Bahaya Ahlak Fir’aun

June 20, 2009 at 11:04 am

Piramid1Sesungguhnya semua kisah dan riwayat hidup manusia yang terdapat di dalam AlQur’an hanyalah untuk kita ambil ibrahnya disebabkan terdapat kebutuhan dan kemaslahatan bagi kita .Dan ibrah itu bisa bermanfaat bila kita menganalogikan yang kedua dengan yang pertama dan keduanya berserikat di dalam satu hukum . Kalaulah di dalam jiwa manusia tidak ada satu macam pendustaan terhadap para rasul niscaya kita tidak membutuhkan ibrah dengan orang yang sama sekali tidak sama dengan kita . Namun perkaranya seperti yang Allah تَعَالَى katakan yang artinya :

“Tidaklah ada pendustaan yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu itu selain pendustaan yang telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad)” .(Fushilat :43) “Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka (Yahudi, Nasrani dan kaum Kafir Arab) telah mengatakan seperti ucapan mereka, Yahudi; hati mereka serupa” (AlBaraqarah :118). “Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka tidak ada dasarnya sama sekali, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu yang sesat”.( AtTaubah :30). Sehinga Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata : “Kamu benar-benar akan menempuh jalan orang-orang yang sebelum kamu sama seperti anak panak disejajarkan sampai mereka masuk lubang biawak pasti kamu akan memasukinya”. Sahabat bertanya :”Apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani ? Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ menjawab :”Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR.Bukhari dan Muslim)

Pada waktu sahabat singgah di suatu tempat dalam peperangan Hunain, mereka melihat kaum musrikin mempunyai tempat gantungan di sebuah pohon keramat untuk menggantungkan senjata dan mengambil barakah darinya maka sebagian sahabat berkata kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : “Ya rasulullah, jadikanlah buat kami tempat gantungan senjata keramat sebagaimana mereka mempunyainya. Maka Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata sambil marah :”Maha Suci Allah, kamu berkata seperti kaum Musa meminta kepada Musa :Jadikanlah buat kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan”, demi jiwaku yang di tanganNya kamu benar-benar akan menempuh jalan orang-orang sebelum kamu”.( HR. Tirmidz dan Ahmad).

AlQur’an menjelaskan bahwa kejelekan-kejelekan itu dari jiwa meskipun terjadi dengan takdir Allah تَعَالَى .

Maka kejelekan yang paling buruk adalah pengingkaran terhadap adanya khalik, menyekutukanNya, meminta diri agar menjadi sekutu dan tandingan bagiNya atau menjadi ilah selain Allah تَعَالَى . Dan kedua hal ini telah terjadi, contohnya Fir’aun menuntut agar dirinya menjadi ilah yang disembah selain Allah تَعَالَى , ia berkata :

“Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui ilah bagimu selain aku”.( AlQashash : 38)

“Akulah Rabmu yang paling tinggi”.(AnNazi’at : 24) “Sungguh jika kamu menyembah Ilah selainku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan”. (Syu’ara :29) Demikian juga Iblis meminta untuk disembah dan ditaati menandingi Allah تَعَالَى , ia ingin agar ia disembah dan ditaati, ia sendiri tidak menyembah dan taat kepada Allah تَعَالَى .

Perbuatan Fir’aun dan Iblis itu sungguh dalam puncak kedhaliman dan kebodohan. Dan di dalam jiwa seluruh manusia dan jin (kecuali jiwa para nabi dan malaikat) terdapat satu cabang dari sifat Fir’aun dan Iblis itu. Jika Allah تَعَالَى tidak menolong dan menunjuki seseorang maka ia terjatuh pada sebagian sifat yang Iblis dan Fir’aun terjatuh padanya.

Seorang yang arif berkata :”Tidaklah satu jiwa kecuali padanya terdapat sifat Fir’aun, bedanya Fir’aun kuasa lalu memperlihatkan sifatnya sedangkan selainnya tidak mampu lalu menyembunyikannya. Karena jika seorang memikirkan diri dan manusia serta mendengar berita tentang sejarah kehidupan manusia, akan melihat salah satu dari mereka ingin agar dirinya ditaati dan ditinggikan sesuai kemampuannya”.

Maka jiwa itu sebenarnya memiliki potensi cinta ketinggian dan kepimpinan. Anda menemukan salah seorang dari manusia menolong dan membela orang yang mendukung keinginannya dan memusuhi orang yang menyelisihi keinginannya. Kalau begitu sesungguhnya sesembahannya adalah keinginan dan kehendak nafsunya. Allah تَعَالَى berfirman : “Lihatlah hai Muhammad orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya sehingga ia kembali beriman?” (AlFurqan :43)

Dalam menyikapi nafsunya pada masalah ini manusia seperti raja-raja kafir dari orang-orang musrik, raja-raja Turki dan selain mereka yang berkata :”Hai teman dan musuhku”. Jika yang diajak bicara menyetujui kemauannya maka menjadi orang dekatnya meskipun ia kafir atau musrik dan orang yang tidak menyetujui kemauannya maka menjadi musuhnya meskipun ia wali Allah تَعَالَى dan bertakwa. Inilah hakikat keadaan Fir’aun.

Dan salah seorang dari mereka ingin agar perintahnya ditaati sebisa mungkin akan tetapi tidak kuat sebagaimana Fir’aun yang mengaku Pencipta yang disembah dan menentang pencipta alam. Mereka, selain Fir’an, meskipun mengakui adanya pencipta akan tetapi jika datang kepada mereka salah seorang yang mengajak menyembah dan taat kepada Allah تَعَالَى yang mengandung meninggalkan ketaatan kepada mereka, terkadang mereka memusuhinya sebagaimana Fir’aun memusuhi Musa.

Allah تَعَالَى mencipta manusia hanyalah agar mereka beribadah, untuk mengingat dan bersyukur kepadaNya, mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab agar manusia menyembah Allah تَعَالَى semata dengan tuntunan syariat rasul itu, agar semua agama dipersembahkan untukNya semata dan agar da’wah agama ini tinggi.

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian”.

Jadi seluruh rasul saling membenarkan dan tidak berselisih walaupun syariat dan cara ibadah mereka tidak sama. Bagi orang-orang yang ditaati/tokoh dari kalangan ulama dan pemimpin serta raja, mereka hendaknya mengikuti para rasul….memerintahkan dengan apa yang para rasul memerintahkan, menyeru pada apa yang para rasul menyeru, menyukai orang yang menyeru seperti apa yang para rasul menyerukannya, maka Allah تَعَالَى menyukai yang demikian, ia menyukai apa yang Allah تَعَالَى sukai. Tujuannya, agar ibadah itu diperuntukkan kepada Allah تَعَالَى semata dan agar agama itu semuanya untuk Allah تَعَالَى tidak ada agama selain agamaNya. Wallahu a’lamu bishshawab.
Kolom kecil tersendiri :

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata :”Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali satu yaitu golongan yang berpegang teguh dengan ajaranku dan sahabatku (salaf) pada hari ini”. (HR.Ahmad 3/120 dan Tirmidzi, no. 2640, shahih)

Entry filed under: Manhaj. Tags: .

20 Kerusakan Nonton Televisi Beramal dengan Hadits Dha’if


Insya Allah,segera terbit..!

Arsip

Blog Stats

  • 31,051 klik
Yang sedang online:
counter
Jumlah pengunjung:
wordpress hit counter sejak Maret 2009
Tentang Anda:
IP Anda

%d bloggers like this: