Bunga Rampai Nasihat dari Kekasih Tercinta

June 20, 2009 at 11:10 am Leave a comment

2flowerJudul  Asli  : Nasha’ih wa Taujihat Muhimmah Lin Nisa’

Penyusun : Abu Humaid AlFallasi

Penerbit Maktabah Sahab, 2003.

Judul Terjemah : Bunga Rampai Nasihat Dari Kekasih  Tercinta

Penerjemah : Ahmad bin Muslim

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله ، والصلاة والسلام على نبيه ومصطفاه ، أما بعد :

Segala pujian hanyalah milik Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan pilihan Nya. Amma ba’du:

Ukhti (Saudaraku ) muslimah,

Dalam menjalani kehidupan dan liku-likunya, manusia memiliki banyak cita-cita, tujuan dan tempat kembali yang berbeda-beda. Di antara manusia ada yang menginginkan harta, sehingga engkau melihatnya menghabiskan seluruh umur dan harinya untuk mengumpulkan harta dan tidak memperdulikan apakah harta yang halal atau yang haram. Di antara manusia ada cita-cita kehihidupannya hanya ingin bermain-main, senda gurau, rekreasi dan tour untuk memperoleh kesenangan di mana saja ia temukan. Dan di antara wanita ada yang bercita-cita membuang dan menghabiskan waktu-waktunya untuk perkara-perkara yang dibenci Allah seperti berkongko-kongko yang diwarnai dengan ghibah, adu domba (namimah), berbohong dan memperolok teman yang lainnya. Jika engkau menasihati salah seorang di antara mereka, maka dengan enaknya ia akan menjawab,”Kami hanya menghibur diri dan refresing”. Di antara wanita ada yang bercita-cita hanya sekedar makan, minum dan melampiaskan nafsu. Mereka semuanya tidak mengerti shalat, puasa, sedekah dan haji sedikit pun. Seakan mereka mereka berkata,

( إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ ))

“Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi”.(AlMukminun :37) atau,”Segala urusan tidak lain hanya kasih sayang yang ditolak dan bumi yang ditelan!”.

Orang-orang tersebut tempat kembalinya adalah kecelakaan dan ahir dari kehidupan mereka adalah kerugian dan penyesalan. Allah ta’ala telah mengancam mereka dalam firmanNya,

( وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى، قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا، قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى )

“Dan  barangsiapa  berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari  kiamat dalam keadaan buta”.Berkatalah ia: “Ya rabku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang  kepadamu ayat-ayat  Kami, maka  kamu melupakannya, dan begitu  pada hari ini kamupun dilupakan”.(Thaha:124-126)

Allah ta’ala berfirman, ( فَأَمَّا مَن طَغَى، وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى ) “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal”.(AnNazi’at:37-39)

Adapun engkau wahai ukhti (saudariku) yang mulia, cita-citamu tinggi dan tujuan ahirmu mulia. Tujuan ahir kehidupanmu adalah ridha Allah, ibadah kepada Nya tidak menyekutukan Nya sedikitpun, selamat dari api neraka dan meraih sorga yang tinggi dan mulia. Allah ta’ala telah menjanjikanmu sorga dalam firmanNya,

( وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى، فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى )

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal”.(AnNaziat :40-41) Berangkat dari sinilah, wahai ukhti muslimah, hendaknya engkau senantiasa menelaah cara pengenalan terhadap hukum-hukum Allah ta’ala yang berhubungan husus dengan kewaniataan.

Pada halaman-halaman buku kecil ini aku akan bicarakan tentang ketentuan pakaian wanita, perhiasan dan berbicara dengan lelaki bukan mahram. Hal ini perlu diketahui karena perhiasan termasuk senjata yang paling canggih yang merusakkan wanita – bahkan seluruh umat – di jaman modern ini. Banyak wanita muslimah melanggar hukum-hukum Islam dalam masalah pakaian dan perhiasan. Pelanggaran-pelnggaran ini mempunyai banyak faktor antara lain :

1. Wanita dicipta dalam kondisi mencintai perhiasan sebagaimana kata Allah ta’ala,” ( أَوَمَن يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ )Dan apakah patut  orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran”.(AzZukhruf :18) Meskipun demikian perhiasan itu harus selaras dengan kaidah-kaidah syariat.

2. Tipisnya agama, mengikuti nafsu dan tidak merasa diawasi Allah bagi kebanyakan wanita.

3. Panjang angan-angan dan lupa bahwa kematian datang dengan tiba-tiba.

4. Mengandalakan aya-ayat dan hadits-hadits yang berisi memaafkan dan harapan ampunan serta luasnya kasih sayang Allah sebaliknya melupakan bahwa Allah Maha Keras siksa Nya.

5. Sering mendatangi tempat-tempat keraimaian tanpa ada kebutuhan yang mendesak seperti pasar-pasar atau super market dan mall-mall.

6. Membaca majalah-majalah dan rumah-rumah mode.

7. Ketidakpedulian wali-wali dan suami-suami, kita menemukan para wanita tidak mendapatkan nasihat-nasihat atau petunjuk-petunjuk dari apa yang mereka lakukan.

8. Sebagain suami bergaul dengan jelek terhadap istri dan membiarkannya.

9. Teman-teman jelek.

10. Pemberian pujian kepada orang-orang yang tidak berahlak.

Inilah hadiah yang dapat kupersembahkan untukmu. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kehidupan kita di dunia maupun di ahirat.

Fatwa-fatwa Ulama

Hijab Syar’i

Tanya : Syaikh Ibnul ‘Utsaimin ditanya,”Apakah yang disebut dengan hijab syar’i ?”

Jawab : Hijab syari adalah hijab (pakaian ) yang menutupi seorang wanita yang dilarang dinampakkan. Yang wajib, utama dan pertama kali ditutupi adalah wajahnya karena wajah adalah tempat fitnah dan kecintaan. Maka wanita wajib menutup wajahnya dari lelaki yang bukan mahram.

Pendapat yang menerangkan bahwa hijab wanita adalah menutupi kepala, pundak, leher, kaki, betis, lengan dan memperbolehkan wanita menampakkan wajah dan kedua telapak tangannya adalah pendapat yang aneh. Karena telah diketahui bersama bahwa tempat kecintaan dan fitnah adalah wajah. Bagaimana mungkin syariat tidak memperbolehkan membuka kaki wanita sementara memperbolehkan membuka wajah. Ini tidak mungkin terjadi dalam syariat yang agung dan suci saling berlawanan. Setiap orang tahu bahwa fitnah wajah lebih besar daripada fitnah melihat kaki atau betis. Dan setiap orang tahu bahwa tempat rasa cinta dan keinginan lelaki adalah wajah wanita.

Oleh karena itu jika dikatakan kepada orang yang melamar wanita bahwa wajah wanita yang akan ia lamar jelek tetapi kakinya indah tentu ia tidak akan melamarnya. Kalau dikatakan kepadanya, wajah wanita yang akan ia lamar cantik akan tetapi kedua tangannya atau telapak tangannya atau kedua kakinya atau kedua betisnya kurang indah niscaya ia akan melamarnya.

Maka wajah adalah anggiota badan yang paling utama untuk ditutup. Banyak dalil dari AlQur’an dan as Sunnah Nabi r dan ucapan sahabat serta ucapan para imam yang menunjukkan bahwa wanita wajib menutup seluruh badannya dari orang-orang yang bukan mahramnya dan menunjukkan bahwa wanita wajib menutup wajahnya dari orang-orang yang bukan mahramnya. Di sini bukan tempat pembahasannya.

2. Syaikh Shalih bin Fauzan ditanya,”Apakah hukum wanita menampakkan kedua tangannya husus di pasar, apakah memakai kaos tangan hitam lebih afdhal daripada memakai kaos tangan putih, karena ada sebagian orang berkata, tidak mengapa menampakkan kedua tangan dan memakai kaos tangan seolah mengaku orang alim, apakah pendapa anda?”

jawab : Wanita wajib menutup wajah, kedua telapak tangannya dan seluruh badannya di hadapan lelaki yang bukan mahramnya. Jika pergi ke pasar lebih ditekankan, demikian juga ia diperintahkan menjulurkan pakaiannya untuk menutup kedua tumitnya. Maka menutup kedua telapak tangan lebih utama. Karena membuka kedua telapak tangan mengundang fitnah. Apakah menutupnya dalam pakaia atau sarung tangan atau aba’ahnya (pakaian besar yang menutupi seluruh badan).

Tidak perlu memperdulikan orang yang mengingkari dan merasa aneh terhadap hijab syari ini selama kita tahu bahwa syariat memerintahkan wanita muslimah menutup badannya dari pandangan lelaki asing. Allah sendiri mengatakan kepada Nabi Nya,

( يا أيها النبي قل لأزواجك وبناتك ونساء المؤمنين يدنين عليهن من جلابيبهن ذلك أدنى أن يعرفن فلا يؤذين )

” Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya  ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(AlAhzab :59)

Allah ta’ala berfirman,

( وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن ويحفظن فروجهن ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها وليضربن بخمرهن على جيوبهن )

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang  nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya”.(AnNur:31)

Allah ta’ala berfirman ( وإذا سألتموهن متاعاً فاسألوهن من وراء حجاب )

“Apabila kamu meminta sesuatu  kepada mereka , maka mintalah dari belakang hijab”.(AlAhzab:53)

Yang dimaksudkan dengan hijab adalah penutup yang menutupi wanita apakah berupa pakaian, dinding, pintu dan yang sejenisnya yang dapat menutupi wanita dari pandangan lelaki yang bukan mahram.

3. Dalam Fatawa AlHaram halaman 288-292 Syaikh Utsaimin ditanya,”Seorang wanita tinggal bersama sadara perempuannya yang telah bersuami dan dia tidak berhijab di hadapan suami saudarinya. Jika aku kabarkan tentang hijab ia menjawab,”Suami itu adalah mahram yang ditentukan waktunya”. Maka apakah jawaban anda ?

Jawab :Wanita ini mempunyai beberapa kerancuan yaitu :

Tidak boleh suami saudara perempuannya untuk menikahinya selama saudara perempuannya belum dicerai maka wanita ini tidak boleh dinikahi suami saudara perempuannya sampai kepada waktu tertentu tidak selamanya. Akan tetapi pemahaman ini salah karena sesungguhnya wanita-wanita yang tidak boleh dinikahi sampai batas tertentu bukanlah mahram.

Mahram-mahram adalah : wanita-wanita yang dilarang dinikahi selamanya karena nasab atau karena sebab yang mubah. Nasab adalah kekerabatan dan sebab mubah adalah perkawinan dan persusuan. Mahram yang seperti ini disebutkan Allah dalam firmanNya,

( وَلاَ تَنكِحُواْ مَا نَكَحَ آبَاؤُكُم مِّنَ النِّسَاء إِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتاً وَسَاء سَبِيلاً * حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ الأَخِ وَبَنَاتُ الأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُم مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُم مِّن نِّسَآئِكُمُ اللاَّتِي دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُواْ دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ وَأَن تَجْمَعُواْ بَيْنَ الأُخْتَيْنِ إَلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللّهَ كَانَ غَفُوراً رَّحِيماً )

” Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan . Diharamkan atas kamu  ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan ; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; ibu-ibu isterimu ; anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu, maka tidak berdosa kamu mengawininya;  isteri-isteri anak kandungmu ; dan menghimpunkan  dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(AnNisa :22-23) Allah tidak mengatakan, saudara-saudara perempuan kalian. Maka mengumpulkan dua saudara perempuan dalam satu ikatan perkawinan adalah haram kecuali perbuatan yang telah lewa dahulu dan tidak mengetahui maka dimaafkan.

Kita mencoba merinci ayat di atas, (وَلاَ تَنكِحُواْ مَا نَكَحَ آبَاؤُكُم مِّنَ النِّسَاء) “Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu”.(AnNisa :22) Yakni janganlah kamu menikahi wanita-wanita yang dinikahi ayah-ayahmu meliputi wanita yang telah dicampuri atau belum.

Contohnya jika ayah telah mengadakan ikatan nikah dengan seorang wanita kemudian menceraikannya sebelum mencampurinya maka wanita itu tidak boleh dinikahi oleh anak kerena Allah berkata,” Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu”. Jika ayah telah mengadakan ikatan pernikahan dengan seorang wanita maka ia telah mengadakan ikatan yang shahih (benar) dan ikatan pernikahan yang benar disebut pernikahan. Jika ayah telah menceraikannya sebelum dicampuri maka anak lelakinya adalah mahram bagi wanita ini, boleh berdua sendiri, safar bersama dan membuka wajahnya. Adapun bagi ayah maka wanita ini bukan mahram.

FirmanNya, حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ “Diharamkan atas kamu  ibu-ibumu”. Mencakup ibu-ibu yang mempunyai anak-anak. Maka ibu haram dinikahi anak lelakinya. Nenek haram dinikahi oleh cucu lelakinya. (anak lelaki dari anak lelaki nenek dan anak lelaki dari anak perempuan nenek) Dan seterusnya sampai ke atas dari arah ibu atau bapak maka wanita itu haram dinikahi.

FirmanNya, (وَبَنَاتُكُمْ) “Dan anak-anak perempuanmu”. Yakni anak perempuan kandungnya, demikian juga anak perempuan dari anak perempuannya dan anak perempuan dari anak lelakinya. (cucu perempuan dari anak lelaki ata anak perempuan), ke bawah, maka semuanya haram dinikahinya.

FirmanNya, (وَأَخَوَاتُكُمْ) “saudara-saudaramu yang perempuan”. Maka saudara perempuan dari ibu dan bapak maka haram dinikahi.

FirmanNya, (وَعَمَّاتُكُمْ) “saudara-saudara bapakmu yang perempuan”, apakah mereka saudara sekandung ayah atau ibu demikian juga bibi ayah atau bibi ibu.

FirmanNya, (وَخَالاَتُكُمْ) ” saudara-saudara ibumu yang perempuan”, apakah sekandung ayah atau ibu, demikian juga bibi ayah dan bibi ibu. (dari pihak laki-laki)

Kaidahnya di sini adalah: setiap saudara perempuan bapak maka ia adalah bibi bagi anak keterunannya dan setiap saudara perempuan dari ibu maka ia bibi bagi anak keturunannya.

FirmanNya, (وَبَنَاتُ الأَخِ) “anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki”, maka mereka haram dinikahi atas paman mereka, demikian juga anak-anak perempuan dari saudara lelaki karena paman ayah atau ibu mereka adalah paman bagi mereka (anak-anak perempuan)

FirmanNya, (وَبَنَاتُ الأُخْتِ) “anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan”, haram dinikahi karena ia (laki-laki) adalah paman mereka, demikian juga ana-anak perempuan dari anak-anak perempuan kerena paman ibu mereka adalah paman bagi mereka (anak-anak perempuan)

FirmanNya,” (وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ)ibu-ibumu yang menyusui kamu”, jika ke atas, diharamkan persusuan seperti diharamkan nasab. FirmanNya, (أَرْضَعْنَكُمْ) “yang menyusui kamu”, sebagian ulama berpendapat bahwa walaupun sekali menyusu maka telah ditetapkan hukumnya dengan dasar keumuman ayat. Akan tetapi menurut sunnah Nabi r penyusuan dibatasi dengan lima kali isapan susu dan sebelum anak disapih. Karena isapan susu anak sebelum disapih inilah yang mempengarhui dan menumbuhkan badan anak. Kurang dari lima isapan susu dan menyusu dalam keadaan sudah besar tidak dianggap sebagai dasar penetapan hukum mahram. Mungkin sebagian orang ada yang membantah hukum yang terahir ini dengan kisah Salim bekas budak Abu Hudzaifah bahwa Abu Hudzaifah pernah mengangkat Salim sebagai anak. Hudzaifah merasa tidak enak Salim masuk rumah bercampur dengan istrinya maka ia minta fatwa kepada Nabi r. Nabi r menjawab,”Susuilah, ia nanti jadi mahrammu”. Apa jawaban ulama tentang hadits ini ? Sebagian ulama mengatakan mansukh, sebagian yang lain mengatakan kehususan dan sebagian yang mengatakan hadits ini umum dan muhkam (jelas hukumnya).

Yang benar, hadits ini muhkam dan tidak mansukh akan tetapi jika keadaannya seperti keadaan Salim bekas budak Hudzaifah. Kami tidak mengatakan mansukh karena syarat mansdukh adalah adanya pertentangan dan tidak mungkin dikompromikan serta tidak diketahui hadits mana yang terahir muncul. Kedua perkara terahir ini tidak ditemukan. Kami tidak mengatakan kehususan karena dalam syariat tidak ditemukan hukum husus bagi seseorang tertentu selamanya. Tetapi yang dihususkan adalah sifatnya. Karena makna-makna dan sifat-sifat syariat untuk keumuman manusia yakni hukum-hukum syariat berkaitan dengan makna-makna dan sifat-sifat tidak berkaitan dengan orang tertentu. Maka ketika itu tidak bisa dikatakan hukum itu husus untuk seorang yang bernama Salim dan tidak mencakup setiap orang yang bernama Salim.

Jadi kalau seseorang mengangkat anak hingga anak ini seperti anak sendiri, bergaul dengan keluarganya, dan istrinya merasa perlu menyusuinya agar anak itu bebas keluar masuk ke dalam rumah (setelah besar) – kalau hal ini ditemukan – maka kami memperbolehkannya. Akan tetapi pada jaman sekarang tidak mungkin terjadi. Karena syariat melarang mengangkat anak. . Oleh karena itu Nabi rmengatakan,”Hati-hatilah kalian masuk ke tempat wanita”. Sahabat bertanya,”Hai Rasulullah bagaimana kalau ipar ?” Rasulullah r menjawab,”Ipar itu maut”. Jika menyusui orang yang sudah dewasa berpengaruh tentu Nabi r katakan,”Ipar itu hendaknya disusui istri saudara lelakinya, misalnya, sehingga ia bebas bercampur keluar masuk masuk ke istrinya”.

FirmanNya, (وَأَخَوَاتُكُم مِّنَ الرَّضَاعَةِ)saudara perempuan sepersusuan”, saudara perempuan haram dinikahi. Saudara ini ada dua gambaran: mungkin seorang anak lelaki menyusui dari ibunya wanita atau mungkin wanita itu menyusu dari ibu lelaki itu.

Jika anak lelaki itu yang menyusu ibu wanita maka ia jadi saudara perempuannya dan jadilah saudara-saudara perempuan wanita itu yang sebelum dan sesudah kelahirannya, saudara-saudara perempuan bagi lelaki itu. Jadilah saudara-saudara perempuan wanita dari pihak ayahnya adalah saudara-saudara perempuan bagi lelaki itu. Dan wanita itu bukan saudara perempuan bagi saudara-saudara lelaki dari lelaki itu.

Jika wanita itu yang menyusu maka hukumnya berbalik. Jadilah saudara-saudara lelakimu adalah saudara-saudara lelaki bagi wanita itu apakah mereka (saudara-saudara lelaki) sebelum atau setelah kelahiranmu dari ayah dari istri ayahmu. Dan saudara-saudara perempuan itu bukan saudara-saudara perempuanmu.

FirmanNya, (وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ) “ibu-ibu isterimu”, maka ibu istrimu haram anda nikahi demikian juga ibunya (nenek) jika ke atas.

FirmanNya,” anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri”, rubaib jamak dari rabi’ah yaitu anak perempuan istri. Akan tetapi Allah menentukan dua persyaratan: yang dalam pemeliharaanmu kedua istri-istri yang telah kamu campuri. Kalau anda punya istri dan ia telah mempunyai anak perempuan dari hasil perkawinan dengan suami yang dahulu kemudian istri ini anda cerai sebelum jimak maka anak perempuannya boleh anda nikahi dan kalau anak perempuan yang dari istri yang anda nikahi dan anda telah mencampurinya tinggal bersama ayahnya yang dahulu tidak dalam pemeliharaan anda maka ia (anak perempuan) boleh anda nikahi. Akan tetapi jumhur (mayaoritas) ulama bahwa batasan,’dalam pemeliharaanmu” tidak dianggap syarat akan tetapi suatu keumuman. Sedangka batasan keumuman tidak ada maknanya. Mereka berdalil dengan firmanNya, (وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُم مِّن نِّسَآئِكُمُ اللاَّتِي دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُواْ دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ) “anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu , maka tidak berdosa kamu mengawininya”, Allah tidak mengatakan,”tidak dalam pemeliharaanmu” tetapi mengatakan, (فَإِن لَّمْ تَكُونُواْ دَخَلْتُم بِهِنَّ) “tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu”. Jadi batasan pertama,”perempuan-perempuan yang dalam pemeliharaanmu”, tidak dianggap. Akan tetapi ia hanya batasan yang bersifat keumuman. Atas dasar ini, anak perempuan istri haram dinikahi suami jika ia telah mencampuri istrinya apakah anak perempuan itu dari suami yang dahulu atau suami sekarang.

FirmanNya, (وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ) “isteri-isteri anak kandungmu”. Demikian juga tawanan-tawanan wanita. Seandainya anak lelaki menawan budak wanita maka wanita ini jadi halail dan haram dinikahi ayahnya. Kalau anak lelaki menikahi wanita maka wanita ini juga menjadi halail dan haram bagi ayah menikahinya. Akan tetapi Allah ta’ala membatasi dengan, (وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ) “isteri-isteri anak kandungmu”, anak lelaki dalam nasab dan termasuk di dalamnya anak lelaki dari anak lelakinya (cucu lelakinya). Maka dengan demikian istri seorang lelaki haram dinikahi ayah dan kakeknya.

Jadi orang-orang yang haram dinikahi ada tujuh: ibu, anak-anak perempuan, saudara-saudara perempuan, bibi-bibi, paman-paman, anak-anak perempuan dari saudara-saudara lelaki dan anak-anak perempuan dari saudara-saudara perempuan.

Demikian juga orang-orang yang haram dinikahi karena persusuan ada tujuh. Dua orang disebutkan dalam firmanNya, (وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ) “Dan ibu-ibumu yang menyusuimu” dan (وَأَخَوَاتُكُم مِّنَ الرَّضَاعَةِ) “Saudara-saudara perempuanmu sepersusuan”. Adapun anak-anak perempuan sepersusuan, paman, bibi, anak-anak perempuan dari saudara lelaki, anak-anak perempuan dari saudara perempaun, diketahui dari hadits, يحرم من الرضاع ما يحرم من النسب “Diharamkan dari sepersusuan seperti diharamkan dari nasab”.

Adapun orang-orang yang tidak boleh dinikahi karena perkawinan ada empat :

Pertama : istri ayah jika ke atas berdasarkan firmanNya, (وَلاَ تَنكِحُواْ مَا نَكَحَ آبَاؤُكُم) “Janganlah kamu mengawini wanita-wanita yang dikawini ayah-ayahmu”.

Kedua : ibu istri jika ke atas berdasarkan firmanNya, (وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ) “Dan ibu-ibu dari istri-istrimu”.

Ketiga : anak perempuan istri dengan syarat telah mencampuri istri bedasarkan firmanNya, (وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُم ..) “Dan anak-anak perempuan yang dalam pemeliharaanmu….”

Empat macam ini yang diharamkan menikahinya dan setiap wanita yang diharamkan dinikahi selamanya maka haram baginya (lelaki) menikahinya. Atas dasar ini maka kami katakan kepada saudari penanya yang berkata bahwa saudara perempuannya bercakap-cakap dan ngobrol bersama suami saudara perempuannya yang sekandung dan tidak berhijab dari pandangannya dan ia katakan bahwa antara ia dan lelaki itu adalah haram pada waktu terbatas,”Ini adalah ucapan yang salah. Pengharaman ini bukan pengharaman pada waktu terbatas. Karena menghimpun di antara dua saudara perempuan sekandung adalah haram sebagaimana kata Allah ta’ala, (وَأَن تَجْمَعُواْ بَيْنَ الأُخْتَيْنِ) “Dan mengumpulkan antara dua saudara perempuan sekandung”.

Hukum Memakai Pakaian Sempit di Hadapan Mahram

4. Tanya : Dalam Fatawa (2/825) Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ditanya,”Apakah hukum berpakaian sempit bagi wanita di hadapan mahram ? “

Jawab : Memakai pakaian sempit yang menggambarkan dan menampakkan fitnah (aurat yang mengundang birahi) hukumnya haram. Karena Nabi r berkata, صنفان من أهل النار لم أرهما بعد، رجال معهم سياط كأذناب البقر يضربون بها الناس – يعني ظلماً وعدواناً – ونساء كاسيات عاريات مائلات مميلات

“Dua golongan dari ahli neraka yang aku tidak melihatnya setelah itu: lelaki-lelaki yang selalu membawa cemeti seperti ekor-ekor sapi yang mereka memukul manusia dengannya – yakni dengan dhalim dan melampaui batas – dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang yang berjalan miring dan condong”. Kata berpakaian tapi telanjang ditafsirkan :

  • bahwa wanita-wanita itu memakai pakaian pendek tidak menutup aurat yang wajib ditutup.
  • bahwa mereka memakai pakaian transparan yang memperlihatkan kulitnya.
  • bahwa mereka memakai pakaian ketat, pakaian ini menutup kulit tapi mengundang fitnah (memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya yang seksi sehingga mengundang nafsu birahi – pent).

Jadi bagi wanita tidak diperbolehkan memakai pakaian ketat kecuali diperuntukkan kepada orang yang boleh melihatnya yaitu suaminya. Karena tidak ada aurat antara suami dan istri sebagaimana kata Allah ta’ala, (وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ * إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ) “dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki ; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela”.(AlMukminun :5-6) Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, كنت أغتسل أنا والنبي صلى الله عليه وسلم -يعني من الجنابة- من إناء واحد تختلف أيدينا فيه “Aku pernah mandi bersama Rasulullah r – yakni mandi janabah – dalam satu ember yang tangan kami berpegangan di dalamnya”.

Maka antara suami dan istri tidak ada aurat. Adapun antara wanita dengan mahram-mahramnya maka ia wajib menutup auratnya dan tidak berpakaian ketat baik di hadapan wanita maupun mahram.

Memakai Pakaian Pendek di Hadapan Anak-anak dan Mahram

5. Dalam AlMuntaqa AlFatawa (3/170) Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah AlFauzan,”Aku punya anak empat dan aku memakai pakaian pendek di hadapan mereka …apakah hukumnya?”

Jawab :Bagi wanita tidak boleh memakai pakaian pendeka (mini) di hadapan anak-anak dan mahramnya, tidak boleh membuka aurat di hadapan mereka kecuali menurut kebiasaan tidak mengundang fitnah dan memakai pakaian pendek hanya di hadapan suaminya.

Duduk Bersama Kerabat Suaminya

6. Dalam Fatawa, Kitab Ad Dakwah (2.227) Syaikh Bin Baaz ditanya,”Apakah seorang wanita duduk bersama kerabat suaminya dengan memakai hijab sunnah ?”

Jawab : Dibolehkan baginya duduk bersama saudara-saudara suaminya yang lelaki atau anak lelaki pamannya atau yang semisal mereka jika ia berhijab syar’i yaitu dengan menutup wajah, rambut dan seluruh badannya dan disyaratkan jika tidak ada perkara yang membahayakan di dalamnya. Wanita adalah aurat dan fitnah.

Adapun dudu-duduk yang di dalamnya mengandung bahaya dan fitnah maka tidak boleh….seperti duduk bersama mereka untuk mendengar musik, alat-alat permainan dan yang semisalnya….baginya tidak boleh menyendiri dengan salah satu dari mereka atau lelaki selain mereka yang bukan mahramnya berdasarkan hadits Nabi r, لا يخلون رجل بامرأة إلا ومعها محرم “Jangan sekali-kali seorang lelaki menyendiri dengan wanita kecuali wanita itu ditamani mahram”.(Muttafaq ‘alaihi) dan sabdanya,” لا يخلون رجل بامرأة فإن الشيطان ثالثهما “Tidaklah seorang lelaki dan wanita menyepi kecuali yang ketiganya adalah setan”. (HR.Ahmad dengan sanad Shahih dari Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu) Wabillahit taufik.

Apakah Suara Wanita Aurat?

7. Dalam kitab AlMuntaqa dari Fatwa-fatwa (3/193-1940 ) AsySyaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah AlFauzan ditanya,”Apakah suara wanita aurat?”

Jawab : Ya, wanita diperintah menjauhi fitnah jika dengan mendengar suaranya menimbulkan fitnah (nafsu birahi) lelaki, maka ia menyembunyikan suaranya. Sehingga ia tidak mengeraskan suara talbiah waktu haji dan jika shalat di belakang lelaki dan imam lalai maka ia menepuk tangan. Nabi r berkata, إذا نابكم شيء في صلاتكم؛ فلتسبح الرجال، ولتصفق النساء “Jika imam kalian lupa maka yang lelaki bertasbih dan perempuan menepuk tangan”.

Maka wanita dilarang keras memerdukan dan memperbagus suara ketika sedang bicara dengan lelaki asing walau untuk suatu kebutuhan. Allah ta’ala berfirman,” (فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَّعْرُوفاً)Maka janganlah kamu (wanita ) tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya  dan ucapkanlah perkataan yang baik”.(AlAhzab :32) Imam Ibnu Katsir berkata,”Makna ayat ini bahwa wanita berbicara tidak memerdukan suara dengan lelaki asing yang bukan mahram yakni wanita tidak boleh berbicara dengan lelaki asing seperti bicara dengan suaminya.

Suara Wanita Dalam Radio dan TV

8. Dalam koran AlMuslimun (2) AsySyaikh Ibnul Utsamin ditanya,”Apakah wanita boleh bekerja menjadi penyiar radio? Dan apakah boleh bagi lelaki asing berdialog dengan wanita asing (bukan mahram) di TV atau siaran langusng?

Jawab: Sesungguhnya wanita dalam siaran radio atau TV bercampur dengan lelaki dan terkadang hanya berdua di dalam satu ruangan acara, ini jelas suatu kemunkaran dan haram. Nabi r telah mengatakan,”Jangan sekali-kali lelaki menyendiri bersama lelaki asing”. Pekerjaan itu selamanya tidak diperbolehkan bagi wanita. Telah diketahui bahwa penyiar wanita berupaya memperdengarkan suaranya semerdu dan semenarik mungkin. Yang mana ini suatu musibah besar. Maka cukuplah pemuda dan lelaki yang menggantikan wanita sebagai penyiar. Suara pemuda dan lelaki lebih keras, jelas dan kuat daripada suara wanita.

Akan tetapi suara wanita di TV tidak mengapa dan tidak mengapa wanita berbicara di TV asalkan lelaki tidak boleh menikmati merduny suara wanita itu dan asik ngobrol karenanya. Jika terjadi saling melembutkan dan merendahkan suara maka haram. Walaupun kakatakanlah tidak terjadi hal seperti ini misalnya seorang wanita tidak mengetahui apa-apa sedangkan seorang lelaki yang mengajak bicara menikmati kehalusan dan kemerduan suara wanita maka ini haram bagi keduanya meneruskan pembicaraaan mereka.

Berbicara dengan wanita secara langsung tidak mengapa (jika ia berhijab) – dan aman dari fitnah – misal wanita yang sudah dikenal yaitu istri saudara lelakinya, anak perempuan pamannya, anak perempuan bibinya dan yang sejenisnya.

Hukum Memaki Pantalon Ketat Bagi Wanita

9. Dalam AlMuntaqa alFatwa (3/177) AsySyaikh Shalih bin Fauzan ditanya,”Sekarang ini sedang ramai mode celana pantalon sempit yang diserap dari mode Barat dan ditiru wanita muslimah. Maka apakah hukumnya?”

Jawab : Wanita tidak boleh berpakaian yang menyerupai lelaki dan orang-orang kafir, tidak boleh baginya memakai pakaian sempit yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya dan menimbulkan fitnah. Pantolan banyak bahanya, maka jangan memakainya.

Tukar Cincin Emas atau Perak Bagi Lelaki dan Wanita

10. Dalam Fatawa dan Rasail (4/89-91) AsySyaikh Ibrahim Alu AsySyaikh ditanya, tentang tukar cincin yang biasa dilakukan di jaman sekarang, jika seorang lelaki ingin menikahi wanita memberikan cincin yang tertulis padanya namanya. Di pihak wanita juga memberikan cincin yang tertulis nama wanita itu padanya dan dikatakan,”Ini adalah cincin emas”. Apakah hukumnya ?”

Jawab : Alhamdulillah, pertama tradisi tukar cinicin dahulu tidak pernah ada di negeri kita (Saudi), akan tetapi tradisi yang diserap dari sebagian negeri tetangga. Maka seharusnya kita tidak usah meniru dan taklid buta terhadap semua yang mereka bawa apakah tradisi yang berharga maupun yang jelek. Diketahui bahwa tradisi tadi termasuk bagian tradisi yang jelek yang tidak kebaikan dan manfaat padanya baik bagi suami maupun istri.

Kedua, jika cincin yang dipakai lelaki dari perak, Nabi r telah memakai cincin dari perak dan memakainya untuk maslahat syariat serta ditulis padanya nama Muhammad Rasulullah. Kata Muhammad di bagian bawah dan Rasulullah di bagian atas. Dari sinilah para ulama membolehkan lelaki memakai cincin dari perak.

Ketiga : sedangkan cincin dari emas maka ia adalah hak wanita. Syariat memperbolehkan bagi wanita berhias dengan kebiasaan yang sudah mereka lakukan karena wanita itu dicipta dalam keadaan lemah yang membutuhkan bantuan untuk menambal kekurangannya dengan hiasan dan keindahan untuk suaminya, Allah ta’ala berfirman, ( أَوَمَن يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ ) ” Dan apakah patut  orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran”.(AzZukhruf :18) Maka wanita diperbolehkan berhias dengan perhiasan yang berjalan sesuai tradisinya walaupun banyak pemakiannya.

Adapun lelaki maka Nabi r dengan jelas mengharamkan emas dan melarang lelaki memakainya serta sangat keras larangannya dengan ucapan dan perbuatannya.

Salah satu contoh ucapan Nabi r yang melarang emas bagi lelaki adalah hadits Ali radhiallahu ‘anhu katanya,”Aku melihat Nabi r mengambil sutera lalu beliau jadikan di kanannya dan menjadikan emas di kirinya kemudian berkata,”Sesungguhnya dua barang ini haram bagi lelaki umatku”.(HR.Abu Dawud dan Nasai) dan perbuatannya r adalah hadits Ibnu Abbas katanya,”Rasulullah r melihat cincin emas di tangan seorang lelaki lalu mengambil dan membuangnya dan berkata,”Salah seorang dari kalian menuju bara api lalu ia lemparkan bara api itu di tangannya”. Setelah Rasulullah r pergi ada orang yang nyeletuk,”Ambil cincinmu dan manfaatkan”. Ia menjawab,”Aku tidak akan mengambil cincin yang Rasulullah r telah membuangnya”.(HR.Muslim )

Dari keterangan di atas, jelaslah hukum memakai cincin pertunangan, rinciannya pada cincin emas atau perak dan perbedaan antara cincin lelaki dan cincin wanita. Wallahu alam. Dan shalawat dan salam semoga tercurah pada Nabi kita, keluarga dan sahabatnya.

Hukum-hukum Perhiasan Wanita yang Keluar Rumah

11. Dalam Fatawa AsySyaikh Ibnul ‘Utsaimin (2/834) beliau ditanya,”Apakah hukum wanita yang memakai parfum, berhias dan keluar dari rumah menuju sekolah, apakah ia boleh berbuat demikian, perhiasan apa saja yang diharamkan untuk wanita yakni perhiasan apa yang tidak boleh dinampakkan oleh wanita?”

Jawab : keluarnya wanita dari rumah ke pasar dengan memakai parfum haram karena perbuatan ini mengundang fitnah. Jika seorang wanita mengendari mobil dan parfumnya tidak tercium kecuali oleh suaminya dan ia segera turun mobil tanpa ada lelaki lain di sekolahnya maka tidak mengapa. Seorang suami tidak boleh membiarkan istrinya atau anak perempuannya pergi bersama sopirnya saja tanpa ada mahram. Adapun jika ia akan melewati lelaki lain maka ia dilarang memakai parfum. Ada sebagian wanita di bulan Ramadhan membawa parfum dan memberikannya kepada wanita lain lalu ia keluar dari masjid dalam keadaan memakai wangi. Padahal Nabi r berkata, أيما امرأة أصابت بخوراً فلا تشهد معنا صلاة العشاء “Wanita yang memakai minyak wangi maka janganlah ia menyaksikan shalat isya bersama kami”. Akan tetapi tidak mengapa ia membawa parfum (pengharum ruangan) untuk untuk masjid.

Adapun perhiasan mubah yang biasa diperlihatkan di hadapan wanita maka halal. Jika diiringi dengan memakai baju ketat dan transparan yang mengundang fitnah maka haram hukumnya karena masuk dalam hadits, صنفان من أهل النار لم أرهما بعد ..: نساء كاسيات عاريات مائلات مميلات لا يدخلن الجنة ولا يجدن ريحها “Dua golongan manusia yang tidak aku lihat…wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, berjalan miring dan condong, mereka tidak masuk dan mencium bau sorga”.

Banyak Wanita Yang Lalai Karena Lomba-lomba di Pasar

12. Dalam AlMuntaqa Fatawa AsySyaikh Shalih bin Fauzan (3/177-178), beliau ditanya,”Adakah kalimat yang lengkap (nasihatt) yang anda ditujukan kepada wanita-wanita muslimah dan mereka yang lalai karena lomba-lomba di pasar?”

Jawab : saya nasihatkan agar mereka bertakwa kepada Allah pada dalam mengurus diri mereka sendiri, suami dan anak-anak mereka yaitu dengan menegakkan pekerjaan-pekerjaan rumah, mendidik anak-anak dan hak-hak suami, mempelajari urusan agama, menjaga kewajiban-kewajiban, memperbanyak ibadah sunnah, sedekah sekedar kemampuan, tidak keluar dari rumah kecuali ada kebutuhan dengan menutup badan dengan sempurna, tidak memakai parfum dan berhias, tidak mengendarai mobil bersama sopir berdua tanpa mahram, tidak bercampur dengan lelaki, tidak pergi ke dokter sendirian, tidak safar tanpa mahram, berobat kepada dokter-dokter wanita dan tidak berobat kepada dokter-dokter lelaki kecuali dengan dua syarat :

Tidak ditemukan dokter wanita dan terpaksa berobat.

Menjauhi sikap meniru-niru dengan lelaki dan wanita-wanita kafir dalam masalah rambut, pakaian dan perhiasan, bersegera menikah jika belum menikah, tidak tinggal sendirian tanpa suami, menghilangkan semua keinginan dunia yang sia-sia jika menemukan lelaki shalih, tidak terpengaruh oleh slogan-slogan yang dapat mengurangi harkat dan martabat wanita yang mengajak keluar dari adab-adab syariat dan melawan wali mereka  yang ingin memberikan kemaslahatan kepada mereka, birrul walidaini, silaturrahim, memuliakan tetangga dan tidak mengganggu tetangga. Wallahul muwafiq. Shalawat dan salam semga tercurah kepada Nabi kita, keluarga dan sahabatnya.

Pergi ke Salon Modern

13. Dalam Fatawa dan Rasail AlAfrah AsySyaikh Ibnul ‘Utsaimin ditanya,”

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته وبعد:

Di jaman sekarang telah merata kebanyakan wanita pergi ke alkawafirah yaitu untuk mengatur rambut dengan macam-macam mode antara lain yang dikenal oleh kebanyak remaja adalah dengan nama modeqishshah karih. Sebuah kisah yang diambil dari majalah mode dan mengeriting rambut ala Amerika. Anda tentu tahu ini adalah meniru-niru dengan wanita-wanita kafir.

Salah satu proses alkawafirah adalah meletakkan alat pencukur di wajah yang membuang rambut alis dan membuang semua bulu yang di tubuh. Kegiatan ini dapat memakan waktu beberapa jam sampai kepada berlebih-lebihan dan mubadzir. Kami mengharapkan rincian hukumnya.

Jawab : alhamdulillahirabbil alamin, aku bershalawat untuk Nabi Muhammad, keluarga dan semua sahabatnya. Amma ba’du.

Sebelum menjawab pertanyaan, hendaknya setiap muslim mengetahui bahwa musuh-musuh Islam membuat makar kepada Islam dan muslimin dari segala arah dan jaman. Orang-orang kafir telah tinggal di negeri-negeri Islam dengan kekuatan senjata. Ketika Allah mengeluarkan dari negeri-negeri Islam mereka hendak memerangi dengan merusak pemikiran dan ahlak. Allah ta’ala telah dalam kitabNya dan Rasulullah r dalam hadits-haditsnya yang memperingatkan kita agar tidak menyamai kegiatan-kegiatan husus orang-orang kafir. Allah ta’ala berfirman,”

. قال الله عزّ وجلّ: ( ولا تتبعوا أهواء قوم ضلوا من قبل وأضلوا كثيرا وضلوا عن سواء السبيل ) {سورة المائدة ،الآية :77 }، وقال الله عزّ وجلّ : {يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوي وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة وقد كفروا بما جاء كم من الحق } [سورة الممتحنة ،الآية :1] ، وقال تعالى : {يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعض ومن يتولهم منكم فإنه منهم إن الله لا يهدي القوم الظالمين } [ سورة المائدة ، الآية :51].

” Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan  dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya  dan mereka telah menyesatkan kebanyakan , dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”.(AlMaidah :77) “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka , karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku . Kamu memberitahukan secara rahasia  kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus”.(AlMumtahanah:1)  “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.(AlMaidah :51)

Aku sampaikan ayat-ayat ini bukan karena mereka mengambil Yahudi, Nashara dan musuh-musuh Islamsebagai wali dan penolong. Akan tetapi kaum muslimin meniru-niru apa yang ada pada orang-orang kafir seperti meniru-niru pakaian dan gaya mereka yang dapat mengantarkan kepada pengambilan mereka sebagai wali yang mereka cintai dan agungkan serta bicara dengan logat mereka. Oleh karena itu Nabi r memperingatkan, ( من تشبه بقوم فهو منهم ) “Barangsiapa meniru-niru suatu kaum maka ia golongannya”. Bagi lelaki yang punya akal haruslah bertakwa kepada Allah dalam mengurus wanita-wanita (istri) yang telah disifati Nabi r dengan, ( ما رأيت من ناقصات عقل ودين أذهب للب الرجل الحازم من إحداكن ) “Tidaklah aku melihat wanita yang kurang akal dan agamanya lebih menghilangkan akal seorang lelaki yang kuat daripada kamu (wanita-wanita)”. Maka setiap suami muslim haruslah mencegah itri-istri mengikuti mode dan tradisi kafir yang tujuan ahirnya adalah melalaikan kita terhadap Allah dan melupakan tujuan penciptaan kita. Kita mesti mencari keterangan semua fenomena dan fitnah mode yang menyeret kaum muslimin ke dalam malapetaka, kejelekan dan kerusakan dalam kondisi manusia hanya memuaskan nafsu perut dan kemaluan. Ada beberapa bahaya dalam merawat kecantikan dengan metode alkawafirat (penghalusan seluruh tubuh ) yaitu :

  1. Mempergunakan hiasan dan mode kafir pada rambut dan selainnya. Hal ini dihramkan karena meniru-niru dengan orang-orang kafir dan barangsiapa meniru suatu kaum maka ia bagian dari mereka, sebagaimana telah ditetapkan dalam sebuah hadits Nabi r.
  2. Aktivitas mereka menghaluskan rambut sehingga seperti bulu atau kulit bersih sama sekali dari bulu-bulu. Nabi r melaknat wanita yang menghaluskan rambut dengan mencabut. Laknat adalah pengusiran dan penjauhan dari rahmat. Aku tidak yakin lelaki dan wanita mukmin rela melakukan suatu perbuatan yang medatangkan pengusiran dan penjauhan dari rahmat Allah ta’ala.
  3. Membuang harta yang banyak tanpa ada manfaatnya sedikit pun bahkan mendatangkan madharat. Maka wanita yang merubah rambut wanita mukminah menjadi rambut wanita kafir mengambil banyak harta kita sementara kita hanya memperoleh perubahan yang sampai kepada kerusakan.
  4. Melalui mode, ideologi kafir berkembang di negeri-negeri Islam hingga seorang wanita muslimah condong kepada ahlak dan kerusakan yang lebih parah daripada itu.
  5. Sebagaimana kata si penanya bahwa alkawafirat yang dilakukan membuka aurat yang sebenarnya tidak diperlukan. Alkafirat itu melewati bagian-bagian tubuh wanita yang sangat sensitiv seperti paha dan sekitar kemaluan tanpa ada kebutuhan untuk itu. Telah diketahui Nabi r melarang wanita melihat aurat wanita lainnya kecuali jika sangat mendesak dan kegiatan ini tidak membutuhkan melihat aurat. Kemudian apa manfaatnya menjadikan wanita seolah gambar karet elastis yang tidak berambut sedikit pun. Kita tidak tahu barangkali dalam penghilangan rambut yang telah Allah tumbuhkan untuk suatu hikmah mendatangkan madharat kepada kulit walaupun dalam waktu yang lama. Kemudian kita tidak tahu, barangkali yang benar adalah ucapan orang yang berkata, membuang rambut yang di betis, paha dan perut tidak diperbolehkan karena rambut bagian tubuh ini adalah ciptaan Allah ta’ala. Sedangkan menghilangkannya berarti merubah ciptaan Allah ta’ala. Allah ta’ala telah mengabarkan bahwa merubah ciptaanNya termasuk mengikuti perintah-perintah setan. Allah dan RasulNya tidak pernah memerintahkan membuang rambut tersebut. Sebagian ahli ilmu menyatakan hukum asal melakukan hal itu haram. Dan orang-orang yang membolehkannya tidak mengatakan bahwa pembuangan dan pemeliharaannya pada batasan yang sama. Bahkan sebaiknya berhati-hati dan lebih utama tidak menghilangkan rambut tersebut. Kalau lah tidak haram karena dalil pengharamannya tidak kuat. Aku nasihatkan kepada para suami dan wanita jangan sampai tertipu dalam menghadapi perkara-perkara ini.

Aku menyarankan dan memandang keharusan memutus hubungan dari alat itu dan hendaknya wanita-wanita muslimah merasa cukup berhias dengan ala-alat dan cara yang tidak menyeret pada sikap peniruan dengan orang-orang kafir. Kecintaan yang dihasilkan di antara suami istri tidak dicapai dengan kemaksiatan-kemaksiatan tetapi dengan ketaatan dan memegangi ahlak malu.

Aku memohon kepada Allah agar menjaga kaum kita dari makar musuh-musuh kita dan mengembalikan kita kepada jalan hidup para salafus shalih. Sesungguhnya Allah Maha Baik dan Mulia. Wallhul muwaffiq.

Wanita Muslimah Meniru Pakaian Perancis

14. Dalam Fatawa dan Rasail (6/250-251) AsySyaikh Ibrahim Alu Asy Syaikh ditanya bahwa seorang suami yang istrinya memakai pakaian tidak syari dan memerintahkan anak perempuannya yang berumur tujuh tahun memakai pakaian yang sama dengan ibunya. Suami ini melarang dan mengingkari pakaian istri dan anaknya hususnya kalau dipakai di luar rumah serta ia menasihati istrinya hendaknya memakai pakaian model itu di dalam rumah. Sementara anak dan istrinya tetap nekad berpakaian seperti di luar rumah. Maka Syaikh ditanya apakah yang harus dilakukan oleh suami tadi jika keadaannya demikian?

Jawab :Ia harus memberi pelajaran istrinya sesuai dengan ketentuan syariat yaitu : menghardik, memisah dari tempat tidur dan memukul yang tidak melukai. Jika cara ini tidak memberikan mafaat maka ia adalah pemimpin dan mampu. Cari wanita lain untuk dinikahi dengan tetap menahan istri pertama dalam tanggungannya mudah-mudahan ia kembali. Jika tetap seperti itu juga maka lepaskanlah (cerailah) karena madharatnya dapat menular kepada anak-anaknya.

Adapun yang berhubungan dengan anak perempuannya maka janganlah ia mendiamkannya memakai pakaian yang tidak dibolehkan syariat. Ia harus (wajib) memberi pelajaran yang dapat membuatnya jera dan tidak mengakibatkan bahaya yang lebih besar daripada maslahat yang diharapkan.

Hukum Membeli Pakaian Istri dan Perhiasannya

15. Dalam AlMuntaqa alFatawa AsySyaikh (3/175-176) AsySyaikh Shalih bin Fauzan ditanya,”Dengan dalil Allah suka dilihat bekas kenikmatanNya terhadap hambaNya, sebagian wanita menghabiskan uang banyak untuk membeli pakaian dan perhiasan-perhiasannya, maka apakah komentar anda?”

Jawab : barangsiapa diberi rizki halal sungguh ia telah diberi kenikamatan Allah yang wajib ia syukuri yaitu dengan mensedekahkannya, untuk makan dan berpakaian tanpa berlebihan dan berbangga-bangga dengannya. Membeli perhiasan yang banyak dengan harga mahal tanpa ada kebutuhan padanya termasuk berlebihan dan mubadzir serta membuang-buang harta. Seorang muslimah harus ekonomis atau adil dalam membelanjakan uangnya dan menjauhi berhias dan berlebihan dalam mempercantik diri hususnya ketika keluar dari rumahnya.

Allah ta’ala berfirman ((وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأُولَى))

“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”.(AlAhzab:33)

Allah ta’ala berfirman ((وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا…)) إلى قوله تعالى: ((وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ))

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang  nampak dari padanya. ….Dan janganlah mereka memukulkan kakinya  agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan”.(AnNur:31)

Harta akan ditanya dari dua arah, dari mana kita peroleh dan untuk apa kita habiskan.

Bolehkah Meratakan Gigi ?

16. Dalam Fatawa Nur Alad Darb halaman 34 AsySyaikh Shalih bin Fauzan ditanya,”Apakah boleh meratakan gigi?”

Jawab :jika gigi buruk dan perlu diperbaiki maka tidak mengapa. Adapun jika tidak diperlukan maka tidak boleh.

Bahkan ada larangan meruncingkan dan merenggangkan gigi dan ada ancaman neraka karena hal ini merupakan perbuatan sia-sia dan merubah ciptaan Allah.

Jika untuk mengobati atau menghilangkan gigi buruk atau untuk keperluan seperti seorang tidak bisa makan dengan baik kecuali dengan itu maka tidak mengapa.

Hukum Menyanggul Rambut Bagi Wanita

17. Dalam koran AlMuslimun nomor 55. AsySyaikh Ibnul ‘Utsaimin ditanya,”Apakah seorang wanita boleh menyanggul rambut untuk berhias di hadapan suaminya?” Apakah hal ini masuk ke dalam larangan wanita menyambung rambut dan yang disambung rambutnya?”

Jawab: menyanggul haram dan tergolong menyambung rambut. Jika bukan menyambung maka ia menampilkan rambut yang lebih panjang daripada rambut yang sebenarnya maka hal ini menyerupai menyambung. Nabi r melaknat wanita yang menyambung dan yang minta disambung rambutnya. Akan tetapi jika wanita itu tidak punya rambut sama sekali (botak) tidak mengapa baginya memakai rambut palsu (wig) untuk menutup aibnya karena membuang aib dibolehkan. . Oleh karena itu Nabi r membolehkan bagi orang yang terpotong ujung gigi taringnya dalam salah satu peperangan untuk mengambil gigi dari emas. Maka masalah ini luas. Dengan demikian masuk padanya masalah-masalah kecantikan dan prosesnya berupa memperkecil gigi taring dan selainnya. Maka jika untuk menghilangkan aib, tidak mengapa. Misalnya gigi taringnya bengkok lalu diluruskan atau membuang gigi hitamnya, ini tidak mengapa. Adapun tidak untuk menghilangkan aib maka tidak boleh seperti mengerik alis atau mengerok seluruh rambut tubuh maka dilarang. Dan memakai sanggul walapun dengan ijin suami maka tetap haram karena tidak ada ijin da ridha pada perkara yang Allah haramkan.

Mencelup Rambut Dengan Warna Hitam dan Mencampurinya Dengan Pacar

18. Dalam Majmu’ Fatawa wa Rasail (4/119-120) AsySyaikh Ibnul ‘Utsaimin ditanya,”Bolehkah mewarnai rambut dengan warna hitam dan mencampurinya dengan pacar ?”

Jawab : mewarnai rambut dengan warna hitam murni dilarang karena Nabi r berkata, ” غيروا هذا الشيب وجنبوه السواد “.

“Ubahlah uban itu dan jauhilah warna hitam!”. Adapun jika mencampur dengan warna lain hingga menjadi seperti minyak yang tidak hitam maka tidak mengapa.

Hukum Menghimpun Rambut Di Atas Kepala

19. Dalam Fatawanya (2/830) AsySyaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin ditanya,”Apakah hukumnya mengumpulkan rambut menjadi satu di atas kepala bagi wanita ?”

jawab : jika demikian yang dilakukan maka masuk dalam larangan ataupun peringatan Nabi r yang mengatakan, ” صنفان من أهل النار لم أرهما بعد ” وذكر الحديث فيه ” ونساء كاسيات عاريات مائلات مميلات رؤوسهن كأسنمة البخت المائلة “ “Dua golongan manusia ahli neraka yang aku tidak melihatnya….wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang berjalan miring dan condong, kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk onta yang miring”. Jadi jika rambut dikumpulkan di atas kepala maka dilarang. Jika rambut disatukan di pundak maka tidak mengapa. Akan tetapi jika wanita pergi ke pasar dalam keadaan seperti ini maka ia melakukan dandanan walaupun memakai abaah (pakaian yang menutupi seluruh tubuh) karena rambutnya terlihat menonjol di balik pakaiannya sehingga hal ini tidak diperbolehkan.

Hukum Mengurangi atau Membuang Kelebihan Rambut Yang di Alis

20. Dalam Fatwanya (2/830) AsySyaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin ditanya,” Apakah hukum Mengurangi atau Membuang Kelebihan Rambut Yang di Alis?”

Jawab : jika membuangnya dengan mencabut maka inilah yang dilarang Nabi r, dilaknat pelakunya dan termasuk dosa besar. Dihususkan wanita karena pada umumnya merekalah yang melakukannya untuk mempercantik. Jika tidak dihususkan, kalau lelaki yang melakukan maka ia juga dilaknat sebagaimana wanita dilaknat – walidzubillah – Jika tidak dengan mencabut misalnya dengan mencukur atau mengerik maka sebagian ahli ilmu ada yang memandang termasuk mencbutnya. Karena hal ini termasuk merubah ciptaan Allah. Sehingga tidak ada perbedaan antara mencabut dengan mengerik atau mencukur. Pendapat ini yang lebih hati-hati. Maka bagi wanita maupun lelaki hendaknya menjauhi perbuatan ini.

Membuang Rambut Tangan dan Kaki

21. Dalam Fatwanya (4/134) AsySyaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin ditanya,”Membuang rambut tangan dan kaki bagi wanita?”

Jawab : jika rambutnya banyak maka tidak mengapa karena hal itu merupakan kejelekan. Jika normal, sebagian ahli ilmu ada yang berpendapat tidak boleh membuangnya karena membuangnya termasuk merubah ciptaan Allah ta’ala. Di antara ulama ada yang berpendapat, boleh dibuang karena dalam perkara yang didiamkan syariat. Nabi r telah berkata,”Apa yang Allah diamkan maka dimaafkan”. Yakni tidak wajib maupun haram atas kalian. Mereka berkata, rambut terbagi menjadi tiga karakter:

Pertama : haram dibuang secara nash

Kedua : diperintah membuangnya secara nash.

Ketiga : yang didiamkan.

Jadi kalau secara nash dilarang dibuang maka haram dibuang seperti rambut janggut bagi lelaki dan mencabut alis bagi wanita.

Jika secara nash diperintah membuangnya maka dibuang seperti rambut ketiak dan kumis bagi lelaki.

Dan apa yang didiamkan syariat maka dimaafkan. Karena sendainya termasuk benda yang tidak dikehendaki adanya oleh Allah niscaya Allah telah memerintahkan membuangnya dan kalau benda yang Allah kehendaki keberadaannya maka Allah perintahkan memeliharanya. Sehingga kalau perkara yang didiamkan syariat maka kembali kepada pilihan manusia. Jika mau, ia buang dan jika mau ia pelihara.

Hukum Menipisi Alis

22. Lajnah AdDaimah LilBuhuts AlIlmiah wal Ifta’ – Fatwa no. 21778 tahun 29/12/1421 H. ditanya,”Apakah hukum menipisi bulu alis ?”

Jawab : segala pujian bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang terahir, amma ba’du: Lajnah AdDaimah LilBuhuts AlIlmiah wal Ifta’ telah memperlihatkan pertanyaan seseorang kepada mufti umum yang bunyi pertanyaannya adalah,”Pada jaman ini telah populer di kalangan wanita perbuatan menipisi bulu alis, baik yang di atas ataupun yang di bawahnya, yang mirip dengan mengerik. Perbuatan ini jelas sikap latah dari barat dan dilihat dari sisi kesehatan tidak baik. Apakah hukumnya ? semoga Allah membalas anda. Perlu diketahui, wanita-wanita itu kalau dinasihati minta fatwa dari Lajnah. Kami harap anda dapat memberikan jawabannya. Mudah-mudahan jawaban ini bermanfaat dan mudah-mudahan Ia menjaga agamaNya. Sesungguhnya Ia Maha Kuasa”.

Setelah mempelajari, Lajnah menjawab,

Menipisi bulu alis seperti yang disebutkan dalam pertanyaan tidak diperbolehkan karena termasuk merubah ciptaan Allah dan mirip dengan mencabut bulu alis. Keharamannya semakin tinggi kalau dilakukan dalam rangka taklid terhadap orang-orang kafir  atau dapat membahayakan bagi badan atau rambut sebagaimana firman Allah, ( وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ) “Dan janganlah kamu melemparkan dirimu ke dalam kebinasaan dengan tanganmu sendiri”. Dan sabda Nabi r,”Tidak ada bahaya dan membahayakan”. Wabillahit taufik dan shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, keluarga dan semua sahabatnya.

Ketua umum : Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad Alu AsySyaikh

Anggota : Abdullah bin Abdurrahman AlGhadiyan, Shalih bin Fauzan AlFauzan.

Hukum Masuk ke Tempat-tempat Wanita Untuk Memberikan Pengumuman

23.Dalam Majalah AdDa’wah no. 1765/54 AsySyaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin ditanya,”Kami tinggal di suatu perumahan yang ada semacam tempat husus wanita dan dalamnya ada kolam renang bagi wanita dan pemandian uap. Apakah hukum pergi ke tempat itu dan apa kewajiban para suami terhadap istri-istri mereka. Kami telah menasihati sebagian suami dan mereka menjawab, aurat wanita dari pusar sampai lutut. Sedangkan istri kami memakai pakaian syari ketika latihan renang dan pakaian itu ternyata masih membentuk badan. Kami harap Syaikh menjawab pertanyaan ini “.

Jawab : saya nasihatkan kepada saudara-saudaraku jangan membiarkan istri-istri mereka pergi ke tempat tersebut karena Nabi r menganjurkan wanita untuk tinggal di rumahnya. Tentang kehadiran wanita di masjid Rasulullah r bersabda,”Janganlah kamu larang wanita-wanita pergi ke masjid-masjid Allah dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka”. Yang demikian itu untuk melaksanakan perintah Allah,”Dan tinggallah wanita itu di rumah mereka”. Jika wanita membiasakan pergi tempat tadi maka mereka akan melalaikan tugas agama dan tercabut rasa malunya. Jika wanita sudah tercabut rasa malunya maka jangan engkau tanyakan akibat kelek apa yang akan terjadi. Kecuali jika Allah memberikan karunia istiqomah yang dapat mengembalikan rasa malu kepada mereka.

Aku senantiasa menasihatkan saudara-saudara kita seiman untuk melarang anak perempuan, istri, wanita-wanita yang mereka tanggung dan yang sejenisnya pergi ke tempat-tempat yang seperti itu.

Aku memohon kepada Allah mudah-mudahan memberikan taufik dan penjagaan kita semuanya dari kesesatan fitnah-fitnah. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Alhamdulillahi rabbil alamin. Semoga shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Hukum Berjabat Tangan dengan Wanita Bukan Mahram yang Berkaos Tangan

24. Dalam Fatawa Kitab Abu Dawud Da’wah (1/184-185) AsySyaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya,”Apakah hukum berjabat tangan dengan wanita asing (bukan mahram) jika tangannya memakai hijab? Apakah ada perbedaan antara orang tuda dan pemuda ?

Jawab : berjabat tangan tidak boleh secara mutlak apakah wanita tua atau muda apakah lelakinya tua atau muda disebabkan adanya fitnah yang besar bagi keduanya. Nabi r telah menjelaskan,”Aku tidak pernah berjabat tangan dengan seorang wanita pun”. Aisyah radhiallahu ‘anhu berkata,”Tangan Nabi r tidak pernah menyentuh tangan seorang perempuan pun. Beliau membait wanita dengan ucapan”. Dan tidak ada perbedaan antara tangan yang ada penghalangnya atau tanpa penghalang karena dalil-dalil yang bersifat umum dan untuk mencegah terjadinya fitnah.

Wanita Nai Mobil Dengan Sopir Pribadi

25. Dalam Fatawa AsySyaikh Ibnul ‘Utsaimin (2/898) beliau ditanya,”Apakah hukumnya seorang wanita mengendarai mobil bersama seorang sopir bukan mahram untuk mengantarkannya ke kota ? Dan apakah hukum kalau wanita-wanita secara rombongan dengan satu sopir lelaki?

Jawab : Aku katakan, tidak boleh seorang lelaki menyendiri dengan seorang wanita dalam satu kendaraan kecuali disertai dengan mahram karena Nabi r berkata,”Jangan sekali-kali seorang wanita menyepi sendirian dengan seorang lelaki kecuali dengan mahramnya”. Adapaun jika ada dua atau lebih wanita bersama seorang lelaki maka tidak mengapa dengan syarat aman dari fitnah dan bukan safar. Walluhul muwafiq.

Dokter Membuka Aurat Wanita Untuk Mengobati dan Menyendiri Bersama Para Wanita

26. Dalam Fatawa wa Rasailnya (10/12-13) AsySyaikh Ibrahim Alu AsySyaikh ditanya,”Apakah hukumnya para dokter membuka aurat wanita untuk mengobati dan bercampur dengan mereka ?”

Jawab : Pertama bahwa wanita adalah aurat dan tempat rasa senang lelaki pada setiap keadaan. Oleh karena itu tidak baik bagi wanita memperlihatkan auratnya kepada lelaki asing atau diobati lelaki.

Kedua : jika tidak ditemukan dokter wanita yang diharapkan maka tidak mengapa memakai dokter lelaki untuk mengoati wanita yang mana ini mirip dengan keadaan darurat akan tetapi harus dibatasi dengan batasan yang telah dikenal syariat. Sehingga para ahli fiqih berkata, keadaan darurat ditentukan dengan kadarnya. Maka tidak halal bagi dokter lelaki melihat bagian badan atau menyentu pasien wanita tanpa ada keperluan. Wanita wajib menutup seluruh badan yang tidak diperlukan ketika berobat.

Ketiga : berkaitan dengan wanita itu sendiri. Aurat itu berbeda-beda tingkatannya. Ada aurat yang mughaladhah (berat) dan ada yang ringan. Sebagaimana penyakit yang harus diobati ada yang sangat berbahaya yang harus segera diobati dan terkadang ada penyakit yang tidak begitu parah tidak mengapa memperlambat pengobatannya sampai datang mahramnya. Wanita juga bertingkat-tingkat. Ada yang sudah tua, ada yang muda dan cantik dan ada yang di antara itu. Di antara mereka ada yang datang dengan membawa penyakit parah, ada yang datang ke Rumah Sakit tanpa memperlihatkan penyakitnya seperti orang sehat, ada yang cukup dengan minum beberapa tablet obat, masing-masing diberikan hukum yang sesuai.

Bagaiamana pun menyendiri dengan wanita asing haram secara syari walau untuk berobat dengan dasar hadits,”Tidaklah seorang lelaki yang menyendiri dengan seorang wanita kecuali yang ketiga adalah setan”. Sehingga suami atau salah satu mahramnya harus hadir menemani berobat. Jika orang yang dimaksudkan tidak ditemukan, sementara penyakit sangat parah dan haru segera diobati maka haruslah dihadiri para perawat wanita dan yang sejenis mereka untuk menghindari berduaan dengan seorang dokter.

Hukum Beberapa Lelaki Bercampur dengan Beberapa Wanita

27. Dalam Fatawa wa Rasailnya (10/135-44) AsySyaikh Ibrahim Alu AsySyaikh ditanya,”Apakah boleh beberapa lelaki bercampur dengan beberapa wanita kalau aman dari fitnah?”

Jawab : Bercampurnya beberapa wanita dengan beberapa lelaki mempunyai tiga keadaan:

Pertama :  dibolehkan yaitu beberapa wanita bercampur dengan beberapa lelaki mahram mereka.

Kedua : diharamkan, bercampurnya beberapa wanita dengan beberapa lelaki asing bukan mahram untuk tujuan jelek.

Ketiga : bercapurnya beberapa wanita dengan beberapa lelaki dalam : kelompok ilmiah, perpustakaan, rumah sakit dan selain itu, mungkin bagi penanya keadaan yang ketiga ini tidak menimbulkan fitnah bagi masing-masing individu. Untuk membuka hakikat bagian yang ketiga ini kami jawab dengan dua cara. Cara umum dan rinci.

Adapun cara umum, bahwa Allah ta’ala menjadikan lelaki punya kecondongan  kepada wanita dan kekuatan dan wanita punya kecondongan kepada lelaki bersamaan dengan kelemahannya. Jika terjadi percampuran tumbuhlah pengaruh-pengaruh yang mengantarkan kepada dihasilkannya tujuan jelek karena jiwa memerintahkan kejelekan, hawa nafsu membutakan dan menulikan dan setan memerintahkan kepada kekejian dan kemunkaran.

Cara rinci, syariah dibangun di atas tujuan-tujuan dan sarana-sarana. Sarana-sarana untuk mencapai tujuan yang diinginkan hukumnya sama dengan tujuannya. Sedangkan wanita adalah tempat menunaikan hajat lelaki. Syariat telah menutup pintu-pintu yang mengantarkan kepada keterkaitan masing-masing individu. Hal ini akan nampak jelas pada dalil-dalil yang akan kami sertakan di bawah ini

Dalil AlQur’an dan as Sunnah.  Allah ta’ala berfirman,

( وراودته التي هو في بيتها عن نفسه ، وغلقت الأبواب وقالت هيت لك قال معاذ الله إنه ربي أحسن مثواي إنه لا يفلح الظالمون )

“Dan wanita  yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya  dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.”  Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung”.(Yusuf :23)

Sisi pendalilannya, setelah adanya percampuran antara istri alAziz denga Yusuf alaihis salam, apa yang dahulu tersimpan dari wanita itu muncul lalu ia meminta Yusuf memenuhi ajakannya. Akan tetapi Allah melindungi Yusuf dengan rahmatNya yaitu ketika Allah berkata,

(( فاستجاب له ربه فصرف عنه كيدهن إنه هو السميع العليم ))

” Maka rabnya memperkenankan do’a Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(Yusuf :34)

Demikian juga kalau terjadi percampuran lelaki dengan perempuan masing-masing individu memilih pasangan yanga diinginkan. Dengan cara itu ditempuhlan sarana-sarana untuk sampai kepada tujuan-tujuan.

Dalil keuda, Allah memerintahkan lelaki dan perempuan menundukkan pandangan mereka,

(( قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم ويحفظوا فروجهم ذلك أزكى لهم إن الله خبير بما يصنعون وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن ))

” Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya”.(AnNur :30-31)

Sisi pengambilan dalilnya, Allah ta’ala memerintahkan lelaki dan perempuan menundukkan pandangan, dan perintah berhukum wajib. Kemudia Allah menerangkan bahwa menundukkan pandangan lebih mensucikan dan membersihkan jiwa. Syariat tidak memaafkan kecuali pandangan yang tidak sengaja atau tiba-tiba. AlHakim telah meriwayatkan hadits dalam Mustadraknya dari Ali radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi r berkata,”Hai Ali, janganlah kamu mengikuti satu pandangan dengan pandangan berikutnya. Sesungguhnya kamu hanya dibolehkan terhadap pandangan pertama dan dilarang pandangan yang lain”. AlHakim berkata, hadits Shahih sesuai syarat Muslim, dan Bukhari – Muslim tidak menaruhnya dalam kitab mereka. Dzahabi menyepakati penilaian AlHakim dalam kitab Talkhishnya.

Perintah menundukkan pandangan kepada mukmin dan mukminah disebabkan dalam pandangan yang diharamkan terdapat zina. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi r,”Zina dua mata adalah pandangan, zina pendengaran adalah mendengarkan, zina lisan adalah bicara, zinda tangan adalah pukulan dan kesalahan adalah zina kaki”. (HR.Bukhari dan Muslim). Seorang yang melihat wajah wanita merasakan kenikmatan memandang dan dari pandangan masuk ke dalam hatinya lalu timbul rasa cinta yang melekat di hati selanjutnya ia berusaha melalukan apa yang ia angankan dari seorang wanita yang ia pandang. Syariat melarang seseorang memandang kepada yang orang yang tidak diperkenankan memandangnya yang mana pandang-memandang ini hasil dari percampuran bebas lelaki dan perempuan. Sehingga syariat juga melarang lelaki bercampur dengan wanita-wanita karena percampuran lelaki dan wanita meruipakan jalan menuju kepada apa yang tidak terpuji akibatnya yaitu kenikmatan memandang dan usaha melakukan perbuatan yang lebih buruk daripada memandang.

Dalil ketiga : dalil-dalil yang telah disebutkan yang menerangkan bahwa wanita adalah aurat dan diwajibkan bagi mereka menutup seluruh badannya. Sesungguhnya ia membuka sedikit badannya berarti ia telah mendorong lalaki melihat kepadanya. Dari melihat terus kepada keterkaitan hati kemudian berusaha keras untuk mendapatkannya. Itulah ikhtilath.

Dalil keempat : Allah ta’ala berfirman,

(( ولا يضربن بأرجلهن ليعلم ما يخفين من زينتهن ))

“Janganlah wanita-wanita itu  memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang tersimpan dariya”. (AnNur:31)

Sisi pengambilan dalilnya, Allah ta’ala melarang wanita memukulkan kaki, walaupun pada asalnya tidak dilarang, agar tidak menjadi faktor telinga lelaki mendengar suara gemerincing yang dapat memancing syahwat lelaki muncul. Demikia juga percampuran dilarang karena menjadi kepada kerusakan.

Dalil kelima : firmanNya,” Allah mengetahui  mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati dan dada”.(Ghafir: 19) Ibnu Abbas menafsirkannya, seorang lelaki masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat seorang wanita cantik yang melewatinya. Katika manusia lalai ia meliriknya. Ketika manusia waspada ia menundukkan pandangan. Allah mengetahui isi hatinya, kalau ia melihat kemaluan wanita itu dan ia mampu maka ia akan menzinainya.

Sisi pengambilan dalil, Allah ta’ala mensifati mata yang mencuri pandang kepada yang diharamkan dengan nama khainah (hianat) Bagaimana dengan percampuran bebas?

Keenam : Allah memerintahkan wanita tinggal di rumah, Ia berfirman,

(( وقرن في بيوتكن ولا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى ))

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu  dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”.(AlAhzab :33)

Sisi pendalilan, Allah memerintahkan istri-istri Nabi r yang suci dan baik untuk tetap tinggal di rumah dan perintah ini ditujukan kepada semua wanita muslimah. Dalam ilmu usul disebutkan bahwa pembicaraan Allah bersifat umum kecuali kalau ada dalil yang menghusukannya. Ayat tadi tidak ada dalil yang menghususkannya. Jika mereka diperintahkan tinggal dalam rumah kecuali ada kepentingan darurat, lalu bagaimana dengan bercampur dengan lelaki asing ? Yang mana pada jaman sekarang ini banyak wanita jalang, jilbab telah terlepas, berhias, bepergian bersama lelali asing dan berpakaian telanjang di sisi lelaki lain.

Adapun dalil-dalil dari as Sunnah adalah

Pertama : Riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya dengan sanadnya dari Ummu Humaid istri Abi Humaid AsSaidi radhiallahu ‘anhuma bahwa istrinya mendatangi Rasulullah r lalu berkata,

فقالت : يا رسول الله : إني أحب الصلاة معك ، قال : قد علمت أنك تحبين الصلاة معي ، وصلاتك في بيتك خير من صلاتك في حجرتك ، وصلاتك في حجرتك خير من صلاتك في دارك ، وصلاتك في دارك خير من صلاتك في مسجد قومك ، وصلاتك في مسجد قومك خير من صلاتك في مسجدي

“Hai Rasulullah aku senang shalat bersamamu”. Rasulullah r menjawab,”Aku tahu engkau suka shalat bersamaku, sedangkan shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di kamarmu, shalatmu di kamarmu lebih baik daripada shalatmu di ruang tamumu, shalatmu di ruang tamumu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalat di masjidku”. Lalu ia dibangunkan sebuah masjid di belakang rumahnya, dibuat gelap dan ia shalat di dalamnya hingga mati.

Dari Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya dari Abdillah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dari Nabi r katanya,

إن أحب صلاة المرأة إلى الله في أشد مكان من بيتها ظلمة

“Sesungguhnya shalat wanita yang paling Allah cintai adalah di tempat paling gelap dalam rumahnya”.

Dari kedua hadits ini diketahui bahwa shalat wanita di rumahnya lebih baik daripada di masjid.

Sisi pendalilannya, shalat wanita di rumahnya lebih afdhal daripada shalat di masjid bersama Rasulullah r maka larangang bercampur dengan lelaki lebih keras.

Kedua : riwayat Muslim dan Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu katanya, Rasulullah r berkata,

خير صفوف الرجال أولها ، وشرها آخرها ، وخير صفوف النساء آخرها ، وشرها أولها

“Sebaik-baik shaf lelaki adalah paling depan dan sejelek-jelek shaf lelaki adalah paling belakang dan sebaik-baik shaf wanita di belakang dan sejelek-jelek shaf wanita adalah paling depan”. Tirmidzi berkata, hadits hasan Shahih.

Sisi pendalilannya, shaf wanita yang paling belakang paling baik karena jauhnya dari shaf lelaki, percampuran dengan mereka, keterkaitan hati dengan lelaki ketika melihat gerakan dan ucapan lelaki. Tercelanya shaf wanita yang paling depan disebabkan berbanding terbalik dengan keadaan pertama. Rasulullah r mensifati jelek shaf lelaki paling belakang, jika di masjid ada beberap wanita, karena ia jauh dari imam, tidak maju, kedekatan dengan wanita yang menyibukkan pikiran dan terkadang merusak shalat, mengotori niat dan kehusyuan. Jika syariat menyatakan demikian di tempat ibadah padahal tidak ada percampuran maka terjadinya kejelekan dalam percampuran lebih mungkin sehingga percampuran lelaki dan perempuan lebih ditekankan.

Ketiga : riwayat Muslim dalam Shahihnya dari Zainab istri Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu katanya, Rasulullah r berkata kepada kami,

إذا شهدت إحداكن المسجد فلا تمس طيباً

“Jika salah seorang dari kamu mendatangi masjid maka jangan memakai minyak wangi”.

Riwayat Abu Dawud dalam Sunannya, Ahmad dan Syafii dalam musnad keduanya dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah r berkata,

لا تمنعوا إماء الله مساجد الله ولكن ليخرجن وهن تفلات

“Janganlah kamu melarang wanita pergi ke masjid-masjid Allah akan tetapi mereka keluar tanpa minyak wangi”.

Ibnu Daqiqil Id berkata,”Terdapat larangan berwangi-wangi bagi wanita yang keluar ke masjid karena dapat memancing syahwat dan kejantanan lelaki dan terkadang memancing syahwat wanita juga. Digabungkan dengan parfum adalah pakaian dan perhiasan yang nampak pengaruh dan penampilan kebanggaannya”. Ibnu Hajar berkata,”Demikian terdapat larangan bercampur dengan lelaki”. AlKhaththabi berkata,”AtTafl adalah bau tidak enak. Dikatakan wanita tiflatan yaitu tidak memakai parfum. Jamaknya tafilat”.

Keempat : Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu meriwayatkan hadits dari Nabi r bahwa Rasulullah r bersabda,

” ما تركت بعدي فتنة هي أضر على الرجال من النساء “

“Tidak ada yang aku tinggalkan setelahku satu fitnah yang lebih bahaya menimpa lelaki daripada fitnha wanita”.

Sisi pendalilannya, Rasulullah r mensifati wanita dengan fitnah, lalu bagaimana berkumpul antara yang menfitnah dan yang difitnah? Tidak boleh.

Kelima : dari Abi Sa’id AlKhudri radhiallahu ‘anhu dari Nabi r katanya,

” إن الدنيا خلوة خضرة ، وإن الله مستخلفكم فيها فناظرة كيف تعملون ، فاتقوا الدنيا واتقوا النساء ، فإن أول فتنة بني إسرائيل في النساء ” رواه مسلم .

“Dunia adalah hijau manis, sesungguhnya Allah memberimu kekuasaan di dunia lalu Dia melihat bagaimana kamu beramal. Maka takutlah kepada dunia dan kepada wanita. Sesungguhnya awal fitnah bani Israil karen wanita”.(Muslim)

Sisi pendalilan, bahwa Nabi r memerintahkan kaum muslimin takut kepada fitnah wanita, yang artinya kita wajib takut. Lalu bagaimana bisa melakukan kewajiban dengan bercampur laki-laki dan perempuan?

Keenam : diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya dan Bukhari dalam AlKuna dari Hamzah bin AsSayyid AlAnshari dari ayahnya radhiallahu ‘anhuma, bahwa ia mendengar Nabi r berkata sambil keluar dari masjid lalu lelaki bercampur bersama wanita di jalan, maka Nabi r berkata kepada para wanita,

” استأخرن فإنه ليس لكن أن تحققن الطريق ، عليكن بحافات الطريق “

“Ahirkan jalanmu, jangan berjalan di tengah, berjalanlah di pinggir !”. Sehingga ada salah seorang sahabiah berjalan sambil menempel dinding sampai bajunya tercantol. (Lafadz Abu Dawud ) Dalam AnNihayahnya Ibnu Atsir berkata, makna yuhaqqiqut thariq adalah para wanita berjalan di tengah jalan”.

Sisi pendalilan, Rasulullah r melarang wanita bercampur dengan lelaki di jalan karena dapat menyebabkan fitnah. Lalu bagaimana boleh bercampur lelaki dan perempuan?

Ketujuh : riwayat Abu Dawud dan selainnya dari Nafi’ dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi r ketika membangun masjid membuat satu pintu husus untuk wanita dan berkata, لا يلج من هذا الباب من الرجال أحد “Lelaki tidak boleh masuk lewat pintu ini !”. Dalam AtTarikh AlKabir Bukhari meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dari Umar radhiallahu ‘anhu dari Nabi r, لا تدخلوا المسجد من باب النساء “Janganlah kamu masuk masjid dari pintu wanita”.

Sisi pendalilannya, Rasulullah r melarang percampuran lelaki dan perempuan di pintu-pintu masjid baik ketika keluar maupun masuk dan melarang pertemuan mereka untuk mencegah bahaya-bahaya. Maka larangan bercampur laki-laki perempuan di tempat lainnya lebih utama.

Kedelapan :

الثامن: روى البخاري في صحيحه ، عن أم سلمة رضي الله عنها ، قالت : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سلم من صلاته قام النساء حين يقضي تسليمه ومكث النبي صلى الله عليه وسلم في مكانه يسيراً ، وفي رواية ثانية له ، كان يسلم فتنصرف النساء فيدخلن بيوتهن من قبل أن ينصرف رسول الله صلى الله عليه وسلم . وفي رواية ثالثة : كن إذا سلمن من المكتوبة قمن وثبت رسول الله صلى الله عليه وسلم ومن صلى من الرجال ما شاء الله . فإذا قام رسول الله صلى الله عليه وسلم قام الرجال ” .

Bukhari dalam Shahihnya dari Ummu Salamah katanya,”Adalah Rasulullah r jika salam dari shalatnya, wanita berdiri untuk pulang sebelum Rasulullah r berpaling dan beliau r duduk sebentar di tempatnya”. Dalam riwayat kedua dari Bukhari disebutkan,”Rasulullah r salam lalu para wanita pulang dan mereka masuk rumah masing-masing sebelum Rasulullah r berpaling”. Dalam riwayat ketiga dari Bukhari disebutkan,”Jika para wanita telah salam dari shalat wajib, mereka berdiri dan Rasulullah r dan sahabatnya tetap tinggal di tempatnya sekendak Allah. Jika Rasulullah r berdiri, lelaki ikut berdiri”.

Sisi pendalilannya, Rasulullah r melarang percampuran dengan perbuatannya, berarti ada peringatan larangan percampuran lelaki perempuan di tempat lainnya.

Kesembilan dan kesepuluh : Thabrani dalam AlMu’jam AlKabir dari Ma’qal bin Yasar radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi r berkata,

” لأن يطعن في رأس أحدكم بمخيط من حديد خير من أن يمس امرأة لا تحل له “.

“Kepala salah seorang dari kalian dipukul dengan tongkat besi lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal”.

Dalam Majma’ AzZawaid, AlHaitsami berkata,”Periwayatnya dari periwayat kitab Shahih Bukhari”. Dalam AtTarghib dan AtTarhib, AlMundziri berkata,”Periwayatnya terpercaya”.

Thabrani meriwayatkan hadits dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu dari Nabi r,

لأن يزحم رجل خنزيراً متلطخاً بطين وحمأه خير له من أن يزحم منكبه منكب امرأة لا تحل له” .

“Seorang lelaki berdesakan dengan seekor babi yang belepotan dengan tanah lebih baik daripada pundaknya berdesakan dengan pundak wanita yang tidak halal”.

Sisi pendalilan dari dua hadits, Rasulullah r melarang lelaki dan perempuan dengan bersentuhan dan bercampur baik dengan penghalang maupun tanpa penghalang.

Bagi yang mencermati keterangan yang telah kami sampaiakn di atas, akan jelas bahwa pendapat yang mengatakan percampuran lelaki dan perempuan tidak menyebabkan fitnah (kerusakan) adalah hanya ungkapan perasaan seseorang. padahal secara hakikat percampuran itu sendiri adalah fitnah sehingga syariat melarangnya dengan tegas karena kerusakannya yang nyata.

Janganlah masuk ke dalam percampuran lelaki dan perempuan kecuali dalam keadaan sangat terpaksa dan sangat mendesak kebutuhannya serta kejadiannya hanya di tempat ibadah seperti di tanah Haram Mekkah. Kita memohon kepada Allah agar memberi hidayah muslimin, memberi taufik pemimpin mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan meninggalkan kemunkaran-kemunkaran. Sesungguhnya Allah Maha mendengar dan menjawab doa. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Masuk Pasar Bercampur Lelaki dan Perempuan

28. Dalam AlFatawa, Kitab AdDa’wah AsySyaikh Abdul Aziz bin Baz (2/227-228) ditanya,”Apakah boleh bagi seorang muslim masuk pasar sementara ia bahwa di pasar banyak wanita yang tidak berpakaian syari dan ada percampuran lelaki dan perempuan yang tidak Allah ridhai ?

Jawab : tidak boleh masuk kecuali kalau ia akan amar ma’ruf dan nahi munkar atau untuk suatu keperluan yang sangat mendesak dengan menundukkan pandangan, waspada terhadap faktor-faktor timbulnya fitnah dalam rangka menyelamatkan kehormatan, agama dan menjauhi dari faktor-faktro kejelekan. Bagi penguasa dan orang yang mampu hendaknya masuk ke dalam pasar semacam ini untuk mengingkari kemungkaran dalam rangka mengamalkan firman Allah ta’ala,”

(( والمؤمنون والمؤمنات بعضهم أولياء بعض يأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر ..)) الآية [التوبة:71]

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka   menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh  yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(AtTaubah :71)

(( ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون )) [آل عمران: 104]

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung”.(Ali Imran :104)

Rasulullah r bersabda,

إن الناس إذا رأوا المنكر فلم يغيروه أوشك أن يعمهم الله بعقابه “

“Sesungguhnya manusia jika melihat kemungkaran lalu tidak merubahnya dihawatirkan Allah segera meluaskan siksaanNya”. (HR.Imam Ahmad dan sebagian Ahli Sunan dari Abu Bakar AshShiddiq radhiallahu ‘anhu dengan sanad Shahih”.

Rasulullah r bersabda,

من رأى منكم منكراً فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

“Barangsiapa melihat kemunkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya. Yang demikian itu selemah-lemah iman”.(HR.Muslim dalam Shahihnya) Wallhul muwafiq.

Surat Menyurat Antara Pemuda dan Pemudi

19. Dalam Fatawa AsySyaikh Ibnul ‘Utsaimin (2/898) beliau ditanya,”Apakah hukumnya surat menyurat antara pemuda dan pemudi yang di dalamnya tidak mengandung kefasikan, asyik masyuk dan pacaran. Dan aku selalu menulis ayat,

(( وجعلناكم شعوباً وقبائل لتعارفوا )) “Dan Kami jadikan kamu bersuku-suku dan berkabilah-kabilah agar saling mengeanal”.(AlHujurat: 13)

Jawab: Lelali manapun tidak diperbolehkan saling menyurati dengan wanita yang bukan mahram karena di dalamnya mengandung fitnah. Terkadang kedua belah pihak menyangka tidak akan terjadi fitnah. Akan tetapi setan senantiasa hingga menyesatkan keduanya.

Rasulullah r sendiri memerintahkan orang yang mendengar Dajjal agar menjauhinya dan mengabarkan bahwa seorang lelaki yang beriman kemudian didatangi Dajjal ia terfitnah olehnya.

Maka dalam surat menyurat antara pemuda dan pemudi yang bukan mahram terdapat fitnah dan bahaya yang besar sehingga wajiba dijauhi walaupun katanya,”Tidak ada unsur asyik, masyuk dan pacaran”.

Adapun surat menyurat antara sesama jenis maka tidak ada masalah yang membahayakan kecuali ditemukan perkara yang berbaya.

Mengambil Pembantu Wanita Kafir

30. Dalam AlMuntaqa dari Fatawa AsySyaikh (3/165), AsySyaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah AlFauzan ditanya,”Apakah boleh mengambil pembantu wanita kafir untuk dipekerjakan dan diajar agama Islam?”

Jawab : Tidak boleh mengambil pembantu wanita dari luar kecuali dengan beberapa syarat :

Pertama : muslimah

Kedua : disertai mahram yang menjaganya.

Ketiga : tidak terjadi khalwat (berduaan) antara tuan rumah lelaki dengan pembantu wanitanya atau antara pembantu itu dengan anak lelaki, saudara lelaki atau seluruh lelaki yang tinggal di rumahnya. Disebabkan khalwat dengan mereka mengandung bahaya terhadap agama dan kehormatan serta aqidah keluarga.

Wallahu A’lam. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

31. Dalam kitabnya, Asilah alUsrah AlMuslimah, AsySyaikh Muhammad bin Shalih AlUtsaimin ditanya,”Apa pendapat anda, dalam sebua acara walimah sebagian wanita membagi-bagikan kaset dan buku-buku kecil yang berisi nasihat-nasihat?”

Jawab : hukum asal tidak disyariatkan, akan tetapi kalau dilihat dari sisi lain terpuji karena pada kondisi lain mungkin tidak akan bisa terkumpul wanita-wanita. Maka membagi-bagi kaset dan buku-buku kecil baik dan termasuk sarana dakwah. Tetapi harus disyaratkan isi kaset dan bukunya bersumber dari ulama yang terpercaya dan baik agamanya.

32. Dalam kitabnya, Asilah alUsrah AlMuslimah, AsySyaikh Muhammad bin Shalih AlUtsaimin ditanya,”Apakah pendapat anda memberikan nasiha-nasihat pada waktu-waktu walimah ?”

Jawab : hal ini tidak ada tuntunannya dalam syariat. Akan tetapi kalau ada seorang alim diminta memberikan nasihat pada waktu ini dan ia tidak keberatan maka tidak mengapa.

33. Dalam kitabnya, Asilah alUsrah AlMuslimah, AsySyaikh Muhammad bin Shalih AlUtsaimin ditanya,”Apakah batasan aurat wanita dengan wanita ?”

Jawab : aurat wanita terhadap wanita lain tidak berbeda dengan perbedaan agama. Aurat muslimah seperti auratnya terhadap wanita kafir, aurat muslimah seperti auratnya terhadap wanita pendosa. Kecuali bila ada perkara yang mengharuskan lebih banyak ditutup auratnya. Perlu diketahui bahwa aurat bukan analogi pakaian. Pakaian wajib menutupi, aurat wanita terhadap wanita lain adalah antara pusar sampai lutut. Jadi aurat beda dengan pakaian. Seandainya ada wanita muslimah memakai baju yang lengkap, dan karena ada suatu keperluan di hadapan wanita lain nampak dada dan payudaranya maka tidak mengapa. Adapun jika ia sengaja memakai pakaian pendek antara pusar dan lutut di hadapan wanita lain dengan hujjah bahwa aurat wanita dengan wanita adalah antara lutut dan pusar maka tidak boleh, tidak seorang ulama pun yang berpendapat demikian.

34. Dalam kitabnya, Asilah alUsrah AlMuslimah, AsySyaikh Muhammad bin Shalih AlUtsaimn ditanya,”Apakah hukum memendekkan rambut perempuan sampai sepundak?”

Jawab : para ahli ilmu dari kalangan Hambali tidak menyukai wanita memendekkan rambut kecuali dalam dalam haji dan umrah.

Sebagian ahli ilmu melarangnya dan berpendapat haram. Sebagian lainnya membolehkan dengan syarat tidak menyurapai dengan wanita kafir dan lelaki. Karena wanita yang menyurapai lelaki menerima dosa besar. Nabi r bersabda,”Perempuan-perempuan yang menyerupai lelaki dilaknat dan lelaki yang menyerupai perempuan dilaknat”. Rasulullah r bersabda,”Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari golongannya”.

Maka sebaiknya wanita tidak perlu memotong rambut apakah dari depan maupun dari belakang. Karena kami tidak suka wanita-wanita muslimah selalu mengikuti setiap mode-mode baru yang tidak bermanfaat. Hal ini dapat mengakibatkan perkara yang tidak terpuji. Terkadang menjerumuskan ke dalam perhiasan yang dilakukan wanita luar dan terkadang menyebabkan pada perbuatan membukan wajah wanita. Sedangkan membuka wajah haram hukumnya.

35. Dalam kitabnya, Asilah alUsrah AlMuslimah, AsySyaikh Muhammad bin Shalih AlUtsaimin, ditanya,”Jika ada sebuah berhalaman yang cukup untuk bermain-main anak-anak, apakah hadits yang menganjurkan mendekap anak ketika maghrib bisa diterapkan dalam kondisi ini ataukah hadits itu hanya mengenai anak yang di luar rumah?’

Jawab : hadits itu memerintahkan mendekap anak yang di luar rumah atau di jalan ketika datang waktu maghrib. Adapun jika di dalam rumah maka tidak mengapa mereka dibiarkan.

Wasiat Syihab AzZuhri,

“Barangsiapa mengambil ilmu dengan banyak sekaligus maka ilmu itu akan pergi darinya dengan sekaligus. Sesungguhnya ilmu dicari secara bertahap, hari demi hari dan malam demi malam”.

Imam Bukhari berkata,”Bab Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat”.

Dalilnya adalah firman Allah,

فاعلم أنه لا إله إلا الله واستغفر لذنبك

“Ketahuilah, Sesungguhnya tiada sesembahan yang hak selain Allah maka mintalah ampunan terhadap dosa-dosamu”.

Dari saudaramu

Abu Humaid Abdullah bin Humaid AlFalasi

Nasihat-nasihat Menyongsong Pernikahan

Mukaddimah

Allah ta’ala telah mensyariatkan nikah dan menjadikannya sebagai kenikmatan yang diberikan kepada anak Adam. Hal ini merupakan salah bentuk pemuliaan dan karuniaNya, sebagaimana Ia katakan dalam firmanNya,

{وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجاً وَذُرِّيَّة}

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan”.(ArRa’du :38)

Islam juga mendorong dan menganjurkan manusia menikah dalam apa yang dinamakan dengan salah satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah berfirman,

{وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآياتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ}

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu  isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa  tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.  Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.(ArRum :21)

Yang perlu diperhatikan dalam menongsong pernikahan yang segera diarungi oleh seorang wanita muslimah adalah

1.Memilih calon suami yang shalih. Islam menganjurkan wanita-wanita memilih calon suami yang shalih dan berahlak baik serta menjaga kehormatan diri. Allah berfirman,” { إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ}

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(AlHujurat :13)

{وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ}

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian  diantara kamu, dan orang-orang yang layak  dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas  lagi Maha Mengetahui”.(AnNur:32)1

Janganlah kamu tertipu oleh harta, kehormatan atau selain itu. Yang pertama kali kamu lakukan adalah bersungguh-sungguh memilih calon suami yang istiqomah agamanya dan baik ahlaknya. Nabi r bersabda,

“إذا أتاكم من ترضون خلقه ودينه فزوجوه، إلاّ تفعلوا تكن فتنة في الأرض وفساد كبير” [الترمذي]

“Jika datang kepadamu lelaki yang kamu ridhai ahlak dan agamanya maka nikahkanlah ia jika tidak kamu lakukan maka akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar”.

2. Jangan menikah dengan lelaki pezina. Allah ta’ala telah memperingatkan akan hal ini dalam firmanNya,

{الزَّانِي لا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ}

” Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mu’min”.(AnNur :3) Imam Ibnu Katsir berkata,”Yakni diharamkan melakukan zina dan berhias dengan perhiasan pelacur atau wanita-wanita baik menikah dengan lelaki jelek”.

3. Memilih seorang calon suami yang semangat mencari ilmu dan menelaah kitab – aku harap engkau juga demikian – untuk mempermudah pemahaman agama, menjaga hubungan di antara kalian, adanya saling menolong dalam kebaikan dan takwa dan amar ma’ruf dan nahi munkar. 2 Kamu punya tauladan dari ummahatul mukminin dan wanita salaf yang shalih.

4. Hati-hatilah menikah dengan lelaki yang tidak halal apakah karena nasab, persusuan dan selain itu. Maka pilihlah dengan teliti sebelum terlanjur.

Marhalah Khitbah (Melamar)

  1. Persiapkan dan tata dengan rapi tempat yang engkau sukai sebagai tempat pertemuan dengan lelaki yang akan melamarmu.
  2. Persiapkan mental, jangan menghapa calon dengan pikiran yang tidak konsentrasi atau dalam kondisi sakit dan jauhi pertemuan pada waktu-waktu haidl.
  3. Disunnahkan engkau melihat lelaki yang melamar pada waktu pertemuan dengannya, dengan tetap menjaga ketentuan-ketentuan syariat. Hindari duduk berduaan atau berjabat tangan dan tetaplah mengenakan pakaian syar’i.
  4. Sebagian keluarga mungkin merayakan hari pelamaran dengan bercampur lelaki dan perempuan, lalu si pelamar masuk ke tempat wanitanya dalam keadaan berhias – walau dengan menutup rambutnya – untuk duduk di sampingnya atau mengadakan suatu ikatan atau surat….maka ini tidak diperbolehkan secara syari. Maka jagalah diri dan janganlah menggampangkan masalah ini.
  5. Jangan sering keluar setelah pertemuan pertama atau banyak bicara dengan pelamar – walau di telephon – sebelum adanya ikatan nikah. Karena dihawatirkan menyebabkan kebosanan atau kemaksiatan di balik telephon…. jangan lupa bahwa perkara yang menyebabkan Allah mencintai dan memuliakan seseorang wanita adalah rasa malu yang melebihi lelaki. Sehingga Rasulullah r yang mempunyai rasa malu yang tinggi diistilahkan dengan,”Lebih malu daripada gadis pingitan di tempat pingitannya”. Rasa malu menjadi rusak manakala kamu masuk dalam perkara tanpa pengetahun. Maka sadarlah !
  6. Sebaiknya memerikasakan diri ke dokter sebelum menikah untuk menjaga kemungkinan yang tidak diinginkan.

Hak-hak Wanita Sebelum Menikah

  1. Walimu harus minta ijin padamu dan kamu punya hak untuk menerima atau menolak lamaran. Nabi r berkata,”Tidaklah janda dinikahkan hingga diminta konsultasinya dan tidaklah perawan dinikahkan hingga diminta ijin kepadanya”. Sahabat bertanya,”Hai Rasulullah bagaimana persetujuannya?” Rasulullah r menjawab,”Diamnya”. Maka wali. Akan tetapi hati-hatilah dari penyerahan kepada perasaan-perasaan yang tidak baik dalam menerima atau menolak lamaran. Pilihlah calon suami yang shalih yang berhias dengan ahlak yang baik.
  2. Tidak ada hak bagi walimu menahanmu nikah dengan alasan melanjutkan studi atau menunggu mandapatkan ijasah. Bahkan kedua perkara itu bisa dikompromikan jika kamu suka dan mudah melakukannya. Jangan lupada bahwa tugas utamamu adalah mengurus rumah dan mentarbiah anak-anak.3
  3. Janganlah kamu mensyaratkan calon suamimu untuk menceraikan istrinya jika ia sudah beristri. Nabi r berkata,

“لا يحل لامرأة تسأل طلاق أختها، لتستفرِغ صحفتها، فإنما لها ما قُدِّر لها “[ البخاري ].

  1. “Tidak halal bagi wanita minta cerai saudara perempuannya agar ia leluasa bersama suaminya. Sesungguhnya telah ditentukan kadar baginya”.

Rukun-rukun Nikah

  1. Adanya wali. Dari Abu Musa dari Nabi r, “لا نكاح إلا بولي ” “Tidak ada nikah kecuali dengan wali”. (HR.Abu Dawud )
  2. Dua saksi. Nabi r bersabda, “لانكاح إلا بولي وشاهدي عدل” “Tidak ada nikah kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil”. (HR.Ibnu Hibban)
  3. Mahar (mas kawin) . Syariat mewajibkan mahar atas suami dan menjadikannya sebagai hadiah untuk memuliakan istri. Allah ta’ala berfirman, {وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَة} “Berikanlah maskawin  (mahar) kepada wanita  sebagai pemberian dengan penuh kerelaan”.(AnNisa :4). Akan tetapi syariat menganjurkan wanita menentukan mahar yang ringan dan mudah. Nabi r, :”خير النكاح أيسره”.. “Wanita yang terbaik adalah wanita yang paling mudah maharnya”. Maka hati-hatilah berlomba-lomba dalam menentukan mahar yang mahal.

Perayaan Nikah

Rayakanlah pernikahanmu dengan perayaan Islami yang tidak mengandung kemunkaaran. Jauhilah percampuran lelaki dan perempuan yang tidak disyariatkan walaupun dengan dalil keluarga, pengantin naik di hadapan pengunjung, saling berjanji dengan diiringi oleh artis-artis, atau alat-alat musik, menyetel kaset-kaset musik dengan salon, bergadang semala suntuk sampai fajar dan foto-foto ataupun kamera-kamera video…

Diperbolehkan merayakan nikah dengan duf (rebana) dan nyanyian-nyanyian yang mubah. Rasulullah r bersabda, “فصل ما بين الحلال والحرام، الدف والصوت” “Perbedaan antara halal dan haram adalah duf dan suara”. (HR. Ashabus Sunan)

Jauhilah dari tradisi-tradisi dan taklid-taklid munkar seperti cincin yang diletakkan di jari manis kiri sepasang pengantin, ini adalah tradisi Nashara dan jauhilah membeli pakaian mahal (mewah) di malam pengantin atau meniru pakaian perempuan kafir.

Bacalah buku-buku khidupan suami istri islami agar hidup berama suamimu di atas ilmu.

Janganlah perhatikan orang menakutimu dalam menginjak malam pengantin baru.

Jauhilah memabaca majalah-majalah atau buku-buku sex yang jauh dari tuntunan Nabi r.

Tanyakanlah kesulitan-kesulitan kepada orang yang engkau anggap amanah agar kamu dapat bergaul dan melayani suamimu dengan baik. Ketahuilah malam pertama adalah malam yang paling penting bagi dirimu dan suamimu.

Berhiaslah untuk suamimu, pakailah parfum untuk dirimu dan suamimu. Jangan mengerik rambut alis atau mencukur rambut mode lelaki dilarang syariat.

Sebaiknya engkau menemui ibumu atau ibu suamimu atau selain mereka agar hilang rasa keterasingan dan ketakutan.

Shalatlah dua rakaat di belakang suamimu. Dari shalat ini dapat dimengerti bahwa tujuan utama pernikahan yang diwali dengan malam pertama bukan semata memuaskan nafsu bahkan dalam rangka menunaikan kewajiban agama dan menghasilkan anak-anak yang dapat memperbanyak jumlah kaum muslimin sehingga menolong agama.

Malu adalah bagian dari iman, akan tetapi jangan berlebihan sehingga suamimu lari dari sisimu.

Pilihlah ucapan-ucapan yang baik dalam berbicara kepada suami, jadilah wanita yang lembut, dan hati-hatilah engkau melukai suamimu dengan satu kata atau engka menyinggung sifat kelelakiannya.

Hati-hatilah terhadap sebagian tradisi yang menyimpang dari syariat seperti adanya keperawanan atau tidak adanya….! pastikan urusanmu dan jangan kamu taati perbuatan yang munkar.

Hak-hak Suami atas Istri

Syariat sangat mendorong istri untuk taat kepada suami dan mencari keridhaannya pada masalah yang bukan maksiat. Nabi r bersabda,”Jika wanita telah shalat lima waktu, puasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya maka ditakatan kepadanya, “إذا صلّت المرأةُ خمسها، وصامت شهرها، وحصنت فرجها، وأطاعت زوجها، قيل لها: ادخلي الجنة من أيّ أبواب الجنة شئت”. “Masuklah ke dalam sorga mana saja kamu kehendaki”.(HR.Ibnu Hibban dalam Shahihnya) “Jadilah kamu budak bagi suamimu niscaya ia akan menjadi budak bagimu”.

Janganlah kamu membenci ketika suamimu mengingkan jimak atau kamu pura-pura beralasan dengan alasan yang tidak masuk akal. Ada larangan yang keras terhadap istri yang menolak suaminya jimak. Rasulullah r bersabda, إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه، فأبت، فبات غضبان، لعنتها الملائكة حتى تصبح “Jika suami mengajak istrinya ke tempat tidur lalu istrinya dan suaminya bermalam denan marah maka semua malaikat melaknat istrinya sampai subuh”.(HR.Bukhari )

Hendaknya kamu memakai celak kerena celak adalah perhiasan yang terbaik dan sebaik-baik parfum adalah yang berupa zat cair dan menyempurnakan wudlu.

Biasakan hidup bersih, memamkai parfum dan berhias untuk suamimu dan selalu siap untuk suamimu.4 Dan yakinlah dengan pelayanan yang baik terhadap suamimu dapat menambah kemesraan dan menundukkan pandangan istri terhadap hal-hal yang dilarang. Akan tetapi janganlah kamu berlebihan dalam berdandan sampai berjam-jam di depan cermin. Rasulullah r ditanya,

أي النساء خيرٌ ؟ قال: “التي تسُرُّه إذا نظر، وتطيعه إذا أمر، ولا تخالفه في نفسها ومالها بما يكره” [أبو داود].

“Wanita mana yang paling baik ?” Rasulullah r menjawab,”Wanita yang menyenangkan suami jika dipandang, mentaati jika diperintah dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya dengan apa yang dibendi suami”.(HR.Abu Dawud )

Melayani suami adalah wajib dan awal pelayanannya istri adalah di rumah dan perkera-perkara yang berkaitan dengan pendidikan anak, mempersiapkan makanan, tempat tidur dan yang sejenisnya. Teladanilah Fatimah putri Rasulullah dan Asma putri Abu Bakar radhiallahu ‘anhu. 5

Kamu wajib menjaga rahasia suami.6hususnya dalam masalah jimak dan rahasia-rahasia suami istri. Nabi r bersabda, إن من شر الناس عند الله منزلة يوم القيامة الرجل يفضي إلى المرأة وتفضي إليه، ثم ينشر سرهما”[مسلم]“Sesungguhnya manusia yang paling jelek di sisi Allah di hari kiamat adalah seorang lelaki yang mencampuri istrinya dan istrinya bercampur dengan suaminya kemudian menyebarkan rahasianya”.(HR.Muslim) Maka menyebarkan rahasia suami menafikan ketaatan dan keridhaan suami.

Jagalah dirimu dan kehormatan suamimu sewaktu kepergian suamimu dan hati-hatilah dari perbuatan yang dapat mengoyak kehormatanmu. Allah ta’ala berfirman,”

{فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ }[النساء: 34]

“Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri  ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara”.(AnNisa :34)

قانتات adalah wanita-wanita yang taat kepada Allah. حافظات للغيب adalah wanita-wanita yang mentaati suami mereka walaupun pada waktu kepergian suami, mereka menjaga suami, kerabat dan hartanya dengan dirinya. Kunci penjagaan harta ada pada kebaikan pengaturan sedangkan dan dalam keluarga pada kebaikan cara membinanya.

Jauhilah kecemburuan yang berlebihan karena dapat membuka pintu perceraian. Jauhil banyak pertanyaan yang bersifat curiga hususnya jika kamu sebagai istri yang kedua atau dimadu.

Termasuk hakmu atas suami adalah ikut tinggal di rumahnya kecuali kamu pada posisi wanita yang nusyuz (tidak taat pada suami). 7

Suamimu pun berhak memerintahkanmu menyusui dan mengasuh anak-anak. Jadikanlah aktivitasmu sebagai ibadah yang tinngi dan hadirkan niat yang shalihah (ihlas) agar kamu dapat memetik buahnya nanti. Allah ta’ala berfirman,

{وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ}[البقرة:الآية 233]

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan”.(AlBaqarah :233)

Jadilah istri yang amanah menjaga harta suami dan harta yang ia tinggalkan di rumah seprti uang atau selainnya. Janganlah kamu pergunakan hartanya tanpa seijinnya. Hadits Nabi r melarang hal itu,

والمرأة راعية في بيت زوجها، ومسؤولة عن رعيتها

“Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan diminta tanggung jawab atas kepemimpinannya”.

Dari Abdullah bin Amr bin AlAsh bahwa Rasulullah r bersabda,

لا يجوز لامرأة عطية إلا بإذن زوجها

“Seorang istri tidak diperbolehkan memberikan sesuatu harta tanpa seijin suaminya”. (HR.Abu Dawud)

Jangan kamu ijinkan seorang pun masuk ke rumah suamimu kecuali dengan ijin suamimu. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah r bersabda,

لا يحل للمرأة أن تصوم وزوجها شاهد إلا بإذنه، ولا تأذن في بيته إلا بإذنه…”[متفق عليه].

“Tidak halal bagi seorang istri puasa sedangkan suaminya melihatnya kecuali dengan ijin suaminya dan istri tidak boleh memberikan ijin masuk orang lain kecuali dengan seijin suaminya”.(Muttafaq ‘alaihi) Maknanya, istri tidak boleh memberikan ijin masuk orang yang dibenci suaminya untuk masuk dan duduk di rumahnya apakah orang yang telah diijinkan itu lelaki bukan mahram atau perempuan atau salah seorang mahram istrinya. Jadi hukum asal setiap orang haram masuk ke rumah suami kecuali ada ijin darinya.

Mintalah ijin puasa sunnah kepada suami jika ia ada di rumah. Nabi r bersabda,”

لا يحل للمرأة أن تصوم وزوجها شاهد إلا بإذنه

Tidak halal bagi seorang istri puasa sedangkan suaminya melihatnya kecuali dengan ijin suaminya”.(Muttafaq ‘alaihi)

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

إن كان ليكون عليَّ صيام من رمضان فلا أستطيع أن أقضيه حتى يأتي شعبان” [البخاري]

“Aku punya hutang puasa Ramadhan maka aku tidak mampu membayarnya hingga datang bulan Sya’ban”.(HR. Bukhari )

Janganlah kamu keluar rumah kecuali dengan seijin suamimu dan jangan keluar rumah kecuali ada keperluan yang baik dan dibolehkan syariat. Allah ta’ala berfirman,

{وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ }[الأحزاب:33].

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu  dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”.(AlAhzab:33) 8

Beribadahlah kepada Allah, pejamkanlah mata dari kesalahan-kesalahan suami hususnya kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja. Nabi r bersabda,

“كل بني آدم خطّاء، وخير الخطائين التوابون”[أخرجه الترمذي].

“Setiap anak Adam suka bersalah dan sebaik-baik orang yang suka berbuat salah adalah orang bertobat”. (HR.Tirmidzi).

Hindarilah banyak mencela karena dapat mengakibatkan kemarahan dan kebencian.

Janganlah kamu membantah ketika suamimu marah. Sebaiknya kamu dengarkan baik-baik sampai selesai dan dingin. Jangan lupakan bahwa suamimu adalah sorga dan nerakamu. Berusahalah dalam mencari keridhaannya dengan semua jalan yang dibenarkan syariat. Nabi r bersabda,

“نساؤكم من أهل الجنة: الودود، الولود، العؤود على زوجها، التي إذا غضب جاءت حتى تضع يدها في يد زوجها، وتقول: لا أذوق غُمضاً حتى ترضى”.

“Istri-istrimu yang di sorga adalah wanita-wanita yang menyayang, banyak anak, banyak minta maaf kepada suaminya, jika suaminya marah ia letakkan tangannya pada tangan suaminya sambil berkata,”Aku tidak dapat merasakan nikmat tidur hingga engkau ridha padaku”.

Jadilah istri yang jujur hususnya dalam masalah yang terjadi di waktu kepergiannya dan jauhilah dusta. Jika sekali saja kamu berdusta maka ia tidak dapat percaya kepadamu. Dan jika kepercayaan telah hilang hubungan jadi jelek.

Ikut merasakan kesenangan dan kesedihan suami merupakan faktor terbesar dalam menciptakan kecintaan antara suami istri. Janganlah kamu merasa senang ketika suamimu sedang sedih dan sebaliknya. Ikut merasakan senang ketika suami senang dapat menambah kesenangannya dan ikut merasakan kesedihan dapat mengurangi beratnya musibahnya. Jika musibah itu merata maka terasa ringan. Duduklah di sampingnya dan tolonglah suamimu dengan pikiran dan kesabaran.

Muliakanlah keluarga dan kerabat suamim – hususnya ayahnya -, maka keduanya ibarat kedua orang tuamu. Memulikan kedua orang tuanya sama dengan memuliakan suamimu. Rasulullah r bersabda,

ليس منا من لم يُجلّ كبيرنا، ويرحم صغيرنا، ويعرف لعالمنا حقه ” [أحمد]

“Bukan dari golongan kami orang yang tidak memuliakan orang tua dan tidak menyayangi anak kecil serta tidak mengetahui hak orang alim”.(Ahmad)

Jadilah istri yang menerima apa adanya rizki yang diberikan oleh suamimu apakah makanan, minuman, pakaian dan selain itu dari kemampuan yang bisa ia lakukan. Janganlah kamu menentangnya kaarena hal ini merupakan faktor masuk ke neraka. Nabi r,

ُرِيتُ النار، فإذا أكثر أهلها النساء يَكفُرْنَ” قيل: أيكفُرن بالله ؟ قال: “يكفرن العشير، ويكفرن الإحسان، ولو أحسنت إلى إحداهُنّ الدهر، ثم رأت منك شيئا، قالت: ما رأيت منك خيراً قطُّ

“Aku diperlihatkan neraka, tiba-tiba mayoritas penduduknya adalah wanita yang ingkar”. Apakah mereka ingkar kepada Allah ?” tanya sahabat. Nabi r berkata,”Mereka mengingkari suami dan kebaikannya. Kalau kamu berbuat baik sepanjang masa kepada istrimu, kemudian ia melihat suatu kekurangan darimu maka ia akan berkata,”Aku tidak pernah melihat kebaikanmu sedikit pun”. Dan jangan lupa kamu doakan suamimu agar mendapatkan pahala dan ganti atas rizki yang ia berikan kepadamu.

Istri yang shalihat tidak akan meminta cerai kepada suaminya tanpa ada alasan yang membenarkannya. Nabi r berkata,

أيما امرأة سألت زوجها طلاقاً من غير بأس، فحرام عليها رائحة الجنة”[أصحاب السنن].

“Wanita mana saja yang minta talah (cerai) kepada suaminya tanpa alasan maka haram atasnya mencium bau sorga”. (HR.Ashabus Sunan)

Jika tidak keperluan yang berhubungan dengan tugasmu sebagai istri maka tinggalkanlah pekerjaan itu. Jangan kamu hiraukan tuduhan-tuduhan batil yang dikakatan sebagian orang bahwa wanita yang di dalam rumah terus adalah pengangguran. Kamu punya kesibukan yang suci di dalam rumah dari risalah Rasulullah r yang tinggi yaitu bergaul dan melayani suami serta mempersiapkan generasi-generasi yang shalih di waktu akan datang.

Inilah Hak-hakmu

1. Mahar. Mahar adalah pemberian yang diwajibkan Allah kepada suami untukmu dan tidak ada kewajiban yang harus ditunaikan suami untuk membalas pengabdianmu kepadanya kecuali menunaikan hak-hak istri. Allah ta’ala berfirman, {وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً } “Dan berikanlah mas kawin kepada wanita-wanita dengan penuh kerelaan”.(AnNisa :4) Maka tidak hak bagi suami untuk memaksamu untuk memberikan mahar yang telah ia berikan kepadamu kecuali dengan kerelaanmu. Sebagaimana juga syariat mengharamkan setiap insan memakai maharmu tanpa seijinmu. Allah ta’ala berfirman { فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْساً}Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Yakni tidak dengan paksaan dan penekanan dengan sebab jelek pergaulan suami istri.

({ فَكُلُوهُ هَنِيئاً مَرِيئاً}.) “maka makanlah  pemberian itu  yang sedap lagi baik akibatnya.

2. Nafkah. Kewajiban memberi nafkah kepada istri disebutkan Allah ta’ala dalam firmanNya,

{الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ }[النساء:الآية 34]

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka  atas sebahagian yang lain , dan karena mereka  telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”.(AnNisa ;34)

Nafkah ini meliputi makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal dengan cara yang ma’ruf.(baik). Wajib bagi suami memberikan nafkah kepada istri walaupun istri kaya. Memberikan makan anak-anaknya dengan makanan yang halal. Akan tetapi istri tidak boleh membebani suami nafkah yang di luar kesanggupannya.

  1. Cemburu dari suami dan hak dilindungi dari semua gangguan baik dengan cara ucapan maupun pandangan. Maka istri adalah sebuah bangunan terbesar bagi seorang lelaki.
  2. Bergaul dengan baik. Allah ta’ala berfirman, :{وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ}[النساء: 19]Dan bergaullah dengan mereka secara patut”.(AnNisa :19) Dalam merealisasikan pergaulan yang baik, suami berbuat baik seperti yang telah istrinya telah berbuat baik kepadanya, berkata baik dan enak, tidak kasar dan bermuka ramah dan senyum, berlaku adil terhadap semua istrinya kalau ia punya lebih dari satu istri. Nabi r bersabda,

من كانت لـه امرأتان يميل لإحداهما عن الأخرى جاء يوم القيامة يجر أحد شقيه ساقطاً أو مائلاً” [الترمذي ]

“Barangsiapa punya dua istri lalu ia condong kepada salah satunya nanti di hari kiamat berjalan sambil miring”.(HR.Tirmidzi), merawat dan menemanimu ketika kamu sakit semampunya…

  1. Kamu tidak diperbolehkan mentaati suami pada perintah yang haram bahkan kamu wajib menyelisihinya. Contohnya suamimi memintamu melayaninya ketika kamu sedang haidl dan nifas atau tidak pada kemaluan, atau kamu puasa wajib. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لا طاعة لبشر في معصية الله، إنما الطاعة في المعروف”[ البخاري]. “Tidak ada ketaatan kepada manusia dalam maksiat kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu dalam perkara yang baik”. (HR.Bukhari)
  2. Jika suamimu menyimpang dari kebenaran maka nasihatilah. Jika terus menyimpang maka kamu harus menyelisihinya. Sehingga seorang muslimah tidak boleh tinggal di sisi suami kafir.
  3. Suami tidak diperbolehkan mengisolirmu dengan sengaja. Ia wajib menunaikan hakmu sesuai dengan kebutuhanmu dan kemampuannya, menjaga kehormatan dan mencukupimu. Allah ta’ala berfirman,

{وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَة}[النساء: 129]

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung , sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung”.(AnNisa :129)

Suami juga harus menjaga dirimu dari api neraka dengan cara mengajari dan mengarahkanmu ke jalan ilmu dan hidayah. Allah ta’ala berfirman, {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ}[التحريم:6]. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(atTarim:6) Ali bin Abi Thalib berkata,”Ajarilah diri dan keluargamu kebaikan dan didiklah mereka”. AlAlusi berkata,”Wajib bagi setiap suami belajar dan mengajari keluarga agama…” Jika suamimu tidak mengajari agama kepadamu maka kamu keluar untuk menuntut ilmu sebagaimana kata Nabi r, “طلب العلم فريضة على كل مسلم”. “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim”.

8. Suamimu tidak boleh menghalangimu berdakwah, membela agama dengan dalih bahwa engkau adalah wanita dan kewajibanmu yang paling penting adalah rumah dan anak-anak…ingatlah ucapan Nabir,”Wanita-wanita adalah bagian dari lelaki”. Akan tetapi kamu harus memperhatikan keseimbangan sehingga kamu tidak mengesampingkan rumahmu dengan hujjah amal Islami.

Penutup

Demikianlah sekilas pandangan kehidupan suami istri Islami. Aku tidak bermaksud memparjang pembahasan di sekitar masalah hukum-hukumnya. Akan tetapi aku hanya memberikan diskripsi awal bagi setiap pemudi yang akan segera menikah. Dengan harapan mereka dapat mempersiapkan diri dan berjalan di jalan syariat dalam mengarungi bahteri kehidupan suami istri kelak di kemudian hari. Semoga Allah memberikahi kalian berdua dan mengumpulkan kalian dalam kebaikan.

Entry filed under: Fiqh, Hadits, Muslimah. Tags: , .

Beramal dengan Hadits Dha’if Dialog Dengan Teroris Sebelum Menteror (Bag.1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Insya Allah,segera terbit..!

Arsip

Blog Stats

  • 31,051 klik
Yang sedang online:
counter
Jumlah pengunjung:
wordpress hit counter sejak Maret 2009
Tentang Anda:
IP Anda

%d bloggers like this: