Jihad Dammaj

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Menjawab Syubhat[1] Seputar Pasca Jihad Dammaj

 

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata dalam karya besarnya Ighotsatul Lahafan juz 2 halamanan 165 : “ Pasal : Dan fitnah ada dua macam, Fitnah syubhat (kesamaran) dan dia adalah fitnah terbesar dari dua fitnah dan fitnah syahawat, bagi seseorang terkadang mengumpulkan dua fitnah ini dan terkadang memiliki salah satunya. Fitnah syubuhat disebabkan lemahnya bashiroh (kecerdasan atau kepandaian, perspicacious) dan sedikitnya ilmu terutama jika bercampur dengan rusak niat atau tujuan dan adanya hawa nafsu maka terjadilah kerusakan dan musibah yang besar padanya. Maka silakan anda katakan sekehendak anda tentang kesesatan jeleknya niat yang menjadi hakim baginya hawa nafsu bukan huda (petunjuk) bersamaan dengan lemahnya bashiroh dan sedikitnya ilmu agamanya dan dia termasuk orang yang Alloh katakan :

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُTidaklah mereka mengikuti kecuali persangkaan dan kecondongan nafsunya”. (AnNajm :23) Dan Alloh mengabarkan bahwa mengikuti hawa nafsu dapat menyesatkan seorang dari jalanNya maka Ia berfirman :

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (pengganti nabi-nabi sebelumnya) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”.[2]

Dan fitnah ini tempat kembalinya adalah kekafiran dan kenifakan dan dia adalah fitnah orang-orang munafik dan ahli bid’ah sesuai dengan derajat kejelekan bid’ah mereka. Namun semuanya berasal dari fitnah syubuhat yang tersamar atas mereka antara kebenaran dan kebatilan, petunjuk dan kesesatan. Seorang tidak selamat dari fitnah ini kecuali dengan memurnikan dalam mengikuti arrosul dan berhukum dengannya dalam urusan agama yang kecil maupun besar, yang nampak dan tidak nampak, keyakinan dan amalan-amalan, hakikat dan syariatnya, maka ia menerima dari beliau hakikat-hakikat iman dan islam, sifat-sifat, perbuatan-perbuatan dan nama-nama Alloh yang Ia tetapkan dan apa yang Ia hilangkan sebagaimana yang ia menerima dari beliau wajibnya sholat, waktu dan jumlahnya, ukuran nishob zakat dan mustahiqnya, wajibnya wudhu dan mandi junub, dan puasa romadhon. Ia tidak menjadikan beliau seorang rosul dalam satu masalah agama saja bahkan menjadikan rosul dalam tiap masalah yang dibutuhkan umat dalam hal ilmu dan amal, tidak menerima kecuali darinya dan tidak mengambil kecuali darinya. Petunjuk semuanya berputar pada ucapan dan perbuatan beliau dan yang keluar darinya maka kesesatan. Jika hatinya mengikatkan diri dengannya dan berpaling dari apa yang selainnya dan menimbangnya dengan apa yang datang dari rosul, jika sesuai maka ia terima, bukan karena orang tertentu yang mengatakannya bahkan karena mencocokinya dengan risalah rosul dan jika menyelisihinya maka ia tolak siapa pun yang mengatakannya. Inilah orang yang selamat dari fitnah syubhat. Jika hal ini tidak ada pada dirinya maka ia tertimpa oleh fitnahnya sesuai dengan kadar terluputnya perkara ini. Dan fitnah ini terkadang tumbuh dari pemahaman yang rusak dan terkadang dari penukilan yang dusta dan terkadang dari kebenaran yang kuat yang tersembunyi atas seseorang tetapi ia tidak dapat mengambilnya dan terkadang dari tujuan yang rusak dan hawa nafsu yang diikuti. Maka sumbernya kembali kepada butanya mata hati (بصيرة ) dan kerusakan niat.[3]

Pasal : Adapunmodel kedua dari fitnah adalah fitnah syahawat dan Alloh mengumpulkan dua fitnah ini dalam firmanNya :

كَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلَاقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِخَلَاقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِخَلَاقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“(Keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin adalah) seperti keadaan orang-orang yang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kamu. Maka mereka telah meni`mati bagian mereka, dan kamu telah meni`mati bagianmu sebagaimana orang-orang yang sebelummu meni`mati bagiannya (kenikmatan dunia dan syahwatnya), dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu, amalannya gugur di dunia dan di akhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi”.(AtTaubah : 69) Yakni mereka menikmati bagian mereka dari kesenangan dunia dan syahwatnya dan mereka mempercakapkan kebatilan yaitu syubuhat. Dalam ayat ini Alloh mengisyaratkan kerusakan hati dan agama berupa menikmati syahwat dan membicarakan kebatilan[4]. Karena kerusakan agama terjadi dengan dua cara yaitu dengan meyakini kebatilan dan berhukum dengannya atau mengamalkan sesuatu yang menyelisihi dalil atau ilmu yang shohih. Yang pertama adalah kebid’ahan dan yang mengikutinya dan yang kedua adalah penyimpangan amal-amal. Yang pertama kerusakan dari sisi syubuhat dan kedua kerusakan dari sisi syahawat. Sehingga salaf dahulu mengatakan,”Hati-hatilah dari dua manusia : pengikut hawa nafsu yang terfitnah oleh nafsunya dan ahli dunia yang terbutakan oleh dunianya”. Dan mereka mengatakan : “ Hati-hatilah dari fitnah orang alim yang jahat dan ahli ibadah yang bodoh karena fitnah keduanya adalah sumber segala fitnah”.

Dan sumber dari segala fitnah adalah lebih mendahulukan akal atas syari’at dan hawa nafsu atas akal. Yang pertama sumber fitnah syubhat dan kedua sumber fitnah syahwat.

Fitnah syubhat dihilangkan denga yakin dan fitnah syahwat ditolak dengan sabar oleh karena itu Alloh ta’ala menjadikan kepemimpinan agama terkait dengan dua perkara :

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan Kami jadikan sebagian dari mereka pemimpin yang menunjuki dengan perintah Kami disebabkan mereka sabar dan yakin terhadap ayat-ayat Kami”. (AsSajadah : 24)

Maka ayat di atas menunjukkan bahwa dengan sabar dan yakin tercapai kepemimpinan dalam agama dan Ia mengumpulkan kedua karakter itu dalam firmanNya yang lainnya :

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ “Dan mereka saling menasihati dengan kebenaran dan saling dengan kesabaran”. (AlAshr :3). Maka saling menasihati dengan kebenaran dapat menolak syubuhat dan dengan kesabaran dapat menolak syahawat dan Ia mengumpulkan keduanya dalam firmanNya yang lainnya :

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya`qub yang mempunyai amal-amal shalih, ilmu yang bermanfaat, kekuatan dalam ibadah dan mata hati yang kuat”.[5] (Shod :48) Aidi adalah kekuatan hasrat dalam zat Alloh dan abshor adalah melihat perintah – perintah Alloh. Ibnu Abbas berkata , “Yang mempunyai kekuatan dalam ketaatan kepada Alloh dan mengenal Alloh”. AlKalbi berkata,”Yang mempunyai kekuatan ibadah dan mengetahui masalah ibadah”. Mujahid berkata,”Aidi adalah kekuatan dalam taat kepada Alloh dan abshor adalah melihat kebenaran”. Sa’id bin Jubair berkata,”Aidi adalah kekuatan dalam amalan dan abshor adalah mereka melihat dan mengetahui agama mereka”.

Dalam hadits mursal disebutkan,”Alloh mencintai pandangan yang tajam ketika terjadinya syubuhat dan mencintai akal yang sempurna ketika terjadi syahwat”. Maka dengan kesempurnaan akal dan pandangan hati yang tajam tertolak syahwat dan dengan kesempurnaan pandangan yang tajam dan keyakinan tertolak syubhat. Wallohul musta’an.

Alloh ta’ala berfirman :

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Mulia yang memuliakan orang taat kepadanya dan Maha Bijaksana.”(AtTaubah :71)

Imam Ibnu Katsir rohimahulloh berkata : “Setelah Alloh menyebutkan sifat-sifat orang-orang munafik yang tercela kemudian menyebutkan sifat-sifat orang-orang beriman yang terpuji yaitu satu sama lain membela dan menguatkan sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Shohih

“المؤمن للمؤمن كالبنان يشد بعضه بعضا” وشبك بين أصابعه وفي الصحيح أيضا: “مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم، كمثل الجسد الواحد، إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر”

Seorang mukmin bagi seorang mukmin yang lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan – dan beliau menggegam jari jemarinya”. Dan dalam kitab Shohih juga disebutkan “ Permisalan orang-orang beriman dalam saling mencintai dan menyayangi seperti satu badan jiksa salah satu anggota badan sakit maka seluruh badan mersakan sakit dengan panas dan sulit tidur”. (HR.Bukhori no 6011 dan Muslim no 2586 dari sahabat Nu’man bin Basyir rodhiallohu ‘anhu )

Dan Rosululloh صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda mengingatkan kita :

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya tidak membiarkannya dan tidak mendholiminya dan barangsiapa mencukupi kebutuhan seorang muslim maka Alloh mencukupinya dan barangsiapa melepaskan malapetaka dari seorang muslim maka Alloh melepaskan darinya malapetaka dari malapetaka-malapetaka di hari kiamat dan barangsiapa menutupi aib seorang muslim maka Alloh menutupinya di hari kiamat”. (HR.Bukhori dan Muslim dari Ibnu Umar rodhiallohu ‘anhu)

Rosululloh صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَbersabda : “

(( انصُر أخاك ظالماً أو مظلوماً )) ، قال : يا رسولَ الله ، أنصُرُهُ مَظلوماً ، فكيف أنصره ظالماً ؟ قال : (( تمنعه عنِ الظُّلم ، فذلك نصرُك

“Tolonglah saudaramu dalam keadaan mendholimi atau terdholimi”. Anas bertanya,”Aku (dapat) menolong yang terdholimi, bagaimana aku menolong orang yang mendholimi ? Beliau menjawab,”Kamu cegah dari kedholimannya itulah pertolonganmu kepadanya”. (HR.Bukhori dan Muslim dari Anas bin Malik rodhiallohu ‘anhu)

Dari ayat dan hadits di atas pembaca dapat memahami isinya di antaranya kita diperintahkan saling menolong dengan sesama muslim apalagi ia sebagai ahlus sunnah dan ulama yang para ulama adalah pewaris nabi sebagai perantara antara Alloh dan manusia dalam menyampaikan risalah setelah para nabi maka menolong dan membela kehormatan mereka wajib bagi yang mampu dan haram membiarkan mereka dinjak-injak harga diri dan kehormatannya sebagaimana yang dilakukan sebagian orang yang tidak bertanggung jawab melepas ucapan kotor berupa celaan, hujatan, penghinaan dan ucapan jahat lainnya kepada pembawa bendera sunnah di jaman ini semisal Syaikh Yahya bin Ali AlHajury seolah tidak ada harga dan kehormatannya sama sekali lebih rendah dari binatang ternak. Sungguh ini adalah kedholiman yang melampaui batas yang akan diminta pertanggungjawabannya dari yang mengatakan dan menulis ucapan jahat tersebut bahkan Alloh akan balas dengan segera di dunia kalau tidak segera bertobat. Alloh ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُكُمْ فَنُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; kamu hanya mendapatkan keni`matan hidup duniawi yang rendah, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan lalu Kami membalasnya”.(Yunus : 23)

Imam Ibnu Katsir berkata : “ Yaitu sesungguhnya yang merasakan kedholiman adalah kalian sendiri tidak seorangpun yang terkena mudhorot selain kamu sebagaimana yang disebutkan dalam hadits :

ما من ذنب أجدر أن يعجل الله تعالى لصحابه العقوبة في الدنيا مع ما يدخر له   في الآخرة من البغي و قطيعة الرحم ” .

“Tidaklah satu dosa yang lebih pantas disegerakan Alloh siksaannya bagi pelakunya di dunia bersamaan dengan siksaan yang disimpan di ahirat selain kedholiman dan memutus silaturohmi”. (HR.Bukhori dalam AlAdab, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud dengan sanad shohih sebagaimana disebutkan dalam AshShohihah 2/623). Maka atas dasar ini saya menuliskan jawaban dan bantahan syubhat mereka sebentar lagi Insya Alloh ta’ala.

 

Kemudian saya ingatkan mereka – setelah banyak saudara kita yang memperingatkan – dan untuk saya sendiri berjalanlah di atas manhaj yang benar dari manhaj salaf jangan meniru-niru karakter orang-orang kafir maupun munafik dalam beragama di antara karakter munafik yang kamu contoh tanpa sengaja atau sengaja sebagaimana yang disindir oleh Imam Ibnul Qoyyim di atas dan yang Alloh katakan kisah mereka dalam Qur’an :

يَحْسَبُونَ الْأَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا وَإِنْ يَأْتِ الْأَحْزَابُ يَوَدُّوا لَوْ أَنَّهُمْ بَادُونَ فِي الْأَعْرَابِ يَسْأَلُونَ عَنْ أَنْبَائِكُمْ وَلَوْ كَانُوا فِيكُمْ مَا قَاتَلُوا إِلَّا قَلِيلًا

“Mereka mengira (bahwa) tentara-tentara yang bersekutu itu belum pergi[6]; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi tidak hadir perang bersama kamu, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu[7]. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.[8] (AlAhzab :20)

Itulah yang kamu kerjakan selama adanya jihad di Dammaj, menunggu-nunggu dan mencari-cari berita yang sesuai dengan keinginanmu dan dapat menjatuhkan Syaikh Yahya. Di mana mata hati, di mana hati yang lembut di mana perasaanmu ! Kamu lebih jahat daripada Surury yang kamu selalu mengelak darinya. Mereka tidak mencela ulama terang-terangan seperti kamu.

Alloh berfirman :

الَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِنَ اللَّهِ قَالُوا أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ وَإِنْ كَانَ لِلْكَافِرِينَ نَصِيبٌ قَالُوا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Orang-orang munafik menunggu-nunggu kekalahan dan punahnya Islam. Ketika terjadi terjadi kemenangan bagi kaum muslimin mereka berkata: “Bukankah kami dahulu bersama kamu[9]?” Dan jika orang-orang kafir mendapat kemenangan (seperti pada perang Uhud) mereka berkata: “Bukankah kami telah menerangkan bahwa kami tetap bersama kamu akan tetapi kami masuk Islam hanyalah agar muslimin kalah dan membela kamu dari orang-orang beriman? ” Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kemenangan kepada orang-orang kafir terhadap kaum muslimin”.

Imam Ibnul Qoyyim berkata : “Maksudnya orang-orang munafik selalu mendekati kelompok yang berkuasa atau menang. Di antara umat Islam ada orang yang bersifat seperti mereka, mendekati kelompok atau orang yang berharta walaupun dengan mengemis[10] dan sebaliknya bersikap kasar dan angkuh kepada muslimin yang miskin dan tidak berkedudukan di masyarakat. Akan tetapi selama kaum muslimin menegakkan kebenaran dan tidak ridha terhadap kebatilan pasti orang-orang kafir akan kalah di dunia dengan hujjah dan tidak ditolong di ahirat. (Zubdah, 127 asShawa’qul Mursalah, 4/1393)

Bahkan telah tersebar di kalangan mereka dari pembesar-pembesarnya[11] perkataan tanpa ilmu dan persis ucapan orang kafir musyrik : “Jangan ikuti Hajury nanti jadi miskin atau futhur !” Nah, ternyata itulah uneg-uneg yang tersimpan di hatimu selama kamu menjadi salaf selama ini sejak adanya da’wah salaf sekitar tahun 90 an M, baru kamu munculkan dan yang tersimpan di hatimu lebih mengerikan daripada ini. Kamu jadi salaf ingin kaya tho, pengin jadi saudagar kaya, rumah mewah, istri empat cantik dan pintar, yang semuanya intinya adalah UUD (Ujung-Ujungnya adalah Dunia atau duwit cap soekarno warna merah yang banyak dapat sekarung sehari ). Sehingga kamu dihantui kemiskinan, sangat takut dan dari sini berdampak sangat negatif [12] di antaranya banyak istri-istri yang disuruh KB tanpa alasan yang jelas dengan kilah macam-macam padahal takut miskin. Jadi kalian memang miskin (kasihan – istilah Arab) betul !

Sebagian mereka mengetahui kebenaran ada pada Syaikh Yahya tetapi karena takut dijauhi teman dan hilang mata pencariannya di antaranya bisnis herbal atau buku-buku terjemahan atau gamis dan urusan dunia yang lainnya….[13]

Di antara mereka ada yang mengetahui kesalahan-kesalahan, kecurangan-kecurangan, kelicikan-kelicikan dan seabreg ahlak buruk dan kerusakan ustadz mereka tidak mau meninggalkanya dengan alasan daripada tidak belajar.

Janganlah kamu suka berprasangka sebagaimana orang-orang musrik dalam beragama yaitu ketika menetapkan sesembahan-sesembahan selain Alloh tanpa ilmu tetapi dengan sangkaan. Alloh ta’ala berfirman :

وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

Mereka tidak mempunyai satu ilmu pun yang benar tentang itu (bahkan kedustaan). Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang persangkaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran”.[14]

Berikut ini syubhat mereka dan bantahannya yang mana syubhat murahan dan tidak bermutu ini pernah dibacakan oleh seorang ustadz di majlis mereka, Batam, ketika mengadakan dauroh yang sebenarnya tidak pantas disampaikan karena isinya yang kotor dan penuh dengan keraguan dan sangkaan. Tapi karena syubhat, haurs dihilangkan supaya hati kita bersih darinya dan tidak berpenyakit seperti hati mereka itu.

Sebagaimana firman Alloh ta’ala :

وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ

“Demikianlah Kami menerangkan ayat-ayat Al Qur’an, supaya jelas jalan orang-orang yang jalan orang-orang yang berdosa dan menyelisihi jalan para rasul”.(AlAn’am : 55)

Bersabda Rosululloh عليه الصلاة والسلام :

(( يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله ينفون عنه تحريف الغالين وانتحال المبطلين وتأويل الجاهلين ))

“Agama ini dipikul oleh tiap generasi orang-orang adil yang menyingkirkan kitabulloh dari penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, madzhab ahli batil dan penafsiran orang-orang bodoh”. (HR.Hakaim dan Suyuthi dalam Jami AlAhadits dengan sanad shohih)

Sifat mereka itu seperti yang dikatakan Imam Ahmad :

“Orang-orang yang mengikatkan kebatilan bid’ah dan melepaskan ikatan-ikatan fitnah, maka mereka berselisih dalam kitabulloh dan …..mereka berkata tentang agama Alloh, tentang Alloh dan kitabNya tanpa ilmu, menyampaikan kesamaran dan menipu orang-orang yang tidak mengerti dengan apa yang membuat mereka tersamar agamanya. Maka kami berlindung kepada Alloh dari fitnah-fitnah orang-orang yang sesat).(ArRodd ‘Ala Jahmiyah waz Zanadiqoh, 6)

 

Kata pengirim syubhat ini dari : situs binaan AsySyaikh Abu ‘Ammar Ali AlHudzaify hafidhohulloh.

Sebelum saya bantah tulisan picisan ini saya nilai penulis sudah berburuk sangka terlebih dahulu yang berarti dia telah terjerumus ke dalam dosa yang dilarang Alloh dan menyampaikan tanpa sanad seolah dia menyaksikan langsung semua kejadian yang ia tuliskan berlagak seperti reporter.

Alloh ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka buruk terhadap orang-orang beriman, sesungguhnya prasangka buruk kepada mereka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan dan rahasia orang lain dan janganlah sebahagian kamu menghibahi[15] sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?[16] Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah dalam semua urusanmu. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat bagi yang bertobat dan Maha Penyayang bagi orang yang kembali kepadaNya”.[17](AlHujurot : 12)

Saya katakan, memang kamu tidak tahu malu, menyebut-nyebut dan mengaitkan tulisan di atas dengan situs Syaikh tersebut seolah Syaikh merekomendasi dan menyetujui tulisan di atas. Allohul musta’an ini juga kedustaan yang pertama yang ada di dalam tulisan ini. Judul tulisan :

Beberapa Kejanggalan Sikap-sikap AlHajuri pada perang Dammaj.[18]

Dari judulnya sudah menunjukkan sikap prasangka buruk kepada seorang alim. Dan perang Dammaj bukan sekedar perang tapi jihad tapi kamu beri judul kurang dan tidak mengakui sebagai jihad padahal perang di Dammaj adalah jihad dalam rangka mempertahankan aqidah dan markas ahlussunnah atas serangan Rofidloh tidak sebagaimana yang dikatakan ustadz kalian hanya rebutan gunung mengekor ucapan seorang syaikh tanpa ilmu. Bagaimana bukan jihad mereka sedang di jalan Alloh yaitu menuntut ilmu dan seandainya bukan menuntut ilmu pun termasuk fi sabilillah sebagaimana yang disebutkan Abdulloh bin ‘Amr rodhiallohu ‘anhu aku mendengar nabi صلى الله عليه وسلمbersabda :

سمعت النبي {صلى الله عليه وسلم} يقول من قتل دون ماله فهو شهيد

“Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya maka mati syahid”. (HR.Shohihaini)

Dan dalam riwayat lain disebutkan :

من قاتل دون ماله فهو شهيد

“Barangsiapa berperang karena membela hartanya dan mati maka ia syahid”.[19] (Dikeluarkan dalam Shohiha, AlAlbani”. Andaikata mereka berperang memperebutkan gunung, siapa yang memiliki gunung dan siapa yang mendahului memerangi ? Kalau mereka mati sesuai hadits di atas mati syahid bukan ? Kalau kamu jawab ya, maka kamu rujuk dan sepaham dengan kami jika tidak lalu mereka mati sia-sia dan kamu berkata tanpa ilmu alias persangkaan sebagaimana orang-orang kafir di ayat di atas atau kamu anggap mereka kafir sehingga kematian mereka tidak di jalan Alloh ? Laa ilaha illa Alloh pemahaman apa ini ya hadza ya miskin ?

  1. Penyusup di kalangan ahlus sunnah, untuk mencerai beraikan barisan mereka dan melemahkan kekuatannya, dengan itu membuat musuh dengan mudah menghinakan ahlus sunnah dan merampas harta dan tanah mereka.

Ajib (mengherankan), syaikh Yahya penyusup ? jangan mengada-ada ya hadza, siapa kamu siapa beliau? kemuliaan dan kemasyhurannya sebagai imam ahlus sunnah tidak diragukan lagi di kalangan awam, hali ilmu dan penguasa. Jika seorang telah ditazkiah sebagai imam maka kritikan-kritikan tidak mudah dituduhkan begitu saja sebagaimana diterangkan dalam ilmu jarh wat ta’dil. Ahlus sunnah siapa yang dicerai beraikan barisan, dilemahkan kekuatan dan dirampas harta dan tanah mereka. Lalu siapa yang kamu maksudkan dengan ahlussunnah di sini ? Siapa yang sedang berperang ?[20] Siapa penyusupnya, jangan-jangan kawan-kawanmu atau kawan Luqman seperti AlMari yang pertama kali menggembosi para thullab untuk keluar dan melemahkan semangat belajar di Dammaj. Pernyataan aneh dari otak yang penuh dengan kotoran syubhat (alias ngeres- Jawa). Sebenarnya dari point pertama ini saja syubhatmu tidak layat naik cetak dan disebarkan karena kalimatnya rancu dan kontradiksi.

  1. Memerangi ahlus sunnah salafiyyin. Sebaliknya mau duduk bersama dengan ahlul bid’ah dan hizbiyyah dan orang-orang yang menyimpang seperti Ahmad al-Mu’allilm tokoh besar IM dan yang lainnya. Bahkan dia menyambut para tokoh tersebut dengan sangat ramah.

Ini lagu lama ahlus sunnah dan salafiyyin mana yang diperangi beliau ? Apakah mereka yang berusaha menjatuhkan beliau dari kursinya, atau mencela ahli hadits dunia seperti syu’bah dan sahabat Ka’ab bin Malik, pembela kebatilan setelah datang hujjah yang jelas, berda’wah dengan tasawul, memakai Yayasan yang jelas dalam AD/ART nya tertulis “Berpedoman dengan AlQur’an dan AsSunnah di bawah naungan Pancasila dan UUD 45”, itukah ahlussunnah yang diperangi Syaikh ? Ya. Ahlus sunnah model apa itu ? Duduk-duduk dengan ahli bid’ah, apakah mutlak dilarang duduk-duduk dengan ahli bid’ah ? Mereka sebagai apa, tamu atau mau mengasih syubhat ? apakah kamu tahu isi pembicaraan beliau dengan mereka ? dari siapa sanad beritamu ? Apakah sekedar duduk misal cuma sekali dengan ahli bid’ah bisa dikatakan ahli bid’ah atau penghianatan terhadap manhaj ? Bukankah yang disebut ahli bid’ah itu orang yang berkawan dekat dengannya ? Kalau masalah duduk masih perlu diteliti lebih lanjut jangan gampang menuduh. Masalahnya beliau menerima tamu yang secara dhahir seorang muslim yang harus dihormati dan beliau tidak tahu tamu tersebut ahli bid’ah[21]. Syaikh Muqbil pernah menerima Abdul Majid AzZindani tokoh IM ketika beliau sedang sakit. Maka sekali lagi janganlah menghukumi seseorang hanya dengan persangkaan apalagi jarak jauh tanpa bukti yang otentik dan kuat.

  1. Memusuhi markiz ahlis sunnah dan para pengampunya dari kalangan para ulama dan penuntut ilmu dan mencela mereka pada saat bersamaan, dia mau menerima pemimpin-pemimpin kelompok-kelompok hizbiyyah seperti kelompok ar-Rasyad wal alHikmah, dengan menyambut mereka dengan ramah.

           Memusuhi markiz ahlis sunnah dan para pengampunya dari kalangan para ulama           dan penuntut ilmu dan mecela mereka… ini juga tuduhan batil tanpa bukti yang jelas, ahlus sunnah yang mana ulama yang mana dan penuntut ilmu yang mana….

… pada saat bersamaan, dia mau menerima pemimpin-pemimpin kelompok-kelompok hizbiyyah seperti kelompok ar-Rasyad wal alHikmah, dengan menyambut mereka dengan ramah….sama seperti sebelumnya perlu tabayyun dan sanad yang tsiqoh serta bukti karena ini masalah berita bisa benar bisa salah apalagi berita dari hizbiyyin alias fasiq perlu diteliti dan dikuatkan dengan bukti yang banyak. Alloh ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti,[22] agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang kamu sangka benar yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu karena nampaknya kedustaan orang fasik itu”.[23](AlHujurot : 60)

Di antara kaidah ahli bid’ah sebagaimana yang disebutkan Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al’Abilan adalah :

“Berdalil dengan nukilan-nukilan yang dusta dari ulama mereka atau dari orang-orang yang tidak dikenal atas amalan-amalan ibadah. Itulah manhaj ahli bid’ah dalam memandang dan berdalil atas aqidah mereka yang menjadi faktor terbesar perpecahan umat ini”. (Durusul Manhaj )

  1. Biasanya orang yang terusir dari negerinya paska perang dengan terpaksa kondisinya sangat susah. Namun aneh, si mubtadi’ Yahya alHajuri ini keluar dari perang Dammaj dalam kondisi dia termasuk orang yang terkaya dalam perang tersebut, sehingga ia mampu membeli villa-villa dan berbagai kemegahan dunia lainnya dalam tempo yang sangat singkat sekali pasca terusirnya dia… pertanyaannya : Apakah jutaan harta yang ada di tangan sang hartawan alHajuri ini merupakan harga jual dari sesuatu ? Ataukah memang al Hajuri terhitung dalam jajaran para Milyuner ? Yang jelas kita bersabar. Sebagaimana dikatakan bahwa “Sejarah itu tidak pandang bulu “.

 

Pernyataan ini juga aneh karena keluar dari sisi pandang orang yang aneh yang tidak melihat kekuasaan Alloh bahwa Maha Kuasa Atas segala sesuatu jika Ia berkehendak tinggal mengatakan,”Jadilah ! maka jadilah”. Kamu tahu darimana Syaikh terusir dengan terpaksa ? Berani bersumpah atas kebenaran ucapanmu ? Kalau berani mari turun darat kita bermubahalah kalau beliau terusir dengan paksa. Beliau jihad, bukan terusir tapi diperintah oleh penguasa Yaman, presiden Yaman, agar meninggalkan Dammaj karena diancam akan dihancurkan oleh sekutu (9 negara) kalau tidak mau keluar dari sana. Sebagai rakyat maka beliau haruslah mentaati pemimpin dalam rangka melaksanakan perintah Alloh. Berita ini sudah tersebar luas di situs isnad. net dan darulilmi. Syaikh Muhammad bin Hadi pun meridhoi keluarnya beliau dari Dammaj karena kata beliau penduduk Dammaj lebih mengetahui kondisi dan kemaslahatan mereka, mereka keluar dengan aman harta, jiwa dan kehormatan mereka. Kemudian kalau seandainya beliau terusir dengan paksa, apakah menjadi kaidah yang pasti harus susah ? dari mana kaidah ini ? Tunjukkan hujjahmu jika kamu orang yang benar ! Kamu sebut beliau mubtadi, kebid’ahan apa yang beliau perbuat ? Yang mubtadi’ yang berda’wah dengan tassawul dan memakai Yayasan sebagaimana orang-orang Nasrani, KongHuchu dan kelompok-kelompok kafir lainnya memakai Yayasan atau orang yang berusaha mengembalikan da’wah ke jalan sahabat ? Kamu berani membuktikan ? Buktikan jangan asal ngomong. Kalau tidak maka kamu termasuk dhalim yang segera dibalas kejahatanmu di dunia dan ahirat.

Kamu katakan : “dia termasuk orang yang terkaya”, maksudnya apa, namanya terkaya itu satu saja kamu katakan termasuk kalau termasuk itu berarti ada orang yang lain yang kaya. Kalimatnya rancu pakde !

Sehingga ia mampu membeli villa-villa dan berbagai kemegahan dunia lainnya dalam tempo yang sangat singkat sekali pasca terusirnya dia…” mampu membeli villa-villa ? aneh villa di mana, setahu saya di Yaman itu tidak ada villa. Terserah beliau mau beli apa kenapa kamu suudhon terus. Kalau kamu membaca sejarah Nabi dan sahabatnya sebelum perang mereka dalam keadaan miskin dan setelah perang dan mengalami banyak kemenangan mereka dalam waktu yang singkat juga kaya karena mendapatkan banyak ghonimah, wilayah yang sangat luas dan lain-lainnya. Kamu tahu di antara sahabat ada yang mampu membeli saribu pohon dengan harga 1 dirham tiap pohon untuk kebunnya. Itulah salah satu hikmah jihad.

“… dan berbagai kemegahan dunia lainnya dalam tempo yang sangat singkat sekali pasca terusirnya dia..” ini juga omongan ngelantur kalau tidak bisa ngomong yang baik maka diamlah supaya imanmu sempurna karena di antara ciri orang beriman itu berkata yang baik kalau bisa kalau tidak bisa maka lebih baik diam.

Katanya : “pertanyaannya : Apakah jutaan harta yang ada di tangan sang hartawan alHajuri ini merupakan harga jual dari sesuatu ? Ataukah memang al Hajuri terhitung dalam jajaran para Milyuner ? Yang jelas kita bersabar. Sebagaimana dikatakan bahwa “Sejarah itu tidak pandang bulu “. Sama dengan di atas kenapa kamu menyimpulkan lalu kamu tanyakan sendiri ? Kurang pekerjaan. Aneh. Sekarang memang banyak orang aneh menilai ahli ilmu dan ibadah sebagai aneh karena kondisinya jelas beda jauh dengan dirinya maka ia anggap aneh. Kamu itu sukanya tajassus untuk apa bersabar dalam kebatilan lebih baik koreksi diri untuk menjadi orang sholih. Jangan seperti orang-orang musrik yang bersabar dalam kebatilan dan mengatakan :

وَانْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَى آلِهَتِكُمْ إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ

Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka dari majlis mereka (seraya berkata): “Teruslah kamu pada agamamu dan tetaplah (menyembah) sesembahan-sesembahanmu, sesungguhnya dakwahnya benar-benar suatu hal yang dikehendaki untuk meninggikan kedudukannya atas kita”.(Shod : 6)

Dalam jihad hanya ada dua yang didapat kemenangan dengan banyak ghonimah atau mati syahid, dengarkanlah firman Alloh ini :

قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا إِلَّا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ وَنَحْنُ نَتَرَبَّصُ بِكُمْ أَنْ يُصِيبَكُمُ اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ أَوْ بِأَيْدِينَا فَتَرَبَّصُوا إِنَّا مَعَكُمْ مُتَرَبِّصُونَ

Katakanlah: “tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan, mati syahid atau kemenangan Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya, atau (azab) dengan tangan kami, pembunuhan atau penawanan. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu”.(AtTaubah : 52)

Tidak mustahil pertolongan itu didapat oleh beliau dikarenakan kesabaran beliau selama bertahun-tahun membela sunnah sampai titik darah penghabisan mengorbankan jiwa raga, harta benda untuk berjihad melawan musuh-musuh sunnah. Lihatlah firman Alloh yang mengatakan tentang keutamaan jihad fi sabilillah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10) تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (11) يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (12) وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (13)

10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? 11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik[24] bagi kamu jika kamu mengetahuinya, 12. niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang sungai-sungai mengalir di bawahnya, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar”. 13. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya).[25] Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman”. (Shoff :10-13) Ayat ini jelas bukan?

Namun sebaliknya Alloh dan rosulnya mencela orang-orang yang meninggalkan jihad fi sabilillah di antaranya akan ditimpa kehinaan.

إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا لاينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم

“Jika kamu berjual beli dengan cara ‘inah (semacam riba), memegang ekor-ekor sapi, ridho dengan pertanian dan meninggalkan jihad maka Alloh akan menguasakan kehinaan padamu tidak Ia cabut sampai kamu kembali kepada agama kalian”. (HSR.Abu Dawud, dalam Shohiha, AlAlbani no.11)

Berkata Abuth Thiib dalam ‘Aunul Ma’bud,”Artinya mereka sibuk dengan pertanian pada saat diwajibkan jihad, dan sebab kehinaan itu wallohu a’lam ketika mereka meninggalkan jiwa fi sabilillah yang padanya terapat kemuliaan Islam dan kemenangannya atas semua agama Alloh memperlakukan mereka dengan lawan kemuliaan yaitu dengan turunnya kehinaan lalu mereka berjalan di belakang ekor-ekor sapi setelah mereka menunggangi kuda yang merupakan tempat yang termulia”.

Pada dirimu ada salah satu sifat munafik sebagaimana yang Alloh firmankan :

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa[26], niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan”.(Ali Imron : 120)

AlImam Ibnu Katsir berkata : “ Ini menunjukkan besarnya permusuhan mereka terhadap orang-orang beriman yaitu jika orang-orang beriman mendapatkan pertolongan dan kemenangan, banyak dan mulia penolong-penolong mereka, orang-orang munafik bersedih hati dan jika kaum muslimin mendapatkan musibah seperti paceklik atau dikalahkan musuh dengan sebab hikmah yang Alloh ketahui – sebagaimana terjadi pada perang Uhud – mereka senang….”.

  1. Sampai kepada kami bahwa si mubtadi’ makhdzul al Hajuri ini keluar dari Dammaj dengan menggunakan Helikopter khusus. Sementara para thullab dan keluarga-keluarga lainnya dalam kondisi sangat mengenaskan dan sangat rendah serta kefakiran yang sangat. Pertanyaannya sekarang : Siapakah yang suci dan mulia ? agama Allah ataukah – Dinding-dinding markiz Dammaj, ataukah – Yahya al Hajuri ??! Kami menginginkan jawaban dari para pengikut al Hajuri si makhdzul.

Sampai kepada kami : Yangjujur saja siapa yang menyampaikan berita kepadamu, kalau yang menyampaikan berita kepada kamu bukan orang tsiqoh jangan sekali-kali menyampaikan berita tersebut. Dari bentuk kalimatmu ini menunjukkan kamu bukan orang jujur dan gentle dan kalau dinilai secara ilmu hadits maka haditsmu terputus karena ada perowi yang tidak disebut nama dan tidak disebut sanadnya siapa. Jangankan dikatakan, sampai kepada kami, perkatan : “Mengabarkan kepada kami orang tsiqoh “ saja dianggap sanadnya lemah karena tidak disebut nama. Maka sebenarnya kamu itu orang matruk yang ditinggalkan haditsnya disebabkan riwayatmu menyelisihi riwayat yang lebih kuat yang mengalami perang langsung dari kawan-kawan saya di Dammaj ditambah kamu orang dho’if dan majhul karena tidak ada seorang ulama yang merekomendasi kamu.

Dan jawaban kami banyak dan kamu harus bertanggung jawab di dunia dan ahirat atas ucapanmu yang ngawur dan menghina Syaikh dengan si makhdzul. Maka kamulah yang makhdzul orang yang kamu cela demi Alloh jauh lebih baik daripada kamu, saya lihat sendiri ahlak dan ibadahnya maupun karya-karya ilmiahnya, saya belum pernah melihat ustadz-ustadzmu mampu menandinginya. Bukankah kehinaan dan kehancuran Dammaj itu – hususnya pemangkunya – yang kamu kehendaki sebagaimana kehendak Khutsiyyun ? (Jawab dengan jujur). Sekarang keadaan yang kamu impikan sebagiannya telah terjadi kemudian kamu berbalik seolah menyesalkan kejadian ini dan terus memojokkan Syaikh. Jelas ini bukan sikap orang beriman yang tahu takdir Alloh dan tawakkal, ini adalah sikap orang awam atau orang munafik yang tidak pernah ngaji salaf sedikitpun yang sering saya saksikan selama bergaul dengan orang-orang awam, kurang akal, tidak kokoh dalam menilai suatu kejadian, selalu menyalahkan dan mengkambinghitamkan orang lain, merasa benar sebagaimana penonton bola yang tak pernah salah, tidak ada dzikir yang keluar dari pena maupun mulut mereka adanya keluh kesah dan menghujat dikarenakan kurang percaya terhadap ketentuan dan takdir Alloh. Maka terbukalah pintu-pintu setan berupa keluh kesah, malas dan marah. Padahal Alloh dan nabi kita mengajarkan kalau terjadi musibah bersabar dan mengatakan قدر الله ما شاء فعل (Alloh yang telah mentakdirkan, apa yang Ia kehendaki Ia kerjakan) karena berandai-andai membuka pintu-pintu setan.

“احرص على ما ينفعك، واستعِن بالله ولا تعجزن، وإن أصابك شيء فلا تقل: لو أني فعلت كذا لكان كذا وكذا، ولكن قُل: قدّر الله وما شاء فعل. فإن لو تفتح عمل الشيطان” .

“Bersungguh-sungguhlah mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Alloh dan jangan lemah (malas), jika kamu tertimpa musibah janganlah kamu katakan :’Seandainya aku lakukan demikian dan demikian dan demikian tetapi katakanlah, ‘ Alloh yang mentakdirkan dan apa yang Ia kehendaki Ia kerjakan’, karena berandai-andai membuka pintu-pintau setan”. (HR.Muslim dari Abi Huroiroh rodhialahu ‘anhu).

Ia katakan : ia keluar dari Dammaj dengan menggunakan Helikopter khusus. Sementara para thullab dan keluarga-keluarga lainnya dalam kondisi sangat mengenaskan dan sangat rendah serta kefakiran yang sangat.

Helikopter husus ? kamu heran dengan helikopter ? Mau naik helikopter ? Jadi syaikh dulu baru naik helikopter ! Siapa yang mau menaikkan ke helikopter husus untuk orang macam kamu orang makhdzul dan majhul tak ada nilainya di mata penguasa maupun bukan penguasa. Beliau naik helikopter yang kamu anggap mewah dan tidak pantas itu bukan kehendak beliau tapi kehendak presiden Yaman dan itu hanya salah satu kendaraan dunia yang fana ya hadza, ya miskin dibandingkan dengan kesengsaraan dan tanggungjawab beliau sebagai ulama yang menanggung ribuan murid dari dalam dan luar negeri, kemudian hilangnya sebagian orang-orang yang beliau cintai seperti anak dan mustafid-mustafidnya yang handal helikopter itu tidak ada artinya, naik helikopter dalam keadaan biasa saja tidak nyaman apalagi naik helikopter dalam keadaan musibah sama sekali tidak nyaman. Tapi bagi kamu kalau dinaikkan helikopter setelah menangis kehilangan rumah atau anak istri dan harta benda mungkin sangat girang dan tersenyum lebar dan terlupakan semua musibah yang menimpamu. Karena kamu silau dengan harta benda seperti helikopter.[27] Sungguh memalukan sikap dan pernyataanmu itu. Dan kamu kalau melihat kenikmatan para masyayikh di Dammaj termasuk Syaikh Yahya pasti kamu akan pingsan dan marah. Kamu persis apa yang dikatakan penyair : Seandainya mereka para raja mengetahui kenikmatan yang ada pada kita pasti mereka akan memukul punggung-punggung kita dengan pedang”.

Kamu seperti orang Yahudi yang hasad terhadap kenikmatan orang lain. Alloh ta’ala berfirman :

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) disebabkab karunia yang Allah telah berikan kepadanya?. Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah (jalan hidup) kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar”.[28] (AnNisa : 54)

Dan rosul pun di dalam satu peperangan menikah dan bersenang-senang !

Lihat footnonya, bukankah para ustadzmu ketika dahulu jihad di Ambon makan dan tidur di kasur empuk dan nyaman bahkan ada yang kawin lagi, naik kapal air di kamar VIP atau pulang pergi naik pesawat, sementara para laskar yang mencari dana dengan ngencleng di pinggir-pinggir jalan dengan menahan lapar sampai ada yang sakit hingga meninggal karena sakit ginjal, naik kapal ekonomi yang pengap dan banyak asap rokok bahkan di ahir-ahir jihad mereka makan rumput ?

Bukankah sebagian ustadzmu[29] ketika dauroh nasional ada yang tidak bersedia tinggal di pondok Veteran maunya di hotel dan pulang pergi memakai pesawat sementara para pengikutnya yang susah payah mencari dana dengan tassawul dan hutang sampai ratusan juta rupiah tinggal di kemah-kemah makan seadanya sedangkan ustadz dan syaikhmu makan enak, motong kambing, tertawa terbahak-bahak, rekreasi ke sana ke mari, Tawang Mangu sambil membawa handy cam dan Kali Urang di sana main volli, kenapa kamu tidak protes ?

Katanya : Sementara para thullab dan keluarga-keluarga lainnya dalam kondisi sangat mengenaskan dan sangat rendah serta kefakiran yang sangat. ..mengenaskan, sangat rendah, kefakiran yang sangat ? Apa maksudnya ? Kamu ikut berbela sungkawa atau mengejek ? Bukankah ini yang kamu inginkan ? Mereka tidak ingin dikasihani siapa pun meskipun dalam keadaan seperti yang kamu bayangkan dan tuliskan tapi mereka punya izzah dan sabar tidak meminta-minta kaya ustadz-ustadzmu yang menggalang dana untuk solidaritas Dammaj ternyata dana tidak sampai ke sana. Mereka dikepung 100 hari dalam keadaan tidak ada bahan makanan yang masuk tapi mereka sabar dan tawakkal. Mereka tidak rendah, rendah itu kalau bermaksiat seperti tasawwul, mereka hebat dan mulia. Sekarang saya tahu bahwa ukuruan hina dan rendah menurut kamu dan orang-orang seperti kamu itu karena tidak berharta, miskin, baju compang-camping, kurus kering, kelaparan, sakit-sakitan dan yang semacamnya. Itulah pandangan orang kafir sebagaimana yang Alloh katakan :

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16) كَلَّا بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ

15. Adapun manusia apabila robnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Robbku telah memuliakanku”.[30] 16. Adapun bila robnya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Rabbku menghinakanku”. Maka Alloh bantah dengan firmanNya : 17. Sekali-kali tidak seperti yang ia sangka”…,[31] (AlFajr : 15-17).

Maka benar kata Syaikhul Ibnu Taimiyyah semakin ahli bid’ah membantah akan semakin nampak isi hati dan boroknya.

Kamu itu seperti orang yang Yahudi yang kagum terhadap Ibnu Hajar yang naik kuda yang bagus dan gagah serta pakaian mewah lalu dijawab oleh beliau bahwa kemewahan yang ada pada beliau belum ada apa-apanya dibanding dengan kemewahan sorga dan seisinya lalu Yahudi itu masuk Islam . Bedanya kamu pake jubah, berjenggot, ngaku salafy, celana ngatung, berlagak sebagai ahli ibadah dan alim tapi hatinya busuk ….!

Pertanyaannya sekarang : Siapakah yang suci dan mulia ? agama Allah ataukah – Dinding-dinding markiz Dammaj, ataukah – Yahya al Hajuri ??! Kami menginginkan jawaban dari para pengikut al Hajuri si makhdzul.

Dari keterangan di atas semua orang yang membaca naskah ini pasti bisa menjawab pertanyaan tidak bermutu ini. Buat apa kamu membuat syubhat dan kedustaan kemudian kamu lemparkan pertanyaan kepada orang lain, kamu lebih tahu tentang syubhat dan pertanyaanmu yang jelek ini.

  1. Di antara penghianatannya (Yahya al Hajuri) terhadap ahlus sunnah dalam perang Dammaj adalah ketika dia menelpon para pengikutnya yang berada di front tatkala perang sedang berkecamuk dengan sengit, al Hajuri memerintahkan mereka (para pengikutnya) untuk menarik diri (mundur), sehingga membuat punggung-punggung para mujahidin tersingkap dan menjadi sasaran empuk tembakan-tembakan para Rafidhah kafir. Maka terjadilah kekalahan dan jatuh korban terbunuh pada saudara-saudara kita, bahkan sebagian mereka tertawan wallahu a’lam bagaimana kondisi mereka sekarang, tidak diketahui hingga sekarang. Maka jatuhlah wilayah-wilayah ahlus sunnah ke tangan Rafidhah.

Aku berlindung dari ucapanmu ini, kamu memang orang berhati jahat dan bejat. Apakah yang diberbuat oleh Syaikh dalam memimpin perang dan terkadang salah (kalau salah) itu dipastikan sebagai penghianatan ? Selama ini tidak ada berita dari para pemimpin kabilah yang mereka sepakat mengangkat beliau sebagai panglima perang berhianat. Kamu katakan mereka ahlussunnah bukankah kamu kamu katakan mereka itu Haddahy ? Omonganmu itu penuh dengan kontradiksi, sejak kapan kamu rujuk dari pengecapan Haddady kepada ahlussunnah? Atau ada ahlus sunnah lain yang dalam perang ? Kamu katakan mereka mujahidin katanya rebutan gunung kok dikatakan mujahid ? Tidak usahlah kamu korek-korek kesalahan – kalau menurutmu salah padahal belum tentu salah – beliau yang kamu tidak tahu persis. Kamu itu aneh tidak ikut perang, maupun membantu dengan doa atau harta komentar miring terus, dibayar berapa kamu menjadi komentator jihad di Dammaj, apakah kamu mengikuti tiap langkah perang para mujahidin di sana sehingga dengan seenak perutmu berkomentar seolah melihat dan mengalami perang langsung. Banyak orang yang lebih tahu tentang perang ini tetapi mereka beradab menutupi kekuarangan yang terjadi tidak seperti kamu kaya istri Abu Lahab yang suka nyebar fitnah ke sana-kemari. Dari penuturanmu menunjukkan kamu hanya menukil berita sedikit lalu disebarluaskan untuk menghantam Syaikh, dan beliau tidak terkena mudhorot sedikit pun dengan hantaman berita rendahan ini. Kamu seperti dukun yang menerima berita dari setan-setan yang mencurinya dari langit satu berita benar kemudian dicampur dengan 100 kedustaan, kemudian dijual dengan harga murah kepada para pasiennya dan membuat kerusakan di muka bumi. Kamu tidak adil dalam menyebar berita ini dikaranekan banyak berita yang menggembirakan yang kamu sembunyikan seperti kemenangan-kemenangan yang didapat pasukan mujahidin bahkan akhi Abu Ahmad AlLimbori mengabarkan bahwa di tiap pertempuran pasukan mujahidin selalu menang dan kenyataan demikian di pihak musuh lebih banyak kerugian dan kematiannya yang mana ini adalah karunia Alloh. Tapi kamu sembunyikan hanya melihat Syaikh “terusir” meninggalkan Dammaj lalu kamu simpulkan itu sebagai satu kesalahan yang fatal. Maka itu persis orang kafir yang suka menyembunyikan karunia Alloh yang Ia katakan :

الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

“(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya[32] kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan”.(AnNisa:37)

Berbuatlah adil sebagaimana yang Alloh perintahkan jangan karena kebencianmu kepada mereka lalu kamu tidak adil.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang beriman jadilah kamu orang-orang yang menegakkan keadilan dan menjadi saksi dengan benar dan janganlah kebencian terhadap suatu kaum menjadikan kamu tidak adil dan berbuat adillah sesungguhnya keadilan itu dekat kepada takwa”. (AlMaidah :8)

Janganlah kamu berburuk sangka kepada orang yang taat hanya taklid kepada orang-orang hasad dan makhdzul semacam Luqman dan cs nya yang sekarang mulai ditinggalkan banyak pengikutnya karena telah terbongkar makar-makarnya kepada ahlus sunnah dan Syaikh Yahya hususnya.

Ibnul Muflih dalam Adabusy Syari’ah berkata mengutip ucapan penulis kitab Nihayatul Mubtadiin,”Berbaik sangka kepada orang taat agama adalah baik meskipun tidak wajib hukumnya dan sebaliknya berbaik sangka kepada orang jahat tidak baik meski tidak haram dan arti sabda Nabi :

{ إيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ }

“Hati-hatilah kamu terhadap buruk sangka sesungguhnya ia adalah ucapan yang paling dusta”. Bahwa terus menerus berburuk sangka tidak diperbolehkan. Ibnul Jauzy menyebutkan ucapan Sufyan Tsauri dari para ahli tafsir yaitu dosa sekedar buruk sangka kepada mereka meskipun tidak diucapkan dan beliau menyebutkan ucapan Hakim Abu Ya’la,’Buruk sangka yang dilarang adalah buruk sangka kepada Alloh dan wajib baik sangka kepadaNya. Demikian juga buruk sangka kepada seorang muslim yang lahirnya baik atau adil (taat) dilarang buruk sangka kepadanya dan AlBaghowi menyebutkan bahwa maksud ayat yang melarang buruk sangka kepada orang yang nampaknya baik dilarang dan tidak mengapa buruk sangka kepada orang yang penampilannya buruk”.

Berkata Ibnu Hubairoh,”Tidak halal, demi Alloh, berbaik sangka kepada orang yang menolak maupun menyelisihi syariat”.

Ibnu Abdil Barr berkata,”Tidak halal bagi seorang muslim mendengar dari saudaranya satu kalimat lalu ia berburuk sangka padahal ia menemukan jalan keluar yang baik”.

 

  1. Dia (AlHajuri) hanya memperhatikan diri sendiri, keluarga dan orang-orang dekatnya. Dengan inilah AlHajuri membuat kusam suratnya kepada presiden, yaitu ia minta keluar dengan aman, dirinya dan orang-orang dekatnya dengannya…sementara dia tidak menulis walaupun satu huruf saja –khususnya terkait dengan para tawanan perang berupa permintaan untuk melepaskan para tawanan tersebut dan dikembalikan kepada keluarganya masing-masing…semoga Alloh hitamkan wajahmu wahai Yahya, kamu dan para kronimu,serta para pendukung-pendukungmu.

Ini juga tuduhan aneh, apakah kamu tidak melihat realita keadaan keluarnya mereka dengan aman semua. Kenapa kamu tidak usul pendapatmu kepada Syaikh Yahya kalau tidak bisa langsung ya dengan nelpon, apakah kamu kamu sudah menanyakan tentang yang kamu tuliskan ini kepada syaikh atau kepada yang berkepentingan seperti presiden atau yang mewakilinya dari kalangan pejabat atau dubes Indonesia. Yang jelas hatimu penuh dengan kemarahan, apakah mereka menang atau kalah. Untuk membikin berita tidak seperti caranya asal tulis tidak ada sumber akurat sama sekali. Hati-hati daging ulama itu beracun. Kamu mendoakan kejelekan untuk beliau dan murid-muridnya yang banyak di antara mereka hapal qur’an, Shohih Bukhori dan Muslim, ahli ibadah, maka tunggulah doanya orang-orang yang sedang susah dan terdholimi oleh ucapanmu itu. Apakah presiden juga tidak tahu masalah perang, tawanan perang dan perkara-perkara yang berkaitan dengannya ? Yang jelas kamu itu orang yang tak jelas, tidak tahu masalah negara dan perang serta urusan orang lain ikut bicara. Ini adalah kesalahan besar, berbicara tanpa ilmu dan bukti.

Alloh ta’ala berfirman :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Janganlah kamu berkata apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihata dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya”. (AlIsro : 36)

Imam Ibnu Katsir berkata : “Berkata Ali bin Abi Tholhah, janganlah kamu bertkata tanpa ilmu. Berkata AlUfi : ‘Janganlah kamu menuduh seorang pun tanpa pengetahuan’. Berkata Muhammad bin AlHanafiah : ‘Artinya janganlah kamu menyaksikan persaksian palsu’. Berkata Qotadah,’Janganlah kamu katakan, aku melihat, padahal tidak melihat, aku mendengar padahal tidak mendengar, aku tahu padahal tidak tahu, sesungguhnya Alloh akan menanyakanmu tentang itu semua. Dan kandungan apa yang disebutkan para mufassir tersebut : Alloh ta’ala melarang berbicara tanpa dasar ilmu bahkan sekedar sangkaan juga dilarang sebagaimana Alloh katakan : { اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ } “Dan jauihilah oleh kamu persangkaan sesungguhnya sebagian persangkaan itu dosa”. (AlHujurot : 12). Dalam hadits disebutkan : “إياكم والظن؛ فإن الظن أكذبُ الحديث” “ Hati-hatilah kamu terhadap persangkaan sesungguhnya persangkaan adalah perkataan yang paling dusta”. (HR.Bukhori dalam Shohihnya (7043) dari Ibnu Umar rodhiallohu ‘anhu) Dalam hadits disebutkan بئس مطية الرجل زعموا..”.”Sejelek-jelek tunggangan adalah persangkaan”.[33] (Tafsir Ibnu Katsir)

 

AthThibi berkata,”Dalam AnNihayah disebutkan, AzZa’mu mirip dengan sangkaan artinya sejelek-jelek kebiasaan seorang menjadikan sangkaan sebagai tunggangan untuk mendapatkan tujuan-tujuannya lalu mengabarkan sesuatu dengan taklid tanpa meneliti kemudian salah dan membiasakan dusta. Demikian dikatakan oleh AlMunawi.

Maksudnya, bahwa berita-berita yang dibangun di atas keraguan dan terkaan bukan kepastian dan keyakinan adalah jelek bahkan seharusnya beritanya ada sanad dan kepastian dan di atas kepercayaan bukan sekedar cerita di atas sangkaan dan perhitungan…” (Aunul Ma’bud Syarah Abu Dawud, 10/472)

 

  1. AlHajuri tidak pernah terdengar darinya bahwa ia mengangkat senjata baik dalam perang ini maupun dalam perang-perang lainnya melawan Rafidhoh, kecuali hanya terdengar teriakan-teriakan saja, atau permintaan tolong kepada organisasi-organasasi nasional seperti lembaga hak-hak kemanusiaan dan organisasi-organisai lainnya. Namun demikian kamu dengar dari sebagian para pendukungnya yang dungu dan tidak mengerti apa-apa itu, berbagi macam sangjungan, gelar-gelar kepahlawanan dan keberanian terhadap Yahya. Wallohul musta’an.

 

Maksud perang ini, yang mana, perang di Dammaj (sesuai judul Syubhatmu) semuanya melawawan Rofidhoh, kamu sejak awal ngomong tak tentu arah dan ngawur. Kalau tak terdengar mengangkat senjata itu wajar dan beliau lebih tahu kemaslahatan dan kemudhorotannya. Beliau harus mengisi dars walau di saat perang, memberi semangat perang dan urusan lainnya yang sangat penting. Dan yang maju di medan perang para wakilnya sesuai dengan kebijaksanaan beliau sebagai panglima dan di antara mujahidin yang terdiri dari para tokoh kabilah dan mustafid serta ulama lainnya tidak ada yang protes atas kebijaksaan tersebut. Apakah kamu pernah mendengar sejak Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali rodhiallohu ‘anhum menjadi kholifah mereka terjun langsung ke medan perang ?

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ “Katakanlah, bawakan hujjahmu jika kamu orang-orang yang benar “. (AlBaqoroh : 111) Kenapa kamu protes terus dari awal, kamu punya andil apa dalam perang ini. Dan tidak angkat senjatanya beliau termasuk udzur syar’i bahkan mendapatkan pahala karena berniat untuk perang dan bahkan ikut mengatur strategi sebagaimana yang nabi صلى الله عليه وسلم katakan :

عن جابر قال كنا مع النبي {صلى الله عليه وسلم} في غزاة ٍ فقال إن بالمدينة لرجالاً ما سرتم مسيراً ولا قطعتم وادياً إلا كانوا معكم حبسهم المرض وفي حديث وكيع عن الأعمشإلا شركوكم في الأجر

 

Dari Jabir, kami bersama rosululloh صلى الله عليه وسلم dalam satu peperangan lalu bersabda,’Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang tidak kamu berjalan dan menempuh lembah kecuali mereka bersama kamu karena mereka tertimpa sakit. Dan dalam hadits Waki’ dari A’masy,’Kecuali mereka bersekutu bersama kamu dalam pahala”. (HR.Bukhori dan Muslim)

Bagaimana dikatakan tidak ikut perang? Dammaj dan ma’had sendiri adalah medan perang, semua orang yang di dalamnya tentunya terlibat perang dan berjaga-jaga termasuk Syaikh. Siapa yang dungu ? Jadi para thullab dan ulama yang di sana dungu ? Jadi kamu orang yang paling pandai dan mengerti strategi perang ? jadi kamu yang paling pantas digelari pahlawan ? Tidak terima kalau syaikh Yahya dapat gelar itu ? Manusia apa kamu ini ? Jadi yang patutu digelari pahlawan adalah para komentator dan penggalang dana yang tak diketahui rimbanya ke mana dana tersebut ? Kenapa kamu tidak ikut andil membantu perang sebagaimana sebagian ikhwan Indonesia yang ikut perang dengan senjata seadanya dan kelaparan dan sebagian ada yang mati di medan laga dan yang masih hidup diam walaupun mereka tahu kekurangan-kekurangan yang ada tidak seperti kamu. Tidak seperti kamu cuma ngoceh di balik internet, fash bookan dan semacamnya menyebar syubhat ! Seandainya kamu berniat ikut perang pun dapat pahala.

Sebenarnya kamu diam tidak usil dengan tulisanmu, itu kebaikan dan sedekah bagimu tidak mengganggu orang terutama ulama dengan mulutmu yang lancang dan belepotan dengan darah bangkai saudaramu . Aku yakin kamu termasuk orang yang dikatakan Rosul صلى الله عليه وسلم

يا عائشة متى عهدتني فحاشاً إن شر الناس يوم القيامة من تركه الناس اتقاء شره

 

“Ya ‘Aisyah, kapan kamu menjanjikan kejelekan ! Sesungguhnya sejelek-jelek manusia pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan manusia karena takut kejelekannya”. (HR.Bukhori dan Muslim dari Aisyah rodhiallohu ‘anha)

عن أبي سعيد قال قال رجل أي الناس أفضل يا رسول الله قال مؤمنٌ يجاهد بنفسه وماله في سبيل الله قال ثم من قال ثم رجلٌ معتزلٌ في شعبٍ من الشعاب يعبد ربه وفي رواية شعيب عن الزهري يتقي الله ويدع الناس من شره

 

Dari Abi Sa’id rodhiallohu ‘anhu, seorang lelaki bertanya kepada Rosululloh صلى الله عليه وسلمmanusia apa yang paling utama hai rosululloh ?. Beliau menjawab,’Seorang mukmin berjihad dengan diri dan hartanya di jalan Alloh. Kemudian seorang yang mengasingkan diri di sebuah bukit menyembah robnya – dalam riwayat Syu’aib dari Zuhri – bertakwa kepad Alloh dan meninggalkan manusia dari kejelekannya”. (HR.Bukhori dan Muslim)

  1. Perkataannya : Di sana terdapat penghianatan-penghianatan, misi-misi, dan tujuan-tujuan jelek di balik kehancuran dan penarikan mundur pasukan di front-front perlawanan terhadap Rofidhoh yang najis itu. Itu semua akan tersingkap dalam waktu yang dekat biidznillah.

Kamu dengan Syaikh Muhammad bin Hadi lebih alim mana, beliau tidak menghujat dan mengkritik apa yang terjadi dalam perang di Dammaj dan tempat lainnya melawa Rofidhoh baru-baru ini. Sementara kamu yang dungu dan dan pendusta ngomel terus dari awal sampai terahir. Kalau di balik itu semua ada misi jelek dan rusak tidak perlu ditunggu dalam waktu dekat dan jauh sekarang pun bisa dilihat dan didengar. Kamu bisa datang dan menanyakan langsung ke sana mencari sumber yang benar sebagaimana team investigasi kemudian mendapatkan data yang kuat untuk kamu sebarkan atau ambil pelajaran dan sebelumnya kamu tanyakan kepada ulama faforit atau yang kamu anggap paling alim di dunia. Jangan memutuskan hukum dengan sangkaan sementara kamu bukan ahli hukum atau ahli fatwa yang bisa dijadikan sandaran ucapan dan perbuatannya. Laa hau laa walaa quwwata illa billahi.

Alloh ta’al berfirman :

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Dan apabila suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan datang kepada mereka (muslimin yang lemah imannya), mereka segera menyiarkannya tanpa meneliti terlebih dulu. Dan seandainya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri (orang-orang berakal, pemimpin dan tokoh) diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui hukumnya akan dapat mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)”.(AnNisa :83)

Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya :”Alloh mengingkari orang yang bersegera menyikapi masalah-masalah sebelum meneliti lalu ia mengabarkan dan menyebarkannya yang terkadang tidak benar beritanya”.

Rosul bersabda : صلى الله عليه وسلم

 

كفى بالمرء كذبا أن يُحدِّث بكل ما سمع

“Cukup dosa bagi seorang yang mengatakan tiap apa yang ia dengar”. (HR.Abu Dawud, Shohih dalam Shohihah, 2025 dan Shohih Abi Dawud, AlAlbani dari Hurairoh rodhiallohu ‘anhu)

عن المغيرة بن شعبة: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن قيل وقال أي: الذي يكثر من الحديث عما يقول الناس من غير تَثبُّت، ولا تَدبُّر، ولا تبَيُّن

Dari AlMughiroh bin Syu’bah bahwa rosululloh صلى الله عليه وسلم melarang qola wa qila …(HR.Bukhori dan Muslim)

Yaitu dari apa yang manusia bicarakan tanpa meneliti, merenungi dan minta kejelasan.

Apabila berita itu mengandung kemaslahatan bagi kaum muslimin maka berita itu boleh disebarkan luaskan. Apabila mengandung kemaslahatan akan tetapi banyak kejelekannya maka sebaiknya tidak perlu disebarkan. Hendaknya menyerahkan semua urusan kepada ahlinya. Dan sebelum berbicara dan menyebarkan berita hendaknya berpikir mengandung maslahat atau tidak? (Taisir, AsSa’dy, 154).

 

Kesimpulan :

 

Syubhat-syubhat di atas dilemparkan bukan untuk menasihati umat yang sedang dalam kondisi terpuruk yang membutuhkan kejelasan dan kebenaran tetapi dalam rangka menjatuhkan wibawa ulama, pencari ilmu dan markasnya sekaligus bahkan ahlus sunnah secara umum. Disampaikan dari hati yang busuk, buruk sangka, makar, kesombongan, dendam, dengki, marah, kurang menerima takdir, tanpa bukti yang jelas yang berakibat menyalahkan dan mengkambinghitamkan pihak lain. Isinya hanya menghujat dan menghujat, tidak adil, sportif, takut kritikan dan ketakutan kehilangan pengikut. Dilihat dari caranya penulis banyak memiliki sifat Yahudi dan kaum musrikin sehingga orang-orang yang berakal pasti bisa menilainya sebagai sesuatu yang tidak perlu dihiraukan kecuali orang-orang tertimpa penyakit hati di atas maka bisa tersambar olehnya.

 

Wallohu a’lam bish showab wal hamdulillahi robbil ‘alamiin.

 

Ditulis oleh :

 

Abu Ya’qub Ahmad Hamdani AlJawi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Syubhat ini juga telah dibantah oleh akhi Abu Ahmad hafidhohulloh wa jazahulohu khoiron lewat suara langsung dari Yaman. Sebelum keluar bantahan darinya ikhwah di Batam meminta ana menulis bantahan tersebut maka dengan meminta pertolongan Alloh aku tulis bantahannya dalam rangka ta’awun ‘alal birri wat taqwa dan membela kebenara sesuai kemampuan yang aku miliki. Wallohul musta’an.

[2] Faidah : ini adalah wasiat Alloh Ta’ala kepada para penguasa agar mereka memutuskan hukum dengan kebenaran yaitu hukum Alloh Ta’ala dan tidak berpaling darinya sehingga sesat, Ia mengancam azab pada orang yang menyimpang dari jalanNya dan melupakan hari perhitungan. (Ibnu Katsir)

[3] Fitnah yang menimpa mereka sangat sesuai apa yang dikatakan Imam Ibnul Qoyyim di atas maka tidak heran bahkan mereka lebih jahat dan busuk daripada apa yang disebutkan di atas !

[4] Begitulah keadaan mereka yang kita saksikan saat ini, saya amati sejak saya pernah bersama mereka beberapa tahun silam, kita tidak mengada-ada tetapi itulah kenyataan yang ada pada mereka sejak beberapa tahun yang lewat membicarakan dan mencela Syaikhuna Yahya dan murid-muridnya yang membelanya yang diawali oleh para pembesar (ustadz-ustadz mereka) kemudian diikuti oleh sebagian besar pendengarnya setelah para pembesar menikmati sebagian kecil dunia melalui “Yayasan yang berbarokah” itu yang membuat mereka mabuk kepayang sehingga ngomongnya membabi buta betul-betul seperti babi yang buta nabrak sana nabrak sisi tak tentu arah yang ada kemiripan dengan yang mereka maukan maka mereka sebarkan dan ucapan kemudian mereka hantamkan kepada sasaran dan lihat apa ahir kehidupan babi yang seperi ini !

[5] Lihat Tafsir Ibnu Katsir

[6] Begitu penakutnya mereka menyangka bahwa tentara yang bersekutu itu belum pulang masih dalam barisan mereka. (Fathul Qadir,1397)

[7] Berita-berita Muhammad dan sahabatnya dan menunggu-nunggu kekalahan mereka serta menunggu kemenangan Abu Sufyan dan sekutunya. (Tafsir alQurthuby)

[8] Karena penakutnya mereka, berperang hanya melempar dengan batu dan ketepel karena ingin dipuji dan dilihat. (Tafsir alQurthuby)

[9] Memeluk Islam dan menjalankan hukum-hukum Islam lalu mereka setelah muslimin menang minta ghanimah.

[10] Mengemis dengan alasan da’wah dan lain-lain menghinakan diri memakai jubah, berjenggot, celana ngatung dan lain-lain. Sebagian ulama salaf mengatakan,”Sungguh aku mencari dunia dengan musik lebih aku sukai daripada mencari dunia dengan kedok agama”.

[11] Yang kebetulan badannya besar-besar, gemuk-gemuk bahkan ada yang sangat gemuk bulat kaya bola karena pendek dengan sebab kemakmuran melalui Yayasannya.

[12] Alias sampai minus empat (-4 ) atau lebih rendah daripada itu hingga beku seperti batu.

[13] UUD lagi …

[14] artinya persangkaan itu tidak bisa menduduki kebenaran sedikit pun. (Ibnu Katsir)

[15] Ghibah menyebutkan sesuatu yang tidak disukai saudaranya walau benar ada padanya dan kalau tidak benar disebut mencela. (Dalam Sunan Abu Dawud dengan sanad shahiih, Ibnu Katsir)

[16] Alloh Ta’ala mengharamkan ghibah sebagaiman mengharamkan bangkai. (Ibnu Jarir)

[17] Lihat tafsir Ibnu Katsir dan Ibnu Jarir.

[18] Cara nulisnya pun tidak nyunnah sama sekali, tidak diawali dengan basmalah, mungkin tidak tahu sunnah ini karena penulisnya awam atau lupa, jika lupa, berarti terburu-buru dan tidak terbiasa memakai adab menulis sebagaimana salaf menulis.

[19] Imam Nawawi dalam Syarah Muslim mereka termasuk golongan orang yang mati syahid (syuhada) yang disebutkan dalam banyak hadits yang mayatnya tidak dimandikan dan tidak disholati.

[20] Kalau nulis jangan sambil melamun dan takut dibantah sehingga tidak ngelantur gitu….

[21] Demikian keterangan ahki Abu Ahmad AlLimbory di Yaman.

[22] Ayat ini menunjukkan ditolak berita dari orang fasik (orang yang tidak taat), wajib meneliti berita darinya bila beritanya memungkinkan diketahui hakikatnya (benar atau dusta) dan wajib menerima berita orang yang adil/bertakwa. (Adhwaul Bayan, Syanqithy)

[23] Lihat Adhwaul Bayan, Syanqithy.

[24]lebih baik bagimu daripada perdagangan dunia. (Tafsir Ibnu Katsir)

[25]Yakni jika kamu berperang di jalan Allah Ta’ala maka Ia menjamin kemenangan bagimu. (Tafsir Ibnu Katsir)

[26] Inilah cara menyelamatkan diri dari kejahatan dan makar orang-orang kafir dan pendosa.(Tafsir Ibnu Katsir)

[27] Kang-kang melas temen kowe, nembe helikopter wis gumun, bingung urung otong abung sing ana kolam renange, apa honda sing bisa dilempit……kampungan yang kena tapi aja nemen-nemen ngono ngisin-ngisini anak bojo, ketua Yayasan, mertua, …!!!.

[28] Yahudi dengki kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebabkan beliau boleh menikahi 9 wanita, lalu mereka katakan,”Keinginanannya hanya menikah”. Kemudian Allah mengingatkan mereka akan Ibrahim dan keturunannya seperti Sulaiman dan Dawud yang telah Allah berikan alkitab, hikmah dan kerajaan yang besar serta istri-istri yang lebih banyak daripada istri Rasulullah صلى الله عليه و سلم. (Zubdah, 109)

[29] Seperti ustadz-ustadz Batam.

[30]Allah Ta’ala mengingkari manusia yang dilapangkan rezkinya yang ia yakini sebagai pemuliaan padahal hanya sebagai ujian dan sebaliknya ia meyakini jika Allah Ta’ala menyempitkan rezkinya berarti Ia menghinakannya. (Tafsir Ibnu Katsir)

[31]Karena Allah Ta’ala memberi rezki orang yang Ia cintai dan tidak Ia cintai, menyempitkan rezki orang yang Ia cintai dan tidak Ia cintai. Ukuran semua itu adalah ketaatan, jika kaya bersyukur dan jika miskin bersabar. (Tafsir Ibnu Katsir)

[32] Baik dalam hal pakaian, makanan maupun infak dan ilmu.

[33] HR. Abu Dawud, lihat Shohih Abi Dawud.

April 11, 2014 at 11:42 am Leave a comment

Pelajaran Manhaj (Pelajaran Pertama)

Pembahasan Pertama :

Maksud Salafus Shalih :

Secara bahasa : Ibnul Faris berkata : huruf sin, laam dan faa akar kata salaf menunjukkan atas pendahuluan seperti dikatakan AsSalaf orang-orang yang telah lewat dan kaum asSalaf adalah orang-orang terdahulu.

Secara syari’at para ahli berselisih pendapat dalam menentukan maknanya. Ada empat pendapat dari mereka yaitu :

Pertama : mereka bernpendapat madzhab salaf dibatasi dengan satu masa tertentu tidak lebih dari itu. Kemudian mereka menyatakan bahwa pemikiran Islami telah hilang setelah masa tersebut bersamaan dengan wafatnya tokoh-tokohnya.

Kedua : mereka berpendapat bahwa as Salaf adalah orang-orang tekstual dalam memahami dalil tidak bersandar kepada akal sedikitpun kemudian mereka membiarka dalil-dallil tanpa memahami kandungannya dan menyerahkan makna-maknanya kepada Alloh serta mereka lebih menyibukkan diri dengan apa-apa yang bermanfaat dari macam-macam ibadah dan takarrub.

Ketiga : kelompok ini menyatakan bahwa apa yang muncul dari pelajaran-pelajaran akal dalam ilmu kalam muncul dari madzhab salaf itu sendiri bukan muncul dari pengaruh luar Islam.

Keempat : mereka berpendapat bahwa madzhab salaf dibangun di atas banyak pandangan yang berbeda-beda dalam hal manhaj cuma pandangan-pandangan itu menyatu dan tumbuh dan tegak di tangan ulama Islam.

Empat pendapat itu di atas semuanya salah dalam mendefinisikan maksud

as Salaf dikarenakan mereka memandang kepada satu masalah yang dibangun di atas prinsip manhaj yang tidak benar dan tidak bertolak dari tempat pijakan syar’i yang benar. Agar dapat sampai kepada pemahaman yang benar yang membatasi maksud As Salaf dengan batasan yang rinci maka kami harus mempunyai i’tibar sebagian perkara yang penting dalam masalah ini.

Pertama : mengenal batasan secara waktu untuk menjelaskan awal pertumbuhan madzhab AsSalaf yang mana padanya terdapat empat perbedaan pendapat yaitu : 1. Di antara ulama ada yang membatasinya pada jaman sahabat saja. 2. Di antara mereka hanya membatasi dengan sahabat dan tabiin. 3. Di antara mereka ada yang mengatakan salaf adalah sahabat, tabiin dan tabiut tabiin. 4 Di antara mereka ada yang mengatakan salaf adalah generasi sebelum tahun 500 H.

Pendapat yang benar yang terkenal yang dipegangi oleh jumhur (mayoritas) ulama ahlis sunnah adalah pendapat ketiga yang menetapkan maksud salaf dilihat dari sisi waktu adalah generasi tiga yang utama yang direkomendasi oleh Rosululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam.

Perkara kedua : Bahwa batasan waktu belum mencukupi untuk mendefiniskan pemahaman salaf karena kita memperhatikan bahwa banyak dari golongan dan kebid’ahan muncul pada zaman tersebut. Maka hidupnya seseorang pada jaman tersebut tidak cukup untuk menghukumi bahwa ia berjalan di atas manhaj as salaf selama ia tidak selaras dengn alkitab dan assunnah dalam ucapan dan perbuatannya dengan mengikuti keduanya tidak mengadakan kebid’ahan. Sehingga kita memperhatikan banyak dari ulama mengikat istilah tersebut dengan tambahan AsSalafus Sholih dan meskipun tanpa ikatan diperbolehkan dikarenakan ulama telah memberikan istilah demikian. Dengan demikian kalimat assalaf ketika dimutlakkan wajib dirinci tidak sekedar jaman terdahulu bahkan disandarkan kepada sahabat Rosululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam, tabiin dan setelah mereka dengan syarat kuat mengikuti manhaj sahabat.

Perkara ketiga : Sesungguhnya setelah adanya golongan-golongan Islam dan terjadinya perpecahan maka gelar assalaf diberikan pada orang yang menjaga seluruh keslamatan aqidah dan manhaj Islami menyesuaikan atas pemahaman generasi pertama yang utama. Dan sebagian ulama menetapkan istilah ini dalam rangka menyamakan dengan nama-nama syari’ah yang lainnya bagi ahlis sunnah wal jama’ah, yang tentunya nama assalaf lebih husus darinya.

April 11, 2014 at 7:48 am Leave a comment

Kesalahan dalam Mendidik Anak

Sesungguhnya Alloh تَعاَلىَ  menciptakan anak cucu Adam, memuliakan, mengangkut mereka di daratan dan di lautan, memberi rizki yang baik-baik dan melebihkan mereka di atas mahluk lainnya.

Alloh تَعاَلىَ mencipta mereka tidak dengan main-main, tidak meninggalkan mereka sia-sia bahkan mencipta mereka dengan menugasi perintah-perintah dan larangan-larangan, mewasiatkan dengan wasiat-wasiat dan menguji dengan ujian-ujian dan cobaan-cobaan.

Kemudian pada hari kiamat Ia mengumpulkan mereka untuk meminta pertanggungjawaban atas tugas yang mereka pikul dan tentang perintah-perintah dan larangan-larangan, apakah mereka telah menjalankan tugas itu dengan sebaik-baiknya, melaksanakan perintah-perintah, berhenti dari larangan-larangan dan menegakkan wasiat-wasiatNya atau tidak ?

Kemudian, apakah mereka bersabar terhadap ujian-ujian dan cobaan-cobaan atau tidak ?

Termasuk tugas yang Alloh تَعاَلىَ pikulkan kepada anak Adam adalah pendidikan dan perbaikan anak keturunan ke arah yang lebih sempurna.

Alloh تَعاَلىَ berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka[1] yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar (yang tidak memiliki sifat sayang), yang keras badannya, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.[2]

Alloh تَعاَلىَ berfirman :

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ   “Allah mewasiatkan `atkan bagimu tentang anak-anakmu”.[3]

Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ  bersabda :

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Tiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, maka imam adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, seorang ayah adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya dan seorang ibu rumah tangga adalah pimimpin di rumah suaminya dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”.[4]

Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ  bersabda :

وَإِنَّ لِوَلَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

“Dan sesungguhnya bagi anakmu ada hak atasmu”.[5]

Maka anak-anak yang merupakan karunia sekaligus ujian bagi orang tua, apakah mereka mensyukuri nikmat Alloh tersebut atau tidak ?

Apakah para orang tua menegakkan hukum-hukum Alloh pada anak-anak atau tidak ?

Apakah para orang tua menempuh jalan dan membimbing anak-anak pada perintah Alloh atau tidak ?

Apakah para orang tua tergoda oleh kejelekan anak-anak ataukah kokoh di perintah Alloh atau tidak ?

Itulah beberapa pertanyaan yang mesti dijawab dengan baik oleh para orang tua dalam bentuk tindakan riil yang sesuai dengan aturan sang pencipta dan utusanNya agar mereka selamat di dunia dan ahirat.

Oleh sebab itulah saya ingin menyampaikan kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan orang tua sebagai pendidik pertama anak-anaknya untuk mereka jauhi supaya tidak terjerumus ke dalam kesalahan yang sangat fatal yang sulit diperbaiki dan akibatnya menghasilkan generasi yang tidak diridhoi oleh Alloh تَعاَلىَ .

Selengkapnya dapat dibaca di sini


[1] Menjaga diri dan keluarga adalah dengan mendidik, mengajarkan ilmu dan mengarahkan mereka untuk taat kepada perintah Allah Ta’ala. Seorang tidak selamat dari azab neraka kecuali dengan menegakkan perintah Allah Ta’ala pada diri dan orang yang di bawah kekuasaannya. (AsSa’dy, Taisir alKarimir Rahman – penerj )

[2] AtTahrim :6. Mereka selalu mampu mengerjakan tugas-tugas mereka tidak pernah merasa tidak mampu – penerj .

[3] AnNisa :11.

[4] HR. Bukhori  no. 2554 dan Muslim no. 1829 dar Ibni Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ .

[5] HR. Muslim juz 6 hal 41.

May 13, 2010 at 11:23 pm 1 comment

Older Posts Newer Posts


Insya Allah,segera terbit..!

Arsip

Blog Stats

  • 39,693 klik
Yang sedang online:
counter
Jumlah pengunjung:
wordpress hit counter sejak Maret 2009
Tentang Anda:
IP Anda