Beramal dengan Hadits Dha’if

June 20, 2009 at 11:07 am

fadhilahamalJama’ah Mushalla al Abrar yang dimuliakan Alloh Ta’ala,

menanggapi ucapan bapak penceramah rabu pagi sehabis shalat subuh di Mushalla alAbrar tentang pembelaannya terhadap bolehnya mengamalkan hadit lemah maka kami majlis ta’lim Salafy perlu menanggapi dan meluruskan pemahaman yang benar. Semoga kita ditunjuki ke jalan yang benar dan selamat dari kesalahan, kebid’ahan, kesyirikan, riya dan ujub. Kami katakan dengan meminta pertolongan kepada Alloh Ta’ala:

Muhammad Jamaluddin alQosimy berkata:”Ketahuilah bahwa tentang sikap terhadap hadits lemah (dha’if) terdapat tiga pendapat/madzhab. Pendapat yang paling kuat adalah:

Menolaknya secara mutlak baik dalam masalah keutamaan-keutamaan maupun hukum-hukum. Demikian pendapat Bukhari, Muslimin, Ibnu Hazm, Yahya bin Ma’in, Abu Bakar bin alAraby.

Ibnu Hazm berkata:” Penukilan dari penduduk bumi bagian timur dan barat, dari orang banyak, dari orang yang amanah sampai kepada nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi di dalam silsilah periwayat hadit tersebut terdapat seorang perawi yang dicela yaitu pendusta, lalai, atau tidak dikenal (majhl), maka riwayat hadits seperti ini tidak halal bagi kita mengambil, membenarkan dan menerimanya”.(Qowa’id atTahdits, Ibnu Hazm,113)

Inilah pendapat yang paling kuat sebagaimana pendapat ahli hadits jaman ini alAllamah Muhammad Nashiruddin alBani yang berkata,”Hadits lemah itu berupa persangkaan yang tidak kuat menurut kesepakatan ulama yang aku ketahui. Jika demikian maka bagaimana kita boleh mengamalkannya. Sedangkan Alloh Ta’ala mencela kita tentang persangkaan,

( وَمَالَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنَّ الظَّنَّ لاَيُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا)

”Mereka tidaklah memiliki ilmu sedikit pun. Sesungguhnya persangkaan itu tidak bermanfaat bagi kebenarang sedikitpun”. (anNajm:28)

(إن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَمَاتَهْوَى اْلأَنفُسُ)

“Mereka hanyalah mengikuti persangkaan tanpa dalil”. (anNajm:23)

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: “Jauihilah kamu dari persangkaan, sesungguhnya persangkaan itu adalah perkataan paling dusta”. (Bukhari dan Muslim)

Maka dari sini kita ketahui bahwa bagi orang membolehkan beramal dengan hadits lemah tidak mempunyai dalil sedikit pun kecuali perasaannya yang lemah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,”Imam Ahmad tidak pernah bersengaja mengamalkan hadits lemah dalam syariat. Barangsiapa menukil darinya bahwa ia berhujjah dengan hadits lemah maka ia salah”. (Qo’idah Jalilah, 1/45, alBani)

Adapun ucapan ulama besar Abdullah bin alMubarak yang mengatakan:”Jika kami meriwayatkan tentang halal dan haram maka kami sangat ketat menyelisiknya, dan bila kami meriwayatkan tentang keutamaan amal kami mempermudah”, adalah: Mempermudah maksudnya mempermudah mengambil hadits hasan yang tidak sampai ke derajat shahih. Karena di jaman Abdullah bin Mubarak dan Imam Ahmad belum ada istilah hadits hasan dan shahih. Bahkan kebanyakan ulama hadits di jaman pertama hanya membagi hadits shahih dan lemah. (alBa’its Hatsits, Ta’liq Ahmad Syakir, 101)

Makna mempermudah juga bisa dimaknakan, meriwayatkan hadits dengan sanadnya sebagaimana kebiasaan ulama hadits dahulu yang dengannya memungkinkan diketahui mana hadits yang shahih dan lemah sehingga tidak membutuhkan penyebutan hadits shahih atau lemah. Adapun meriwayatkan hadits tanpa sanad sebagaimana kebiasaan orang sekarang dan tanpa menerangkan keadaan haditsnya, maka ulama hadits itu tidak melakukannya karena mereka adalah orang yang lebih takut kepada Alloh Ta’ala untuk menyebutkan hadits tanpa menilainya dan tanpa menyebutkan silsilah perawainya. (Shahih alJami, alBani, 1/47)

Hadits-hadits lemah memiliki dampak negatif bagi umat antara lain:

  1. Mengakibatkan perbedaan timbangan/penilaian di antara amal-amal seperti sebagian orang mengutamakan dzikr daripada perang di jalan Alloh Ta’ala. Hal ini disebabkan berlebihan dalam memberi semangat dzikir.
  2. Pada umumnya berlebihan dalam memberi semangat amal baik dan menakut-nakuti amal jelek. Ini merupakan dampak negatif dalam mentarbiah umat yang dapat diketahui oleh para pendidik.

Oleh karena itu ulama melarang manusia mendekati tukang cerita. Sebagaimana diriwayatkan dalam Muqoddimah Shahih Muslim,”Janganlah kamu duduk bersama tukang cerita”. Tukang cerita adalah orang yang menasihati manusia di masjid-masjid dengan meriwayatkan hadits tanpa memilih mana yang shahih dan lemah. (Shahih alJami’,1/15)

Al ‘Allamah Muqbil bin Hadi ditanya tentang amal dengan hadits lemah, maka beliau menjawab:

“Kita tidak beribadah dengan hadits lemah karena Alloh Ta’ala berfirman,

(وَلاَتَقْفُ مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً)

”Janganlah kamu mengikuti sesuatu tanpa ilmu karena pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan diminta pertanggungjawaban di sisi Alloh”. (AlIsra:36) Maka kita mengambil agama kita dengan peneletian. Tidak benar pendapat yang membedakan bolehnya beramal dengan hadits lemah kalau berupa keutamaan amal bukan akidah dan hukum sebagaimana yang dikataktan Syaukani dalam kitabnya “AlFawaid alMajmu’ah”. Bagi orang yang berpendapat demikian maka harus mendatangkan dalil. Nabi Shallallahu

‘alaihi wa sallam bersabda,” ((من حدّث عنّي بحديث يرى أنّه كذب، فهو أحد الكاذبين) “Barangsiapa mengatakan dariku dengan satu hadits yang ia riwayatkan dengan dusta maka ia termasuk orang pendusta” maka kita tidak membutuhkan hadits lemah. Kitabullah dan sunnah Rasulullah صلى الله عليه و سلم yang shahih cukup bagi kita. Mereka yang mengamalkan hadits lemah pada jaman ini adalah orang-orang yang tidak mengerti ilmu hadits dan tidak mengetahui mengapa ulama melemahkan hadits itu? Apakah ulama melemahkannya karena salah seorang perawinya ada yang jelek hapalannya? Atau pendusta? Atau jujur tetapi sering salah ? Anda melihat ia membaca dan mengambil hadits lemah dan berkata,”Tidak mengapa beramal dengannya untuk fadhail a’mal !”. (alMuqtaroh, Syaikh Muqbil)

Adapun ulama yang membolehkan beramal dengan hadits lemah mensyaratkan:

1. Haruslah terkait dengan dalil atau ayat atau hadits yang shahih. Albani berkata,”Syarat ini sesungguhnya sekedar formalitas dan tidak mungkin terwujud”.

2. Tidak terlalu dha’if. Maka tidak boleh meriwayatkan dari perawi yang suka dusta. Dan tidak ada yang mengetahui nilai hadits kecuali ulama hadits. Bagaimana dengan suatu jama’ah yang tidak memiliki seorang ulama hadits pun bahkan menjauhi ulama hadits semacam alBani?

3. Tidak meyakini sebagai ucapan nabi ketika beramal. Kita melihat jama’ah yang mengamalkan hadits-hadits lemah tidak mengetahui kelemahan haditsnya. (Shahih alJami’1/51)

Bila anda mengatakan agama ini mudah, maka semua orang tahu agama Islam itu mudah dengan banyak dalil dari AlQur’an dan assunnah. Tapi bila anda hubungkan dengan pengamalan hadits lemah maka suatu ucapan tanpa ilmu dan tidak ada hubungannya. Hadits lemah artinya hadits yang masih diragukan apakah dari nabi atau tidak. Bukan asal bahasa arab dan ada perkataan “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda” lalu anda anggap hadits. Ahli hadits lebih tahu mana yang bahasa nabi dan mana bahasa manusia biasa, lebih tahu mana hadits yang baik perawinya dan jelek perawinya. Sedangkan anda orang Indonesia yang tidak mengerti atau kurang mengerti bahasa, sastra Arab, nahwu dan shorofnya juga tidak pernah belajar hadits. Bagaimana anda memastikan itu ucapan nabi? Mengapa anda membolehkan mengamalkannya? Bukankah lebih baik anda percaya kepada ahli hadits yang sudah diakui keilmuannya seperti AlBani dan lainnya? Bagaimana anda membela-bela kitab Fadhail amal yang berisi banyak hadits palsu dan lemah serta kesyirikannya sebagaiman yang dikatakan syaikh Hamud atTuwaijiri (Saudi) dan Syaikh Yahya anNajmi (Bahrain)? Takutlah kepada Alloh, belalah sesuatu dengan ilmu/dalil yang mumpuni jangan asal ngomong karena semua nanti akan diminta pertanggungjawaban di sisi Alloh Ta’ala. Bagaimana anda mengatakan agama ini mudah sementara orang yang mengamalkan kitab Fadhail Amal memberat-beratkan diri bepergian meninggalkan kampung halaman, pekerjaan, sekolah, anak istri sampai keluarga mereka ada yang menjadi tanggungan tetangga, ke mana-mana membawa kompor yang tidak sedap dipandang mata? Apa ukuran kemudahan bagi anda? Mengapa ketika disyariatkan jihad di Ambon dan lainnya banyak muslimin yang tidak menanggapi dan sibuk dengan dunia dan pekerjaannya? Apakah karena jihad itu sulit dan berarti agama itu sulit ? Jika mudah, mengapa nabi nabi shalat sampai kakinya bengkak? Sementara umatnya sekarang pada malam hari tidur dan nonton ? Jadi apa ukuran kemudahan? Kami katakan agama mudah, tapi jangan menggampang-gampangin.

Cukup sekian dari kami, tidak perlu panjang kalam. Bila anda menerima alhamdulillah berarti anda menerima kebenaran, jika tidak maka kami hanya sekedar menyampaikan, meluruskan dan kami berani mempertanggungjawaban tulisan ini di dunia dan ahirat dengan metode yang ilmiah. Bila anda menolak maka,”Beramallah dengan metode anda dan kami juga beralamal dengan motode kami dari para salafus shalih. Kelak, pada hari kiamat atau di dunia sekarang, kita akan tahu jalan siapa yang terbaik”. Kami tidak melayani perdebatan karena jalan para salaf shalih telah kami yakini kebenarannya tidak perlu dipertentangkan dan diperdebatkan.

Sebaik-baik petunjuak adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Entry filed under: Manhaj. Tags: .

Bahaya Ahlak Fir’aun Bunga Rampai Nasihat dari Kekasih Tercinta


Insya Allah,segera terbit..!

Arsip

Blog Stats

  • 31,051 klik
Yang sedang online:
counter
Jumlah pengunjung:
wordpress hit counter sejak Maret 2009
Tentang Anda:
IP Anda

%d bloggers like this: