Ibrah Kisah Musa عَلَيْهِ السَّلاَمُ Bersama Fir’aun

January 7, 2010 at 1:44 pm

Segala puji bagi Allah rabbul alamin, akibat yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa, tidak ada permusuhan kecuali pada orang-orang kafir, aku bersaksia bahwa tidak ada ilah yang hak selain Allah تَعاَلَى tidak ada sekutu bagiNya, bagiNya seluruh kerajaan, tidak ada ilah yang hak selain Ia, pencipta Arsy yang mulia dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya, datang dengan membawa kebenaran yang nyata, memerangi orang-orang kafir dan munafik hingga Allah menyempurnakan agama baginya dan menyempurnakan kenikmatanNya kepada seluruh kaum muslimin. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada beliau, pengikut, sahabat, pembela, orang-orang yang hijrah dan berhijrah bersamanya dengan ihlas, benar dan yakin.

Amma ba’du : Ayyuhannas, bertakwalah kepada Allah تَعاَلَى dan ambillah ibrah kisah-kisah para nabi dan umat-umat terdahulu yang Ia kabarkan dalam AlQur’an. Sesungguhnya Allah تَعاَلَى berfirman yang artinya : “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu (para rasul dan kaumnya) terdapat ibrah”. (Yusuf :111). Di antara berita besar itu adalah kisah Musa bersama Fir’aun seorang raja angkuh yang mengaku “Tuhan” dan sakti yang Ia sebutkan secara husus dalam firmanNya yang artinya : “Kami akan membacakan kepadamu (melalui Jibril) sebagian dari kisah Musa dan Fir`aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman.  Sesungguhnya Fir`aun telah berbuat sewenang-wenang dan sombong di muka bumi dan menjadikan penduduknya bergolong-golong yang berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka (bani Israil), menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir`aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas (bani Israil) di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (kerajaan Fir’aun),  dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir`aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka”. (AlQashash :3-6). Maka kami akan meringkaskan beberapa ibrah dari kisah di atas yaitu :

Orang-orang beriman diuji dengan musuh-musuh dari kaum kafir dan munafik, akan tetapi bila mereka bersabar, kokoh di atas agama dan berjihad maka kaum muslimin mendapatkan akibat yang baik dan dimenangkan atas kaum kafir. Sesungguhnya raja Fir’aun ketika mengancam orang-orang beriman dengan ucapannya yang dikisahkan Allah تَعاَلَى dalam firmanNya : “Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka”. (AlA’raf:127) Maka Musa menyikapi ancaman Fir’aun ini dengan memerintahkan kaumnya untuk meminta pertolongan kepada Allah تَعاَلَى, bersabar mengahadapi ujian dan menjanjikan akan turunnya pertolongan Allah تَعاَلَى pada mereka sebagaiaman yang Ia sebutkan dalam firmanNya : “Ketika Fir’aun telah bertekad bulat melaksanakan rencananya, Musa berkata kepada kaumnya: “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah diberikan kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa”.  Kaum Musa berkata: “Kami telah ditindas (oleh Fir`aun) sebelum dan sesudah kamu datang kepada kami. Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi (Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu”. (AlA’raf:128-129). Dan pergulatan antara hak dan kebatilan terus berlangsung yang pada puncaknya Allah تَعاَلَى memerintahkan NabiNya dan pengikut-pengikutnya untuk keluar dari negeri Mesir guna menyelamatkan agama mereka. “Maka Fir’aun mengumpulkan seluruh tentara, kekuatan dan makarnya, keluar menyusuri jejak Musa dan pengikutnya untuk menangkap mereka. Ketika itu Fir’aun berkata meremehkan Musa : “Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil, dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita, dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga”.(AsySyua’ra’:53-56).

Tatkala Fir’aun dan tentaranya menemukan Musa dan pengikutnya di tepi pantai, orang-orang beriman sangat cemas dan menyangka Fir’aun dapat melaksanakan makarnya, dan saat itulah Musa menenangkan Bani Israil :“Sekali-kali kita tidak akan tertangkap; sesungguhnya Robku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku untuk kesalamatan kita”.(AsySyua’ra’:62). Janji Allah تَعاَلَى terlaksana melalui lisan rasulNya, maka tiba-tiba lautan terbelah menjadi beberapa jalan yang kering. Pada waktu Musa dan pengikutnya telah melewatinya, dan Fir’an dan tentaranya masuk ke jalan-jalan itu maka laut kembali seperti semula, gelombangnya menelan orang-orang kafir itu semuanya. Sedangkan Musa dan pengikutnya menyaksikan adzab yang menimpa mereka. Wahai hamba Allah, lihatlah betapa mirip sikap Musa yang yakin akan pertolongan Allah تَعاَلَى  dalam kondisi amat genting dan bahaya dengan sikap Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ketika beliau dan sahabatnya Abu Bakar رَضِيَ الله ُعَنْهُ keluar hijrah dan bersembunyi di gua Tsur, dan orang-orang kafir mengejar keduanya untuk menangkap dan membunuh mereka sampai mereka berhenti di atas gua persembunyian itu. Maka Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ketika temannya cemas menjawab :”Hai Abu Bakar, apa persangkaanmu dengan dua orang yang ketiganya adalah Allah تَعاَلَى ?”. dan Allah تَعاَلَى menurunkan ayatNya yang berkaitan dengan ini : ”Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang musyrikin Mekah mengusirnya (dari Mekah pada waktu hijrah) sedang dia dan salah seorang dari temannya berlindung di dua. Waktu itu ia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan kekuatan dan pertolonganNya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya (malaikat), dan Allah menjadikan kalimat orang-orang kafir (Seruan kepada syirik/kekafiran.) itulah yang rendah. Dan kalimat Allah (Seruan kepada tauhid dan Islam) itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa dalam murka dan menolong dan Maha Bijaksana ucapan dan perbuatanNya”. (AtTaubah :40) Jadi pertolongan Allah تَعاَلَى itu datang bersama kesabaran, jalan keluarnya bersama marabahaya dan kemudahannya bersama kesulitan.

Pelajaran lainnya yang bisa kita ambil adalah : kebatilan bagaimana pun kuatnya sesungguhnya tidak berdaya menghadapi kebenaran bila kebenaran itu disampaikan oleh ahlinya. Lihatlah Fir’aun yang perkasa dan banyak pengikutnya terkalahkan oleh Musa dan pengikutnya yang sedikit disebabkan kekuatan iman dan pertolongan rabb mereka. Sebagaimana yang Ia katakana : Katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti sirna”.(AlIsra’:81) “Sebenarnya Kami menerangkan yang hak atas yang batil lalu yang hak itu membinasakannya, maka dengan serta merta yang batil itu binasa. Dan kecelakaanlah bagimu, hai orang yang mengatakan bahwa Alloh Ta’ala punya anak, disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya)”.(AlAnbiya :18). Termasuk jalan hidup para nabi adalah bersyukur ketika mendapatkan kesenangan dan pertolongan. Seperti Musa melakukan puasa pada hari di mana Allah تَعاَلَى memenangkan kebenaran dan menghinakan kebatilan, tenggelamnya Fir’aun dan tentaranya dan Nabi kita puasa juga ikut puasa sunnah pada hari itu (hari Asyura) sebagaimana rasa syukur atas kemenangan kebenaran atas kebatilan melalui tangan saudaranya Musa. Sunnah para nabi satu yaitu memerangi kaum kafir dan meninggikan kalimat Allah تَعاَلَى di muka bumi. Kemenangan agama termasuk nikmat Allah تَعاَلَى yang harus disikapi dengan syukur dan ketaatan dengan cara para Nabi bukan dengan saling membanggakan, kesombongan, mengadakan hari besar bid’ah yang dinamakan dengan hari kemerdekaan, hari kemenangan dan hari besar yang tidak diperintahkan dalam Islam. Sementara dalam Islam hanya ada dua hari besar yang diperintahkan memperingatinya : Idul Fitri dan Idul Adha. Semua hari yang tidak disyariatkan dan tidak ada dalilnya termasuk syiar jahiliah yang Islam sendiri melarangnya. Pertolongan hanyalah diminta kepada Allah تَعاَلَى bukan kepada batu-batu keramat, jimat dan yang sejenisnya. Nabi tidak mengetahui perkara ghaib kecuali yang diberitahukan kepadanya, andaikan Nabi tahu perkara ghaib tentu tidak ditimpa musibah dan bencana. Sehingga orang selain Nabi yang mengetahui perkara ghaib dianggap ingkar terhadap ayat dan ajaran Nabi yang wajib meluruskan syahadatnya. Dan ibrah lain yang bisa diambil dari kisah di atas adalah pentingnya kesabaran dalam menghadapi musibah-musibah. Karena musibah-musibah yang menimpa orang-orang beriman tidak keluar dari dua aspek : akibat dosa-dosa yang dilakukan mereka sehingga Allah تَعاَلَى menurunkan bencana supaya mereka bertobat dan pencucian hati dari kotoran dosa sehingga derajatnya naik di sisi Allah تَعاَلَى . Kalau kita perhatikan di jaman sekarang ini masih banyak muslimin yang melakukan dosa yang besar maupun kecil. Dosa besar seperti syirik, bid’ah, riba (rentenir), perzinaan, melihat gambar dan film parno, korupsi, suap menyuap, menipu dan sebagainya. Sedangkan dosa kecil tak terhitung jumlahnya. Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang memiliki pandangan. Barakallahu li wa lakum fil Qur’anil ‘Adhim….

Entry filed under: Mutiara Hikmah. Tags: .

Dzikir Berjama’ah dalam Khatbah Sajak Nuniah Kunar


Insya Allah,segera terbit..!

Arsip

Blog Stats

  • 31,051 klik
Yang sedang online:
counter
Jumlah pengunjung:
wordpress hit counter sejak Maret 2009
Tentang Anda:
IP Anda

%d bloggers like this: