Dialog Dengan Teroris Sebelum Menteror (Bag.1)

July 19, 2009 at 2:52 am

gedungحِوَارٌ مَعَ أَََهْلِ الْتََّكْفِيْرِ

قَبْلِ الْتََََّفْجِيْرِ

بقلم

أبي عبد الله ماهر بن ظافر القحطاني

Judul Asli : Hiwar Ma’a Ahli atTakfir Qobla atTafjir

Penulis : Abu Abdillah Mahir bin Dhafir alQhthoni

Penerbit : Maktabah Sahab Salafiah 2002

Judul Terjemah : Dialog Dengan Teroris Sebelum Menteror

Penerjemah : Ahmad Hamdani

بسم الله الحمن الحيم

Pada suatu waktu aku pernah bertemu dengan beberapa orang teroris. Dalam kesempatan itu aku menanyakan mengapa mereka mengafirkan kaum muslimin yang telah   mengucapkan kalimat la ilaha illallah dan beriman dengannya, dan membunuh kaum kafir yang dilindungi undang-undang keselamatan jiwanya serta tindakan harakiri atau bunuh diri dengan alat-alat yang mematikan yang mereka anggap sebagai jihad di jalan Allah.

Kalau kita perhatikan perbuatan mereka sebenarnya telah diterangkan keharamannya oleh Syaikh ibnu Utsaimin dalam kitabnya Syarah Riyadhus Sholihin. Mereka yang kebanyakan tidak mengerti hukum-hukum jihad itu memahami dengan salah dalil-dalil yang seolah membolehkan bunuh diri dan menteror. Dalil-dalil yang mereka pakai sesungguhnya adalah kerancuan pemahaman yang mereka jadikan sarana bertakarrub kepada Alloh ta’ala sementara itu syariat telah tegas menyatakan kebid’ahannya. Dengar dan lihatlah kerancuan pemahaman yang sengaja mereka sebarkan di tengah-tengah masayarakat terutama di kalangan pemuda yang memiliki hamasah (semangat) tinggi dalam beragama tapi tanpa ilmu din maupun di kalangan intelek yang malas mempelajari alquran dan hadits di majelis-majelis ta’lim. Mereka menghendaki terjadinya keretakan hubungan antara rakyat dengan pemerintah dan fitnah-fitnah. Untuk memuluskan jalan melancarkan kerancuan pemahaman agama, mereka mencela ulama ahlus sunnah dan sebaliknya mengangkat setinggi-tingginya ulama bid’ah. Maka hati-hatilah wahai saudaraku terhadap pemikiran dan gerakan mereka.

Setiap kebaikan hanyalah dalam mengikuti salaf dan setiap kejelekan hanyalah dalam mengikuti kebid’ahan selain salaf. Benar apa yang dikatakan nabi shallallohu alaihi wa sallam bahwa sebaik-baik petunjuk adalah Muhammad, sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru dalam agama tiap perkara baru itu adalah bidah dan tiap bidah adalah kesesatan.

Kerancuan-kerancuan Berpikir Para Teroris Muslim

1. Orang-orang kafir yang dikatakan dilindungi keselamatan jiwa mereka (almu’ahad) itu membunuh kaum muslimin di Afganistan, Irak dan membela Yahudi. Lalu jaminan keselamatan apa yang bisa kita jaga setelah mereka membatalkan perjanjian perdamaian, maka tidak ada hukum bagi mereka kecuali bunuh dan penghinaan.

2. Adapun muslimin yang telah kami bunuh karena mereka dilindungi orang-orang kafir sebagaimana yang difatwakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah. Kami tidak membunuh mereka itu sendiri tapi kami membunuh mereka karena kami ingin membunuh orang-orang kafir.

3. Menyerang, menakuti-nakuti dan menggentarkan musuh-musuh Islam, bukankah nabi shallallahu alaihi wa sallam menyergap Ka’ab bin alAsyraf seorang pentolan Yahudi ?

4. Kami diperintahkan taat kepada pemimpin. Pemimpin kami Usamah bin Leiden dan Aiman adh Dhawahiri atau orang-orang  kepercayaannya telah memberikan beberapa wajangan dan perintah-perintah resmi. Maka kami harus taat kepadanya dalam rangka membela Islam dan muslimin atas kaum kafir serta menuntut balas terhadap saudara-sadara kami yang telah terbunuh dengan aniaya oleh orang-orang kafir.

5. Adapun daulah atau pemerintah muslim yang ada sekarang kami yakini kafir dan sudah sepantasnya kami hijrah darinya sebagaimana yang difatkwakan oleh bin Leiden. Bukankah anda mengetahui pemimpin muslim itu berhukum dengan selain hukum Allah dan mereka melakukan amalan yang membatalkan keimanan ?

6. Mereka membela pemerintah kafir untuk memusuhi kaum muslimin.

7. Adapun ulamamu kami tidak mempercayai mereka. Sebagaimana kata ulama kami Aiman adhDhowahir, bin Baz dan ibnu Utsaimin adalah ulama bodoh maka berpalinglah dari mereka niscaya kamu akan selamat. Dengan dan taatlah kepada ulama mujahid niscaya kamu selamat jangan dengar ulama pemerintah(sulthon) yang berbasa-basi. Mana jihad mereka ? Mereka hanya duduk di hadapan kitab kuning dan tidur serta mereka melemahkan semangat jihad pemuda. Bukankah kamu mendengar syair Aidl alQorni yang mengatan, tinggalkan kitab dan keluarlah berjihad.

8. Apakah boleh memasukkan orang-orang Nasrani ke Jazirah Arab ? Mereka telah memasukkan Nashoro ke jazirah Arab, mendurhakai rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Maka pemerintah muslim itu berpaling dari perintah nabi mereka dan tenang dengan adanya orang-orang Nashoro di jazirah tersebut.

Bantahan Kerancuan

Aku katakan, dengan meminta pertolongan Allah rabul alamin tanpa panjang lebar, aku akan membantah omongan orang-orang bodoh dan dhalim itu :

1. Apakah kamu tahu kafir almu’ahad ? dan besar dosa orang yang membunuhnya ?

alImam alBukhori dalam kitab Shohoihnya mengatakan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

« Dari Abdillah bin Umar dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata,’Barangsiapa membunuh kafir almu’ahad maka tidak akan mencium bau sorga dan sesungguhnya bau sorga bisa dicium dari sejauh perjalanan 40 tahun ». Jadi membunuh kafir almu’ahad merupakan dosa besar

Dalam kitab Fathul Bari Ibnu Hajar menjelaskan, yang dimaksud kafir almu’ahad adalah orang kafir yang memiliki perjanjian dengan muslimin apakah dengan ikatan upeti ataupun dengan perdamaian dari pemerintah atau dari keamanan yang dijamin muslimin. Aku katakan, mereka  orang kafir almu’ahad itu memiliki perjanjian dengan pemerintah dan telah diberikan surat ijin tinggal di negeri muslim sehingga tidak boleh dibunuh. Bila orang kafir tersebut telah membatalka perjanjiannya di negeri muslim yang lain seperti Afganistan tidak lazim bagi kita untuk membatalkan perjanjian dengannya karena kita memiliki pemerintah yang telah diangkat(dibaiat) dan mereka rakyat Afganistan juga punya pemerintah sendiri dan kekusaan Islam telah terpecah sejak dinasti Umawi setelah banyaknya daerah muslimin sehingga tiap negeri memiliki pemimpin sendiri yang telah dibaiat. Jika seorang kafir membatalkan perjanjian dengan suatu pemerintah muslim maka tidak lazim batal perjanjiannya dengan negeri muslim yang lain. Allah ta’ala berfirman, « Apabila mereka meminta bantuamu dalam masalah agama maka bantulah mereka kecuali atas suatu kaum yang antara kalian dan mereka ada perjanjian maka tidak boleh kamu perangi ». Jadi apabila antara kita dan orang-orang kafir memiliki perjanjian dan mereka menyerang sebagian musliimin di negeri lain maka tidak lazim batalnya perjanjian dan pertolongan mereka     dari kita karena Allah mengecualikan mereka dari penyerangan.

Dalam kitabnya asSail alJarar asySyaukani berkata , »Adapun setelah tersebarnya Islam, luas daerahnya dan jauhnya jangkauan kekuasaannya maka tiap-tiap daerah memiliki kekuasaan atau raja, satu daerah tidak melaksanakan perintah atau larangan daerah lainnya, maka tidak mengapa adanya banyak penguasa dan raja dan rakyat wajib taat kepada masing-masing pemerintahnya setelah diadakan baiat. Apabila ada orang yang hendak mencabut atau menentang kekuasaan daerah yang telah diadakan baiat padanya maka ia dihukum mati jika ia tidak tobat dan tidak wajib bagi rakyat dari daerah lain taat maupun masuk ke dalam kekuasaannya karena jauhnya jarak……. » sampai beliau katakan, »sesungguhnya perbedaan kekuasaan Islam yang pertama dan kekuasaan Islam sekarang sangat jelas, lebih jelas daripada sinar matahari di siang hari. Baran siapa mengingkari kaedah ini sesungguhnya ia kalah dan tidak pantas berkata dengan dalil karena ia tidak berakal ».

Sesungguhnya urusan pengumuman pembatalan perjanjian dengan kaum kafir di tangan pemerintah muslim dan hakim, maka tidak boleh seorang pun dari rakyat terluput dan mengatakan, » batal perjanjian tapi hakim tidak membaalkannya ».

Apabila pemerintah membatalkan perjanjian tersebut maka mereka wajib diingatkan bukan diserang dengan tiba-tiba dan dibunuh sebagaimana kata Imam alBukhari dalam kitabnya Shahih menulis bab,’Bagaimana membatalkan Perjanjian Dengan Kafir Dzimmi dan firman ‘Dan apabila kamu takut hianat suatu kaum maka batalkan dan perangilah mereka ‘.(alAnfal :58)

Ibnu Hajar berkata,’Yakni batalkan perjanjian dengan mereka yaitu dengan mengutus utusan yang memberitahkan pembatalan perjanjian tersebut. Ibnu Abbas berkata,’Membatalkan dengan adil, atau beritahukan bahwa kamu akan memerangi mereka sampai mereka mengetahui pembatalan ini. alAzhari berkata,’Maknanya jika kamu hawatir suatu kaum membatalkan perjanjian maka janganlah kamu memerangi mereka sebelum mereka mengetahui pembatalan perjanjian itu’. Sementara para teroris itu menteror dan membunuh tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu !

2. Pendalilan yang salah, yang benar boleh berbuat demikian kalau dalam jihad yang telah ditetapkan dengan kaidah-kaidah syariah dan kaum muslimin dalam satu barisan tentara lalu orang-orang kafir melindungi muslimin yang lari dari barisan itu. Adapun kaum kafir yang tidak berperang melawan kaum muslimin maka tidak masuk ke dalam ucapan yang dikatakan Syaikhul Islam hususnya perlindungan orang-orang kafir terhadap muslimin.

3. Menyerang, menakut-nakuti musuh dan yang semisalnya diperbolehkan oleh para ulama akan tetapi dengan syarat-syarat dan ketentuan yang antara lain disebutkan oleh Ibnu Abdis Salam dalam kitabnya alQowa’d alFiqhiyah’,Jihad disyariatkan untuk menghukum dan menakut-nakuti orang-orang, apabila musuh kuat, kokoh dan besar jumlahnya sedangkan yang menghukum dan menakut-nakuti sedikit dan lemah maka tidak disyariatkan jihad’.

Adapun penyerangan yang disebutkan dalam hadits Abi Ayyub tidak serupa dengan penyerangan para teroris yang bodoh itu. Penyeranga yang dilakukan sahabat diatur oleh kaidah dan dalam barisan tentara yang memiliki kekuatan. Sedangkan penyerangan mereka dilakukan dengan munkar seperti membunuh orang kafir yang dijamin keamanannya oleh pemerintah dan kenekatan. Maka dalil yang mana yang membolehkan membunuh orang kafir dzimmi tersebut ?

Adapun penyerangan mendadak terhadap Ka’ab bin alAsyraf dilakukan di jaman setelah Hijrah di Madinah setelah muslimin kuat dan telah disyariatkan jihad serta Ka’ab dianggap kafir harbi (yang menyerang) itupun dengan seijin naba صلى الله عليه و سلم

Ibnu Hajar رحمه الله berkata,’Dari judul yang ditulis Bukhori diketahui bahwa Ka’ab adalah seorang kafir harbi (yang memerangi muslimin) terbukti beliau menulis judul bagi hadits itu ‘Menyergap Orang Kafir Yang Memerangi’ dan ‘Perang Adalah Tipu Daya’.

4. Pemimpin yang mereka maksudkan pemimpin suatu negeri yang wajib ditaati dan dibaiat oleh rakyatnya serta tidak boleh diberontak. Para tokoh dan rakyat semisal tak terkecuali Usamah bin Leiden dan pengikutnya dianggap telah membaiatnya kecuali bila ada dalil yang membatalkannya. Atau pemimpin itu atau dari luar. Anggaplah Usamah pemimpin tapi tidak boleh mentaatinya dalam kemaksiatan kepada الله dan pembunuhan kafir yang dilindungi keselamatannya dengan cara mengadakan peledakan dan kekacauan. Sedangkan dalam Islam terdapat kaidah yang berbunyi,’Mencegah kerusakan lebih didahulukan daripada mendapatkan kemaslahatan’. Maka kerusakan apa yang lebih besar setelah kesyirikan dan kebida’ahan daripada pembunuhan terhadap kaum muslimin dan orang-orang kafir yang masih dalam perjanjian keamanan ? Kemudian da’wah Islam atau tauhid ditakuti orang terutama orang-orang kafir dan orang-orang kafir mengecap kaum muslimin sebagai golongan yang suka merusak dan menakuti-nakuti (irhabyin). Kalaulah tindakan kalian termasuk bagian dari ajaran Islam dan dapat membela Islam tentu Rasulullah صلى الله عليه و سلم dan para hulafaur rasyidin telah melakukan dan menganjurkannya. Kapankah rasulullah صلى الله عليه و سلم memebunuh kafir yang dilindungi kesalamatannya atau memerintahkan jihad dalam kondisi sahabat masih lemah, apakah ada dalil yang menunjukkannya ? Inilah siyasah syar’iyah yang tidak diketahui oleh orang yang hendak menghadapi orang-orang kafir dalam kondisi masih lemah sehingga mereka menyelisihi petunjuk nabi صلى الله عليه و سلم dan ahirnya mereka hina dan menyingkir di puncak-pundak gunung. Benar kata rasulullah صلى الله عليه و سلم

(وكتبت الذلة والصغار لمن خالف أمري)

‘Telah ditetapkan hinda dan kecil bagi orang yang menyelisihi ajaranku’. (HR. Tirmidzi, shahih.)

5. Dalil yang selalu kalian dengungkan dalam mengafirkan pemerintah muslim yang tidak berhukum dengan kitabullah tidak keluar dari firmanNya,

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون

‘Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang الله  turunkan maka kafir’.

‘Maka demi rabmu merek tidak beriman sebelum mereka berhukum kepadamu (Muhammad) pada apa yang mereka perselisihkan kemudian mereka tidak merasa keberatan atas apa yang kamu putuskan dan mereka berserah diri dengan sebaik-baiknya’.

Perkataan Ibnu Katsir yang kalian nukil dari kitabnya alBidayah wan Nihayah,’Yang demikian itu (tidak berhukum dengan hukum Allah) semuanya menyelisihi syariat-syariat yang yang diturunkan kepada para nabiNya. Barang siapa meninggalkan syariat yang diturunkan kepada Muhammad صلى الله عليه و سلم dan berhukum dengan syariat lain yang telah dihapus maka ia kafir menurut kesepakatan muslimin, lalu bagaimana dengan orang yang berhukum dengan alYasiq yang tidak memiliki kitab samawi?’

Firman Allah:

(ألم ترإلى الذين يزعمون أنهم آمنوا بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطاغوت وقد أمروا أن يكفروا به ويريد الشيطان أن يضلهم ضلالا بعيدا)

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelum kamu, mereka hendak berhakim kepada thoghut padahal mereka diperintahkan untuk ingkar kepadanya dan syetan hendak menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh’.(anNisa :60) Yakni muslimin yang tidak mau berhukum dengan hukum Allah dianggap munafik.

FirmanNya :

(وإن أطعتموهم إنكم لمشركون)

’Dan bila kamu mentaati kaum kafir itu niscaya kamu menjadi musyrik’. Ayat ini menunjukkan kesyirikan orang yang mentaati undang-undang buatan manusia.

FirmanNya :

(إن الحكم إلا لله أمر ألا تعبدوا إلا إياه)

‘Tidak hukum kecuali milik Allah, Ia hanya memerintahkan kamu untuk menyembahNya semata’. Maka orang-orang yang berhukum dengan selain apa yang diturunkanNya berarti melepaskan diri dari perkara husus bagi Allah lalu mereka disebut musyrik.

FirmanNya :

(اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله)

‘Mereka menjadikan ulama dan ahli ibadah mereka sebagai sesembahan selain Allah’. Mereka disebut arbaban, sesembahan karena ditaati pada perkara yang bukan hukum Allah.

Sebab turun ayat yang diriwayatkan oleh Thobrani dalam kitabnya alKabir 5/124, alWahidi dalam Asbabun Nuzul dan alBaghowi dalam Ma’alim atTanzil 2/242 dari Ibnu Abbas katanya bahwa Abu Burdah alAslami dahulu seorang dukun yang menghakimi perselisihan orang-orang Yahudi lalu kaum muslimin mengadukan perselisihan kepadanya, kemudian Allah menurunkan ayat tersebut di atas. AlHaitsami menyatakan bahwa perowi-perowinya dari kitab Shahih (Bukhari-Muslim). Ibnu Hajar dalam kitabnya alIshobah 7/18 mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih. Syaikh Muqbil dalam kitabnya Ma Shahha min Asbabi an Nuzul berkata, guru Thabrani tidak aku temukan biografinya akan tetapi dikuatkan oleh Ibrohim bin Sa’d alJauhari menurut alWahidi.

FirmanNya :

( أفحكم الجاهلية يبغون ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون)

Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki dan hukum siapa yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin’. Hukum selain Allah disandarkan kepada kata jahiliah menunjukkan bahwa berhukum dengan selain hukum Allah kafir.

Ucapan Ibnu Abbas yang menyebut kufrun duna kufrun (kafir yang tidak keluar dari Islam) ketika menerangkan ayat ‘barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka ia kafir’, yakni kufrun akbar duna kufrun akbar. (Kafir besar yang tidak keluar dari Islam) Ucapan ini dipopulerkan oleh Abdullah Nashih Ulwan.

Jika kata kafir didahului oleh alif lam berarti kafir akbar (kafir keuar dari Islam)

Jawaban dari kerancuan di atas ialah

1. Adapun ayat yang berbunyi,’Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka mereka kafir’. Ayat ini secara gamblang mengafirkan orang-orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Maka aku katakan, Imam Bukhori telah meriwayatkan hadits dalam kitab Shahihnya dari Ibnu Abbas katanya,’Rasulullah صلى الله عليه و سلم memelukku lalu berkata ‘ya Allah ajarilah ia tafsir alQur’an’. Allah mengabulkan doa Rasulullah صلى الله عليه و سلم hingga Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Ya’qub bin Sufyan dengan sanad yang shahih,’Sebaik-baik tarjuman alQur’an (ahli tafsir alQur’an) adalah Ibnu Abbas’.

Dalam lembaran Ali bin Abi Thalhah menukil tafsir Abdullah bin Abbas رضي الله عنه

bahwa ibnu Abbas berkata,’Jika seorang hakim yang berhukum dengan hukum selain hukum Allah dan menentangnya maka ia kafir dan bila tidak menentangnya maka ia fasik dan dhalim’. Apabila para teroris mengatakan bahwa Ibnu Abbas bisa salah dan benar dalam menafsirkan maka ayat ini cukup sebagai dalil bagi kita.

Itulah madzhab khowarij yang mengambil teks (dhahir)ayat alQur’an dan meninggalkan pemahaman sahabat Rasulullah صلى الله عليه و سلم yang beliau telah mengatakan,

“وستفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة من كان على مثل ماأنا عليه وأصحابي”.

’Umat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu yaitu orang yang berada di atas ajaranku dan sahabatku hari ini’.

Tidak seorang sahabat pun yang menyelisihi tafsir Ibnu Abbas sehingga dianggap ijma’ sahabat. Jika mereka mengatakan riwayat dari Ibnu Abbas tidak benar maka aku katakan, lembaran tersebut diambil Bukhari dan menuliskannya di kitab shahihnya dan Imam Ahmad merekomendasinya dengan ucapannya,’Lembaran ibni Ani Thalhah di Mesir pada masalah tafsir, seandainya seorang bepergian ke sana untuk mengambilnya tidaklah menyusahkannya’. Walaupun ibnu Abi Thalhah tidak mendengar dari ibnu Abbas akan tetapi lembaran itu diperbolehkan meriwayatkannya bagi yang menemukannya.

Apabila ada yang bertanya, riwayat ibnu Abbas itu berlawanan dengan riwayat alHakim yang bersambung sanadnya sampai Ibnu Abbas yang mengatakan,’Kafir orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah’. Aku katakan, kedua perkataan itu harus dikompromikan menurut kaidah fiqih tidak boleh dibuang salah satunya. Apabila kita kompromikan ucapannya maka makna ucapannya ialah kufrun ashghar (kafir yang belum keluar dari Islam) dengan bukti riwayat Thabrani yang menyatakan,’Kufrun duna kufrin’. Sebagaimana kata Rasulullah صلى الله عليه و سلم ‘Mencela muslim adalah fasik dan membunuhnya kafir’. Demekianlah kaidah ilmu ushul, mengkompromikan shahhih yang terlihat saling bertentangan bukan membuang salah salah satunya menurut pendapat jumhur ulama berbeda dengan pendapat dengan Abu Hanifah dan pengikut-pengikutnya. Allah berfirman,

(وما آتاكم الرسول فخذوه)

’Dan apa yang datang dari Rasulullah صلى الله عليه و سلم kepadamu maka ambillah’. Menunjukkan keharusan mendahulukan kompromi atas tarjih (pemilihan salah satu nash). Karena lafadz ma menunjukkan atas keumuman dan maknanya tiap apa yang datang dari Rasulullah صلى الله عليه و سلم ambillah jangan kami terima sebagian dan kamu buang sebagiannya.

2. Adapun pengambilan dalil yang kalian lakukan terhadap ayat,

(فلا وربك لايؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لايجدوا في أنفسهم حرج مما قضيت ويسلموا تسليما )

’Maka demi rabmu mereka tidak beriman sebelum mereka berhukum kepadamu(Rasulullah صلى الله عليه و سلم )……’ pada asalnya ayat ini menunjukkan hakikat peniadaan iman yakni kafir bagi orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Maka jawaban dari kerancuan ini adalah, benar apa yang kalian sebutkan akan tetapi di dalam ayat terdapat bukti dapat membawa kepada makna lain yaitu hadits riwayat Bukhari yang menerangkan sebab turunnya ayat itu dan berita alQur’an dapat dipahami melalui sebab turunnya ayat. Bukhari berkata,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ خَاصَمَ الزُّبَيْرَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شِرَاجِ الْحَرَّةِ الَّتِي يَسْقُونَ بِهَا النَّخْلَ فَقَالَ الْأَنْصَارِيُّ سَرِّحْ الْمَاءَ يَمُرُّ فَأَبَى عَلَيْهِ فَاخْتَصَمَا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلزُّبَيْرِ أَسْقِ يَا زُبَيْرُ ثُمَّ أَرْسِلْ الْمَاءَ إِلَى جَارِكَ فَغَضِبَ الْأَنْصَارِيُّ فَقَالَ أَنْ كَانَ ابْنَ عَمَّتِكَ فَتَلَوَّنَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ اسْقِ يَا زُبَيْرُ ثُمَّ احْبِسْ الْمَاءَ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى الْجَدْرِ فَقَالَ الزُّبَيْرُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَحْسِبُ هَذِهِ الْآيَةَ نَزَلَتْ فِي ذَلِكَ فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ

’Dari Abdullah bin azZubair

رضي الله عنه  ia menceritakan kepada Urwah bawa seorang lelaki dari Anshar mendebat azZubair di sisi Rasulullah صلى الله عليه و سلم tentang perserikatan pengairan pohon korma. Orang Anshar itu berkata ‘Biarkan air itu mengalir !’ azZubair menolak perintahnya. Lalu keduanya mengadu kepada Rasulullah صلى الله عليه و سلم . Rasulullah صلى الله عليه و سلم berkata kepada azZubair,’Biarkan air itu mengalir hai Zubair kemudian alirkan air ke tetanggamu’. Tiba-tiba lelaki Anshar marah sambil berkata,’Apakah karena ia anak bibimu anda membelanya ? Muka Rasulullah صلى الله عليه و سلم memerah sambil berkata, ‘Alirkan air ha Zubair kemudian tahan sampai kembali ke dinding itu’. Zubair berkata, ‘Demi Allah aku yakin ayat itu turun keran lelaki anshar itu….’ Rasulullah صلى الله عليه و سلم tidak mengafirkan lelaki Anshar yang menolak keputusannya. Seandainya ia kafir niscaya beliau telah menerangkan kekafirannya ketika itu juga karena tidak boleh mengahirkan keterangan dari waktu yang dibutuhkan menurut kaidah ushul fiqih. Sehingga makna tersirat dari ayat itu ialah,’Maka demi rabmu mereka tidak beriman dengan keimanan yang sempurna’, yang pelakunya berhak mendapat ancaman siksa neraka, tidak dikafirkan.

Syaikhul Islam berkata dalam Majmu Fatawanya 7/37,’Maksudnya adalah bahwa tiap apa yang ditiadakan Allah dan rasulNya dari masalah nama perkara-perkara yang wajib seperti nama iman, islam, din, shalat, shiam, thaharoh dan haji serta selain itu sesungguhnya karena meninggalkan kewajiban dari perkara yang dinamakan itu semisal firmanNya, ‘Maka demi rabmu mereka tidak beriman sampa mereka berhukum kepadamu terhadap apa yang mereka perselisihkan…..’. Allah menediakan nama iman atas mereka sampai mereka berhukum dengan hukum rasulNya. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan utama yang tersebut dalam ayat (berhukum dengan hukum Allah dan RasulNya) wajib bagi semua orang. Barangsiapa meninggalkannya maka ia berhak mendapat ancaman siksaan neraka bukan dikafirkan’. Beliau tidak mengafirkan mereka dan alQur’an tidak ditafsirkan kecuali dengan merujuk kepada assunnah dan atsar (ucapan sahabat) beda dengan metode khowarij.

3. Jawaban syubhat (kerancuan) ketiga yang kalian ambil dari ucapan Ibnu Katsir dalam kitabnya alBidayah wan Nihayah 13/128 ialah, Ibnu Kastsir berbicara tentang kekafiran orang yang berhukum kepada undang-undang alYaqis (Tartar) yang mendahulukan hukum Allah dengan keyakinan kebolehannya (halalnya). Jadi Ibnu Katsir mengafirkan mereka dan orang-orang yang semisalnya terutama dalam masalah menganggap halal apa yang telah diharamkan dan mengharamkan apa yang telah dihalalkan bukan mengafirkan orang yang berhukum dengan selain hukum Allah karena keinginan pribadi dalam keadaan meyakini wajibnya berhukum dengan hukum Allah dan ia tidak menentangnya. Masalah yang seperti ini telah dinukil oleh alQurthubi dalam tafsirnya jilid yang kelima yang kesimpulannya telah disepakati tidak kafir seorang muslim yang demikian keadaannya. Apabila dua kesepakatan(ijma) saling bertentangan maka keduanya seperti dua dalil yang saling berlawanan yang harus dikompromikan dan tidak mungkin dikompromikan kescuali dengan apa yang telah aku sebutkan. Bagaimana mungkin Ibnu Katsir mengafirkan hakim yang berhukum dengan hukum manusia secara mutlak ?

Ibnu Abbas telah menafsirkan surat almaidah di atas dengan kufrun duna kufrin dan suatu riwayat dari Ibnu Abi Thalhah, jika hakim menentang hukum Allah maka ia kafir dan apabila tidak menentangnya maka ia fasik dhalim. Tidak ada seorang sahabatpun yang menentang penefsiaran ini. Oleh karena itu Ibnu Kastir berkata dalam tafsirnya 3/131,’Allah ta’ala mengingkari tiap orang yang keluar dari hukumNya yang mencakup semua berita larangan terhadap semua kejelekan dan berpaling kepada apa yang selainnya berupa pemikiran-pemikiran, hawa nafsu dan istilah-istilah yang dibuat oleh tokoh-tokoh tanda dasar dari syariat Allah sebagaimana yang dilakukan orang-orang jahiliah dan orang-orang Tartar yang membuat aturan kenegaraan dari pemikiran raja mereka Jengis Khan yang ia namakan dengan alYasiq. Alyasiq adalah kitab UU kumpulan hukum-hukum hasil cuplikan dari kitab Yahudi, Nasrani dan Islam serta selainnya, akan tetapi mayoritasnya diambil dari pemikiran dan hawa nafsunya semata. Kemudian oleh anak cucunya dijadikan syariat yang diikuti yang didahulukan atas hukum Allah. Barangsiapa melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Jengis Khan dan rakyatnya maka ia kafir yang wajib diperangi sampai kembali kepada hukum Allah dan RasulNya sehingga ia tidak berhukum kepada selainnya baik sedikit atau banyak.

Syaikhul Islam menerangkan keadaan alYasiq dalam Majmu’ alFatawanya 28/523,’Mereka menjadikan agama Islam seperti agama Yahudi dan Nasrani yang mirip dengan madzhab yang empat di kalangan kaum muslimin. Kemudian di antara rakya itu ada yang lebih menguatkan agama nasrani dan diantara mereka ada yang lebih menguatkan agama Yahudi’.

Aku katakan, maka kekakafiran mereka disebabkan anggapan halal agama yang mereka kehendaki apakah agama Yahudi, Nasrani ataupun Islam. Mereka tidak melakukannya karena keyakinan bahwa hukum Allah itu wajib. Keyakinan mereka jelas kafir menurut ijma’ dan sesuai dengan ucapan Ibnu Abbas yang berbunyi,’Jika hakim menentang hukum Allah maka kafir dan jika tidak menentang maka fasik dhalim.

4. Adapun pendalilan dengan surat anNisa ayat 60 di atas

( ألم ترإلى الذين يزعمون أنهم آمنوا بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطاغوت وقد أمروا أن يكفروا به ويريد الشيطان أن يضلهم ضلالا بعيدا)

‘Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelum kamu, mereka hendak berhakim kepada thoghut padahal mereka diperintahkan untuk ingkar kepadanya dan syetan hendak menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh’, Tidak benar karena yang dimaksud pada asalnya hati mereka kafir dan tidak ada dalil yang kuat bahwa keimanan yang diragukan itu adalah vonis kafir disebabkan mereka berhukum dengan selain hukum Allah semata, bukan karena kekafiran mereka sehingga mereka tidak mengingkari thoghut. Orang yang beriman dengan thoghut di batinnya maka ia kafir. Mereka berhukum dengan thoghut dengan keyakinan kebolehan, ridha dan mengagungkannya. Oleh karena itu ketika mereka terjatuh ke dalam pengagungan thoghut Allah mengingkari dan memerintahkan mereka untuk mengingkari thoghut. Bukan seperti hakim yang mengingkari thoghut di batinnya sehingga ia tidak membolehkan berhukum dengan selain hukum Allah bahkan ia meyakini bahwa hukum Allah wajib baginya. Akan tetapi berhukum dengan selain hukum Allah disebabkan keinginan pribadinya. Kemungkinan terbaik dari pemahaman ayat ini keimanan mereka diragukan disebabkan mereka berhukum dengan selain Allah, sementara itu kemungkinan di sini tidak kuat karena pemahaman dalil paling tidak harus dibangun di atas persangkaan yang kuat. Tidaklah seorang dikafirkan dengan kemungkinan.

Akan tetapi perbuatan berhukum dengan thoghut termasuk sifat munafik, Allah memperingatkan dan berpaling darinya. Menyerupai orang kafir atau munafik pada satu sifat dari sifat-sifat mereka tidak mesti menjadikan seseorang kafir. Syaikhul Islam menjelaskan hadits,

من تشبه بقوم فهو منهم

’Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia bagian darinya’, saya katakan, tidak mesti kafir.

5. Dalil kalian dengan ayat (وإن أطعتموهم إنكم لمشركون)

’Dan bila kamu mentaati kaum kafir itu niscaya kamu menjadi musyrik’

Sebab turun ayat ini diriwayatlan Tirmidzi dari Ibnu Abbas tentang ayat ‘Sesungguhnya syetan-syetan itu memberikan ilham kepada teman-teman mereka dari kalangan manusia’, syetan berkata,’Sesembelihan yang disebut nama Allah maka janganlah kamu makan dan sesembelihan yang tidak disebut namaNya maka makanlah lalu Allah menurunkan ayat,’Janganlah kamu makan dari hewan yang disembelih yang tidak disebut nama Allah’. alAlbani berkata,’Riwayat ini shahih’. Kelengkapan ayatnya ialah,

}وإنه لفسق وإن الشياطين ليوحون إلى أوليائهم ليجادلوكم وإن أطعتموهم إنكم لمشركون{

’…sesungguhnya yang demikian itu adalah fasik dan sesungguhnya syetan-syetan itu memberikan ilham kepada teman-teman mereka dari manusia untuk mendebat kamu dan jika kamu mentaati syetan-syetan dan teman-teman mereka niscaya kamu menjadi musrik’.(alAnam :121)

Yang dimaksudkan bukanlah pengkafiran orang yang tidak berhukum dengan selain hukum Allah walau ia tidak menentangnya dengan cara menganggap halal apa yang Ia haramkan dan mengharamkan apa yang Ia halalkan. Akan tetapi yang dikafirkan adalah orang yang mentaati syetan-syetan pada masalah kesyirikan di mana ia berpaling dari apa yang Allah turunkan dan tidak beriman kepadaNya dengan hawa nafsu. Bahkan mereka menasabkan kesyirikan yang mereka lakukan kepada syariat setelah mereka mendustakan dengan hawa nafsu dan mereka menentang syariat dengan akal yang menyimpang. Jadi orang yang menempuh seperti jalan mereka maka ia terjatuh ke dalam kesyirikan dan termasuk orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah. Ia ingkar kepada Allah yang telah menciptakannya dan kepada kenikmatanNya. Adapun berhukum dengan selain yang Allah turunkan dengan tetap meyakini wajibnya berhukum dengan hukum Allah dan mengakui bahwa hukum yang menyelisihinya bukanlah hukum Allah maka ia tidak kafir sebagaimana telah dijelaskan Ibnu Abbas.

6. Adapun pengambilan dalil kalian dari ayat,

(ولا يشرك في حكمه أحدا)

’Dan tidak disekutukan dalam hukumnya oleh seorang pun’. (alKahfi :110), sesungguhnya menyekutukan hukum Allah dari orang yang berhukum dengan selain yang Allah turunkan kemudian ia nasabkan kepada syariat dan berkata,’Ini dari sisi Allah’, ia dikafirkan jika ia meyakini kebolehannya. Bila tidak meyakini kebolehannya maka tidak kafir tetapi fasik dhalim.

7. Dalil kalian, ‘Tidak ada hukum kecuali milik Allah Ia memerintahkan agar kamu hanya menyembah kepadaNya’. Jawaban dari syubhat ini ialah

Orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah dianggap musryrik adalah orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tandingan bagi Allah lalu ia meyakini dirinya boleh menghalalkan apa yang haram atau membolehkan untuk dirinya berhukum dengan selain hukum Allah. Barang siapa meyekini dirinya boleh membuat syariat maka ia telah menjadikan hawa nafsunya tandingan bagi Allah dan menyelelisihi hukumNya serta berbuat kesyrikan. Karena yang disebut kesyirikan adalah menjadikan tandingan bagi Allah dalam peribadatan, perbuatan (rububiah) atau sifat-sifatNya. Orang ini menjadikan bagi Allah tandingan dalam rububiahNya. Adapun jika ia tidak meyakininya dan sebaliknya ia meyakini bahwa hukum Allah adalah wajib baginya dan ia berhukum dengan selain hukum Allah hanya karena keinginannya maka ia tidak kafir.

8. FirmanNya,’Mereka menjadikan ulama dan ahli ibadah mereka arbab (sesembahan sesemban) selain Allah’. Mereka dinamakan arbab karena mereka ditaati pada perkara yang Allah tidak memerintahkannya.

Jawabannya sudah jelas alhamdulillah, arabab dan ahli iabadah itu menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan lalu diikuti sehingga mereka tejatuh ke dalam kesyirikan. Akan tetapi bila hakim tidam menganggap boleh/halal berhukum dengan selain hukum Allah dan ia berhukum dengan selain hukum Allah maka ia fasik dhalim.

9. Jawaban kerancuan point sembilan ialah seandainya atsar (berita) ini benar tidak ada sisi pendalilan untuk mengkafirkan hakim yang berhukum dengan selain hukum Allah. Pada point keempat telah dijelaskan bahwa kekafiran mereka bukan karena mereka berhukum dengan hukum selain yang Allah turunkan tetapi karena mereka mendurhakai Allah yang memerintahkan mereka untuk mengingkari thoghut. Ayat menunjukkan mereka mengimani terhadap thoghut dan dianggap kafir. Adapun orang yang berhukum dengan selain hukum Allah dan meyakini berhukum dengan hukum Allah adalah wajib baginya serta tidak menentangnya dalam rangka menjaga kedudukannya maka ia dihukum kufrun duna kufrin sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Abbas.

10. Pendalilan kalian terhadap ayat,’Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki dan hukum siapa yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang yang yakin’, bahwa orang yang berhukum dengan selain hukum Allah kafir, tidak penunjukan dalil atas pengkafiran orang yang berhukum dengan selain hukum Allah jika ia tidak menentang hukumNya. Karena tidak semua hukum jahiliah kafir. Di antara hukum jahiliah yang kafir adalah berhukum dengan dukun dan meyakininya mengaetahui perkara ghaib. Sedangkan membunuh bayi perempuan di jaman jahiliah tidaklah kafir. Tidak lazim setiap orang yang berhukum dengan hukum jahiliah kafir. Orang yang berhukum dengan hukum jahiliah lahir dan batin sebagaimana orang-orang jahiliah maka ia kafir seperti mereka dan orang yang berhukum dengan hukum jahiliah lahirnya saja bukan batinnya dan tetap mengingkari hukum kahiliah maka ia dhalim dan fasik(maksiat).

11. Adapun ucapan Muhammad Nashih Ulwan dalam kitabnya Syarah Nawaqidhul Iman : orang yang berhukum dengan selain hukum Allah ia vonis kufrun akbar duna kufrin akbar. Ucapan batil dan bid’ah serta akal-akalan dalam beragama. Padahal Ibnu Ibnu Abbas telah menfsirkannnya dengan kufrun duna kufrin. Setelah saya jelaskan kepadanya di kediamannya alQashim ia tetap pada pendiriannya dan meyakini kekafiran orang yang berhukum dengan selain hukum Allah dengan alasan riwayatnya menyelisihi riwayat yang terdapat dalam Mustdrak alHakim. Aku tanyakan apabila ucapan seorang alim saling bertentangan bukankah seharusnya dikompromikan ? Ia diam dan mengalihkan pembicaraan yang ketika itu ia sedang berada di hadapan jama’ahnya. Ia telah mengadakan kebid’ahan dalam agama Allah dengan akalnya. Seharusnya ia memaknakan ucapannya pada makna kufrun asghar (kafir yang tidak keluar dari Islam) untuk mengkompromikan dua riwayat daripada harus membuang salah satunya.

12. Pendapat kalian bila kata kafir didahului oleh alim dam lam maka yang dimaksud adala kafir besar (murtad), pendapat yang salah. Ibnu Abbas pernah mengatakan,

أتى حائضا فهو الكفر من

’Barangsiapa yang mencampuri wanita(istri) yang sedang haidl maka kafir’, kata kafir dengan alim dan lam akan tetapi beliau tidak meyakini kekafiran perbuatan itu.

Syubhat yang keenam :

Mereka membela pemerintah kafir untuk memusuhi kaum muslimin dan mereka melakukan perkara yang membatalkan keimanan dan mengingkari kenikmatan  Allah. Termasuk pembatal keimanan adalah loyal dan membela orang-orang kafir untuk melawan kaum muslimin. Allah berfirman,

( ومن يتوله منكم فإنه منهم)

’Dan barangsiapa yang membela orang kafir dari kalian maka ia bagian darinya’.

Bantahan :

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya katanya, Ali berkata,

عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَالزُّبَيْرَ وَالْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ قَالَ انْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُوا رَوْضَةَ خَاخٍ فَإِنَّ بِهَا ظَعِينَةً وَمَعَهَا كِتَابٌ فَخُذُوهُ مِنْهَا فَانْطَلَقْنَا تَعَادَى بِنَا خَيْلُنَا حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى الرَّوْضَةِ فَإِذَا نَحْنُ بِالظَّعِينَةِ فَقُلْنَا أَخْرِجِي الْكِتَابَ فَقَالَتْ مَا مَعِي مِنْ كِتَابٍ فَقُلْنَا لَتُخْرِجِنَّ الْكِتَابَ أَوْ لَنُلْقِيَنَّ الثِّيَابَ فَأَخْرَجَتْهُ مِنْ عِقَاصِهَا فَأَتَيْنَا بِهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا فِيهِ مِنْ حَاطِبِ بْنِ أَبِي بَلْتَعَةَ إِلَى أُنَاسٍ مِنْ الْمُشْرِكِينَ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ يُخْبِرُهُمْ بِبَعْضِ أَمْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا حَاطِبُ مَا هَذَا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَا تَعْجَلْ عَلَيَّ إِنِّي كُنْتُ امْرَأً مُلْصَقًا فِي قُرَيْشٍ وَلَمْ أَكُنْ مِنْ أَنْفُسِهَا وَكَانَ مَنْ مَعَكَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ لَهُمْ قَرَابَاتٌ بِمَكَّةَ يَحْمُونَ بِهَا أَهْلِيهِمْ وَأَمْوَالَهُمْ فَأَحْبَبْتُ إِذْ فَاتَنِي ذَلِكَ مِنْ النَّسَبِ فِيهِمْ أَنْ أَتَّخِذَ عِنْدَهُمْ يَدًا يَحْمُونَ بِهَا قَرَابَتِي وَمَا فَعَلْتُ كُفْرًا وَلَا ارْتِدَادًا وَلَا رِضًا بِالْكُفْرِ بَعْدَ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ صَدَقَكُمْ قَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ دَعْنِي أَضْرِبْ عُنُقَ هَذَا الْمُنَافِقِ قَالَ إِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَكُونَ قَدْ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

’Rasulullah صلى الله عليه و سلم mengutus aku, Zubair dan Miqdad bin alAswad. Pergilah ke kebun khokh, tempat wanita yang bernama Dha’inah dan ia menyimpan sebuah surat, ambillah suratnya. Kami pergi ke kebun yang dimaksud. Setelah kami di depan tandu kami berkata, ‘Keluarkan surat yang di dalamnya !’. ‘Aku tidak menyimpan surat apa pun’, jawabnya. ‘Kamu mengeluarkan surat itu atau kami akan menelanjangimu’, jawab kami. Lalu ia mengeluarkan surat itu dari jalinan rambutnya. Kami membawa surat kepada Rasulullah صلى الله عليه و سلم. Setelah dibaca terdapat tulisan,’Dari Hathib bin Abi Balt’ah untuk kaum musyrikin penduduk Mekkah’. Ia memberitahukan berita-berita Rasulullah صلى الله عليه و سلم. Rasulullah صلى الله عليه و سلم berkata,’Hai Hathib apa ini ?’. ‘Ya, Rasulullah tunggu dulu, dahulu aku tinggal bersama orang-orang Quraisy tetapi aku tidak menjadi golongan mereka. Orang-orang muhajirin yang bersama anda  memiliki kerabat di Makkah yang mereka melindungi keluarga dan harta mereka di sana. Aku ingin bila aku kehilangan nasabku yang di sana supaya mereka melindung kerabatku dan aku lakukan bukan karena kekafiran, kemurtadan dan ridha kepada kekafiran setelah Islam’, kata Hathib. Rasulullah صلى الله عليه و سلم berkata,’Ia benar’. Umar berkata,’Ya, Rasulullah صلى الله عليه و سلم biarkan aku memenggal leher munafik ini !’. Rasulullah صلى الله عليه و سلم , ‘Sabar, ia pernah ikut perang badar dan kamu tidak tahu bahwa Allah telah mengetahui veteran perang badar dan mengatakan,’Lakukan sekehendakmu Aku telah mengampuni dosamu’.

Hathib bin Abi Balta’ah telah membela kaum musrikin melawan Rasulullah صلى الله عليه و سلم dan sahabatnya dengan menulis surat rahasia yang berisi rencana penyerangan Rasulullah صلى الله عليه و سلم . Kerusakan apa bagi muslimin seandainya surat itu sampai kepada kaum musrikin. Mereka akan menghadang di perjalanan, melempari dengan panah dan menyergap kaum muslimin yang hendak menyerang mereka. Akan tetapi Rasulullah صلى الله عليه و سلم tidak mengatakan,’Kamu murtad hai Hathib, tobat dan masuk Islam’. Karena Hathib tidak bermaksud membela kaum kafir untuk mengalahkan Islam atau ia membenci Islam atau ingin murtad. Tetapi melakukan hal itu agar ia punya penolong di sisi kaum Quraisy sehingga kerabatnya selamat. Perhatikan hadits di atas dengan baik dan bangunlah di atasnya aqidah yang benar yang akan meluruskan aqidahmu sehingga rabmu meridhoimu.

Bagi yang mau memperhatikan dialog dalam hadits di atas dengan seksama dan membuang hawa nafsu akan nampka jelas baginya bahwa orang yang menolong orang-orang kafir untuk melawan muslimin karena keinginan mendapatkan kesenangan duniawi maka tidak dikafirkan tetapi dihukiumi fasik. Adpun apabila menolong orang-orang kafir dengan keinginan menolong agama kafir agar dimenangkan atas Islam atau karena ia membenci Islam atau karena ingin murtad maka ia kafir murtad keluar dari Islam karena :

Pertama : Rasulullah صلى الله عليه و سلم meminta keterangan Hathib. Kalau amalannya kafir seperti memperolok Allah dan Rasul Nya tentu beliau telah menghukuminya murtad. Tidak boleh mengahirkan keterangan dari waktu yang dibutuhkan menurut kaidah ushul. Orang yang telah kafir secara I’tqod tidak perlu dimintai keterangan. Akan tetapi bila kafir yang bersifat amalan dan mengandung kesamaran, Rasulullah صلى الله عليه و سلم meminta keterangan kepadanya. Sehingga orang yang mencela Alloh langsung dikatakan kepadanya,’Kamu telah kafir’ dan tidak ditanya,’mengapa kamu mencela Alloh’, jika tidak ada bukti yang menyebabkan ia berbuat demikian seperti adanya unsur paksaan.

Kedua : Perhatikan riwayat-riwayat yang shahih yang memuat jawaban Hathib kepada Rasulullah صلى الله عليه و سلم.

Riwayat pertama : Dalam shahih Bukhori disebautkan, Hathib berkata, ‘Ya, Rasulullah tunggu dulu, dahulu aku tinggal bersama orang-orang Quraisy tetapi aku tidak menjadi golongan mereka. Orang-orang muhajirin yang bersama anda  memiliki kerabat di Makkah yang mereka melindungi keluarga dan harta mereka di sana. Aku ingin bila aku kehilangan kerabatku yang di sana supaya mereka melindung kerabatku dan aku lakukan bukan karena kekafiran, kemurtadan dan ridha kepada kekafiran setelah Islam Rasulullah صلى الله عليه و سلم berkata,’Ia benar’. Umar berkata,’Ya, Rasulullah صلى الله عليه و سلم biarkan aku memenggal leher munafik ini !’. Rasulullah صلى الله عليه و سلم berkata, ‘Sabar, ia pernah ikut perang badar dan kamu tidak tahu bahwa Allah telah mengetahui veteran perang badar dan mengatakan,’Lakukan sekehendakmu Aku telah mengampuni dosamu’.

Riwayat kedua :

أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَكَانَ عُثْمَانِيًّا فَقَالَ لِابْنِ عَطِيَّةَ وَكَانَ عَلَوِيًّا إِنِّي لَأَعْلَمُ مَا الَّذِي جَرَّأَ صَاحِبَكَ عَلَى الدِّمَاءِ سَمِعْتُهُ يَقُولُ بَعَثَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالزُّبَيْرَ فَقَالَ ائْتُوا رَوْضَةَ كَذَا وَتَجِدُونَ بِهَا امْرَأَةً أَعْطَاهَا حَاطِبٌ كِتَابًا فَأَتَيْنَا الرَّوْضَةَ فَقُلْنَا الْكِتَابَ قَالَتْ لَمْ يُعْطِنِي فَقُلْنَا لَتُخْرِجِنَّ أَوْ لَأُجَرِّدَنَّكِ فَأَخْرَجَتْ مِنْ حُجْزَتِهَا فَأَرْسَلَ إِلَى حَاطِبٍ فَقَالَ لَا تَعْجَلْ وَاللَّهِ مَا كَفَرْتُ وَلَا ازْدَدْتُ لِلْإِسْلَامِ إِلَّا حُبًّا وَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِكَ إِلَّا وَلَهُ بِمَكَّةَ مَنْ يَدْفَعُ اللَّهُ بِهِ عَنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَلَمْ يَكُنْ لِي أَحَدٌ فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَتَّخِذَ عِنْدَهُمْ يَدًا فَصَدَّقَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Abi Abdirrahman berkata kepada Ibnu Athiah,’Aku mengetahui apa yang membuat temanmu berani menumpahkan darah aku mendengar ia berkata,’Aku dan Zubair diutus Rasulullah صلى الله عليه و سلم lalu beliau berkata,’Datangilah kebun demikian dan demikian dan temukan seorang wanita yang diberi Hatib sebuah surat. Lalu kami mendatangi kebun yang dimaksud. Kami berkata,’Serahkan surat kepada kami’. ‘Aku tidak diberi surat, kata wanita itu. ‘Kamu berikan surat itu atau kami akan menelanjangimu’, gertak kami. Wanita itu mengeluarkan surat dari ikatan rambutnya. Hathib dipanggil menghadap Rasulullah صلى الله عليه و سلم dan ditanya. Hathib berkata,’ ‘Ya, Rasulullah tunggu dulu, demi Allah aku tidak kafir dan aku tidak menambah bagi selain kecintaan kepadanya. Tidak ada dari sahabatmu kecuali di Makkah ada orang yang melindungi keluarga dan hartanya dan aku tidak memiliki kekuatan lalu aku menginginkan mereka sebagai penolong kerabatku yang di Makkah. Rasulullah صلى الله عليه و سلم berkata,’Ia benar’.

Riwayat ketiga : Disebutkan dalam Shahih Bukhari darinya (Hathib)

وَاللَّهِ مَا بِي أَنْ لَا أَكُونَ مُؤْمِنًا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَدْتُ أَنْ يَكُونَ لِي عِنْدَ الْقَوْمِ يَدٌ يَدْفَعُ اللَّهُ بِهَا عَنْ أَهْلِي وَمَالِي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِكَ إِلَّا لَهُ هُنَاكَ مِنْ عَشِيرَتِهِ مَنْ يَدْفَعُ اللَّهُ بِهِ عَنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَ وَلَا تَقُولُوا لَهُ إِلَّا خَيْرًا.

‘Demi Allah Bukan aku tidak beriman kepada Alloh dan RasulNya, aku hanya ingin memiliki penolong dari kalangan Quraisy yang dapat melindungi keluarga dan hartaku. Tidak sahabatku yang di sana kecuali memiliki penolong di sana untuk menjaga harta dan keluarganya. Rasulullah صلى الله عليه و سلم berkata,’Ia benar dan jangan kalian katakan untuknya kecuali kebenaran’.

Riwayat keempat: Disebutkan dalam Shahih Bukhari

قَالَ مَا بِي إِلَّا أَنْ أَكُونَ مُؤْمِنًا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَا غَيَّرْتُ وَلَا بَدَّلْتُ أَرَدْتُ أَنْ تَكُونَ لِي عِنْدَ الْقَوْمِ يَدٌ يَدْفَعُ اللَّهُ بِهَا عَنْ أَهْلِي وَمَالِي وَلَيْسَ مِنْ أَصْحَابِكَ هُنَاكَ إِلَّا وَلَهُ مَنْ يَدْفَعُ اللَّهُ بِهِ عَنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ قَالَ صَدَقَ فَلَا تَقُولُوا لَهُ إِلَّا خَيْرًا

‘Aku hanya beriman kepada Alloh dan RasulNya, aku tidak merubah dan mengganti agama, aku hanya ingin ada di kaum Quraisy itu penolong yang dapat membela keluarga dan hartaku. Tidak ada sahabat anda di sana kecuali ia punya penolong yang dapat melindungi keluarga dan hartanya. Rasulullah صلى الله عليه و سلم berkata,’Ia benar dan jangan kalian katakan untuknya kecuali kebenaran’.

Hathib رضي الله عنه  melakukan yang demikian bukan karena untuk mengganti agama, murtad atau ridha terhadap kekafiran bahkan ia iman kepada Alloh dan RasulNya dan ia semakin bertambah kecintaan terhadap Islam. Ia melakukan hal itu bukan karena cinta kepada kemenangan orang kafir atas Islam atau membenci Islam. Saya tidak berprasangka apa-apa kepadanya, ia percaya bahwa Alloh yang melindungi nabiNya. Akan tetapi ia lakukan agar ia punya penolong dari kalangan kaum kafir yang dapat menjaga keluarga dan hartanya. Perbuatannya justru menghasilkan maslahat duniawi dan tidak Rasulullah صلى الله عليه و سلم kafirkan. Kalau beliau mengafirkan maka kemungkinan beliau bunuh atau beliau menerangkan sebagaimana telah saya sebutkan di atas. Semuanya tidak dilakukan Rasulullah صلى الله عليه و سلم bahkan beliau membernarkan dan tidak membiarkan Umar untuk memenggal lehernya meskipun di sisi lain ia masih mencinta sebagian musrikin disebabkan hubungan kekerabatan dan pertolongan mereka. Akan tetapi ia tidak dihukum murtad. Bila murtad tentu telah Rasulullah صلى الله عليه و سلم jelaskan.

Seandainya ia terjatuh ke dalam kekafiran tentu Rasulullah صلى الله عليه و سلم mengatakan, apakah kamu tahu bahwa Alloh telah mengetahui veteran Badar lalu Ia mengatakan,’Lakukan apa yang kamu kehendaki Aku telah mengampuni dosamu’. Sesungguhnya kebaikan perang Badar tidak terhapus dengan kekafiran bahkan menghapus dosa-dosa besar sekalipun.

Bila kalian mengatakan, Hathib melakukannya karena ketidaktahuannya bahwa tindakannya adalah kafir besar yang dapat mengeluarkannya dari keislamannya sehingga Rasulullah صلى الله عليه و سلم memaafkannya. Pernyataanmu salah karena ucapan Rasulullah صلى الله عليه و سلم untuk veteran perang Badar. Orang bodoh dimaafkan tidak perlu dikatakan kepadanya bahwa kebaikan menghapuskan kesalahannya. Kemudian apa dalil pengkafiran bagi orang yang niatnya menolong orang kafir untuk melawan muslimin untuk kemaslahatan duniawi atau menuntut balas atas suatu pembunuhan. Bila kalian katakan, dalilnya FirmanNya yang mengatakan bahwa barangsiapa loyal /menyerupai orang-orang kafir maka ia bagian dari golongan mereka, ayat ini menunjukkan kekafirannya. Saya katakan Rasulullah صلى الله عليه و سلم telah mengatakan, barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia bagian darinya, apakah Rasulullah صلى الله عليه و سلم mengafirkan muslimin yang menyerupai orang kafir ?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata dalam Majmu’ alFatawanya 7/522, ‘Seorang mencintai orang kafir disebabkan hubungan darah atau suatu kebutuhan. Maka mendapat dosa yang dapat mengurangi imannya dan tidak kafir karenanya sebagaimana yang telah terjadi pada diri Hathib bin Abi Balta’ah ketika ia menulis surat kepada kaum musrikin tentang berita Rasulullah صلى الله عليه و سلم yang akan menyerang mereka lalu Allah menurunkan ayat,

(يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوي وعدوكم أولياء تلقون إليكم بالمودة)

’Hai orang-orang yang beriman hanganlah kamu menjadikan musuhku dan musuhmu sebagai penolongmu yang kamu mencintai mereka’.

Di dalam kitab alUmm 4/249 Imam Syafii ditanya,’Apa pendapat anda bila ada seorang muslim menulis surat kepada orang kafir yang berisi bahwa muslimin akan menyerang mereka, apakah ia menjadi kafir dan apakah menunjukkan loyalnya kepada orang-orang kafir?

Imam Syafii menjawab:

Tidak halal darah muslim kecuali jika ia membunuh, berzina setelah ia menikah, kafir yang jelas kekafirannya setelah iman kemudian ia mantap atas kekafirannya. Tidak ada pendalilan yang jelas atas kekafirannya disebabkan perbuatannya tersebut.

Tanya : Apakah yang anda katakan dari dalil atau kias?

Jawab : Aku katakan dengan ilmu yang tidak boleh seorang muslimpun menyelisihi setelah adanya pengambilan dalil dari alQur’an dan assunnah.

T : Hadits yang mana ?

J : Dari Ubaid bin Abi Rafi katanya aku mendengar Ali berkata

’Rasulullah صلى الله عليه و سلم mengutus aku, Zubair dan Miqdad bin alAswad. Pergilah ke kebun khokh, tempat wanita yang bernama Dha’inah dan ia menyimpan sebuah surat, ambillah suratnya. Kami pergi ke kebun yang dimaksud. Setelah kami di depan tandu kami berkata, ‘Keluarkan surat yang di dalamnya !’. ‘Aku tidak menyimpan surat apa pun’, jawabnya. ‘Kamu mengeluarkan surat itu atau kami akan menelanjangimu’, jawab kami. Lalu ia mengeluarkan surat itu dari jalinan rambutnya. Kami membawa surat kepada Rasulullah صلى الله عليه و سلم. Setelah dibaca terdapat tulisan,’Dari Hathib bin Abi Balt’ah untuk kaum musyrikin penduduk Mekkah’. Ia memberitahukan berita-berita Rasulullah صلى الله عليه و سلم. Rasulullah صلى الله عليه و سلم berkata,’Hai Hathib apa ini ?’. ‘Ya, Rasulullah tunggu dulu, dahulu aku tinggal bersama orang-orang Quraisy tetapi aku tidak menjadi golongan mereka. Orang-orang muhajirin yang bersama anda  memiliki kerabat di Makkah yang mereka melindungi keluarga dan harta mereka di sana. Aku ingin bila aku kehilangan nasabku yang di sana supaya mereka melindung kerabatku dan aku lakukan bukan karena kekafiran, kemurtadan dan ridha kepada kekafiran setelah Islam’, kata Hathib. Rasulullah صلى الله عليه و سلم berkata,’Ia benar’. Umar berkata,’Ya, Rasulullah صلى الله عليه و سلم biarkan aku memenggal leher munafik ini !’. Rasulullah صلى الله عليه و سلم , ‘Sabar, ia pernah ikut perang badar dan kamu tidak tahu bahwa Allah telah mengetahui veteran perang badar dan mengatakan,’Lakukan sekehendakmu Aku telah mengampuni dosamu’. Lalu turun ayat,’

(يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوي وعدوكم أولياء تلقون إليكم بالمودة)

‘Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu menjadikan musuhku dan musuhmu sebagai penolongmu yang kamu memberikan kecintaan kepada mereka’.(AlHasyr : 1)

Hadits ini menunjukkan bolehnya memutuskan hukum dengan dasar adanya persangkaan kuat karena isi surat mengandung kemungkinan apa yang dikatakan Hathib yakni ia melakukannya bukan karena ragu terhadap Islam tetapi ia lakukan demi keselamatan keluarga. Sementara memaknakan dengan kemungkinan tidak kuat. Maka kita mengambil makna secara lahir dari ucapannya serta hukum yang dijatuhkan Rasulullah صلى الله عليه و سلم bahwa ia tidak dikafirkan

Kerancuan yang ketujuh

Jawabannya :

Pertama : Aiman adhDhawahiri telah berdusta dan Allah telah mendustakannya sebelum Ia menciptakannya. Allah berkata,

فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لاتعلمون

’Bertanyalah kepada orang yang mengetahui jika kamu tidak mengetahui’.(anNahl :43) Tidak mengatakan tanyakan kepada orang-orang yang telah mati yang tidak mengerti hukum-hukum syariah.

Ucapan kalian yang mengatakan ulama kami tidak mengetahui kondisi sekarang dan mana pengingkaran ulama kami terhadap kerusakan pemerintah. Ini adalah ucapan bodoh yang amat jelas. Safar Hawali adalah orang pertama yang menyatakan pernyataan ini dan megatakan ulam ahlus sunnah tidak faqih di hadapan majlis yang dihadiri ribuan orang dan ia belum mencabut omongan ngawurnya. Semoga Allah menunjuki saya dan dirinya.

Kedua : Bukan tuntunan Rasulullah صلى الله عليه و سلم seorang ulama menasihati pemerintah di hadapan banyak orang bahkan termasuk kebid’ahan. Kecualai apabila seorang alim di majlis pejabat dan terjadi kemungkaran dari pejabat itu maka ia boleh mengingkari kemungkaran sebagaimana yang terjadi pada diri Abi Sa’id alKhudri mengingkari Halifah Muawiyah yang khotbah ied sebelum sholat. Adapun nasihat maka setelah terjadinya kemungkaran dan harus dilakukan dengan rahasia sebagaimana yang disebutkan Bukhari dari dari Abi Wail katanya, seseorang menyuruh Usamah,’Mengapa tidak mendatangi fulan lalu kamu berbicara dengannya untuk menasihati’. Usamah berkata,’Aku telah menasihatinya secara rahasia  karena aku takut pembuka pintu fitnah pertama’. Yang dimaksud dengan fulan adalah Khalifah Utsman.

Sebagian ulama berkata,’Orang beriman menutupi aib dan menasihati sedang orang jahat merusak kehormatan dan membuka aib. Menasihati dengan terang-terangan membuka kerusakan suatu negeri dan manusia yang tak terperi dan menentang dengan ucapan perantara menentang dengan senjata.

Dalam Sunan Tirmidzi disebutkan dari Ziyad bin Kasib bahwa seorang lelaki duduk dekat Abu Bakrahm, sementara Ibnu Ammar berkhotbah dengan memakai yang tipis. Lelaki berkata,’Lihat amir itu memakai baju orang jelek’. Abu Bakroh berkata,’Diam kamu aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه و سلم berkata

من أهان سلطان الله في الأرض أهانه الله

’Barangsiapa menghinakan pemimpin maka Allah akan menghinakannya’.

Ketiga :

Bahwa fiqhul waqi’ (mengetahui kondisi kekinian) diperlukan bila ada suatu kejadian yang penting dan seorang alim diminta untuk berbicara tentangnya. Ia bertanya tentang keadaan sebenarnya sebelum berfatwa. Bukan yang dilakukan orang-orang yang melampaui batas dalam mengetahui fiqhul waqi sampai menjadi seorang politikus murni yang mendahulukan ilmu syariat dan menganggapnya sebagai jihad fi sabilillah dan amar ma’ruf nahi munkar disebabkan ia banyak menelaan koran dan majalah yang kebanyakan ditulis oleh wartawan kafir. Sedangka kabar dari orang kafir menurut ilmu hadits tidak boleh diterima dan Allah berkata,

ياايها الذين آمنوا إن جاءكم فاسق بنبأ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على مافعلتم نادمين

’Hai orang-orang beriman jika orang-orang fasik datang membawa berita maka telitilah agar kamu tidak menimpakan suatu kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu’.(Hujurat :6) Lalu bagaimana kalau yang mengabarkan berita orang-orang kafir?

Keempat :

Berpalingnya kalian dari ulama ahlus sunnah menyebabkan fitnah dan terjatuhnya kalian ke dalam pengkafiran yang menimbulkan teror. Hal ini pernah terjadi di jaman Ali dan Ibnu Abbas di mana para pemuda lari dari ulama sahabat dan lebih menyukai akal ketika mereka mencela ulama sahabat sampai Ibnu Abbas mendatangi mereka, bukan mereka yang mendatangi Ibnu Abbas, untuk meluruskan pemikiran mereka. Sebagian mereka tobat dan sebagiannya tetap dalam pendirian mereka dan diperangi Ali sampai ada yang terbunuh dan yang hidup melarikan diri ke gunung-gunung dengan hina. Kalian menghalangi manusia dari jalan Allah seperti mereka (khowarij) dengan mencela ulama ahlus sunnah. Kalian katakan bahwa ulama kami ulama haidl dan nifas yang tidak mengetahui kondisi umat. Pendahulu kalian yang meragukan keadilan Rasulullah صلى الله عليه و سلم dan berdiri sambil berkata,’Adil hai Muhammad’. Kemudian mereka mengatakan kepada teman mereka,’Janganlah kalian berdebat dengan Ibnu Abbas sesungguhnya ia termasuk kaum yang suka berdebat’. Sampai mereka memberontak dan mencela sahabat pada hari anNahron. Mereka adalah sejelek-jelek mayat yang mati di bawah langit dunia ini dan anjing-anjing neraka. Kesesatan mereka jelas bagi orang yang telah diberi cahaya ilmu oleh Allah. Ilmu agama tidak bisa dilihat dalam mimpi dan tidak diwariskan dari orang-orang dungu. Ilmu agama diperoleh dengan mempelajari. Maka bila para pemuda menerima ilmu dari ahli ilmu mereka akan mendapatkan kebaikan sedangkan menerima dari ahli bid’ah seperti mengambil ilmu dari orang yang tidak berakal yang mana menghalangi manusia dari mengambil ilmu dari orang-orang berakal(ulama) dengan mencela ulama bahwa mereka ulama kerajaan yang tidak paham permasalahan.

Adapun ucapan kalian, apakah boleh memasukkan Nasrani dari Amerika dan selainnya ke jazirah Arab sedangkan Rasulullah صلى الله عليه و سلم memerintahkan untuk mengeluarkan mereka darinya. Aku katakan, aku telah menulis masalah ini dalam sebuah risalah kecil yang akan aku nukilkan sebagiannya di sini. Terdapat tiga pembahasan yang harus dipahami dengan baik.

Apa batasan jazirah Arab dan apakah ada perbedaan antara orang-orang kafir yang memerangi dan selain mereka serta apakah boleh mengeluarkan mereka untuk kemaslahatan dalam jangka waktu terbatas yang ditentukan pemerintah/imam.

Aku katakan dengan meminta taufik Nya.

Dalam Fathul Bari Ibnu Hajar berkata,’AzZubair bin Bakkar berkata dalam kitab Akhbar alMadinah,’Aku diberi kabar dari Imam Malik dari Ibnu Syihab katanya,’Jazirah Arab adalah Madinah’. AzZubair berkata,’Ulama lain berkata, jazirah Arab antara al’udzaib sampai Hadzramaut’. azZubair berkata,’Batasan terahir lebih mendekati kebenaran karena Hadzramaut daerah paling dari Yaman’. alKhalil bin Ahmad berkata,’Dinamakan jazirah Arab dikarenakan laut Faris, laut alHabasyah, sungai efrat dan Dajlah mengelilinginya. Itulah wilayah Arab’. alAshma’i berkata,’Jazirah Arab adalah wilayah yang tidak meliputi kerajaan Faris dari Adn paling ujung sampai ujung Syam’. Abu Ubaid berkata,’Dari Adn paling ujung sampai tanah Irak secara vertikal dan dari Jeddah dan sekitarnya dari pantainya sampai ujung Syam secara hrisontal……alAshna’i,’Jazirah Arab antara ujung Adn, Abyan sampai tanah Irak secara vertikal dan dari Jeddah dan sekelilingnya sampai ujung Syam secara horisontal. Dinamakan Jazirah Arab karena lautan mengelilinginya yakni L Hindia, L Qulzum, L. Faris dan L. Habasyah (Etiophia). Dinamakan Arab karena jazirah ini dikuasi orang-orang Arab sebelum Islam, di sanalah negeri dan tempat tinggal mereka. Akan tetapi tempat yang dilarang ditempati musrikin adalah Hijaz secara husus yaitu Mekkah, Madinah, alYamamah dan yang mengelilinginya. Bukan daerah lain yang dinamakan dengan Jazirah Arab disebabkan ulama sepakat tidak menolak Yaman dimasukkan ke dalamnya padahal Yaman tergolong jazirah Arab. Inilah pendapat jumhur (mayoritas ulama). Dari pengikut Abu Hanafiah memperbolehkan orang-orang kafir masuk ke seluruh jazirah Arab kecuali Masjidil Haram. Menurut Malik mereka boleh masuk ke tanah haram(mekkah) untuk berdagang. Menurut Syafii mereka tidak boleh masuk ke tanah haram kecuali dengan ijin Imam untuk kemaslahatan muslimin secara husus.

Aku katakan, Rasulullah صلى الله عليه و سلم tidak membedakan antara musrik yang menyerang dan yang tidak menyeran semuanya disuruh keluar dari jazirah itu. Apakah bagi pemerintah boleh mengijinkan mereka dalam jangka waktu tertentu demi kemaslahatan yang dapat diambil dari mereka ? Tidak mengapa sebagaimana pendapat Syafii.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan dari Ibnu bahwa Umar bin alKhathab mengusir orang-orang Yahudi dan Nasrani dari negeri Hijas(Makkah dan Madinah). Sebelumnya ketika Rasulullah صلى الله عليه و سلم merasakan kemenangan muslimin atas negeri Khaibar ingin mengeluarkan Yahudi dari sana. Kemudian orang-orang Yahudi meminta belau agar mengijinjkan mereka tetap tinggal dan membiarkan mereka beraktivitas serta mendapatkan seperoh dari hasil panen. Rasulullah صلى الله عليه و سلم berkata,’Kami mengijinkan kalian untuk itu sekehendak kami’. Hingga di jaman Umar mereka diusir sampa ke daerah Taima dan Ariha.’ Hadits ini menunjukkan bolehnya Imam mengijinkan kaum kafir di negerinya demi kemaslahatan umt sampai urusan selesai.

Rasulullah صلى الله عليه و سلم  dan Abu Bakar tidak mengusir mereka padahal pasukan muslimin kuat serta Umar membolehkan mereka tinggal di sana dalam hangka waktu tertentu. Umar mengijinkan mereka tinggal di Hijas karena untuk kemaslahatan seperti pertanian atau belum sampai dalil kepadanya. Akan tetapi tidak ada seorang sahabat pun yang mengingkari keputusannya. Sehingga tidak mungkin semua sahabat tidak tahu hukumnya. Atau bisa jadi lama tinggal mereka ditentukan oleh pertimbangan imam/pemimpin.

Dalam Shahih Bukhari dari Ibnu katanya,’Rasulullah صلى الله عليه و سلم memberikan daerah Khaibar kepada Yahudi agar mereka bercocok tanam dan mereka mendapatkan separoh hasil’. Ibnu Umar mengatakan kepada Nafi bahwa Rasulullah صلى الله عليه و سلم memperbolehkan menyewakan ladang-ladang pertanian Khaibar. Tetapi Rafi bin Khadij mengatakan bahwa Rasulullah صلى الله عليه و سلم melarang tanah pertanian di Khaibar disewakan. Ubaidillah menyampaikan dari Nafi,’Sampai Umar mengusir mereka dan aku tidak ada seorang sahabat yang mengingkari perbuatan Umar dan Ibnu Umar….’

Ibnu Hajar berkata,’Yang benar dan terkenal dari Imam Malik bahwa jazirah Arab adalah Makkah, Madinah, Yamamah dan Yaman. Malik, Syafii dan ulama mengambil hadits tersebut untuk menyimpulkan bahwa jazirah Arab adalah Makkah, Madinah, Yamamah dan Yaman. Mereka berkata,’Tidak boleh orang-orang kafir tinggal di jazirah ini’. Akan tetapi Syafii lebih mempersempit daerahnya yaitu Makkah, Madinah dan Yamamah dengan dasar dari kitab-kitabnya dan pendapat ulama yang semadzhab dengannya. Ulama berkata, ‘Orang-orang kafir boleh bepergian berbolak-bolik di Hijaz tetapi tidak diperbolehkan tinggal di sana lebih dari tiga hari.’ Syafii dan ulama yang sependapat dengannya berkata,’orang-orang kafir tidak boleh masuk ke negeri Makkah dan sekitarnya. Jika mereka masuk dengan sembunyi-sembunyi wajib dikeluarkan darinya bila ketahuan. Jika mati dan telah dikubur maka kuburnya dibongkar dan dikeluarkan selama mayatnya belum busuk’. Inilah pendapat jumhur ulama. Sedangkan Abu Hanifah memperboleh mereka masuk ke tanah Haram. Dalil jumhur ulama adalah FirmanNya,

{ إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَس فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِد الْحَرَام بَعْد عَامهمْ هَذَا }

’Sesungguhnya orang-orang musrik najis maka janganlah mereka mendekati masjidil haram setelah tahun ini’. Dan sabda Rasulullah صلى الله عليه و سلم ,

( وَأَجِيزُوا الْوَفْد بِنَحْوِ مَا كُنْت أُجِيزهُمْ )

’Biarkan utusan orang-orang kafir sesuai apa yang dahulu aku bolehkan’. Ulama berkata,’Perintah Rasulullah صلى الله عليه و سلم ini membolehkan utusan kafir masuk ke jazirah arab, menerima sebagai tamu dan memuliakan tamu untuk menyenangkan hati mereka dan memberi kesenangan kepada orang-orang kafir yang lain untuk masuk Islam serta membantu urusan safar mereka’. alQadhi Iyadl berkata,’Apakah utusan itu kafir atau muslim harus dihormati. Karena orang kafir diutus untuk kemaslahatan-kemaslahatan bermanfaat bagi mereka dan kita’.

Lalu, apakah perijinan Rasulullah صلى الله عليه و سلم atas tinggalnya orang-orang kafir di jazirah Arab ketika itu merupakan kehususan beliau, Abu Bakar dan Umar. Kehususan syariat haruslah dengan dalil dan tidak ada dalil yang menghususkannya. Apakah Umar dan Abu Bakar tidak mengetahui hadits yang memerintahkan pengeluaran Yahudi ? Di manakah sahabat yang lain, tidak ada yang mengingkarinya ? Disebutkan dari Zuhri dari Umar tentang masalah ini tetapi sanadnya tidak shahih. Jadi Imam boleh mengijinkan tinggal orang-orang kafir di jazirah Arab untuk kemaslahatan seperti untuk menolak musuh yang lebih kuat atau selain itu. Akan tetapi mereka tidak diperbolehkan tinggal untuk selamanya di jazirah itu karena tidak boleh berkumpul dua agama yang berbeda di jazirah ini dalam waktu selamanya dan kaum muslimin harus memberikan kesan bahwa mereka tidak akan lama tinggal di sana sesuai dengan keputusan pemimpin. Dikatakan kepada mereka,’Kami mengijinkan kamu tinggal di sini sekehendak kami kamu tidak selamanya tinggal di sini’. Yang demikian itu merupakan kalimat yang menunjukkan kemuliaan Islam dan kehinaan bagi mereka.

Penutup

Segala puji hanyalah milik Allah, aku memohon kepadaNya agar menunjuki para pemuda untuk berilmu yang bermanfaat dan beramal shalih sehingga mereka dapat berbahagia dan baik di dunia dan ahirat keselamatan dari siksa di hari kiamat. Tidak jalan bagi mereka untuk mendapatkan ilmu din kecuali dari satu jalan yang lurus yaitu jalan Muhammad صلى الله عليه و سلم  . Sufyan atsTsauri mengatakan,’Muhammad صلى الله عليه و سلم  adalah timbangan seluruh amal dan ahlak’. Aku katakan, timbangan dalam jihad ketika muslimin masihi lemah. Dalam kondisi lemah beliau damai bersama kaum kafir. Ibnu Taimiah mengatakan ketika kuat beliau menyerang Mekkah dan dalam berdakwah tidak menggunakan sarana sandiwara, alat-alat musik dan bepergian untuk menarik pemuda masuk ke dalam dakwah.

Apa-apa yang mencocoki dakwah beliau maka benar dan apa yang menyelisihinya maka batil. Bagi menginginkan kemenangan, kemuliaan dan kekokohan maka ikutilah jalan dakwah, jihad, dan seluruh amalnya dengan ihlas dan sabar. Mengikuti jalan Rasulullah صلى الله عليه و سلم menentukan kebahagiaan hidup di dunia dan ahirat dan menyelisihinya mengakibatkan kecelaakaan kehidupan dunia dan ahirat. Allah berfirman,

من عمل صالحا من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فالنحيينه حياة طيبة ولنجزينهم أجرهم بأحسن ماكانوا يعملون

’Barangsiapa beramal shalih dengan ihlas dari laki dan perempuan dalam keadaan beriman maka Kami akan memberikan kehidupan yang baik dan ganjaran yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan’. Tidak ada jalan untuk mengetahui jalan Rasulullah صلى الله عليه و سلم kecuali dengan mengambil ilmu dari ulama ahlus sunnah sebagaimana kata Rasulullah صلى الله عليه و سلم bahwa barakah datang dari ulama dengan ijin Allah dan tidak mengghibahi mereka. Karena mengghibahi ulama dapat memutus jalan orang belajar kepada mereka. Barangsiapa yang membuat orang lari dari ulama seperti Usamah bin Leiden dan Aiman Dhawahiri maka mereka termasuk teman syetan sebagaiman kata Ibnul Qayyim dan bin Baz yang beliau memperingatka umat akan bahaya Usamah. Dan haruslah ulama mengikat pemahamannya dengan alQur’an dan assunnah menurut pemahaman salafus shalih. Maka komit terhadap jalan salaf adalah jalan kemuliaan dan kekohan yang sekarang muslimin belum menemukannya. Allahul musta’an.

Entry filed under: Manhaj. Tags: , , .

Bunga Rampai Nasihat dari Kekasih Tercinta Dialog Dengan Teroris Sebelum Menteror (Bag.2)


Insya Allah,segera terbit..!

Arsip

Blog Stats

  • 31,051 klik
Yang sedang online:
counter
Jumlah pengunjung:
wordpress hit counter sejak Maret 2009
Tentang Anda:
IP Anda

%d bloggers like this: