Pendapat Para Wanita yang Dita’addud (10)

November 8, 2009 at 7:30 am 2 comments

Pembaca yang budiman…

Pada kesempatan ini kami sampaikan beberapa pendapat dan komentar wanita muslimah yang telah merasakan kehidupan bersama suami yang ta’addud dan memahami maksud dibalik program ta’addud dalam Islam. Pendapat mereka terangkum dalam pengalaman menarik diantaranya :

“ Dua Pekan Setelah Pernikahan Ta’addud “

Dua pengantin baru bernama Roudhoh dan Haniah bertemu dipagi hari. Mereka saling bercerita tentang kehidupan barunya masing – masing. Bahwa mahar telah mengikat keduanya. Mereka keluar rumah sejenak untuk berjalan bersama – sama dan tidur bersama dalam satu kamar yang setelah malam pertama bertemu bersama – sama25 dengan satu suami ( suaminya bernama Amir )

Dua pekan setelah pernikahan, pada pagi harinya mereka bertemu dengan ayah suami mereka Syaikh Yusuf al Jamrah yang membantu menyelenggarakan perkawinan dan ia menyampaikan bahwa Amir telah pergi 14 hari sejak malam pertamanya dan bergabung membantu tentara selama 14 bulan. Disela – sela tugas ia bisa pulang kerumah satu atau dua hari dalam sebulan selama 3 – 5 hari. Roudhoh dan Haniah tinggal dirumah ayah suami mereka seolah kakak beradik atau lebih dari itu dan terlihat keduanya berhubungan baik dan saling mencintai serta pengertian. Tidak ditemukan sikap kekakuan pada mereka bahkan saling memahami.

Haniah berkata : “ Pernikahanku dengan Amir diselesaikan dalam satu malam dirumah ayahnya .” Kami26 bertanya : Bagaimana kamu mau menjadi istri kedua ? Ia menjawab dengan senang hati, yaitu sesuai dengan urutan ketentuan yang telah dicatat dalam buku catatan takdir bahwa ia istri kedua setelah Raudhoh.”

Raudhoh berkata : “ Kami benar – benar dua bersaudara dan merasa heran terhadap manusia yang terkejut dengan pernikahan kami. Pada suatu sore ketika kami ditinggal Amir pergi membantu perang, kami bermalam bersama Haniah dalam satu kamar dan setelah Dhuhur ( besoknya ) kami keluar berjalan bersama – sama sebagaimana pada beberapa minggu yang lalu kami berjalan bersama – sama Amir. Sekarang ia sedang pergi tetapi kami tidak bertengkar dan cekcok.

Dari kisah diatas kita dapat menilai bahwa pernikahan ta’addud pada keluarga Syaikh al Jamrah nampak sebagai kondisi yang alami ( wajar ). Anak lelaki ketiga dari Amir yang telah menikah dan ada dirumah ayahnya berkata : “ Setelah aku menyaksikan pernikahan kedua saudaraku maka aku ingin menikah lagi.” Istrinya yang mendengar perkataannya tidak menghalangi sedikitpun niat suaminya.

Dengan menikah, Raudhoh dan Haniah ingin melahirkan banyak anak. Raudhoh berkata : “ Kami akan saling membantu dalam mendidik anak – anak ..” Haniah menambahkan : “ Sekarang kami saling membantu dalam menyelesaikan pekerjaan rumah dan melayani Amir. Sejak kecil kami telah terbiasa pada nuansa dua istri dalam satu rumah. Ayahku beristri dua demikian juga ayah Raudhoh ( paman Haniah ) dan ibuku istri ayahku hidup mesra dalam satu rumah yang dituntun oleh saling menolong dan memahami. Aku tidak menemukan faktor – faktor perubahan kearah negatif dalam keluarga kami ( Amir, Raudhoh dan Aku ).”

Raudhoh berkata : “ Aspek yang paling penting dalam poligamy adalah keadilan. Amir adalah suami yang adil. Kami masing – masing dibuatkan kamar tersendiri / terpisah27 dirumah pamanku Syaikh Yusuf, mahar dan nafkah yang kami terima sama. Selama suami adil tidak akan ditemukan dorongan perselisihan – perselisihan maupun problem – problem sedikitpun.” ( Koran Ash Shoba’iah no. 430, 7 Robi’Tsani 1412 H / 14 Oktober 1991 )

Dalam harian terbitan Riyadh no 8462 ,15/2/1412H disebutkan komentar pembahasan nikah yang kedua dengan judul “Cukup Usaha Dan bukan kerugian Dari laki – laki …”Koran ini mengomentari….“Seorang wanita mengomentari perkataan saudara kita, bahwa ta’addud terkadang mengandung maslahat, nampaknya sedang memerangi salah satu sunah dari sunah – sunah agama yaitu ta’addud. Aku telah sebutkan bahwa pada umumnya lelaki tidak menikah lagi kecuali hanya sekedar karena perubahan dan penggantian28 . Sedang perkawinan lelaki walau dengan sebab ini saja dimaafkan agama dan tidak menerima bantahanmu,. Maka dengan perkawinanya ia tidak melemparkan diri ke dinding sebagaimana yang saudari tuduhkan bahkan ia menjaga diri dan kehormatannya dari syubhat ( perkara yang tidak jelas halal haramnya ). Melihat tulisanmu apakah kamu menghendaki seorang suami terjaga kehormatannya dengan satu istri dan sepuluh gundik? Diantara suami tidak cukup dengan satu istri apakah disebabkan pihaknya atau istrinya, lalu akan keamanan ia pergi? Dua jalan melintas didepan matanya. Salah satunya haram dan yang lain haram. Jika kamu menuntut menutup satu pintu maka kamu sesungguhnya membuka pintu yang lain. Kamu mengajak wanita yang suaminya menikah lagi untuk cerai, memerintahkannya pergi kerumah keluarganya dan berpisah dari suaminya. Kamu sebut perbuatan ini keuntungan. Kamu tanyakan, keuntungan apa lagi seorang istri yang ditalak suami dengan tujuan tak ada seorang pun yang berserikat dalam satu suami, menyia -nyiakan rumah dan anak –anak? Kemudian kemulian apa yang akan ia capai? Kemudian kemulian melemparkan diri dan anak –anaknya tanpa pelindung dan pengkafil? Kapan ia membangun masa tuanya tanpa suami di rumah orang tua dalam keadaan menanggung anak – anak tanpa ayah ? Ia buang begitu saja haknya dan hidup berpindah – pindah dari satu rumah ke rumah lain. Dari sinilah masa tua dan kemuliaanya tersia – siakan.

Kemuliaan tidaklah dengan darinya istri kerumah orang sambil berlari membawa umur tua dan kemuliaannya yang ia ambil dari istri lain? Apakah kemuliaan ummahatul mukminin dan wanita? Tauladan Islam cacat yang berserikat bersama istri lain dalam naungan Nabi shalallahu’alaihi wasalam.

Kemudian kamu berseru dengan keelokan suara seluruh wanita, bagiamana lelaki mengurangi kehormatan kami ? Memang kehidupan tanpa kehormatan adalah sakit dan kita berhak menjaganya, Kehidupan tanpa kehormatan adalah sakit dan semuanya wajib menjaganya akan tetapi bukan kehormatan fatamorgana. Sesunguhnya jauhnya diri dari semua akhlaq tercela adalah kehormatan. Kehormatan istri tetap mulia di mata keluarga dan suaminya adapun bila kamu menghinakan kehormatan wanita disisi suami dan orang tua dan manusia dengan mengajak lari keluar rumah suami, maka itulah kemuliaan dan orang – orang yang semisal dengan kamu. Kemudian ketahuilah, tidaklah menyenangkan dan indah kebersaman istri – istri dibawah satu suami bila tidak ada ketinggian iman darimu dan tidak kamu kuat iman tidak akan pergi atau memerintah istri yang di ta’addud pergi keluar dari rumah suami untuk minta cerai kemudian kamu katakan : “ Dimana Islammu?” Kami jawab: “ Dimana manakah kamu, Bukankah pendapatmu di atas adalah Islam menurut kamu?”

Entry filed under: Fiqh, Muslimah. Tags: .

Poligami : Janda-janda Dan Ta’addud (9) Istri Meminang Wanita Buat Suami (11)

2 Comments Add your own

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Insya Allah,segera terbit..!

Arsip

Blog Stats

  • 31,051 klik
Yang sedang online:
counter
Jumlah pengunjung:
wordpress hit counter sejak Maret 2009
Tentang Anda:
IP Anda

%d bloggers like this: