Poligami : Janda-janda Dan Ta’addud (9)

November 8, 2009 at 7:28 am 2 comments

Ada sebagian wanita yang fanatik terhadap pikirannya sendiri, tidak mengetahui kebenaran dan kehilangan banyak kebaikan terhadap diri, keluarga dan masyarakat.

Telah mengklaim bahwa kita harus pandai-pandai mengambil kesempatan dan tidak melewatkan sebagai wanita yang dicerai atau suaminya mati dan punya anak banyak menolak nikah lagi dengan alasan pendidikan dan urusasan anak akan tetepi jangan lupa mereka sebenarnya melangar dari amalan – amalan masyarakat dalam menjalankan tugas yang ia lakukan yang mengakibatkan kejelakan -kejelekan yaitu:

1. Sebagian wanita terkadang ditalak pada usia muda atau mati suaminya pada usia ini sedang wanita diberi karunia keinginan seksual untuk berlangsungnya jenis manusia maka dengan kebenaran maka ia menolak nikah pada usia muda terlebih menikah menjaga diri dari perzinaan dan banyak penyakit masyarakat

2. Sebagian wanita berkata, Bila anak-anak telah besar atau mau menikah akan tetapi kami akan lemparkan pertanyaan kepadanya siapa yang menjamin bagimu anak – anakmu tetap bersamamu sampai besar ? Bukankah manusia – manusia sewaktu – waktu bisa mati ? Bisa jadi maut datang padamu dan anak – anakmu dan kamu masih menunda – nunda waktu, disanalah penyesalan tidak bermanfaat.

3. Tidak diketahui lelaki yang bermacam-macam sifatnya cenderung pada wanita-wanita yang masih muda dan itu hak asasi mereka. Sedang secara biologis wanita lebih cepat tua dari pada lelaki disebabkan siklus tubuhnya seperti haid, hamil dan melahirkan. Faktor – faktor alami nikah seharusnya mendorong wanita agar segera kawin sebelum menjadi perawan tua lalu tidak ada lelaki yang tertarik padanya selanjutnya ia akan menyesal dan penyesalan tak bermanfaat.

4. Sebagian wanita menolak menyerahkan anak-anaknya kepada wali –wali yang akan memelihara dan mendidik mereka dengan alasan ke hilangan rasa cinta pada anak dan kedekatan serta kurang perhatian pada mereka. Itu hanya perasaan yang menyebabkan tertundanya menikah dan problem – problem. Maka sebaiknya janda-janda itu menyerahkan anak – anak mereka pada wali – wali mereka sampai mereka menikah lagi setelah anak – anaknya terdidik dengan baik.

5. Sebagian wanita janda yang menolak nikah dan menundanya sampai anak – anaknya besar menghilangkan banyak kebaikan terhadap masyarakat. Bukankah memperbanyak keturunan termasuk tuntunan syariat ? Nabi berkata Nikahilah wanita – wanita penyayang dan banyak anak sesunguhnya akan membanggakan jumlahmu di hadapan umat – umat pada hari kiamat “( HR.Abu Dawud No; 2050 & Nasai No :3227 )

Bukankah pemilihan nikah mereka atau menundanya dengan alasan yang lemah adalah kekakuan dari meraka terhadap masyarakat? Bukankah bila anaknya yang masih kecil mati memberi syafaat pada hari kiamat dan jika anakmya berumur panjang memberi manfaat padanya dan masyarakat? Dengan banyak muslim yang bekerja diberbagai macam lapangan kehidupan umat tidak butuh tenaga – tenaga kerja asing (kafir).

6. Sebagian janda yang tidak mau menikah lagi terkadang tertimpa musibah oleh anak – anak durhaka mengikuti ayah mereka atau jauhnya tempat mereka bekerja yang menyebabkan kehilangan manfaat anak – anak sehinga hendaknya ia menikah lagi agar mendapat banyak anak yang menjadi penolong.

7. Terkadang sebagian wanita janda dalam kekurangan, dengan menikah lagi suaminya dapat menolong dan membantu beban hidup dirinya dan anaknya.

8. Sebagian janda memandang pernikahan yang kedua kalinya sebagai keingkaran dan kiamat terhadap suami pertama yang wafat. Ini pandangan yang salah dan terbalik24. Dimana kita mempunyai tauladan yang baik pada diri rasulullah. Beberapa istrinya yang ditinggal wafat suami, pada waktu perang dan ketaatan sebagaimana Umum Salamah malah menyenangkan diri mereka .Oleh karena itu wanita yang berakal sholihah segera menikah setelah ditinggal meninggal suaminya agar dapat menundukan pandangan dari yang dilarang memelihara kehormatannya terlebih ia sudah tidak punya harapan bertemu dengan suami pertama di dunia fana ini, maka kebenaran apa yang bersamanya sehinga ia menunda menikah ? tidak ada kecuali bergantung pada tali keraguan dan angan-angan.

9. Sebagian wanita membayangkan bahwa nikah yang kedua bisa tidak menyenangkan karena ia pernah gagal membina kebahagian pada pernikahan pertama sehinga ia trauma dan putus asa. Kesimpulannya tidak diterima secara syariat dan akal. Adapun secara syariat banyak janda wanita yang dicerai pada jaman nabi menikah lagi dan tidak di ingkari dan sebagainya dinikahi nabi seperi bekas istri Zaid bin al haritsah, Zainab binti Jahsyid , Ummu Salamah yang wafat suaminya Abdullah bin abdil Asad pada perang uhud. Darimana wanita – wanita itu mendapat ilham gara – gara trauma terhadap perkawinan pertama? Bukankah Allah telah menentukan segala sesuatu? Apakah ia tahu bahwa ia nanti akan gagal pada pernikahan kedua? Bukankah kita diperintahkan menjalankan sebab –sebab dari menyerahkan hasil kepada Allah ? Allah berfirman :

“ Dan Katakanlah: “Beramallah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang – orang mukmin akan melihat amal – amalmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan.” ( At Taubah : 105 )

“ Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” ( Al Hadid : 22 )

Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam bersabda:

“Ketahuilah tentang apa – apa yang menimpamu tidak akan luput darimu dan apa – apa yang telah luput darimu tidak akan menimpamu ”(HR.4699 – 4200 dan Ibnu Majah no. 77 ). Nabi memerintahkan pada pemilik onta : “ Ikat dan tawakal kepada Allah “ ( HR. Tirmidzi no. 2517 )

Mengapa tidak membayangkan kemungkinan – kemungkinan yang kedua yang lebih membahagiakan dari pada perkawinan pertama? Bukankah kita diperintahkan selalu berpikir positif terhadap segala sesuatu? Bukankah Rasulullah ta’jub terhadap parkataan dan perbuatan yang positif dan berakibat baik? Bukankah kita dilarang beranggapan sial terhadap segala sesuatu yang mana ia termasuk gangguan syetan terhadap aqidah muslim lalu menyeretnya kejalan – jalan kejelekan ?

Rasulullah berkata : “ Tidak ada penularan ( kecuali dari allah ) tidak ada anggapan sial terhadap burung, sebaik – baik anggapan adalah anggapan yang sholih ( baik ) tehadap nasib ”(Bukhori no 5754-5755). Barangkali ia dahulu di paksa menikah dari sinilah seharusnya ia merubah ketidak sukaan lagi paksaan menjadi kebaikan, berakal dan akibat – akibat yang hanya diketahui Allah. Allah berfirman :

“ Dan barangkali kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi ( pula ) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.”

( Al Baqarah : 216 )

“ Maka barangkali kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” ( An Nisa : 19 )

Seandainya tiap orang yang pernah jatuh ( gagal ) dalam kehidupannya tidak mau lagi bangkit dari kegagalannya walau berkali – kali niscaya dunia ini mati dan sepi dari gerakan – gerakan dan kemajuan, akan tetapi akan mencoba bangkit dari kegagalan berulang- ulang sebab kesuksesan dan kemajuan.

10. Beberapa wanita menolak lelaki yang melamar dengan alasan lelakinya yang melamar mereka sudah banyak anak dan istri. Lalu afdhol mana bagi wanita yang punya suami beristri dua atau tiga dan mampu memberi nafkah dan tempat tinggal, memuliakan pandangan dari yang haram dan menghasil anak – anak yang sholih yang bermanfaat di dunia dan akhirat atau ia duduk dirumah bertahun – tahun menjadi tangung jawab keluarga? Maka mana yang lebih baik kita ikuti dua kondisi ini jika kita benar- benar memikirkan dengan akal sehat dan menyingkirkan dari perjalanan hidup di balik perasaan – perasaan yang melihat satu sisi dikalangan masyarakat.

11. Ketahuilah perbuatan wanita diatas memicu gunjingan banyak pertanyaan. Allah menyukai seorang menahan gunjingannya dari dirinya, bersegera berbuat baik dan menjauh dari tempat – tempat jelek, bukankah kebaikan itu sebaiknya disegerakan? Bersegera nikah adalah kebaikan dan mematikan suara – suara sumbang manusia yang hanya merusak kehormatan – kehormatan.

12. Demikian juga ia menyia – nyiakan pahala yang banyak yang dapat ia raih. Diantaranya pahala melayani suami dan menjalankan tugas sebagai istri yang baik oleh karena itu nabi bersabda :

“Seandainya aku mau memerintahkan seseorang sujud pada selain Allah niscaya aku perintahkan istri sujud pada suami .Demi jiwa Muhammad di tanganNya seorang istri tidak dianggap menunaikan hak Allah sebelum menunaikan seluruh hak suaminya hingga seandainya suaminya memanggilnya sedang dia duduk di atas hur kecil ( waktu masak ) maka ia harus memenuhi panggilan suaminya “( HR.Ibnu Majah no 1853 & Ahmad/387 )

Problem- problem wanita yang tak mungkin dihindari misalnya: hamil, nifas, melahirkan dan problem kehidupan misal sakit, anak meninggal dan mendidik anak merupakan sumber pahala bagi wanita bila mengikhlaskan niat untuk Allah. Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam berkata : “ Musibah – musibah senantiasa mendampingi seorang mukmin dan mukminah mengenai diri, anak dan hartanya sampai ia bertemu Allah tidak punya dosa.” (HR.Ahnad No. 2300 & Tirmidzi no. 2399)

Nabi shalallahu’alihi wasalam menasehati wanita : “ Seorang wanita yang tiga anaknya wafat menjadi penghilang api neraka. Seorang wanita bertanya : Kalau dua ?”dua juga” jawab Nabi ( HR.Bukhori No.101 & Muslim No. 2633 ). Demikian juga wanita ( istri – istri ) mendapat pahala atas kesabaran menanggung sikap keras suami, kekikiran suami dan terabaikannya hak – hak istri oleh suami. Sebagaimana wanita adalah sebab yang barokah terhadap suaminya yang menjamin kehidupannya. Dimana ia (istri) dapat menjaga suami dari hal – hal yang dilarang dan memecahkan bermacam – macam problem serta melahirkan banyak anak untuk suaminya. Disisi lain suami ikut meraih pahala bersama istrinya melalui pemberian nafkah, tarbiyah dan jimak. Ketika seorang sahabat bertanya ,”Hai Rosulullah, apakah salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya pada isrtinya berpahala ? “Demikian juga bila meletakkannya pada yang halal berpahala “jawab Nabi .

13. Dikarenakan wanita ditakdirkan lemah , Allah menjadikan perwaliannya ditangan laki-laki agar dapat membantu dalam hal – hal penting khususnya pada marhalah ( tingkatan ) kehidupannya yang paling genting yaitu marhalah pernikahan . Nabi berkata ; “Wanita mana saja yang menikah tanpa wali maka menikahnya tidak sah “ (HR Abu Dawud no 2003 & Tirmidzi no 1102) . Maka bagi para wali wanita hendaknya berusaha dengan sungguh –sungguh mempercepat pernikahan, janda – janda dan perawan – perawan tua, mereka harus segera menghilangkan semua keraguan dimata masyarakat tentang anak – anak wanitanya dan bersabar atas tuduh – tuduhan yang tidak benar serta membantu memecahkan problem – problem anak – anaknya, insyaallah berpahala disisi Allah, khususnya bila anak – anak itu telah kehilangan ayahnya ( yatim ). Nabi shalallahu’alaihi wasalam berkata : “ Aku dan penjamin anak yatim disurga seperti ini “ ( mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan ibu jarinya ). ( HR. Bukhori no. 5304 dan Muslim 6005 )

Entry filed under: Fiqh, Muslimah. Tags: , .

Bantahan Terhadap Penentang Poligami (8) Pendapat Para Wanita yang Dita’addud (10)

2 Comments Add your own

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Insya Allah,segera terbit..!

Arsip

Blog Stats

  • 31,051 klik
Yang sedang online:
counter
Jumlah pengunjung:
wordpress hit counter sejak Maret 2009
Tentang Anda:
IP Anda

%d bloggers like this: