Keharusan Bersikap Adil dan Macam-macam Keadilan

September 27, 2009 at 2:11 pm Leave a comment

    neracaبِسْمِ اللهِ الرَّمنِ الرَّحِيْمِ


Segala puji hanyalah bagi Allah ta’ala yang telah memerintahkan keadilan dan yang telah melarang terhadap kedhaliman dan melampaui batas walaupun terhadap orang-orang kafir dalam kitabNya yang cukup menjelaskan.  Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Pemilik Kebenaran Yang Nyata, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya yang diutus sebagai penyebar rahmat kepada semua alam dan hujjah kepada semua manusia. Semoga salam dan shalawat tercurah kepadanya, sahaba dan pengikutnya yang berjalan di atas jalan agamanya dan berpegang teguh dengan sunnahnya sampai hari kiamat.

Amma ba’du : wahai manusia bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa Allah ta’ala memerintahkan berbuat adil dan mengabarkan bahwa Ia mencintai orang-orang yang adil. Allah ta’ala berfirman yang artinya :”Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil dan baik”. (AnNahl : 90) “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang adil”. (AlMaidah :42) Adil adalah sikap tengah-tengah dalam segala sesuatu dan keadilan adalah karakter yang mengharuskan seseorang menjaga diri dari hilangnya kehormatannya. Rasulullah صلى الله عليه و سلم berkata “Orang yang adil di sisi Allah di atas mimbar dari cahaya, mereka adalah orang-orang yang adil dalam hokum dan keluarga”. (HR. Muslim)

Wahai hamba Allah, sungguh kedudukan adil dalam Islam sangat agung dan pahalanya banyak di sisi Allah. Keadilan itu banyak macamnya dan tiap orang haruslah adil sesuai dengan tanggung jawabnya dalam kehidupan ini. Maka seorang pemimpin wajib adil terhadap rakyatnya. Allah ta’ala berfirman :” Sesungguhnya Allah memerintahlan kamu menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan memerintah kamu apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil”. (AnNisa :58)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Tujuh golongan yang Allah lindungi dalam naungan ArsyNya pada hari kiamat yang tidak ada perlindungan selain perlindunganNya yaitu :pemimpin yang adil….”. (HR. Muslim) Wajib bagi Hakim adil dalam menghakimi manusia Allah ta’ala berfirman :” Putuskanlah perkara di antara mereka menurut hukum Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka”. (AlMaidah :49) Allah ta’ala berfirman :”Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (pengganti nabi-nabi sebelumnya) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah”. (Shad :26) dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :Hakim itu ada tiga ; dua di neraka dan satu di sorga. hakim yang mengetahui kebenaran (AlQuran dan asSunnah) dan menetapkan dengannya maka ia di sorga, Hakim yang mengetahui kebenaran  tetapi tidak berhukum dengannya dan ia zhalim dalam menetapkan hukum maka ia di neraka, dan hakim yang tidak mengetahui kebenaran lalu menetapkan hukum di atas kebodohannya maka ia di neraka”. (HR.Abu Dawud dan lainnya, shahih). Akan tetapi apabila seorang hakim berniat adil dan mengikuti kebenaran serta berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkannya maka ia diberi pahala seandainya ia salah karena ia tidak berniat salah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :Jika seorang hakim menetapkan hukum dengan ijtihadnya kemudian benar maka ia mendapatkan dua pahala dan bila menetapkan hukum lalu salah maka ia mendapatkan satu pahala”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang tua juga wajib adil kepada semua anaknya dalam pemberiannya apakah lelaki atau perempuan. Ia tidak boleh memberi salah seorang anaknya dan membiarkan anaknya yang lain.

Suami diwajibkan adil dalam pemberian nafkah kepada istri-istrinya bila ia mempunyai lebih dari satu istri. Allah ta’ala berfirman :”Dan pergaulilah istri-istri dengan baik”. (alAnam :152) Maka suami wajib menyamakan pembagian nafkah, memberikan rumah dan hak-hak isti lainnya kepada istri-istrinya. Dan bila ia takut tidak bisa berbuat adil maka nikahilah seorang wanita saja. (AnNisa :3)

Seorang muslim juga wajib adil dalam berkata. Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Dan apabila kamu berkata dan berbuat maka berlaku adillah (pada tiap kondisi) kendatipun kepada kerabatmu:. (AlAnam :152) Yakni jika anda berkata maka haruslah adil jangan zhalim bahkan katakanlah kebenaran walaupun pahit apakah yang berkaitan dengan hak anda atau kewajiban anda, pada orang yang paling dekat dan paling anda cintai sebagaimana kata Allah ta’ala :” Hai orang-orang yang beriman, menjadilah kamu orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil”. (AlMaidah :8)

Allah تَعَالَى memerintahkan kita berbuat adil dalam perkataan dan perbuatan terhadap diri, kerabat dekat dan kerabat jauh. Ia memerintahkan adil untuk semua orang pada tiap waktu dan kondisi. Dan wajib bagi tiap muslim adil walau terhadap musuh-musuh sebagaimana yang Allah تَعَالَى katakana : “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam (pada perang alHudaibiah), mendorongmu melanggar hukum Allah dan mendhalimi kepada mereka di luar batas”. (AlMaidah :2) Yakni janganlah kebencian anda terhadap suatu kaum untuk meninggalkan keadilan, karena adil itu wajib bagi tiap orang muslim pada seluruh kondisi. Dengan keadilan langit-langit dan bumi menjadi tegak, keadilan itu dicintai oleh tiap jiwa, teraturnya kemaslahatan dan manusia aman dari pembunuhan, perampokan dan pelecehan kehormatan. Maka Allah تَعَالَى memerintahkan adil dalam mengqishash, orang yang menzhalimi dihukum sesuai aturan tanpa ditambah. Maka Ia berfirman “Dan balasan kejelekan adalah kejelekan yang setimpal”. (AsySyura :40) “Jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu”. (AnNahl :126) “Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu”.(AlBaqarah :194) dan kaum muslimin wajib mendamaikan di antara dua kelompok yang saling memerangi dengan adil. Allah تَعَالَى  berfirman :” Jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah dan rasulNya, mendengar dan taat; jika golongan yang dhalim itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil (sampai golongan yang dhalim tidak berbuat dhalim lagi) dan berlaku adillah dalam semua urusanmu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (AlHujurat : 9) Dan kaum muslimin diperintahkan syariat memerangi para pemberontak sampai mereka kembali menerima hokum Allah ta’ala, bila mereka telah menerima hukum Allah maka kaum muslimin mendamaikan kedua kelompok yang berperang itu dengan adil hingga terjadilah keamanan dan kaum muslimin kembali saling mencintai dalam satu ikatan agama. Barakallahu li wa lakum fi Quranil Azhim, wa nafa’ani wa iyyakum bidzikrihi, innahu huwa sami’ul alim.

Ayyuhal muslimun, inilah agama kita, agama yang tegak di atas keadilan pada semua hukum dan syaritanya. Allah ta’ala berfirman :” Kalimat robmu (Al Qur’an) telah sempurnalah, sebagai kalimat yang benar beritanya dan adil hukumnya”. (AlAnam :115). Islam tidak menetapkan kecurangan dan kezhaliman serta permusuhan serta tidak tergantung oleh seorang pun bahkan ia selalu adil di mana saja ia berada. Ia memerintahkan kita memenuhi janji meskipun dengan orang-orang kafir. Allah ta’ala berfirman yang artinya :” Jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan yang telah kamu adakan perjanjian dengan mereka, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan terang-terangan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat”.(AlAnfal :58) Yakni jika anda takut pada suatu kaum akan menghianati perjanjiannya maka batalkanlah perjanjian itu dengan cara anda mengabarkan pembatalan itu sehingga mereka tidak dalam sangkaan masih dalam perjanjian itu yang menyebabkan penghianatan dari pihak anda. Demikianlah sifat agama Islam, agama yang cocok untuk setiap waktu dan tempat. “Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Yusuf :40) Oleh karena itu orang-orang kafir yang hidup di bawah naungan agama Islam mereka mengakui keadilan, kesempurnaan dan kecocokannya dengan jaman. Maka dengan melihat Islam, di antara mereka ada yang beriman dan ada yang tetap memilih kekafiran setelah jelas kebenaran bagi mereka dikarenakan kesombongan dan penentangan hati. Kisah yang berkaitan dengan hal ini panjang, bagi yang ingin mengetahui dengan jelas maka bacalah buku-buku sejarah Islam yang ditulis para ulam Islam dan lihatlan sebagian pendapat yang benar dari pemikir-pemikir orang- barat tentang Islam. Walhamdulillahi rabbil alamin.

Entry filed under: Adab dan Akhlaq. Tags: , , .

Fatwa Seputar Dzikir Berjama’ah Poligami (Ta’addud)… ?? (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Insya Allah,segera terbit..!

Arsip

Blog Stats

  • 31,051 klik
Yang sedang online:
counter
Jumlah pengunjung:
wordpress hit counter sejak Maret 2009
Tentang Anda:
IP Anda

%d bloggers like this: