Fatwa Seputar Poligami (2)

November 8, 2009 at 6:03 am 1 comment

FATWA – FATWA SYAIKH BIN BAAZ SEPUTAR POLIGAMI

( TA’ADDUD AZ ZAUJAT )

Ditanya : Apakah hukum asal pernikahan poligami atau istri lebih dari satu ?

Jawab : Pada asalnya disyari’atkan poligami bagi yang mampu dan tidak hawatir timpang terhadap istri – istri. Disebabkan dalam poligami banyak mengandung maslahat seperti menjaga perzinaan, menjaga kehormatan bagi istri – istri, memperbanyak keturunan yang akan memperbanyak jumlah umat Islam dan memperbanyak orang yang menyembah Allah semata. Hal tersebut ditunjukkan dalam firmanNya :

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil dalam menikahi anak – anak yatim yang wanita dan merdeka, Maka kawinilah wanita-wanita yang bukan yatim : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka kawinilah satu wanita saja, atau budak perempuan yang kamu miliki. yang demikian itu lebih tidak menyusahkan keluarga.”( An Nisa’ :3 )

Dan istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam lebih dari satu, Allah Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzaab:21)

Ketika sebagian shahabat berkata : Adapun aku tidak akan makan daging, yang lain berkata : Aku akan shalat terus dan tidak tidur, yang lain berkata : Aku akan puasa terus tidak berbuka, yang lain berkata Aku tidak akan menikahi wanita, dan ucapan mereka terdengar oleh Rasulullah, maka beliau berkhutbah kemudian memuji Allah lalu berkata : Telah sampai berita kepadaku demikian dan demikian akan tetapi aku puasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku tidur, aku makan daging dan aku menikahi wanita – wanita. Barang siapa membenci cara hidupku maka bukan dari golonganku. ( HR. Bukhori no. 5063 dan Muslim no. 1401 )

Ditanya : Apakah ta’addud ( poligamy ) mubah atau sunnah ?

Jawab : Ta’addud sunnah hukumnya bagi yang mampu berdasarkan firman Allah :

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil dalam menikahi anak – anak yatim yang wanita dan merdeka, Maka kawinilah wanita-wanita yang bukan yatim : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka kawinilah satu wanita saja, atau budak perempuan yang kamu miliki, yang demikian itu lebih tidak menyusahkan keluarga.” ( An Nisa’ : 3 ), dan juga perbuatan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam beliau mempunyai 9 istri dan semuanya memberikan manfaat kepada umat Islam. Kesembilan istri tersebut merupakan kekhususan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, umatnya tidak boleh memiliki lebih dari 4 istri. Dan dikarenakan ta’addud menghasilkan banyak kemaslahatan bagi laki – laki, perempuan dan umat Islam. Dengan ta’addud pandangan mata liar lebih tertahan, menjaga kemaluan dari perzinaan, memperbanyak keturunan, suami menjalankan tugasnya terhadap istri – istri yang dapat melindungi mereka dari kejelekan – kejelekan dan penyimpangan akhlaq. Adapun bagi yang tidak mampu maka cukup satu baginya berdasarkan firmanNya” Jika kamu takut tidak adil maka nikahilah satu saja..”

Ditanya : Sebagian orang berkata bahwa menikahi lebih dari satu istri tidak disyaria’atkan kecuali bagi orang ( suami ) yang memiliki anak perempuan yatim dan takut tidak adil maka ia menikahi satu wanita saja, mereka berdalil dengan ayat :

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil dalam menikahi anak – anak yatim yang wanita dan merdeka, Maka kawinilah wanita – wanita yang bukan yatim : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka kawinilah satu wanita saja, atau budak perempuan yang kamu miliki. yang demikian itu lebih tidak menyusahkan keluarga.” ( An Nisa’ : 3 ).

Kami mohon anda menerangkan hal ini ?

Jawab : Pernyataan mereka salah besar ( bathil ). Makna ayat diatas adalah jika kamu memelihara anak perempuan yatim dan takut tidak memberikan mahar sebagaimana memberikan kepada wanita bukan yatim ketika menikahinya, maka hendaknya beralih ke wanita yang bukan yatim. Dan ayat ini menunjukkan disyari’atkannya menikahi wanita 2 dan 3 atau 4. Karena ta’addud lebih menyempurnakan pengamanan dari zina, menundukkan pandangan dari yang diharamkan, sebab banyak keturunan, penjagaan kehormatan banyak wanita, berbuat baik kepada wanita, dan infak kepada mereka. Tidak diragukan wanita yang memiliki suami yang beristri 2, 3 atau 4 lebih baik dari pada wanita yang tidak kawin, dengan syarat suami adil dan mampu. Jika dia tidak mampu maka cukup satu istri dan budak perempuan yang ia miliki dari tawanan perang ( sambil menunggu jalan keluar dan rizki untuk ta’addud – penterjemah ).

Allah subhanahu wata’ala telah mengatakan :

Sesungguhnya Telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. ( Al Ahzab :21 ), dan juga Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam telah menjelaskan kepada umatnya, tidak boleh dari umatnya mengawini lebih banyak dari 4 istri. Adapun selebihnya adalah kekhususan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam.

Ditanya : Aku seorang suami yang telah menikah beberapa tahun yang lalu. Aku pemuja banyak anak dan hidup bahagia bersama anak dan istri, akan tetapi aku rasakan butuh istri yang lain karena aku ingin istiqomah. Sementara satu istri tidak mencukupi nafsu syahwatku. Disisi lain aku ingin istri yang lain mempunyai ciri – ciri yang tidak di miliki istriku yang pertama. Aku tidak ingin jatuh kedalam jurang maksiat dan dalam waktu yang sama aku kesulitan menikahi wanita lain karena istri pertamaku menolakku beristri lagi secara mutlak. Lalu apa nasihat anda ? Nasihat apa yang pas buat istriku agar ia menerima sunnah ta’addud ? Apakah ia berhak menolak keinginanku untuk ta’addud, aku akan berikan kepadanya hak – haknya secara sempurna dan aku mampu menikah lagi ?

Jawab : Apabila fakta sebenarnya seperti apa yang kamu katakan maka disyari’atkan kamu menikahi lagi istri yang kedua, tiga dan empat sesuai kadar kemampuan dan kebutuhanmu untuk menjaga perzinaan dan pandangan mata dari yang diharamkan bila kamu mampu berlaku adil serta dalam rangka mengamalkan firman Allah :

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil dalam menikahi anak – anak yatim yang wanita dan merdeka, Maka kawinilah wanita-wanita yang bukan yatim : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka kawinilah satu wanita saja, atau budak perempuan yang kamu miliki. yang demikian itu lebih tidak menyusahkan keluarga.” ( An Nisa’ : 3 ).

Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda :

“ Hai para pemuda barang siapa diantara kamu mampu maka menikahlah karena menikah lebih menundukkan pandangan mata dan lebih menjaga kemaluan dari perzinaan. Dan barang siapa tidak mampu maka puasalah, karena puasa adalah pelindung dari kemaksiatan.” ( HR. Bukhori no. 5065 – 5066 dan Muslim no. 1400 )

Menikah merupakan faktor penambah keturunan menjadi banyak yang memang syari’at sangat menganjurkannya sebagai mana kata Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam :

“Nikahilah wanita – wanita yang banyak anak dan penyayang18, sungguh aku akan membanggakan kamu ( yang berjumlah banyak ) pada hari kiamat dihadapan umat – umat yang lain.” ( HR. Abu Dawud no. 2050 dan Nasa’i no. 3227 ). Disyari’atkan bagi istri pertama ( lama ) tidak menentang suaminya kawin lagi dan memberi kelapangan kepada suaminya. Sebaliknya kamu harus bersungguh – sungguh berbuat adil dan menjalankan semua hak dan kewajiban suami dan istri semuanya dalam rangka saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa. Allah Ta’ala memerintahkan demikian

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam ( mengerjakan ) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan mendholimi sesama.” ( Al Maidah : 2 )

Dan Nabi juga bersabda :

“ Dan Allah selalu menolong hambanya selama hamba tersebut menolong saudaranya.” ( HR. Muslim no. 2699 dan Abu Dawud no. 4946 )

Kamu saudara seiman bagi istrimu dan istrimu saudara seiman bagimu. Disyari’atkan bagi kamu dan istrimu saling tolong menolong dalam kebaikan. Dari Ibnu Umar berkata, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda :

“ Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya.” ( HR. Bukhari no. 2441 dan Muslim no. 2580 )

Akan tetapi keridhoan istri ( lama ) bukan syarat ta’addud. Keridhoan hanyalah afdholiah agar kehidupan rumah tangga tetap berjalan harmonis. Semoga Allah menunjuki dia dan meluruskan kondisi kalian serta menentukan bagi kalian akibat yang terbaik.

Ditanya : Seorang suami ingin menikah lagi disebabkan istri pertama kurang “mencukupi “ dan kuatir terjatuh kedalam perselingkuhan atau perzinaan jika tidak ta’addud. Akan tetapi istri yang lama menolak dan meminta cerai dari padanya. Padahal istrinya tahu hukum ta’addud, maka apakah nasihat anda untuk suami ini ? Apakah ia harus menuruti kemauan dan ancaman istrinya atau ia menikah lagi dan menceraikannya dalam kondisi ia mampu memberi nafkah dan berbuat adil ?

Jawab : Kami menasihatinya untuk menikah lagi karena menikah manambah iffah ( penjagaan dari yang diharamkan ) dan mengikuti sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan kami menasihati dia agar tidak mencerai istri pertama. Kami menasihatkan kepada istrinya agar bertaqwa dan sabar. Semoga Allah menjadikan jalan keluar bagi istrinya, Allah berfirman :

“Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka – sangkanya.”( Ath Thalaq : 2 – 3 )

“ Barang siapa bertaqwa kepada Allah, maka Allah menjadikan urusannya mudah.” ( Ath Thalaq : 4 )

( Dari Fatwa Tertulis Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Th 1412 H / II / 06 )

Entry filed under: Fiqh, Muslimah. Tags: .

Poligami (Ta’addud)… ?? (1) Poligami : Kebenaran Yang Diakui Musuh Islam (3)

1 Comment Add your own

  • […] Fatwa Seputar Poligami (2) FATWA – FATWA SYAIKH BIN BAAZ SEPUTAR POLIGAMI ( TA’ADDUD AZ ZAUJAT ) Ditanya : Apakah hukum asal pernikahan poligami atau istri lebih dari satu ? Jawab : Pada asalnya disyari’atkan poligami bagi yang mampu dan tidak hawatir timpang terhadap istri – istri. Disebabkan dalam poligami banyak mengandung maslahat seperti menjaga perzinaan, menjaga kehormatan bagi istri – istri, memperbanyak keturunan yang akan memperbanyak jumlah umat Islam dan memperbanyak orang yang menyembah Allah semata. Hal tersebut ditunjukkan dalam firmanNya : “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil dalam menikahi anak – anak yatim yang wanita dan merdeka, Maka kawinilah wanita-wanita yang bukan yatim : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka kawinilah satu wanita saja, atau budak perempuan yang kamu miliki. yang demikian itu lebih tidak menyusahkan keluarga.”( An Nisa’ :3 ) Dan istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam lebih dari satu, Allah Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzaab:21) Ketika sebagian shahabat berkata : Adapun aku tidak akan makan daging, yang lain berkata : Aku akan shalat terus dan tidak tidur, yang lain berkata : Aku akan puasa terus tidak berbuka, yang lain berkata Aku tidak akan menikahi wanita, dan ucapan mereka terdengar oleh Rasulullah, maka beliau berkhutbah kemudian memuji Allah lalu berkata : Telah sampai berita kepadaku demikian dan demikian akan tetapi aku puasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku tidur, aku makan daging dan aku menikahi wanita – wanita. Barang siapa membenci cara hidupku maka bukan dari golonganku. ( HR. Bukhori no. 5063 dan Muslim no. 1401 ) Ditanya : Apakah ta’addud ( poligamy ) mubah atau sunnah ? Jawab : Ta’addud sunnah hukumnya bagi yang mampu berdasarkan firman Allah : “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil dalam menikahi anak – anak yatim yang wanita dan merdeka, Maka kawinilah wanita-wanita yang bukan yatim : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka kawinilah satu wanita saja, atau budak perempuan yang kamu miliki, yang demikian itu lebih tidak menyusahkan keluarga.” ( An Nisa’ : 3 ), dan juga perbuatan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam beliau mempunyai 9 istri dan semuanya memberikan manfaat kepada umat Islam. Kesembilan istri tersebut merupakan kekhususan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, umatnya tidak boleh memiliki lebih dari 4 istri. Dan dikarenakan ta’addud menghasilkan banyak kemaslahatan bagi laki – laki, perempuan dan umat Islam. Dengan ta’addud pandangan mata liar lebih tertahan, menjaga kemaluan dari perzinaan, memperbanyak keturunan, suami menjalankan tugasnya terhadap istri – istri yang dapat melindungi mereka dari kejelekan – kejelekan dan penyimpangan akhlaq. Adapun bagi yang tidak mampu maka cukup satu baginya berdasarkan firmanNya” Jika kamu takut tidak adil maka nikahilah satu saja..” Ditanya : Sebagian orang berkata bahwa menikahi lebih dari satu istri tidak disyaria’atkan kecuali bagi orang ( suami ) yang memiliki anak perempuan yatim dan takut tidak adil maka ia menikahi satu wanita saja, mereka berdalil dengan ayat : “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil dalam menikahi anak – anak yatim yang wanita dan merdeka, Maka kawinilah wanita – wanita yang bukan yatim : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka kawinilah satu wanita saja, atau budak perempuan yang kamu miliki. yang demikian itu lebih tidak menyusahkan keluarga.” ( An Nisa’ : 3 ). Kami mohon anda menerangkan hal ini ? Jawab : Pernyataan mereka salah besar ( bathil ). Makna ayat diatas adalah jika kamu memelihara anak perempuan yatim dan takut tidak memberikan mahar sebagaimana memberikan kepada wanita bukan yatim ketika menikahinya, maka hendaknya beralih ke wanita yang bukan yatim. Dan ayat ini menunjukkan disyari’atkannya menikahi wanita 2 dan 3 atau 4. Karena ta’addud lebih menyempurnakan pengamanan dari zina, menundukkan pandangan dari yang diharamkan, sebab banyak keturunan, penjagaan kehormatan banyak wanita, berbuat baik kepada wanita, dan infak kepada mereka. Tidak diragukan wanita yang memiliki suami yang beristri 2, 3 atau 4 lebih baik dari pada wanita yang tidak kawin, dengan syarat suami adil dan mampu. Jika dia tidak mampu maka cukup satu istri dan budak perempuan yang ia miliki dari tawanan perang ( sambil menunggu jalan keluar dan rizki untuk ta’addud – penterjemah ). Allah subhanahu wata’ala telah mengatakan : Sesungguhnya Telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. ( Al Ahzab :21 ), dan juga Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam telah menjelaskan kepada umatnya, tidak boleh dari umatnya mengawini lebih banyak dari 4 istri. Adapun selebihnya adalah kekhususan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam. Ditanya : Aku seorang suami yang telah menikah beberapa tahun yang lalu. Aku pemuja banyak anak dan hidup bahagia bersama anak dan istri, akan tetapi aku rasakan butuh istri yang lain karena aku ingin istiqomah. Sementara satu istri tidak mencukupi nafsu syahwatku. Disisi lain aku ingin istri yang lain mempunyai ciri – ciri yang tidak di miliki istriku yang pertama. Aku tidak ingin jatuh kedalam jurang maksiat dan dalam waktu yang sama aku kesulitan menikahi wanita lain karena istri pertamaku menolakku beristri lagi secara mutlak. Lalu apa nasihat anda ? Nasihat apa yang pas buat istriku agar ia menerima sunnah ta’addud ? Apakah ia berhak menolak keinginanku untuk ta’addud, aku akan berikan kepadanya hak – haknya secara sempurna dan aku mampu menikah lagi ? Jawab : Apabila fakta sebenarnya seperti apa yang kamu katakan maka disyari’atkan kamu menikahi lagi istri yang kedua, tiga dan empat sesuai kadar kemampuan dan kebutuhanmu untuk menjaga perzinaan dan pandangan mata dari yang diharamkan bila kamu mampu berlaku adil serta dalam rangka mengamalkan firman Allah : “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil dalam menikahi anak – anak yatim yang wanita dan merdeka, Maka kawinilah wanita-wanita yang bukan yatim : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka kawinilah satu wanita saja, atau budak perempuan yang kamu miliki. yang demikian itu lebih tidak menyusahkan keluarga.” ( An Nisa’ : 3 ). Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda : “ Hai para pemuda barang siapa diantara kamu mampu maka menikahlah karena menikah lebih menundukkan pandangan mata dan lebih menjaga kemaluan dari perzinaan. Dan barang siapa tidak mampu maka puasalah, karena puasa adalah pelindung dari kemaksiatan.” ( HR. Bukhori no. 5065 – 5066 dan Muslim no. 1400 ) Menikah merupakan faktor penambah keturunan menjadi banyak yang memang syari’at sangat menganjurkannya sebagai mana kata Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam : “Nikahilah wanita – wanita yang banyak anak dan penyayang18, sungguh aku akan membanggakan kamu ( yang berjumlah banyak ) pada hari kiamat dihadapan umat – umat yang lain.” ( HR. Abu Dawud no. 2050 dan Nasa’i no. 3227 ). Disyari’atkan bagi istri pertama ( lama ) tidak menentang suaminya kawin lagi dan memberi kelapangan kepada suaminya. Sebaliknya kamu harus bersungguh – sungguh berbuat adil dan menjalankan semua hak dan kewajiban suami dan istri semuanya dalam rangka saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa. Allah Ta’ala memerintahkan demikian “Dan tolong-menolonglah kamu dalam ( mengerjakan ) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan mendholimi sesama.” ( Al Maidah : 2 ) Dan Nabi juga bersabda : “ Dan Allah selalu menolong hambanya selama hamba tersebut menolong saudaranya.” ( HR. Muslim no. 2699 dan Abu Dawud no. 4946 ) Kamu saudara seiman bagi istrimu dan istrimu saudara seiman bagimu. Disyari’atkan bagi kamu dan istrimu saling tolong menolong dalam kebaikan. Dari Ibnu Umar berkata, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda : “ Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya.” ( HR. Bukhari no. 2441 dan Muslim no. 2580 ) Akan tetapi keridhoan istri ( lama ) bukan syarat ta’addud. Keridhoan hanyalah afdholiah agar kehidupan rumah tangga tetap berjalan harmonis. Semoga Allah menunjuki dia dan meluruskan kondisi kalian serta menentukan bagi kalian akibat yang terbaik. Ditanya : Seorang suami ingin menikah lagi disebabkan istri pertama kurang “mencukupi “ dan kuatir terjatuh kedalam perselingkuhan atau perzinaan jika tidak ta’addud. Akan tetapi istri yang lama menolak dan meminta cerai dari padanya. Padahal istrinya tahu hukum ta’addud, maka apakah nasihat anda untuk suami ini ? Apakah ia harus menuruti kemauan dan ancaman istrinya atau ia menikah lagi dan menceraikannya dalam kondisi ia mampu memberi nafkah dan berbuat adil ? Jawab : Kami menasihatinya untuk menikah lagi karena menikah manambah iffah ( penjagaan dari yang diharamkan ) dan mengikuti sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan kami menasihati dia agar tidak mencerai istri pertama. Kami menasihatkan kepada istrinya agar bertaqwa dan sabar. Semoga Allah menjadikan jalan keluar bagi istrinya, Allah berfirman : “Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka – sangkanya.”( Ath Thalaq : 2 – 3 ) “ Barang siapa bertaqwa kepada Allah, maka Allah menjadikan urusannya mudah.” ( Ath Thalaq : 4 ) ( Dari Fatwa Tertulis Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Th 1412 H / II / 06 ) sumber : https://millahibrohim.wordpress.com/2009/11/08/fatwa-seputar-poligami-2/ […]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Insya Allah,segera terbit..!

Arsip

Blog Stats

  • 31,051 klik
Yang sedang online:
counter
Jumlah pengunjung:
wordpress hit counter sejak Maret 2009
Tentang Anda:
IP Anda

%d bloggers like this: