Demokrasi Bukan Dari Islam Dan Termasuk Amalan Syirik Rububiyyah

Demokrasi Bukan Dari Islam Dan Termasuk Amalan Syirik Rububiyyah

April 15, 2014 at 4:22 am Leave a comment

Demokrasi Bukan Dari Islam Dan Termasuk Amalan Syirik Rububiyyah

Demokrasi Bukan Dari Islam Dan Termasuk Amalan Syirik Rububiyyah

April 15, 2014 at 4:20 am Leave a comment

Fatwa-fatwa Syaikh Al Albani rohimahulloh ta’ala

الجواب: هذا الذي يحدد نسله بدون سبب مشروع أراه أحمق إن لم يكن كافرا بالقضاء والقدر، ذلك لأن الذي يحدد نسله بثلاثة أبناء-مثلا- وصار عمره خمسين سنة! لم يخطر بباله الموت، أو أن تأتي عاصفة تأخذ أولاده الثلاثة فيبقى الى آخر حياته كالأبتر ليس له نسل؛ فالذين يحددون النسل لا يفكرون في الذي يفكر فيه كل مسلم وهو القدر الذي يتصرف بالإنسان كيف يشاء لا كيف شاؤا هم؛ فهذا في الواقع غفلة شديدة، وحرمة ظاهرة.

v  Tanya : Apa Hukum Membatasi Kelahiran ?

v  Jawab : Orang yang membatasi kelahiran tanpa alasan yang disyari’atkan aku katakan ia seorang yang bodoh jika tidak ingkar terhadap takdir dan ketetapan Alloh, karena orang ini, misalnya membatasi anaknya 3 orang saja – dan ia berumur umur 50 tahun, dan tidak menduga sama sekali terjadinya kematiannya atau datang kepadanya bencana yang membinasakan anak-anaknya, lalu tinggallah ia hidup sendiri di ahir hayatnya. Maka orang-orang yang membatasi kelahirannya tidak berpikir pada yang dipikirkan seorang muslim yaitu Alloh Maha Kuasa yang mengatur manusia sekehendakNya bukan kehendak manusia. Dan pembatasan kelahiran merupakan kelalaian dan keharaman yang jelas.

 

April 15, 2014 at 4:04 am Leave a comment

Faidah Hadits Arba’in

Hadits no. 2
2. عَنْ عُمَرَ بن الخَطَّابِ – رضي الله عنه -، قال : بَينَمَا نَحْنُ جلوس عندَ رَسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – ذاتَ يومٍ ، إذْ طَلَعَ علينَا رَجُلٌ شَدِيدُ بياضِ الثِّيابِ ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعْرِ ، لا يُرى عليهِ أثَرُ السَّفَر ، ولا يَعرِفُهُ مِنّا أحدٌ ، حتَّى جَلَسَ إلى النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، فأسنَدَ رُكْبَتَيْهِ إلى رُكْبَتَيْهِ ، ووضع كَفَّيه على فَخِذيه ، وقالَ : يا مُحَمَّدُ ، أخبِرني عَنِ الإسلامِ . فقال رَسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – : (( الإسلامُ : أنْ تَشْهَدَ أنْ لا إلهَ إلاَّ الله ، وأنَّ محمَّداً رسولُ اللهِ ، وتُقيمَ الصَّلاةَ ، وتُؤتِي الزَّكاةَ ، وتصومَ رمضَانَ ، وتَحُجَّ البَيتَ إن استَطَعتَ إليه سبيلاً )) . قال : صَدَقتَ ، قال : فَعَجِبنا لَهُ يسأَلُهُ ويصدِّقُهُ .قال: فأخْبِرني عَنِ الإيمان . قال : (( أنْ تُؤْمِنَ باللهِ وملائِكَته وكُتُبِه، ورُسُله، واليَومِ الآخِرِ ، وتُؤْمِنَ بالقَدرِ خَيرِهِ وشَرِّهِ )) . قالَ : صَدَقتَ . قالَ : فأخْبِرنِي عنِ الإحْسَانِ ، قال : (( أنْ تَعبُدَ اللهَ كأنَّكَ تَراهُ ، فإنْ لَمْ تَكُنْ تَراهُ فإنَّهُ يراكَ )) .قال : فأخبِرني عَنِ السَّاعةِ ؟ قال : (( مَا المَسؤُولُ عَنْهَا بأعلَمَ مِنَ السَّائِل )) .قال : فأخبِرني عنْ أَمارَتِها ؟ قال : (( أنْ تَلِد الأمَةُ رَبَّتَها وأنْ تَرى الحُفاة العُراة العَالةَ رعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلونَ في البُنيانِ )) . ثُمَّ انْطَلَقَ ، فلبثْتُ مَليّاً ، ثمَّ قال لي : (( يا عُمَرُ ، أتَدرِي مَنِ السَّائل ؟ )) قلتُ : الله ورسولُهُ أعلَمُ . قال : (( فإنَّهُ جِبريلُ أتاكُم يُعَلِّمُكُم دِينَكُم )) . رواه مسلم
_
2.Dari Umar rodhiallohu ‘anhu juga : Ketika kami duduk-duduk di sisi rosululloh pada suatu hari tiba-tiba seorang laki-laki yang sangat putih bajunya, sangat hitam rambutnya, tidak terlihat dari bepergian dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya, muncul di antara kami sampai ia mendekat kepada nabi lalu menyandarkan lutunya ke lutut rosululloh dan meletakkan tangannya d atas pahanya lalu berkata,’Hai Muhammad kabarkan kepadaku tentang Islam’, maka rosululloh berkata,’Islam kamu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh dan Muhammad adalah rosululloh, menegakkan sholat, berpuasa di bulan romadlon, membayar zakat dan hajji ke baitulloh jika kamu mampu menempuh jalannya’, ia berkata,’Kamu benar’, kami heran, ia bertanya dan membenarkannya. Lalu ia berkata,’Kabarkan kepadaku tentang Iman’, rosul berkata,’Iman kamu beriman kepada Alloh, malaikat-malaikatNya, rosul-rosulNya, kitab-kitabNya, hari ahir dan takdir yang baik dan buruk’. Ia berkata,’Kamu benar’. Ia berkata,’Kabarkan kepadaku tentang ihsan’. Rosul menjawab,’Ihsan kamu beribadah kepada Alloh seolah kamu melihatNya, jika tidak melihatNya maka Ia melihat kamu’. Ia berkata,’Kamu benar’. Ia berkata,’Kabarkan kepadaku tentang hari kiamat’. Rosul berkata,’Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya’. Ia berkata,’Kabarkan kepadaku tanda-tandanya’. Rosul berkata,’Kamu melihat budak perempuan melahirkan tuannya dan kamu melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang dada dan mengambal kambing saling berlomba meninggikan bangunan’. Kemudian lelaki tadi pergi, lalu diam beberapa lama, kemudian rosul berkata,’Hai Umar apakah kamu tahu siapa yang bertanya tadi ? Aku berkata,’Alloh dan rosulNya yang lebih mengetahui’. Rosul berkata,’Dia adalah Jibril datang mengajarkan agama kalian”. (HR.Muslim dalam Shohihnya)

April 13, 2014 at 8:24 am Leave a comment

Faidah Hadits Arba’in

Hadits no. 2

2. عَنْ عُمَرَ بن الخَطَّابِ – رضي الله عنه -، قال : بَينَمَا نَحْنُ جلوس عندَ رَسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – ذاتَ يومٍ ، إذْ طَلَعَ علينَا رَجُلٌ شَدِيدُ بياضِ الثِّيابِ ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعْرِ ، لا يُرى عليهِ أثَرُ السَّفَر ، ولا يَعرِفُهُ مِنّا أحدٌ ، حتَّى جَلَسَ إلى النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، فأسنَدَ رُكْبَتَيْهِ إلى رُكْبَتَيْهِ ، ووضع كَفَّيه على فَخِذيه ، وقالَ : يا مُحَمَّدُ ، أخبِرني عَنِ الإسلامِ . فقال رَسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – : (( الإسلامُ : أنْ تَشْهَدَ أنْ لا إلهَ إلاَّ الله ، وأنَّ محمَّداً رسولُ اللهِ ، وتُقيمَ الصَّلاةَ ، وتُؤتِي الزَّكاةَ ، وتصومَ رمضَانَ ، وتَحُجَّ البَيتَ إن استَطَعتَ إليه سبيلاً )) . قال : صَدَقتَ ، قال : فَعَجِبنا لَهُ يسأَلُهُ ويصدِّقُهُ .قال: فأخْبِرني عَنِ الإيمان . قال : (( أنْ تُؤْمِنَ باللهِ وملائِكَته وكُتُبِه، ورُسُله، واليَومِ الآخِرِ ، وتُؤْمِنَ بالقَدرِ خَيرِهِ وشَرِّهِ )) . قالَ : صَدَقتَ . قالَ : فأخْبِرنِي عنِ الإحْسَانِ ، قال : (( أنْ تَعبُدَ اللهَ كأنَّكَ تَراهُ ، فإنْ لَمْ تَكُنْ تَراهُ فإنَّهُ يراكَ )) .قال : فأخبِرني عَنِ السَّاعةِ ؟ قال : (( مَا المَسؤُولُ عَنْهَا بأعلَمَ مِنَ السَّائِل )) .قال : فأخبِرني عنْ أَمارَتِها ؟ قال : (( أنْ تَلِد الأمَةُ رَبَّتَها وأنْ تَرى الحُفاة العُراة العَالةَ رعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلونَ في البُنيانِ )) . ثُمَّ انْطَلَقَ ، فلبثْتُ مَليّاً ، ثمَّ قال لي : (( يا عُمَرُ ، أتَدرِي مَنِ السَّائل ؟ )) قلتُ : الله ورسولُهُ أعلَمُ . قال : (( فإنَّهُ جِبريلُ أتاكُم يُعَلِّمُكُم دِينَكُم )) . رواه مسلم

_

2.Dari Umar rodhiallohu ‘anhu juga : Ketika kami duduk-duduk di sisi rosululloh pada suatu hari tiba-tiba seorang laki-laki yang sangat putih bajunya, sangat hitam rambutnya, tidak terlihat dari bepergian dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya, muncul di antara kami sampai ia mendekat kepada nabi lalu menyandarkan lutunya ke lutut rosululloh dan meletakkan tangannya d atas pahanya lalu berkata,’Hai Muhammad kabarkan kepadaku tentang Islam’, maka rosululloh berkata,’Islam kamu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh dan Muhammad adalah rosululloh, menegakkan sholat, berpuasa di bulan romadlon, membayar zakat dan hajji ke baitulloh jika kamu mampu menempuh jalannya’, ia berkata,’Kamu benar’, kami heran, ia bertanya dan membenarkannya. Lalu ia berkata,’Kabarkan kepadaku tentang Iman’, rosul berkata,’Iman kamu beriman kepada Alloh, malaikat-malaikatNya, rosul-rosulNya, kitab-kitabNya, hari ahir dan takdir yang baik dan buruk’. Ia berkata,’Kamu benar’. Ia berkata,’Kabarkan kepadaku tentang ihsan’. Rosul menjawab,’Ihsan kamu beribadah kepada Alloh seolah kamu melihatNya, jika tidak melihatNya maka Ia melihat kamu’. Ia berkata,’Kamu benar’. Ia berkata,’Kabarkan kepadaku tentang hari kiamat’. Rosul berkata,’Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya’. Ia berkata,’Kabarkan kepadaku tanda-tandanya’. Rosul berkata,’Kamu melihat budak perempuan melahirkan tuannya dan kamu melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang dada dan mengambal kambing saling berlomba meninggikan bangunan’. Kemudian lelaki tadi pergi, lalu diam beberapa lama, kemudian rosul berkata,’Hai Umar apakah kamu tahu siapa yang bertanya tadi ? Aku berkata,’Alloh dan rosulNya yang lebih mengetahui’. Rosul berkata,’Dia adalah Jibril datang mengajarkan agama kalian”. (HR.Muslim dalam Shohihnya)[1]

[1] FAIDAH : Pentingnya hadits di mana rosul menyebutkan tingkatan-tingkatan agama, di antara cara mengajar adalah tanya jawab, adab tholabul ilmu didahulukan atas tholabul ilmu sehingga Jibril beradab lalu bertanya, adab pencari ilmu di hadapan guru, memakai baju putih dan mengatur rambut bukan termasuk kesombongan, bertanya termasuk kunci ilmu barangsiapa yang malu bertanya atau enggan terhadap ilmu maka tidak mendapat ilmu, menghadiri majlis ilmu karena padanya terdapat faidah-faidah yang terkadang terluput, sadar dan konsentrasi di majlis ilmu memberikan faidah dalam hapalan dan menyebarkannya sehingga Umar menghapal pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawabannya, jika pertanyaannya umum maka yang utama membatasi jawaban pada masalah yang amat penting, misalnya pertanyaan tentang Islam dan bagian-bagiannya adalah pertanyaan yang umum yang masuk di bawahnya amal-amal luar semuanya akan tetapi rosul membatasi jawabannya pada masalah yang amat penting yaitu rukun Islam, jika berkumpul Islam dan Iman dalam satu nash maka Islam diartinya amalan-amalan yang nampak dan iman ditafsirkan dengan amalan-amalan batin, agama tidak satu tingkatan tetapi bertingkat-tingkat sebagiannya di atas sebagian yang lainnya, paling rendah Islam kemudian Iman kemudian Ihsan, semangat berlomba dalam kebaikan diketahui ketika rosul menyebutkan Ihsan ada dua tingkatan yang satu lebih tinggi dari yang lainnya, jika hati telah menerima iman maka anggota badan tunduk mengamalkan amalan Islam yang nampak, merasa diawasi Alloh dalam ibadah tingkatan Ihsan yang tertinggi yaitu menyembah Alloh seolah melihatnya dan ini menghasilkan rasa takut, jujur dan ikhlas, jika tidak bisa menggapai derajat tertinggi maka hendaklah merasakan dilihat Alloh, rohmat Alloh dilihat dengan bermacam-macam dalil-dalil petunjukNya untuk manusia yang terkadang berupa wahya langsung kepada Nabi, terkadang mengutus Jibril, terkadang berupa lelaki Badui dan terkadang berupa Dahyah alKalbi rodhiallohu ‘anhu, dalil wajibnya sholat dilihat dari perintah sholat selalu memakai kalimat “menegakkan sholat” bukan menunaikan, karena tujuan sholat adalah meluruskannya sampai tidak bengkok dengan menegakkan semua rukun-rukun, kewajiban- kewajiban dan sunnah- sunnahnya sampai terlihat buahnya, perkataan : Aku tidak tahu, tidak mengurangi kehormatan seseorang, jika seseorang ditanya dan tidak tahu jawabannya mengucapkan Allohu a’lam meskipun di majlis yang besar, ahlus sunnah menghususkan kecintaannya kepada Jibril dibanding malaikat-malaikat yang lainnya karena : ia penyampai wahyu kepada Nabi صلى الله عليه وسلم , pujian Alloh kepadanya, membantu orang-orang beriman dalam peperangan melawan kaum kafir, semangatnya mengajarkan agama kepada kaum muslimin, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui perkara ghoib kecuali sedikit yang Alloh kabarkan kepada beliau, menjawab pertanyaan lebih dari apa yang ditanyakan, tidak ada yang mengetahui kapan terjadi hari kiamat, hari kiamat memiliki tanda-tanda yang menunjukkan akan segera terjadi, di antara tanda-tandanya disebutkan Nabi di atas, hadits menunjukkan perubahan keadaan di mana orang-orang pedalaman berkuasa dan menguasai negeri-negeri dengan paksa, lalu harta mereka bertambah banyak dan cita-cita mereka terfokus pada peninggian dan kebanggaan bangunan, tercelanya meninggikan bangunan kecuali bila diperlukan, terjadinya kerusakan di jaman mendekat kiamat di mana ahlak rusak, anak-anak durhaka kepada orang tua dan memperlakukan orang tua seperti memperlakukan budak, urusan-urusan berbalik dan bercampur sampai orang-orang rendahan menjadi raja-raja dan penguasa, segala urusan diserahkan kepada selain ahlinya, banyak harta di tangan manusia dan kemewahan, manusia berbangga-bangga dengan tingginya bangunan rumah, banyak barang rumah tangga dan perhiasan, terjadi banyak kesombongan dan urusan manusia dipegang oleh orang rendahan. Hadits ini dinamakan induk sunnah (Ummus Sunnah) karena meliputi pokok-pokok ilmu sunnah.

April 13, 2014 at 8:17 am Leave a comment

Disyari’atkannya Sholat Memakai Sandal

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّه نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ سَيِّئاَتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Sesungguhnya segala pujian hanyalah milik Alloh, kami memuji, meminta ampunan kepadaNya, berlindung kepadaNya dari kejelekan jiwa-jiwa dan amal-amal kami. Barangsiapa yang ditunjuki Alloh maka tidak ada yang menyesatkannya dan barangsiapa disesatkanNya maka tidak ada yang dapat menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak di sembah selain Alloh tidak ada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya.
Alloh تَعاَلىَ berfirman :
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ }

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam”.

Alloh تَعاَلىَ berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Robbmu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Allah menciptakan isterinya (Hawa). Dari keduanya (Adam dan Hawa) Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan taatlah kepada Allah yang dengan mempergunakan namaNya kamu saling meminta dan peliharalah hubungan silaturrahim . Sesungguhnya Allah selalu menjaga semua keadaanmu dan mengawasi kamu”.

Alloh تَعاَلىَ berfirman :
} يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا {
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang lurus, niscaya Allah memberi taufik amal shalih kepadamu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”.
Amma ba’du : Sungguh banyak sunnah Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ yang tidak diketahui kaum muslimin, sehingga mereka meninggalkannya, selanjutnya mereka membenci orang yang berusaha mengamalkan dan hendak menghidupkannya, lalu mereka menuduhnya dengan kesesatan yang jauh.
Termasuk sunnah tersebut adalah sholat dengan memakai sandal. Hadits-hadits mutawatir menyebutkan bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat dengan mamakai sandal. Alloh تَعاَلىَ berfirman :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.
Dan telah tetap dalam hadits bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memerintahkan sholat memakai sandal. Alloh تَعاَلىَ berfirman :

وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا
“Dan apa yang diperintahkan Rasul kepadamu, maka lakukanlah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”.
Alloh تَعاَلىَ berfirman :
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
“Dan tidak halal bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.
Alloh تَعاَلىَ berfirman :

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Maka orang-orang yang menyelishi syari’at Rasul (yang lahir maupun batin) haruslah takut akan ditimpa fitnah (hati) atau ditimpa azab yang pedih di dunia”.
Oleh karena itulah aku berhasrat untuk mengumpulkan hadits-hadits yang aku ketahui dalam masalah disyari’atkannya sholat memakai sandal.
Dan Alloh lah yang memberi taufiq bagi kebenaran dan kepadaNyalah tempat kembali.

Abu Abdirrohman Muqbil bin Hadi AlWadi’i

Dalil-dalil Atas Disyari’atkannya Sholat Memakai Sandal

Hadits pertama :
Imam Bukhari berkata dalam kitab Shahihnya juz 1 halaman 494 :
حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو مَسْلَمَةَ سَعِيدُ بْنُ يَزِيدَ الْأَزْدِيُّ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ
أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي نَعْلَيْهِ قَالَ نَعَمْ
” Telah mengatakan kepada kami Adam bin Abi Iyas, ia berkata, telah mengatakan kepada kami Syu’bah, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Abu Maslamah Sa’id bin Yazid AlAzdi, ia berkata,”Aku bertanya kepada Anas bin Malik, apakah Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat memakai kedua sandalnya ?” Ia menjawab,”Ya”.
Hadits diriwayatkan Imam Muslim (5/42) – dengan syarah Nawawi – , Tirmidzi (1/310) – dengan Tuhfatul Ahwadzi- dan beliau berkata,”Hasan shohih dan ahli ilmu mengamalkan dengannya”, Nasai (2/58), Ibnul Jarud, 68, Ahmad (3/100,166,189), Abu Dawud AthThoyalisi (1/84), Darimi,(1/320), Ibnu Sa’d (1/511) dan AlBaigaqi (2/431).

Hadits kedua :
Imam Muslim رَحِمَهُ الله berkata dalam kitab Shahihnya (1/390) nomor 554 :
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا كَهْمَسٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَأَيْتُهُ تَنَخَّعَ فَدَلَكَهَا بِنَعْلِهِ
” Telah mengatakan kepada kami ‘Ubaidulloh bin Mu’adz Al’Anbari, telah mengatakan kepada kami ayahku, telah mengatakan kepada kami Kahmasun dari Yazid bin ‘Abdillah AsySyihhir dari ayahnya, ia berkata,”Aku sholat bersama Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ lalu aku melihat beliau berdahak lalu menggosok dahaknya dengan sandalnya”.
و حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ عَنْ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ أَبِي الْعَلَاءِ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ
عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَتَنَخَّعَ فَدَلَكَهَا بِنَعْلِهِ الْيُسْرَى
“Dan telah mengatakan kepadaku Yahya bin Yahya, telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Zurai’ dari AlJaziri dari Abil ‘Ala Yazid bin ‘Abdillah AsySyihhir dari ayahnya bahwa sholat bersama Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ,Ia berkata,” Beliau berdahak lalu menggosok dahaknya dengan sandal kirinya”.

Hadits ketiga :
قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقُ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ سَعِيْدٍ الْجَرِيْرِيُّ عَنْ أَبِيْ الْعَلاَءِ ابْنِ عَبْدِ الله ِبْنِ الشِّخِّيْرِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيْ نَعْلَيْه
‘Abdurrozaq dalam Mushonnafnya (1/384) berkata : Dari Ma’mar dari Sa’id AlJariri dari Abil ‘Ala’ bin ‘Abdillah AsySihhir, ia berkata,’Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat memakai kedua sandalnya”.
Hadits ini perowi-perowinya perowi-perowi kitab Shohih.

Hadits keempat :
قاَلَ بْنُ مَاجَهَ : حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ أَبِي أَوْسٍ قَالَ
كَانَ جَدِّي أَوْسٌ أَحْيَانًا يُصَلِّي فَيُشِيرُ إِلَيَّ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَأُعْطِيهِ نَعْلَيْهِ وَيَقُولُ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي نَعْلَيْهِ
Berkata Imam Ibnu Majah : “Telah mengatakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, telah mengatakan kepada kami Ghundar dari Syu’bah dari AnNu’man bin Salim dari Ibni Abi Aus, ia berkata,”Adalah kakekku Aus pernah mengisyaratkan kepadanya pada waktu sholat lalu aku memberikan sandalnya, ia berkata,’Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat memakai sandal”.
AlBushiri berkata dalam Mishbah AzZujajah, 125,”Sandanya baik”.
Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi Syaibah (2/415), Thohawi (1/512), Ahmad (4/8,9,10) dan AlHaitsami berkata dalam Majma’ AzZawaid (2/55),”Diriwayatkan Thobroni dalam AlKabir dan perowi-perowinya amanah”.

Hadits kelima :
Imam Ahmad berkata dalam Musnadnya (2/422):
حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَنِي الْحَارِثِ بْنِ كَعْبٍ قَالَ
كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَسَأَلَهُ فَقَالَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْتَ نَهَيْتَ النَّاسَ أَنْ يَصُومُوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَالَ لَا لَعَمْرُ اللَّهِ غَيْرَ أَنِّي وَرَبِّ هَذِهِ الْحُرْمَةِ لَقَدْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَّا فِي أَيَّامٍ يَصُومُهُ فِيهَا فَجَاءَ آخَرُ فَقَالَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْتَ نَهَيْتَ النَّاسَ أَنْ يُصَلُّوا فِي نِعَالِهِمْ قَالَ لَا لَعَمْرُ اللَّهِ غَيْرَ أَنِّي وَرَبِّ هَذِهِ الْحُرْمَةِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي إِلَى هَذَا الْمَقَامِ وَإِنَّ عَلَيْهِ نَعْلَيْهِ ثُمَّ انْصَرَفَ وَهُمَا عَلَيْهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Telah mengatakan kepada kami ‘Affan,ia berkata, telah mengatakan kepada kami Abu ‘Awanah, ia berkata telah mengatakan kepada kami ‘Abdul Malik bin ‘Umair dari seorang lelaki dari bani AlHarits bin Ka’ab, ia berkata,”Aku pernah duduk di sisi Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ , lalu seorang lelaki datang menemuinya dan bertanya kepadanya,’Hai Abu Huroiroh, apakah kamu melarang manusia puasa pada hari Jum’at ?’ Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ menjawab,’Tidak, demi Alloh, selain aku, demi robb Ka’bah, mendengar Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Jangan sekali-kali seorang dari kalian puasa pada hari Jum’at kecuali hari-hari yang biasa ia puasa padanya’. Lalu seorang lelaki lainnya datang kepada dan berkata,’Hai Hai Abu Huroiroh, apakah kamu melarang manusia sholat memakai sandal ?’ Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ menjawab,’Tidak, demi Alloh, selain aku, demi robb Ka’bah, selain aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat menghadap makom (tempat berdiri nabi Ibrohim di Ka’bah), memakai sandal, kemudian beliau pergi dengan memakai sandalnya”.
Hadits ini beliau keluarkan juga dalam tempat lainnya pada halaman (348, 365, 377, 458,537) dan pada sebagian jalan sanadnya disebutkan nama lelaki yang datang yaitu Abul Aubar Ziyad AlHaritsi), dikeluarkan juga oleh ‘Abdurrozaq, 1/385, Ibnu Abi Syaibah, 2/415 dan Thohawi,1/511).
Perowi-perowi hadits di atas semuanya perowi-perowi kitab shohih kecuali Abul Aubar Ziyad AlHaritsi dinyatakan amanah oleh Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban sebagaimana disebutkan dalam kitab Ta’jilul Manfa’ah.
Adapun ucapan AlHafidz AlHaitsami dalam kitabnya Majma’ AzZawaid, 2/54,” Perowi-perowinya amanah selain Ziyad Abul Aubar AlHaritsi, aku tidak menemukan orang yang menyatakan amanah maupun melamahkannya dalam biografinya”, maka ucapannya telah dibantah oleh Ibnu Hajar dalam kitab Ta’jilul Manfa’ah dengan membawakan rekomendasi Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban.

Hadits Keenam :
Ibnu Majah berkata dalam Sunanya (1/330):
سنن ابن ماجه – (ج 3 / ص 327)
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَقَدْ رَأَيْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي النَّعْلَيْنِ وَالْخُفَّيْنِ
“Telah mengatakan kepada kami ‘Ali bin Muhammad, telah mengatakan kepada kami Yahya bin Adam, telah mengatakan kepada kami Zuhair dari Abi Ishaq dari ‘Alqomah dari Ibnu Mas’ud, ia berkata,”Sungguh aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat memakai sandal dan khufnya”.
Dikeluarkan oleh Abu Dawud AthThoyalisi, 1/84, Ibnu Abi Syaibah, 2/416, Ahmad 1/461 dan Thohawi 1/511.
Di sebagian kitab ditegaskan bahwa Abu Ishaq tidak mendengar dari ‘Alqomah
AlBushiri mengatakan dalam kitab Mishbah AzZujajah fi Zawaid Ibni Majah, 125,”Sanadnya terdapat Abu Ishaq AsSabi’I yang pada ahir umurnya mengalami pikun, Zuhair adalah Mu’awiyyah bin Khudaij diriwayatkan darinya hadits setelah ia pikun sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Zur’ah”.
Dengan sanad ini hadits dinilai lemah akan tetapi bisa dipakai sebagai penguat.

Hadits Ketujuh :
Abu Dawud berkata dalam Sunannya (1/247,248) berkata :
حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي حَافِيًا وَمُنْتَعِلًا
Telah mengatakan kepada kami Muslim bin Ibrohim, telah mengatakan kepada kami ‘Ali bin Mubarok dari Husain AlMu’allim dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata,”Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ terkadang sholat tidak beralas kaki dan terkadang memakai sandal”.
Hadits dikeluarkan oleh Ibnu Majah (1/330), Ahmad (2/174,178,190,210), Ibnu Abi Syaibah (2/425), Ibnu Sa’d (1/ ق 2,168) Thohawi (1/512) dan AlBaihaqi (1/4121).
Dan hadits ini hasan.

Hadits Kedelapan :
Imam Ahmad berkata dalam Musnadnya (4/307):
حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ السُّدِّيِّ حَدَّثَنِي مَنْ سَمِعَ عَمْرَو بْنَ حُرَيْثٍ قَالَ رََأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي نَعْلَيْنِ مَخْصُوفَيْنِ
“Telah mengatakan kepada kami Waki’, telah mengatakan kepada kami Sufyan dari AsSudi dari orang yang mendengar dari ‘Amr bin Huraits, ia berkata,”Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat dengan sandalnya – dalam jalan yang lainnya – dengan sandalnya yang ditambal “.
Hadits dikeluarkan oleh Tirmidzi dalam Syamail Muhammadiyyah, 66, ‘Abdurrozaq (1/386), Ibnu Abi Sayibah (2/415), Ibnu Sa’d (1/ق 2, 167) dan Thohawi, 1/512.
Hadits ini dalam sanadnya ada perowi yang tidak dikenal.
Penulis Syarah Syamail Muhammadiyyah berkata,”Berkata AlQistholani, aku tidak mengetahui pada satu riwayat ketegasan nama orang yang meriwayatkan hadits dari AsSudi , dan aku perkirakan namanya ‘Atho bin AsSaib, di ahir umurnya ia pikun. Dan AsSud termsuk orang mendengar darinya setelah usia pikunnya lalu namanya disamarkan agar tidak diketahui kelamahan sanadnya.

Hadits Kesembilan

AlBaihaqi dalam Sunannya (2/420) berkata :
)انبأ) أبو بكر بن الحارث الفقيه انبأ أبو محمد بن حيان ثنا على بن سعيد ثنا محمد بن سنان القزاز ثنا أبو غسان العنبري ثنا شعبة عن حميد بن هلال عن عبد الله بن الصامت عن ابى ذر قال رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يصلى في نعلين مخصوفتين من جلود البقر
“Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar bin AlHarits AlFaqih, telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad bin Hayyan, telah mengatakan kepada kami ‘Ali bin Sa’id, telah mengatakan kepada kami Muhammad bin Sinan AlQozaz, telah mengatakan kepada kami Abu Ghossan Al’Anbari, telah mengatakan kepada kami Syu’bah dari Humaid bin Hilal dari ‘Abdulloh bin AshShomit dari Abi Dzar, ia berkata,”Aku melihat Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat dengan sandalnya yang ditambal dari kulit sapi”.
AlBaihaqi berkata,” Abu Ghossan Al’Anbari Yahya bin Katsir menyendiri meriwayatkan hadits ini”.

Hadits Kesepuluh
Imam Ahmad berkata dalam Musnadnya (3/502):
قَالَ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا الْعَطَّافُ قَالَ حَدَّثَنِي مُجَمِّعُ بْنُ يَعْقُوبَ عَنْ غُلَامٍ مِنْ أَهْلِ قُباءٍ أَنَّهُ أَدْرَكَهُ شَيْخًا أَنَّهُ قَالَ جَاءَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقُبَاءٍ فَجَلَسَ فِي فَيْءِ الْأَحْمَرِ وَاجْتَمَعَ إِلَيْهِ نَاسٌ فَاسْتَسْقَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسُقِيَ فَشَرِبَ وَأَنَا عَنْ يَمِينِهِ وَأَنَا أَحْدَثُ الْقَوْمِ فَنَاوَلَنِي فَشَرِبْتُ وَحَفِظْتُ أَنَّهُ صَلَّى بِنَا يَوْمَئِذٍ الصَّلَاةَ وَعَلَيْهِ نَعْلَاهُ لَمْ يَنْزِعْهُمَا
“Telah mengatakan kepada kami Yunus bin Muhammad, ia berkata, telah mengatakan kepada kami Al’Atho, ia berkata, telah mengatakan kepadaku Majma’ bin Ya’qub dari Ghulam dari penduduk Quba bahwa ia menjumpai seorang Syaikh yang berkata,”Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ mendatangi kami di Quba lalu beliau duduk di….dan manusia berkumpul di sekelilingnya, Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ meminta air minum, lalu beliau diberi air minum dan meminumnya sedangkan aku di samping kanannya, aku orang yang paling muda……dan aku menghapal bahwa ketika beliau bersama kami sholat memakai sandalnya tidak melepasnya”.
Hadits ini dikeluarkan Ahmad juga dalam juz 4 halaman 221, 334, Thohawi, 1/512 dan menyebutkan antara Majma’ bin Ya’qub dan seorang sahabat, Muhammad bin Ismail dan menyebutkan nama sahabatnya Abdulloh bin Abi Habibah dan diriwayatkan Ibnu Sa’d juz 1/ ق 2/167)
AlHafidz AlHaitsami dalam Majma’ Zawaidnya (2/53) berkata,”Diriwayatkan oleh Ahmad dan beliau menyebutkan nama sahabatnya Abdulloh bin Abi Habibah dalam riwayat lainnya, demikian juga diriwayatkan oleh Thobroni dalam AlKabir dan perowi-perowi Ahmad amanah semuanya”.

Hadits Kesebelas :

AlBaihaqi dalam Sunan Kubronya (2/431) berkata :
(انبأ) أبو الحسين بن بشران العدل ببغداد انبأ اسمعيل بن محمد الصفار ثنا سعدان بن نصر ثنا أبو بدر عن زياد ابن خيثمة عن عبد الله بن عيسى عن عبد الله بن عطاء عن عائشة رضى الله عنها قالت رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلى حافيا ومتنعلا ويشرب قائما وقاعدا وينصرف عن يمينه وعن شماله ولا يبالى أي ذلك كان
“Telah mengabarkan kepada kami Abul Husain bin Busyron Al’Adl di Baghdad, telah mengabarkan kepada kami Ismail bin Muhammad AshShoffar, telah mengatakan kepada kami Sa’dan bin Nashr, telah mengatakan kepada kami Abu Badr dari Ziyad bin Khoitsamah dari ‘Abdillah bin ‘Isa dari ‘Abdillah bin ‘Atho dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ ,”Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat terkadang tidak beralas kaki dan terkadang tidak memakai sandal, minum berdiri dan minum dengan duduk……
AlHafidz AlHaitsami dalam Majma’ Zawaidnya (2/55) berkata,”Diriwayatkan Thobroni dalam AlAusath”, dan perowi-perowi amanah.
Akan tetapi dalam kitab Majma’ Zawaid kalimat وينصرف عن يمينه وعن شماله diganti dengan و ينفتل ……

Hadits Keduabelas :

جدثنا إبراهيم بن مرزوق قال حدثنا حماد بن سلمة عن الحجاج بن أرطأة عن عبد الله عن سعيد بن فيروز عن أبيه أن وفد ثقيف قدموا على رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قالوا : فرأيناه يصلي وعليه نعلان متقابلتان
Berkata Thohawi (1/512),” Telah mengatakan kepada kami Ibrohim bin Marzuq, ia berkata, telah mengatakan kepada kami Abu Rabi’ah, ia berkata,’telah mengatakan kepada kami Hammad bin Salamah dari AlHajjaj bin Arthoh dari ‘Abdil Malik dari Sa’id bin Fairuz dari ayahnya bahwa utusan Tsaqif menemui Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ lalu berkata,’Kami melihat beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sedang sholat memakai sandal berpasangan”.
Dalam sanad hadits terdapat AlHajjaj bin Arthoh seorang mudallis .
Akan tetapi AlHaitsami berkata dalam Majma’ Zawaidnya (2/55),”Diriwayatkan oleh Thobroni dalam AlAusath dan perowi-perowinya amanah”.
Maka perlu dilihat apakah ia punya jalan lain atau AlHajjaj dengan tegas mendengar langsung dari perowi yang ia ambil haditsnya atau AlHafidz AlHaitsami yang menggampang-gampangkan penshohihan hadits ?”

Hadits Ketigabelas
‘Abdurrozaq dalam Mushonnafnya (1/386) berkata:
عبد الرزاق عن عبد الله بن عبد الرحمن بن يزيد قال حدثني محد بن عباد بن جعفر عن شيخ منهم قال : رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي في نعليه
Dari ‘Abdillah bin ‘Abdirrohman bin Yazid, ia berkata, telah mengatakan kepadaku Muhamamd bin ‘Ibad bin Ja’far dari seorang Syaikh dari mereka,”Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat memakai sandal dan mengisyaratkan ke makam Ibrohim”.

Hadits Keempatbelas

Imam Abu Dawu dalam Sunannya (1/247) berkata :
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْفَزَارِيُّ عَنْ هِلَالِ بْنِ مَيْمُونٍ الرَّمْلِيِّ عَنْ يَعْلَى بْنِ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَالِفُوا الْيَهُودَ فَإِنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ وَلَا خِفَافِهِمْ
Telah mengatakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah mengatakan kepada kami Marwan bin Mu’awiyyah AlFazari dari Hilal bin Maimun ArRomli dari Ya’la bin Syaddad bin Aus dari ayahnya, ia berkata, Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda :”Selisihilah Yahudi, sesungguhnya mereka tidak sholat dengan sandal dan khuf “.
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Mawaridul Dhoman, 107 di dalam sanadnya ada tambahan “dan Nasrani”, AlBaihaqi, 2/432, AlHakim, 1/26, ia berkata,”Ini hadits shohih sanadnya dan tidak dikeluarkan Bukhori dan Muslim”, dan Dzahabi tidak berkomentar apa-apa.
Al’Iroqi berkata,”Sanadanya hasan”, sebagaimana disebutkan dalam Faidhul Qadir dan Thobroni dalam AlKabir, 7/348 dengan kalimat hadits,
صَلُّوا فِي نِعَالِكُمْ، وَلا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ” “Sholatlah kalian dengan sandal dan jangan menyerupai Yahudi !”.
Hadits Kelimabelas
AlHakim dalam Mustadroknya (1/139) berkata,
حدثنا محمد بن صالح ، وإبراهيم بن عصمة ، قالا : ثنا السري بن خزيمة ، ثنا موسى بن إسماعيل ، وأنبأ أبو الوليد الفقيه ، ثنا الحسن بن سفيان ، ثنا إبراهيم بن الحجاج ، قالا : ثنا عبد الله بن المثنى الأنصاري ، عن ثمامة ، عن أنس ، أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يخلع نعليه في الصلاة قط إلا مرة واحدة خلع فخلع الناس ، فقال : « ما لكم » قالوا : خلعت فخلعنا ، فقال : « إن جبريل أخبرني أن فيهما قذرا – أو أذى » . « هذا حديث صحيح على شرط البخاري ، فقد احتج بعبد الله بن المثنى ولم يخرجاه ، وشاهده الحديث المشهور عن ميمون الأعور »
“Telah mengatakan kepada kami Muhammad bin Sholih dan Ibrohim bin ‘Ishmah keduanya berkata, telah mengatakan kepada kami AsSurri bin Khozimah, telah mengatakan kepada kami Musa bin Isma’il dan mengabarkan kepada kami Abul Walid AlFaqih, telah mengatakan kepada kami AlHasan bin Sufyan, telah mengatakan kepada kami Ibrohim bin AlHajjaj keduanya mengatakan, telah mengatakan kepada kami ‘Abdulloh bin AlMutsanna AlAnshori dari Tsumamah dari Anas bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ tidak pernah melepas sandalnya dalam sholat kecuali sekali saja lalu sahabat melepasnya, beliau bertanya,’Ada apa dengan kalian ?’ Mereka menjawab,’Anda melepas sandal maka kami melepasnya’. Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda :”Sesungguhnya Jibril mengabarkan kepadaku bahwa di sandalku ada kotoran atau najis lalu aku melepasnya”.
AlHakim berkata,”Hadits ini shohih sesuai syarat Bukhori, ia memakai perowi ‘Abdulloh AlMutsanna dan Bukhori – Muslim tidak mengeluarkan hadits ini dalam kitab mereka”. Dan Dzahabi tidak berkomentar apa-apa.
AlHafidz AlHaitsami mengatakan dalam Majma Zawaid (juz 1/56),”Diriwayatkan Thobroni dalam AlAusath dan perowi-perowinya perowi kitab Shohih dan diriwayatkan AlBazzar dengan ringkas”.

Hadits Keenambelas
AlHakim dalam Mustadroknya (1/181) berkata,
حدثناه أبو جعفر محمد بن محمد بن عبد الله البغدادي ، ثنا المقدام بن داود بن تليد الرعيني ، ثنا عبد الغفار بن داود الحراني ، ثنا حماد بن سلمة ، عن عبيد الله بن أبي بكر ، وثابت ، عن أنس ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، قال : « إذا توضأ أحدكم ولبس خفيه (1) فليصل فيهما ، وليمسح عليها ، ثم لا يخلعهما إن شاء إلا من جنابة (2) » . « هذا إسناد صحيح على شرط مسلم ، وعبد الغفار بن داود ثقة غير أنه ليس عند أهل البصرة عن حماد »
“Telah mengatakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Muhammad bin ‘Abdillah AlBaghdadi, telah mengatakan kepada kami AlMiqdam bin Dawud dari Talid ArRo’ini, telah mengatakan kepada kami ‘Abdul Ghoffar bin Dawud Alharani, telah mengatakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ubaidillah Ibni Abi Bakar dan Tsabit dari Anas bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Jika salah seoarang dari kalian telah wudhu dan memakai khufnya maka sholatlah dengan keduanya dan usaplah (ketika wudhu) kemudian jangan ia lepas jika ia kehendaki kecuali karena ia junub”.
Sanadnya shohih sesuai syarat Muslim, ‘Abdul Ghoffar bin Dawud amanah akan tetapi tidak ada penduduk dari Bashroh yang meriwayatkan dari Hammad”.
Hadits ini diriwayatkan AlBaihaqi (1/279) dan menyebutkan penguat bagi ‘Abdul Ghoffar yaitu Asad bin Musa yang digelari Asadus Sunnah (Singa Sunnah). Dan haditsnya syadz (ganjil).
AlBaihaqi berkata,”Berkata Ibnu Sho’id,’Aku tidak mengetahui seorang yang datang membawa hadits ini kecualil Asad bin Musa”. AlBaihaqi berkata,”Hadits ini dikuatkan oleh ‘Abdul Ghoffar bin Dawud AlHaroni akan tetapi tidak ada penduduk dari Bashroh yang meriwayatkan dari Hammad dan hadits ini tidak terkenal, wallohu a’lam.
Itulah hadits-hadits yang bisa aku sampaikan, meski aku tinggalkan beberapa hadits yang menunjukkan disyari’atkannya sholat memakai sandal dalam kitab Majma Zawaid, Mushonnaf ‘Abdurrozaq dan selain keduanya karena terdapat kritikan pada kedua kitab tersebut meskipun sebagiannya bisa dijadikan penguat.
Terlebih Thohawi dalam Musykil Atsar juz 1/511 menyatakan dengan tegas bahwa hadits-hadits yang menunjukkan disyari’atkannya sholat memakai sandal mencapai mutawatir, beliau mengatakan,”Hadits-hadits datang, menunjukkan bahwa disyari’atkannya sholat memakai sandal mencapai mutawatir dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dari perbuatan beliau yang memakai sandal dalam sholatnya, melepas sandalnya waktu melepasnya karena najis dan pembolehannya sholat memakai sandal”.
Dan ulama رَحِمَهُمَ اللهُ tidak mensyaratkan kemutawatiran dalam menentukan hadits shohih atau hasan bahkan mereka hanya menyebutkan hadits shohih, hasan dan dho’if.

Bab Bila Seorang Sedang Sholat Melepas Sandalnya Di Manakah Ia Meletakannya ?

Hadits Pertama :
Abu Dawud dalam Sunannya (2/248) berkata :
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ رُسْتُمَ أَبُو عَامِرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلَا يَضَعْ نَعْلَيْهِ عَنْ يَمِينِهِ وَلَا عَنْ يَسَارِهِ فَتَكُونَ عَنْ يَمِينِ غَيْرِهِ إِلَّا أَنْ لَا يَكُونَ عَنْ يَسَارِهِ أَحَدٌ وَلْيَضَعْهُمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ
“Telah mengatakan kepada kami AlHasan bin ‘Ali, telah mengatakan kepada kami ‘Utsman bin ‘Umar, telah mengatakan kepada kami Sholih bin Rustam Abu ‘Amir dari ‘Abdirrohman bin Qois dari Yusuf bin Malik dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ bahwa Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda :’Jika salah seorang dari kalian hendak sholat maka janganlah meletakkan sandalnya di samping kanan maupun samping kirnya, sehingga menjadi di samping kanan temannya kecuali bila tidak ada seorang di samping kirinya (maka letakkanlah di samping kirinya), tetapi letakkanlah di depannya”.
Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Mawaridul Dhoman, 107 dan AlHakim dalam Mustadroknya juz 1/259 dan berkata,”Shohih sesuai syarat Bukhori dan Muslim dan keduanya tidak mengeluarkannya dalam kitab mereka”. Dikeluarkan juga AlBaihaqi juz 2/432.

Hadits Kedua :
Abu Dawud dalam Sunannya (2/246) berkata :
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ عَنْ ابْنِ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ السَّائِبِ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي يَوْمَ الْفَتْحِ وَوَضَعَ نَعْلَيْهِ عَنْ يَسَارِهِ
“Telah mengatakan kepada kami Musaddad, telah mengatakan kepada kami Yahya dari Ibni Juraij, telah mengatakan kepadaku Muhammad bin ‘Abbad bin Ja’far dari Ibni Sufyan dari ‘Abdillah bin AsSaib, ia berkata,”Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ meletakkan sandalnya di samping kirinya”.
Hadits ini perowi-perowinya perowi kitab shohih.
Dikeluarkan juga oleh Nasai (2/58), Ibnu Majah (1/416), Ibnu Abi Syaibah (2/418), AlHakim (1/259) dan AlBaihaqi (2/432)

Hadits Ketiga :
Abu Dawud dalam Sunannya (2/246) berkata :
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ نَجْدَةَ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ وَشُعَيْبُ بْنُ إِسْحَقَ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْوَلِيدِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَخَلَعَ نَعْلَيْهِ فَلَا يُؤْذِ بِهِمَا أَحَدًا لِيَجْعَلْهُمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَوْ لِيُصَلِّ فِيهِمَا
“Telah mengatakan kepada kami ‘Abdul Wahhab bin Najdah, telah mengatakan kepada kami Baqiyyah dan Syu’aib bin Ishaq dari AlAuza’I, telah mengatakan kepadaku Muhammad bin AlWalid dari Sa’id bin Abi Sa’id dari ayahnya dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ, beliau bersabda,”Jika salah seorang dari kalian hendak sholat lalu melepas sandalnya maka janganlah ia mengganggu seorang pun dengannya, hendaklah ia letakkan di antara kedua kakinya atau ia sholat memakai sandalnya”.
Hadits dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah juz 2 hal 418, Thobroni dalam AshShoghir juz 2/hal 8, AlHakim juz 1/259 dan AlBaihaqi juz 2 hal 432.
Al Hakim berkata,”Hadits shohih sesuai syarat Muslim dan Bukhori – Muslim tidak mengeluarkan dalam kitab mereka”. Dan Dzahabi tidak mengomentari penshohihanya.

Hadits Keempat :
Ibnu Abi Syaibah berkata dalam kitabnya juz 2 hal 418 :
حدثنا عفان قال ثنا حماد بن سلمة قال انا أبو نعامة السعدي عن أبي نضرة عن سعيد قال بينما رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي فخلع نعليه فوضعها عن يساره.
“Telah mengatakan kepada kami ‘Affan, ia berkata, telah mengatakan kepada kami Hammad bin Salamah, ia berkata, telah mengatakan kepada kami Abu Na’amah AsSa’di dari Abi Nadhroh dari Abi Sa’id, ia berkata,” Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat, lalu melepas sandalnya, beliau letakkan di samping kirinya”.
Hadits ini sanadnya sesuai syarat Muslim.

Bab Bagaimana Mensucikan Khuf dan Sandal

Hadits Pertama :
Abu Dawu dalam Sunannya juz 1 halaman 148 berkata :
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ يَعْنِي الصَّنْعَانِيَّ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَعْنَاهُ قَالَ إِذَا وَطِئَ الْأَذَى بِخُفَّيْهِ فَطَهُورُهُمَا التُّرَابُ
“Telah mengatakan kepada kami Ahmad bin Ibrohim, telah mengatakan kepadaku Muhammad bin Katsir AshShon’ani dari AlAuza’I dari Ibni ‘Ajlan dari Sa’id bin Abi Sa’id dari ayahnya dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ dari Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ,”Jika khuf salah seorang kalian menginjak najis maka tanah berikutnya adalah pensuci baginya”.
Dikeluarkan oleh Ibnu Majah juz 1 halaman 148, Ibnu Hibban dalam Mawaridudh Dhoman halaman 8, AlHakim juz 1 halaman 11 dan berkata,”Hadits shohih sesuai syarat Muslim”, AlBaihaqi juz 2 halaman 430 dan Ibnu Hazm dalam AlMuhalla juz 1 halaman 93.

Hadits Kedua :
Abu Dawu dalam Sunannya juz 1 halaman 247 berkata :
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ أَبِي نَعَامَةَ السَّعْدِيِّ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ
بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ قَالَ مَا حَمَلَكُمْ عَلَى إِلْقَاءِ نِعَالِكُمْ قَالُوا رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ جِبْرِيلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا أَوْ قَالَ أَذًى وَقَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَنْظُرْ فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ قَذَرًا أَوْ أَذًى فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا
“Telah mengatakan kepada kami Musa bin Ismail, telah mengatakan kepada kami Hammad bin Yazid dari Abi Na’amah AsSa’di dari Abi Nadhroh dari Abi Sa’id AlKhudri,”Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersama sahabatnya, tiba-tiba beliau melepas sandalnya lalu meletakkannya di samping kirinya. Ketika sahabat melihat perbuatan Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ maka mereka melemparkan sandal mereka. Ketika Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ menyelesaikan sholatnya bertanya,’Apa yang menyebabkan kalian melemparkan sandal-sandal kalian ?’ Sahabat menjawab,’Kami melihat anda melemparkan sandal anda maka kami melemparkan sandal-sandal kami’. Maka Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda :’Sesungguhnya Jibril عَلَيْهِ السَّلاَمُ mendatangiku lalu mengabarkan bahwa di sandalku najis’ ada atau adza (kotoran). Dan Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Jika salah seorang kalian datang ke masjid maka lihatlah, jika ia melihat di sandalnya ada kotoran atau najis maka bersihkanlah dan sholatlah dengannya”.
Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya juz 1 halaman 384, Ibnu Hibban dalam Mawaridudh Dhoman halaman 108, Musnad Ahmad juz 3 halaman 20, AlHakim juz 1 halaman 260, ‘Abdurrozaq juz 1 halaman 388, Ibnu Abi Syaibah juz 2 halaman 416, Abu Dawud Thoyalisi juz 1 halaman 84, Darimi juz 1 halaman 32, Thohawi juz 1 halaman 511, AlBaihaqi juz 2 halaman 431 dan Ibnu Hazm dalam AlMuhalla juz 1 halaman 93.
AlHakim berkata,”Hadits shohih sesuai syarat Muslim”. Dan Dzahabi tidak mengomentari apa-apa.

Bahaya-bahaya Sholat Tidak Memakai Sandal

Pertama : Bahaya terbesar sholat tidak memakai sandal kaum muslimin menjadi tidak mengetahui sunnah ini dan menganggap orang yang sholat memakai sandal melakukan dosa yang amat besar dan mereka menghalalkan darinya sebagaimana menghalalkan pada orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar.
Aku pernah mendengar seorang petugas masjid bercerita,”Lelaki itu dahulu pernah di Saudi kemudian pulang ke Yaman, ia hendak masuk masjid. Aku katakan padanya katakan,’Demi Alloh kalau kamu masuk masjid dengan sandalmu pasti kaki akan dipatahkan”. Ia sendiri mengaku orang berilmu padahal ia tidak mengetahui madzhabnya.
AsySyaukani رَحِمَهُ اللهُ berkata mengatakan tentang disyari’atkannya sholat memakai sandal,”Dan termasuk orang yang berpendapat sunnahnya sholat memakai sandal adalah AlHadawiyyah, meskipun orang-orang awamnya mengingkarinya. Imam Mahdi berkata dalam kitabnya AlBahr,’ Msalah, dan disunnahkan memakai sandal yang suci ketika sholat berdasarkan sabda Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ,’ صَلُّوْا فِيْ نِعاَلِكُمُ Sholatlah kalian dengan sandal kalian”.
Aku melihat sekelompok orang di tanah di Masjidil Haram Makkah mengerumi seorang lelaki di bahwa pengeras suara, mereka mengingkarinya sholat memakai sandal. Seorang di antara mereka berkata,”Ini setan “.– orang yang sholat memakai sandal – Sangat disesalkan orang yang bicara tersebut termasuk orang yang rajin berjama’ah di Masjidil Haram. Tidak diragukan seandainya ia mengetahui hukumnya pasti ia tidak akan berani mengatakan setan kepada saudaranya sesama muslim.
Aku melihat di Bisyah seorang lelaki berpenampilan sholih dan baik mengingkari orang yang sholat memakai sandalnya. Dikatakan kepadanya,”Ia sunnah “. maka ia membantah,”Aku berlindung kepada Alloh dari sunnah ini !”.
Dan yang lebih besar daripada kenyataan itu semua bahwa sebagian ikhwan yang hendak sholat di salah satu masjid di Madinah diingkari dengan keras.
Semua itu disebabkan tidak ada amalan ahli ilmu terhadap sunnah ini. Kalau ahli ilmu mengamalkannya niscaya kami tidak perlu mengumpulkan hadits-hadits ini dan menyebarkannya di antara manusia.
Sebab lainnya, kebanyakan kaum muslimin berpaling dari kitab-kitab sunnah. Seandainya mereka merujuk kepada kitab-kitab tersebut pasti tidak akan timbul keraguan tentang disyari’atkannya sholat memakai sandal dan sesungguhnya ia sunnah yang diperintahkan.
Kedua : Termasuk bahaya tidak sholat memakai sandal, sebagian orang yang sholat mengumpulkan sandal-sandal di satu tempat, maka terkadang sandal-sandal itu sebagai sebagai sebab bengkokonya barisan sholat yang diperintahkan untuk meluruskannya dan ada ancaman neraka atas kebengkokannya. Kami menyaksikan kebengkokan shoff (barisan) di Masjidil Haram disebabkan banyaknya tumpukan sandal karena tidak ditemukan satu tempat di shooff
Ketiga : Banyak dari orang yang mau sholat tidak mau melihat sandal di depan pintu masjid ketika akan masuk masjid karena mereka tidak menginginkan sholat dengan sandal. Sehingga terkadang sandalnya terkena najis, jika meletakkan di dalam masjid maka najis berjatuhan di dalamnya. Ini semua dengan sebab meninggalkan sunnah yaitu melihat sandal di depan pintu masjid ketika hendak masuk masjid dan menggosoknya dengan tanah bila ada najis atau kotorannya.
Keempat : Terkang orang yang sholat hawatir sandalnya dicuri, lalu pikirannya kacau ketika ia sedang sholat yang menghilangkan kehusyuannya. Sedangkan khusyu adalah otaknya (inti) sholat sebagaimana yang Alloh firmankan :
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2)
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya”.
Banyak hadits yang menganjurkan untuk menghilangkan kekacauan pikiran dalam sholat :
Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shohihnya dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ baha Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,
لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ
“Tidak ada sholat di hadapan makanan maupun menahan buang air dan kentut”.
Imam Bukhori dan Imam Muslim mengeluarkan dalam kitab mereka dari Anas رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,
عَنْ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قُدِّمَ الْعَشَاءُ وَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَابْدَءُوا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوا صَلَاةَ الْمَغْرِبِ
“Jika telah disungguhkan makan malam maka mulailah dengannya sebelum kamu sholat maghrib”.
Perintah dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ini dalam rangka menjaga kekhusyu’an.

Kerancuan Orang-orang yang Mengingkari Sholat Memakai Sandal

Orang-orang yang mengingkari sholat memakai sandal mempunyai kerancuan berpikir (syubhat) yang harus dibicarakan sampai jelas kebenaran. Insya Alloh.
Meskipun aku tidak perna seorang alim pun yang berhujjah denga syubhat mereka dan orang-orang jahil bukanlah dalil bagi syari’at yang suci.
Adapun Syubhat mereka di antaranya :
Pertama :
Sesungguhnya masjid-masjid sekarang telah dihiasi dan diberi hamparan karpet tidak seperti masjid-masjid di jaman Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ.
Jawaban : Sesungguhnya kebaikan itu pada apa yang Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ di atasnya. Kalau masjid-masjid sekarang tetap seperti masjid di jaman Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ niscaya lebih baik. Adapun hiasan masjid-masjid maka telah ada nash yang melarangnya.
Dikeluarkan oleh Abu Dawud juz 1/hal. 171, Ibnu Majah juz 1/ hal. 244, Darimi juz 1/hal 327, Ahmad juz 3/hal 134, 145, 152,230,283 dan Ibnu Hibban dalam Mawaridudh Dhom’an dari Anas رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ : Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ
“Tidak terjadi hari kiamat sampai manusia saling membanggakan bangunan masjidnya”.
Dan dalam sebagian jalan hadits disebutkan,
Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ melarang manusia bermegah-megahan membangun masjid”.
Dikeluarkan oleh Abu Dawud juz 1/hal. 170 dari Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ , Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أُمِرْتُ بِتَشْيِيدِ الْمَسَاجِدِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتْ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى
“Aku tidak diperintahkan meninggikan dan memperpanjang bangunan masjid”. Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ berkata,”Kalian benar-benar akan menghiasinya sebagaimana Yahudi dan Nasrani menghiasinya”.
Perowi-perowinya perowi kitab Shohih kecuali Syaikh (guru) Abu Abu Dawud, Muhammad bin Shobbah bin Sufyan, jujur (shoduq)
Imam AshShon’ani رَحِمَهُ اللهُ berkata,”AlMahdi berkata dalam kitab AlBahr,’Sesungguhnya hiasan masjid Haramain bukan usul dari ahli halli wal ‘aqdi (ulama dan umara) dan bukan dari diam keridhoaannya ulama akan tetapi dilakukan oleh penduduk negeri yang diktator tanpa persetujuan seorang pun dari orang yang utama. Dan kaum muslimin diam tidak ridho’. Ini adalah perkataan yang bagus”. Selesai ucapan Shon’ani.
Aku (Syaikh Muqbil) katakan,”Adapun penghaparan masjid dengan sajadah yang berwarna warni jelas menyibukkan orang yang sholat dan melalaikannya darinya. Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dalam kitab mereka dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي خَمِيصَةٍ لَهَا أَعْلَامٌ فَنَظَرَ إِلَى أَعْلَامِهَا نَظْرَةً فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ اذْهَبُوا بِخَمِيصَتِي هَذِهِ إِلَى أَبِي جَهْمٍ وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلَاتِي وَقَالَ هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْتُ أَنْظُرُ إِلَى عَلَمِهَا وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ فَأَخَافُ أَنْ تَفْتِنَنِي
bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat di atas kain miliknya yang bergambar-gambar, beliau melihat banyak gambarnya, setelah selesai sholat beliau berkata,
“Bawalah kain ini kepada Abi Jahm dan berikan aku kain tebal Abi Jahm yang yang tidak bergambar, sesungguhnya kainnya (yang bergambar) melalaikanku dari sholat “. Berkata Hisyam dari ‘Urwah dari ayahnya dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata,”Aku melihat gambar-gambarnya ketika aku sedang sholat lalu aku takut terganggu”.
Ini kalimat riwayat Bukhori.
Dan dikeluarkan Bukhori dari Anas Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ , ia berkata,
كَانَ قِرَامٌ لِعَائِشَةَ سَتَرَتْ بِهِ جَانِبَ بَيْتِهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمِيطِي عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا فَإِنَّهُ لَا تَزَالُ تَصَاوِيرُهُ تَعْرِضُ فِي صَلَاتِي
“Adalah qirom milik ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ menutupi salah satu sisi rumahnya, lalu Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata,”Singkirkan dariku kain sitarmu ini karena gambar-gambarnya menghalangiku dalam sholatku”.
Dan dikeluarkan juga dari ‘Uqbah bin ‘Amir,
أُهْدِيَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرُّوجُ حَرِيرٍ فَلَبِسَهُ فَصَلَّى فِيهِ ثُمَّ انْصَرَفَ فَنَزَعَهُ نَزْعًا شَدِيدًا كَالْكَارِهِ لَهُ وَقَالَ لَا يَنْبَغِي هَذَا لِلْمُتَّقِينَ
“Dihadiahkan kepada Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ kain-kain dari sutera, lalu beliau mengenakannya, beliau sholat dengannya kemudian berpaling dan melepasnya dengan keras seperti tidak suka dan berkata,”Tidak sepantasnya pakaian ini untuk orang-orang bertakwa”.
Imam AshShon’ani رَحِمَهُ اللهُ berkata mengenai hadits ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ di atas dalam Subulus Salam,”Dalam hadits ada dalil atas dimakruhkannya apa-apa yang menyibukkan diri dari sholat seperti ukiran dan yang semisal dengannya dari perkara yang menyibukkan hati, Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersegera melindungi sholat dari apa yang melalaikannya dan menghilangkan apa yang menyibukkan dari konsentrasi sholat”.
AthThibi رَحِمَهُ اللهُ berkata,”Padanya terdapat pemberitahuan bahwa gambar-gambar dan benda-benda yang terlihat berpengaruh jelek bagi hati-hati yang suci dan jiwa-jiwa yang bersih terlebih bagi hati yang kurang bersih, dimakruhkan sholat di atas hamparan-hamparan dan sajadah-sajadah yang berhias dan dimakruhkannya mengukir masjid serta yang semisalnya”. Selesai ucapannya رَحِمَهُ اللهُ .

Kerancuan Kedua :
Sebagian mereka terkadang berdalil dengan firman Alloh تَعاَلىَ yang memerintahkan Musa عَلَيْهِ السَّلاَمُ (فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى) ” maka lepaslah kedua terompahmu sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.
“.
Pendalilan yang amat jauh. Dan semoga Alloh Ibnu Mas’ud رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ ketika mengatakan kepada Abu Musa AlAsy’ari ketika menjadi imam manusia lalu melepas sandalnya,”Mengapa kamu melepas sandalmu ? Apakah kamu berada di lembah yang suci ?”
Berkata Abu Muhammad bin Hazm رَحِمَهُ اللهُ dalam kitabnya AlIhkam fi Ushulil Ahkam,”Dan termasuk syi’ar Musa عَلَيْهِ السَّلاَمُ firman Alloh تَعاَلىَ (فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى) ” maka lepaslah kedua terompahmu sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa”. Dan kami tidak melepas sandal kami di tanah suci tersebut “. Selesai ucapan beliau.
Maksud Ibnu Hazm bahwa kita tidaklah beribadah dengan syari’at orang-orang sebelum kita. Dan aku tidak mengetahui satu kerancuan yang serupa dengannya yang sepantasnya disebutkan. Adapun kekacauan dan anggapan baik orang-orang bodoh, maka tidak ada manfaat padanya kecuali amalan orang-orang yang mengetahui AsSunnah. Maka mereka jika melihat orang yang alim terhadap AsSunnah mengamalkannya pasti mereka akan mengamalkannya.

Penginkaran Terhadap Orang yang Menolak AsSunnah Dengan Akal dan Anggapan Baik

Karena banyak manusia menolak sunnah-sunnah dengan akal dan anggapan baik, dan termasuk sunnah yang mereka tolak adalah disyari’atkannya sholat memakai sandal, maka aku memandang perlunya menyebutkan dalil-dalil dan ucapan ulama yang menjelaskan kerusakan perbuatan mereka dan menejelaskan bahaya-bahayanya terhadap agama :

Hadits pertama :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى فِي امْرَأَتَيْنِ مِنْ هُذَيْلٍ اقْتَتَلَتَا فَرَمَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى بِحَجَرٍ فَأَصَابَ بَطْنَهَا وَهِيَ حَامِلٌ فَقَتَلَتْ وَلَدَهَا الَّذِي فِي بَطْنِهَا فَاخْتَصَمُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَضَى أَنَّ دِيَةَ مَا فِي بَطْنِهَا غُرَّةٌ عَبْدٌ أَوْ أَمَةٌ فَقَالَ وَلِيُّ الْمَرْأَةِ الَّتِي غَرِمَتْ كَيْفَ أَغْرَمُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ لَا شَرِبَ وَلَا أَكَلَ وَلَا نَطَقَ وَلَا اسْتَهَلَّ فَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الْكُهَّانِ

Dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ bahwa Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memutuskan hukum terhadap dua orang wanita dari Hudzail yang saling membunuh. Salah satunya melempar dengan satu batu mengenai perut wanita lawannya yang sedang hamil hingga mematikan janinnya yang di dalam perutnya. Lalu masyarakat mengadukan kepada Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ, lalu Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memutuskan bahwa diat/tebusan janin yang di dalam perutnya karena mati terbunuh adalah membebaskan satu budak laki-laki atau satu budak perempuan. Wali perempuan yang didenda berkata ,”Ya rosululloh bagaimana kami membayar denda atas orang yang belum makan dan minum, belum bicara dan menangis ? Maka yang semisal ini adalah sia-sia”. Maka Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata,”Sesungguhnya ini termasuk teman-teman dukun”.
Diriwayatkan oleh Bukhori juz 1 hal 328, Muslim juz 11 hal. 177 dan padanya ada tambahan setelah sabda Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الْكُهَّانِ “Sesungguhnya ini termasuk teman-teman dukun”, مِنْ أَجْل سَجْعه الَّذِي سَجَعَ “Karena sajaknya yang ia bersajak dengannya”.
Dan dikeluarkan oleh Abu Dawud juz 4 hal. 318, Nasai juz 8 hal. 43 dan Ibnu Majah juz 2 hal. 882.

Hadits Kedua :

عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ امْرَأَةً قَتَلَتْ ضَرَّتَهَا بِعَمُودِ فُسْطَاطٍ فَأُتِيَ فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَضَى عَلَى عَاقِلَتِهَا بِالدِّيَةِ وَكَانَتْ حَامِلًا فَقَضَى فِي الْجَنِينِ بِغُرَّةٍ فَقَالَ بَعْضُ عَصَبَتِهَا أَنَدِي مَنْ لَا طَعِمَ وَلَا شَرِبَ وَلَا صَاحَ فَاسْتَهَلَّ وَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ قَالَ فَقَالَ سَجْعٌ كَسَجْعِ الْأَعْرَابِ
Dari AlMugiroh bin Syu’bah,”Seorang wanita memukul istri yang lain dari suaminya dengan tongkat tenda. Lalu Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dipanggil untuk memutuskan hukum. Maka beliau صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memutuskan hukum atas keluarga wanita yang dilempar – dan dia sedang hamil- dengan denda atau ganti rugi, maka Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ menghukumi bahwa janinnya terbunuh. Lalu sebagian wali dari wanita yang terkena denda berkata,’ Apakah kami membayar denda kepada orang yang belum makan dan minum, belum teriak dan menangis, maka yang semisal ini sia-sia’. Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,”Ini adalah salah satu sajak orang-orang Arab Badui”.
Diriwayatkan Muslim juz 11 hal. 179 dan Nasai juz 8 hal. 44.
Maka anda melihat bahwa Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ mengingkarinya karena ia menentang hadits dengan akalnya dan mengatakan,” Sesungguhnya ini termasuk teman-teman dukun”. Karena sajaknya.

Hadits Ketiga :

عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ كَادَ الْخَيِّرَانِ أَنْ يَهْلِكَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا رَفَعَا أَصْوَاتَهُمَا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَدِمَ عَلَيْهِ رَكْبُ بَنِي تَمِيمٍ فَأَشَارَ أَحَدُهُمَا بِالْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ أَخِي بَنِي مُجَاشِعٍ وَأَشَارَ الْآخَرُ بِرَجُلٍ آخَرَ قَالَ نَافِعٌ لَا أَحْفَظُ اسْمَهُ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ لِعُمَرَ مَا أَرَدْتَ إِلَّا خِلَافِي قَالَ مَا أَرَدْتُ خِلَافَكَ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا فِي ذَلِكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ } يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ {الْآيَةَ قَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ فَمَا كَانَ عُمَرُ يُسْمِعُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ هَذِهِ الْآيَةِ حَتَّى يَسْتَفْهِمَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ ذَلِكَ عَنْ أَبِيهِ يَعْنِي أَبَا بَكْرٍ
“Hai orang-orang beriman janganlah kalian meninggikan suaramu….” Dari Ibni Abi Mulaikah,”Hampir-hampir dua orang pilihan binasa, Abu Bakar dan ‘Umar, keduanya meninggikan suaranya di sisi Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ketika rombongan Bani Tamim. Salah satu dari keduanya mengisyaratkan kepada Aqro’ bin Habis saudara lelaki Mujazyi’ dan yang lainnya menunjuk kepada seorang lelaki yang lainnya, Nafi mengatakan, aku tidak hapal namanya. Maka Abu Bakar berkata kepada ‘Umar,”Kamu hanya menginginkan beda pendapat denganku”. Umar berkata kepada Abu Bakar,”Kamu hanya menginginkan perselesihan”. Lalu suara keduanya terdengar keras, kemudian turunlah firman Alloh : } يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ { “Hai orang-orang beriman janganlah kamu mengeraskan suaramu…”
Ibnu Zubari berkata,’Tidaklah Umar mendengar perkataan Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ setelah turun ayat ini kecuali ia meminta penjelasannya”, dan ia (Ibnu Abi Mulaikah) tidak menyebutkan Abu Bakar dari ayanya (Abu Mulaikah).
Dikeluarkan oleh Bukhori juz 10 hal 212, 214, padanya terdapat riwayat Ibnu Abi Mulaikah dari ‘Abdillah bin Az Zubair, dan juz 17 hal. 39, Tirmidzi juz 4 hal. 185 dan terdapat ketegasan ‘Abdulloh bin Abi Mulaikah bahwa ‘Abdillah bin Az Zubair menyampaikan hadits kepadanya, Ahmad dalam Musnadanya juz 4 hal. 6, Thobari juz 26 hal. 119, dan padanya terdapat ucapan Nafi’ : Telah mengatakan kepadaku Ibnu Abi Mulaikah dari ibni Az Zubair”, maka diketahuilah hadits ini bersambung sebagaimana diisyaratkan oleh AlHafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Barinya juz 10 hal. 212.

Hadits Keempat :

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي مَرَضِهِ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ يُصَلِّي بِالنَّاسِ قَالَتْ عَائِشَةُ قُلْتُ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِي مَقَامِكَ لَمْ يُسْمِعْ النَّاسَ مِنْ الْبُكَاءِ فَمُرْ عُمَرَ فَلْيُصَلِّ فَقَالَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ لِلنَّاسِ قَالَتْ عَائِشَةُ لِحَفْصَةَ قُولِي لَهُ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِي مَقَامِكَ لَمْ يُسْمِعْ النَّاسَ مِنْ الْبُكَاءِ فَمُرْ عُمَرَ فَلْيُصَلِّ لِلنَّاسِ فَفَعَلَتْ حَفْصَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْ إِنَّكُنَّ لَأَنْتُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ لِلنَّاسِ قَالَتْ حَفْصَةُ لِعَائِشَةَ مَا كُنْتُ لِأُصِيبَ مِنْكِ خَيْرًا

Dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ Ummul Mukminin bahwa Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata saat sakitnya,”Perintahkan Abu Bakar sholat dengan manusia (menjadi imam)”. ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ berkata,’Sesungguhnya Abu Bakar jika berdiri sholat pada posisi anda manusia tidak mendengar suaranya karena tangisannya waktu sholat maka perintahkanlah ‘Umar untuk sholat bersama manusia (menjadi imam)’. Maka Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Perintahkan Abu Bakar untuk sholat bersama manusia’. ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ berkata kepada Hafshoh,’Katakanlah kepada beliau, sesungguhnya Abu Bakar jika berdiri sholat pada posisi anda manusia tidak mendengar suaranya karena tangisannya waktu sholat maka perintahkanlah ‘Umar untuk sholat bersama manusia (menjadi imam)’. Hafshoh melaksanakan perintah ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ , lalu Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata,’ Sesungguhnya kalian ini showahib (saudara-saudara ) Yusuf, perintahkan Abu Bakar untuk sholat mengimami manusia”. Hafshoh berkata kepada ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ,’Tidaklah aku ditimpa kebaikan darimu”.
Diriwayatkan Bukhori juz 17 hal. 39 dan Muslim juz 5 hal. 140,141.

Hadits Kelima :

عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ عَنْ عُرْوَةَ قَالَ حَجَّ عَلَيْنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْزِعُ الْعِلْمَ بَعْدَ أَنْ أَعْطَاكُمُوهُ انْتِزَاعًا وَلَكِنْ يَنْتَزِعُهُ مِنْهُمْ مَعَ قَبْضِ الْعُلَمَاءِ بِعِلْمِهِمْ فَيَبْقَى نَاسٌ جُهَّالٌ يُسْتَفْتَوْنَ فَيُفْتُونَ بِرَأْيِهِمْ فَيُضِلُّونَ وَيَضِلُّونَ
Dari ‘Abdillah bin ‘Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهُماَ ,”Aku mendengar Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Sesungguhnya Alloh tidak mencabut ilmu (agama ) setelah Ia memberikannya kepada kalian dengan sekali cabutan akan tetapi Ia mencabutnya dari manusia bersamaan dengan mematikan para ulama dengan ilmu mereka lalu tinggallah manusia-manusia bodoh yang diminta fatwa lalu mereka berfatwa dengan akal mereka lalu mereka menyesatkan dan sesat”.

Diriwayatkan Bukhori juz 17 hal. 145 dan Muslim, lafadznya dari Bukhori.

Atsar (Jejak) Salaf

Adapun atsar salaf tentang pengingkaran terhadap orang yang menolak sunnah-sunnah dengan akal tak terhitung, akan tetapi aku isyaratkan saja sebagiannya:

Atsar pertama :
لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أسفل الخف أولى بِالْمَسْحِ مِنْ أعلاها وَقَدْ رأيت النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمَْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ
“Kalau agama ini ditentukan dengan akal pasti bagian bawah khuf lebih utama diusap daripada bagian atasnya, dan sungguh aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ mengusap bagian atas khufnya”.
Dikeluarkan Abu Dawud juz 1 hal. 63, perowi-perowinya perowi kitab Shohih kecuali ‘Abdu Khori, ia amanah sebagaimana disebutkan dalam kitab “AtTaqrib”.
Dan berkata AlHafidz Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom,”Sanadnya hasan”. Dan berkata dalam Talkhishnya,”Diriwayatkan Abu Dawud dan sanadnya shohih”.

Atsar kedua :
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا
قَالَ فَقَالَ بِلَالُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَاللَّهِ لَنَمْنَعُهُنَّ قَالَ فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ فَسَبَّهُ سَبًّا سَيِّئًا مَا سَمِعْتُهُ سَبَّهُ مِثْلَهُ قَطُّ وَقَالَ أُخْبِرُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقُولُ وَاللَّهِ لَنَمْنَعُهُنَّ
Bahwa ‘Abdulloh bin ‘Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ berkata,”Aku mendengar Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Jangan sekali-kali kamu menghalangi wanita-wanita pergi masjid-masjid jika mereka meminta ijin kamu pergi ke masjid- masjid’. Ia, Salim bin ‘Abdulloh, berkata,’Berkata Bilal bin ‘Abdulloh, anaknya, ‘Demi Alloh kami akan menghalngi wanita-wanita pergi ke masjid-masjid’. Lalu ‘Abdulloh bin ‘Umar menoleh kepadanya, kemudian mencelanya dengan celaan yang jelek yang aku belum pernah mendengar celaan yang semisal dengannya dan berkata,’Aku kabarkan kepadamu dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan kamu bantah,”Demi Alloh kami akan menghalngi wanita-wanita pergi ke masjid-masjid ?’.
Diriwayatkan Muslim juz 4 hal. 161 dan Jami’ Bayan ‘Ilmi wa Fadhlihi juz 2 hal 139 karya AlHafidz ibnu ‘Abdil Barr bahwa Ibnu Umar berkata kepada anaknya,
لعنك الله لعنك الله لعنك الله تسمعني أقول : إن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمر ألا يمنعن ، وقام مغضبا
‘Alloh melaknat kamu, ‘Alloh melaknat kamu, ‘Alloh melaknat kamu, aku katakan : Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memerintahkan mereka tidak menghalangi mereka’. Dan ia berdiri dengan marah.”

Atsar Ketiga :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ َنَّهُ رَأَى رَجُلًا يَخْذِفُ فَقَالَ لَهُ لَا تَخْذِفْ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْخَذْفِ أَوْ كَانَ يَكْرَهُ الْخَذْفَ وَقَالَ إِنَّهُ لَا يُصَادُ بِهِ صَيْدٌ وَلَا يُنْكَى بِهِ عَدُوٌّ وَلَكِنَّهَا قَدْ تَكْسِرُ السِّنَّ وَتَفْقَأُ الْعَيْنَ ثُمَّ رَآهُ بَعْدَ ذَلِكَ يَخْذِفُ فَقَالَ لَهُ أُحَدِّثُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنْ الْخَذْفِ أَوْ كَرِهَ الْخَذْفَ وَأَنْتَ تَخْذِفُ لَا أُكَلِّمُكَ كَذَا وَكَذَا
Dari ‘Abdillah bin Mughofal bahwa ia melihat seorang lelaki melempar binatang buruan dengan batu kecil, maka ia berkata kepadanya,”Janganlah kamu melemparnya dengan batu kecil, sesungguhnya Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ melarangnya atau beliau tidak menyukainya dan bersabda,’Melempar itu tidak bisa menangkap binatang buruan dan tidak bisa menyakitkan musuh akan tetapi hanya memecahkan gigi dan mencongkel mata”. Beberapa waktu kemudian ia melihat lelaki itu melempar buruan lagi dengan batu kecil, maka ia berkata kepadanya,’Aku katakan dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bahwa beliau melarang yang demikian atau tidak menyukainya dan kamu tetap melemparnya, maka aku tidak akan bicara kepadamu selamanya !”.

Atsar Keempat :

عَنْ أََبِيْ قَتَادَةَ حَدَّثَ قَالَ كُنَّا عِنْدَ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ فِي رَهْطٍ مِنَّا وَفِينَا بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ فَحَدَّثَنَا عِمْرَانُ يَوْمَئِذٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ قَالَ أَوْ قَالَ الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ فَقَالَ بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ إِنَّا لَنَجِدُ فِي بَعْضِ الْكُتُبِ أَوْ الْحِكْمَةِ أَنَّ مِنْهُ سَكِينَةً وَوَقَارًا لِلَّهِ وَمِنْهُ ضَعْفٌ قَالَ فَغَضِبَ عِمْرَانُ حَتَّى احْمَرَّتَا عَيْنَاهُ وَقَالَ أَلَا أَرَانِي أُحَدِّثُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُعَارِضُ فِيهِ قَالَ فَأَعَادَ عِمْرَانُ الْحَدِيثَ قَالَ فَأَعَادَ بُشَيْرٌ فَغَضِبَ عِمْرَانُ قَالَ فَمَا زِلْنَا نَقُولُ فِيهِ إِنَّهُ مِنَّا يَا أَبَا نُجَيْدٍ إِنَّهُ مِنَّا لَا بَأْسَ بِهِ
Dari Abi Qotadah Tamim bin Nadzir Al’Adawi bahwa ia berkata,”Kami pernah di sisi ‘Imron bin Hushoin dalam satu kelompok manusia dan Busyair bin Ka’ab, lalu ‘Imron menyampaikan hadits, ia berkata, ‘ Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Malu semuanya baik’. Maka Busyair bin Ka’ab berkata,’Kami menemukan pada sebagian kitab bahwa di antara malu ada ketenangan, kewibaan dan di di antaranya ada kelemahan’. Lalu ‘Imron marah sampai memeraha wajahnya dan berkata,’Bukankah aku memperlihatkan pada diriku, aku menyampaikan hadits padamu dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan kamu bantah’. Abu Qotadah berkata,’ ‘Imron mengulang hadits tersebut’. Busyair membantah lagi, ‘Imron marah besar’. Abu Qotadah berkata,’Maka kami tetap mengatakan hai Abu Nujaid (‘Imron), sesungguhnya di antara kami tidak mengapa”.
Diriwayatkan oleh Muslim juz 2 hal 7, Ahmad juz 4 hal. 436, 440, 442, 445 dan Thoyalisi juz 2 hal. 41).

Atsar Kelima :
عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ : قَالَ عُرْوَةُ لِابْنِ عَبَّاسٍ حَتَّى مَتَى تُضِلُّ النَّاسَ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ أَضْلَلْتَ النَّاسَ, قَالَ : وَ مَا ذَاكَ يَا عُرَيَّةُ قَالَ تَأْمُرُنَا بِالْعُمْرَةِ فِي هَؤُلاَءِ الْعَشَرُ وَ لَيْسَتْ فِيْهِنَّ عُمْرَةٌ ! قَالَ : أَوَ لاَ تَسْأَلُ أُمَّكَ عَنْ ذَلِكَ ؟ قاَلَ عُرْوَةُ : فَإِنَّ أَباَ بَكْرٍ ، وَعُمَرَ لَمْ يَفْعَلاَ ذَلِكَ قَالَ ابْنُ عَباَّسٍ : هَذاَ الَّذِيْ أَهْلَكَكُمْ . وَ اللهِ مَا أَرَى إِلاَّ سَيُعَذِّبُكُمْ إِنِّيْ أُحَدِّثُكُمْ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ تَجِيؤُنِيْ بِأَبِيْ بَكْرٍ ، وَ عُمَرَ ؟

Dari Abi Mulaikah bahwa ‘Urwah bin Az Zubair berkata kepada Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ : Kamu menyesatkan banyak manusia. Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ bertanya :’Mengapa hai ‘Urwah ? ‘Urwah menjawab,’Kamu memerintahkan ‘umroh pada sepuluh hari bulan haji padahal tidak ada perintah ‘umroh ! Maka Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ berkata,’Mengapakah kamu tidak bertanya kepada ibumu tentang masalah ini ? ‘Urwah berkata,’Sesungguhnya Abu Bakar dan ‘Umar tidak mengerjakannya’. Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ berkata,’ Inilah yang membinasakan kalian, demi Alloh aku tidak melihat kecuali Ia akan mengazab kalian, aku menyampaikan hadits dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan kalian bantah dengan Abu Bakar dan ‘Umar….”.

Diriwayatkan Ahmad juz 1 hal. 337 dan Ishaq bin Rohawaih sebagaimana dalam kitab AlMatholib Al’Aliyyah juz 1 hal. 360 dan padanya terdapat perkataan, نجئيكم برسول الله صلى الله عليه و سلم وَ تَجِيؤُنِيْ بِأَبِيْ بَكْرٍ ، وَ عُمَر ؟َ
“Kami mendatangkan hadits Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan kalian membatahnya dengan Abu Bakar dan ‘Umar ?”
Diriwayatkan AlKhothib dalam AlFaqih wal Mutafaqih juz 1 hal. 145, Ibnu Hazm dalam Hajjatul Wada’ hal. 268 dan 269 dari jalan-jalan yang sanadnya sampai ke Ibni Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al’Ilmi wa Fadhlihi juz 2 hal. 239 dan 240.

Atsar Keenam :

أنا محمد بن أحمد بن رزق ، أنا عثمان بن أحمد الدقاق ، نا محمد بن إسماعيل الرقي ، أنا الربيع بن سليمان ، قال : سمعت الشافعي ، وسأله ، رجل عن مسألة ، فقال : يروى فيها كذا وكذا عن النبي صلى الله عليه وسلم ، فقال له السائل : يا أبا عبد الله تقول به ؟ فرأيت الشافعي أرعد (1) وانتقص ، فقال : « يا هذا ، أي أرض تقلني (2) ، وأي سماء تظلني ، إذا رويت عن النبي صلى الله عليه وسلم حديثا فلم أقل به ؟ نعم على السمع والبصر ، نعم على السمع والبصر » Berkata AlKhothib AlBaghdadi رَحِمَهُ اللهُ ,”Mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Rizq, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Utsman bin Ahmad AdDaqoq, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Isma’il ArRoqi, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami ArRobi ‘ bin Sulaiman, ia berkata, ‘Aku mendengar AsySyafi’i ditanya seorang lelaki tentang satu masalah, lalu beliau berkata, ‘Diriwayatkan pada masalah ini demikian dan demikian dari Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ‘. Lelaki itu berkata,’Hai Abu ‘Abdillah, apa yang anda katakan tentangnya ? Maka aku melihat AsySyafi’i bergetar badannya karena takut kepada Alloh dan bangkit dari duduknya, lalu berkata,’Apa ini, bumi mana yang akan membawaku dan langit mana yang akan menaungiku jika aku meriwayatkan dari Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ satu hadits lalu aku tidak berpendapat dengannya ? Ya, atas pendengaran dan penglihatan, ya, atas pendengaran dan penglihatan (wajib menerimanya).
Dan AlKhothib berkata,”Telah mengabarkan kepada kami ArRobi, ia berkata, aku mendengar AsySyafi’I meriwayatkan satu hadits dan sebagian orang yang hadir berkata kepadanya,’Apakah anda mengambil hadits ini ?’ Maka beliau berkata,’Jika aku meriwayatkan satu hadits yang shohih lalu aku tidak mengambilnya, maka aku mempersaksikan pada kalian bahwa akalku telah hilang’, dan beliau membentangkan kedua tangannya.
Atsar ini dikeluarkan oleh AlHafidz AlBaihaqi dalam Manaqib AsySyafii juz 1 hal. 474, 475 dan Abu Nu’aim dalam AlHilyah juz 9 hal. 106. Dan AlKhothib telah menyebutkan dalam kitab AlFaqih wal Mutafaqih satu ucapan yang bagus dalam membantah orang yang mengagungkan akal, beliau رَحِمَهُ اللهُ berkata,”Dan demi umurku, sungguh sunnah-sunnah dan sisi-sisi kebenaran banyak datang menyelisihi dan menjauhi akal dengan sangat jauh, maka kaum muslimin haruslah mengikuti dan tunduk kepadanya. Untuk yang semisal ini ahli ilmu dan agama sangat berhati-hati. Lalu kehati-hatian mereka menahan dari mendahulukan akal dan menunjukkan pada mereka atas kebutaan dan hilang akalnya, bahwasanya kebenaran itu datang menyelisihinya dalam banyak sisi, di antaranya :
Bahwa memotong jemari tangan seperti memotong tangannya dari pundak maka didenda ribu dinar.
Memotong kaki pada paling sedikit daruratnya seperti memotong kaki dari pangkal pahanya maka dendanya ribu dinar.
Dua mata jika tercongkel maka keadaan daruratnya seperti bagian tubuh yang dipotong dari ujung telinganya didenda duabelas ribu dinar .
Dula luka kecil di kepala dendanya duaratus dinar……
Wanita yang haidl mengqodho puasa tidak mengqodho sholat.
Maka sisi-sisi manakah dari hukum Islam di atas yang masuk akal ? Namun sunnah-sunnah dari Islam, di mana Alloh menjadikannya sebagai inti dan tiang agama yang dibangun di atasnya Islam dan ucapan mana yang lebih berbahaya daripada apa yang disabdakan Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dalam haji perpisahannya ketika beliau berkhutbah di hadapan ratusan ribu manusia :”Dan sungguh akau tinggalkan kalian wahai manusia, selama kalian berpegang teguh dengan maka kalian tidak akan sesat selamanya, dua perkara di antara kita : kitabulloh dan sunnah nabiNya”, maka Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ mengaitkan di antara keduanya. Demi Alloh, jika kita memungut sunnah-sunnah dari ahli fiqih dan orang-orang yang terpercaya dan mempelajarinya seperti kita mempelajari ayat-ayat AlQur’an. Kita senantiasa menjumpai orang-orang utama dan ahli fiqih dari orang-orang terpilih sangat mencela orang-orang yang suka berdebat dan mendahulukan akalnya, melarang kita bertemu dengan mereka dan bermajlis dengan mereka, memperingatkan kita dengan keras agar menjauhi mereka dan mengabarkan kepada kita bahwa mereka adalah orang-orang sesat, tukang menyimpangkan makna dalil dengan menafsirkan kitabulloh dan sunnah Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dengan kesesatan. Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ tidaklah wafat sampai beliau membenci banyak pertanyaan dan membahas urusan-urusan yang tidak bermanfaat dalam agama hingga ucapan beliau yang menunjukkan ketidaksukaannya : Biarkan aku, apa yang aku tinggalkan pada kalian, sesungguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kalian banyaknya pertanyaan dan penyelisihan terhadap nabi mereka, jika aku larang sesuatu pada kalian maka jauhilah, jika aku perintahkan sesuatu pada kalian maka ambillah darinya semampu kalian”, maka perkara apa yang lebih mencukupi daripada melebihkan akal atas perkataan Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ? Kaum yang dikatakan Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ tidak akan mencapai satu persenpun dari seratus persen pengetahuan syariat yang telah dicapai oleh kaum yang bersama beliau صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ . Bukankah pengikut hawa nafsu atau ahli bid’ah dan orang-orang yang menyelisihi kebenaran binasa dengan sebab perdebatan dan pemikiran mereka ? Maka mereka itu tiap hari di atas agama yang sesat dan kesamaran yang baru, tidak tegak di atas satu agama. Yang paling menakjubkan mereka hanyalah berdebat dan memikirkan selain agama ini. Seandainya mereka berpegang teguh dengan sunnah-sunnah, agama sahabat, mengambil urusan yang diperintahkan dan diridhoi Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan meninggalkan perdebatan pasti hilanglah kesamaran agama mereka. Namun mereka memaksakan diri pada apa yang telah dicukupkan hasilnya dan mereka memikul di atas akal-akal mereka penelitian dalam urusan Alloh yang akal mereka tidak mampu menelaahnya. Dan hak akal adalah mencukupkan diri di bawah syariat Alloh. Maka di sanalah mereka menempatkan diri pada posisi yang sulit. Di manakah ilmu……
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan husus Robbku, dan kamu hanyalah diberi sedikit ilmu Allah “.

Alloh telah mengkisahkan Musa yang mencela urusan seorang yang ia jumpai
فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آَتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
“Lalu keduanya bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”.
Lelaki ini melubangi sebuah perahu, membunuh seorang anak kecil dan membangun sebuah dinding sebagaimana yang telah Alloh kisahkan dalam kitabNya, lalu Musa mengingkari perbuatannya, tindakan-tindakan yang terlihat aneh oleh Musa dan diingkari hati dan tidak bisa dicapai oleh pikiran manusia sampai Alloh menyingkapkan rahasianya kepada Musa hingga ia mengetahuinya. Demikianlah syari’at yang datang dari sunnah-sunnah Islam dan syari’at-syari’at agama yang tidak sesuai dengan pikiran dan akal manusia. Seandainya disingkapkan kepada manusia pokok-pokonya pasati ia datang dengan jelas tidak ada kesulitan apa pun seperti perbuatan Khodhir yang diperlihatkan kepada Musa. Sesungguhnya syari’at yang dibawa Muhammad َصلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ mirip apa yang dibawa oleh Musa. Dan tidak ada yang lebih bodoh, sedikit mengenal hak Alloh, rosulNya, cahaya Islam dan keterangannya daripada orang yang mengatakan, aku tidak menerima AsSunnah maupun urusan kaum muslimin yang dahulu (sahabat) sampai tersingkap kepadaku hal ghoib dan aku mengetahui pokok-pokoknya ? Atau ia tidak mengucapkan penolakannya tetapi demikianlah perbuatan dan pikirannya. Padahal Alloh تَعاَلىَ berfirman :
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
” Maka demi Rabbmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian hati mereka tidak merasa keberatan terhadap hukum yang kamu putuskan dan mereka menerima dan tunduk secara lahir dan batin”.

 

 

 

 

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّه نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ سَيِّئاَتِ أَعْمَالِنَامَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

       Sesungguhnya segala pujian hanyalah milik Alloh, kami memuji, meminta ampunan kepadaNya, berlindung kepadaNya dari kejelekan jiwa-jiwa dan amal-amal kami. Barangsiapa yang ditunjuki Alloh maka tidak ada yang menyesatkannya dan barangsiapa disesatkanNya maka tidak ada yang dapat menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak di sembah selain Alloh tidak ada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya.

Alloh تَعاَلىَ berfirman :

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ }

 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam”.[1]

 

Alloh تَعاَلىَ berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Robbmu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Allah menciptakan isterinya (Hawa). Dari keduanya (Adam dan Hawa) Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan taatlah kepada Allah yang dengan mempergunakan namaNya kamu saling meminta[2] dan peliharalah hubungan silaturrahim[3]. Sesungguhnya Allah selalu menjaga semua keadaanmu dan mengawasi kamu”.[4]

 

Alloh تَعاَلىَ berfirman :

} يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا {

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang lurus, niscaya Allah memberi taufik amal shalih kepadamu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”.[5]

     Amma ba’du : Sungguh banyak sunnah Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ yang tidak diketahui kaum muslimin, sehingga mereka meninggalkannya, selanjutnya mereka membenci orang yang berusaha mengamalkan dan hendak menghidupkannya, lalu mereka menuduhnya dengan kesesatan yang jauh.

     Termasuk sunnah tersebut adalah sholat dengan memakai sandal. Hadits-hadits mutawatir menyebutkan bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat dengan mamakai sandal. Alloh تَعاَلىَ berfirman :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.[6]

     Dan telah tetap dalam hadits bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memerintahkan sholat memakai sandal. Alloh تَعاَلىَ berfirman :

 

وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Dan apa yang diperintahkan Rasul kepadamu, maka lakukanlah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”.[7]

Alloh تَعاَلىَ berfirman :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidak halal bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.[8]

     Alloh تَعاَلىَ berfirman :

 

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka orang-orang yang menyelishi syari’at Rasul (yang lahir maupun batin) haruslah takut akan ditimpa fitnah (hati) atau ditimpa azab yang pedih di dunia”.[9]

     Oleh karena itulah aku berhasrat untuk mengumpulkan hadits-hadits yang aku ketahui dalam masalah disyari’atkannya sholat memakai sandal.

       Dan Alloh lah yang memberi taufiq bagi kebenaran dan kepadaNyalah tempat kembali.

 

 

                                                           Abu Abdirrohman Muqbil bin Hadi AlWadi’i

 

 

Dalil-dalil Atas Disyari’atkannya Sholat Memakai Sandal

 

Hadits pertama :

       Imam Bukhari berkata dalam kitab Shahihnya juz 1 halaman 494 :

حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو مَسْلَمَةَ سَعِيدُ بْنُ يَزِيدَ الْأَزْدِيُّ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ

أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي نَعْلَيْهِ قَالَ نَعَمْ

” Telah mengatakan kepada kami Adam bin Abi Iyas, ia berkata, telah mengatakan kepada kami Syu’bah, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Abu Maslamah Sa’id bin Yazid AlAzdi, ia berkata,”Aku bertanya kepada Anas bin Malik, apakah Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat memakai kedua sandalnya ?” Ia menjawab,”Ya”.

       Hadits diriwayatkan Imam Muslim (5/42) – dengan syarah Nawawi – , Tirmidzi (1/310) – dengan Tuhfatul Ahwadzi- dan beliau berkata,”Hasan shohih dan ahli ilmu mengamalkan dengannya”, Nasai (2/58), Ibnul Jarud, 68, Ahmad (3/100,166,189), Abu Dawud AthThoyalisi (1/84), Darimi,(1/320), Ibnu Sa’d (1/511) dan AlBaigaqi (2/431).

Hadits kedua :

       Imam Muslim رَحِمَهُ الله berkata dalam kitab Shahihnya (1/390) nomor 554 :

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا كَهْمَسٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَأَيْتُهُ تَنَخَّعَ فَدَلَكَهَا بِنَعْلِهِ

” Telah mengatakan kepada kami ‘Ubaidulloh bin Mu’adz Al’Anbari, telah mengatakan kepada kami ayahku, telah mengatakan kepada kami Kahmasun dari Yazid bin ‘Abdillah AsySyihhir dari ayahnya, ia berkata,”Aku sholat bersama Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ lalu aku melihat beliau berdahak lalu menggosok dahaknya dengan sandalnya”.

و حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ عَنْ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ أَبِي الْعَلَاءِ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ

عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَتَنَخَّعَ فَدَلَكَهَا بِنَعْلِهِ الْيُسْرَى

“Dan telah mengatakan kepadaku Yahya bin Yahya, telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Zurai’ dari AlJaziri dari Abil ‘Ala Yazid bin ‘Abdillah AsySyihhir dari ayahnya bahwa sholat bersama Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ,Ia berkata,” Beliau berdahak lalu menggosok dahaknya dengan sandal kirinya”.

 

Hadits ketiga :

قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقُ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ سَعِيْدٍ الْجَرِيْرِيُّ عَنْ أَبِيْ الْعَلاَءِ ابْنِ عَبْدِ الله ِبْنِ الشِّخِّيْرِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيْ نَعْلَيْه

‘Abdurrozaq dalam Mushonnafnya (1/384) berkata : Dari Ma’mar dari Sa’id AlJariri dari Abil ‘Ala’ bin ‘Abdillah AsySihhir, ia berkata,’Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat memakai kedua sandalnya”.

       Hadits ini perowi-perowinya perowi-perowi kitab Shohih.

 

Hadits keempat :

قاَلَ بْنُ مَاجَهَ : حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ أَبِي أَوْسٍ قَالَ

كَانَ جَدِّي أَوْسٌ أَحْيَانًا يُصَلِّي فَيُشِيرُ إِلَيَّ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَأُعْطِيهِ نَعْلَيْهِ وَيَقُولُ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي نَعْلَيْهِ

Berkata Imam Ibnu Majah : “Telah mengatakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, telah mengatakan kepada kami Ghundar dari Syu’bah dari AnNu’man bin Salim dari Ibni Abi Aus, ia berkata,”Adalah kakekku Aus pernah mengisyaratkan kepadanya pada waktu sholat lalu aku memberikan sandalnya, ia berkata,’Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat memakai sandal”.

   AlBushiri berkata dalam Mishbah AzZujajah, 125,”Sandanya baik”.

     Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi Syaibah (2/415), Thohawi (1/512), Ahmad (4/8,9,10) dan AlHaitsami berkata dalam Majma’ AzZawaid (2/55),”Diriwayatkan Thobroni dalam AlKabir dan perowi-perowinya amanah”.

 

Hadits kelima :

Imam Ahmad berkata dalam Musnadnya (2/422):

حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَنِي الْحَارِثِ بْنِ كَعْبٍ قَالَ

كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَسَأَلَهُ فَقَالَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْتَ نَهَيْتَ النَّاسَ أَنْ يَصُومُوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَالَ لَا لَعَمْرُ اللَّهِ غَيْرَ أَنِّي وَرَبِّ هَذِهِ الْحُرْمَةِ لَقَدْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَّا فِي أَيَّامٍ يَصُومُهُ فِيهَا فَجَاءَ آخَرُ فَقَالَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْتَ نَهَيْتَ النَّاسَ أَنْ يُصَلُّوا فِي نِعَالِهِمْ قَالَ لَا لَعَمْرُ اللَّهِ غَيْرَ أَنِّي وَرَبِّ هَذِهِ الْحُرْمَةِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي إِلَى هَذَا الْمَقَامِ وَإِنَّ عَلَيْهِ نَعْلَيْهِ ثُمَّ انْصَرَفَ وَهُمَا عَلَيْهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Telah mengatakan kepada kami ‘Affan,ia berkata, telah mengatakan kepada kami Abu ‘Awanah, ia berkata telah mengatakan kepada kami ‘Abdul Malik bin ‘Umair dari seorang lelaki dari bani AlHarits bin Ka’ab, ia berkata,”Aku pernah duduk di sisi Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ , lalu seorang lelaki datang menemuinya dan bertanya kepadanya,’Hai Abu Huroiroh, apakah kamu melarang manusia puasa pada hari Jum’at ?’ Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ menjawab,’Tidak, demi Alloh, selain aku, demi robb Ka’bah, mendengar Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Jangan sekali-kali seorang dari kalian puasa pada hari Jum’at kecuali hari-hari yang biasa ia puasa padanya’. Lalu seorang lelaki lainnya datang kepada dan berkata,’Hai Hai Abu Huroiroh, apakah kamu melarang manusia sholat memakai sandal ?’ Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ menjawab,’Tidak, demi Alloh, selain aku, demi robb Ka’bah, selain aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat menghadap makom (tempat berdiri nabi Ibrohim di Ka’bah), memakai sandal, kemudian beliau pergi dengan memakai sandalnya”.

     Hadits ini beliau keluarkan juga dalam tempat lainnya pada halaman (348, 365, 377, 458,537) dan pada sebagian jalan sanadnya disebutkan nama lelaki yang datang yaitu Abul Aubar Ziyad AlHaritsi), dikeluarkan juga oleh ‘Abdurrozaq, 1/385, Ibnu Abi Syaibah, 2/415 dan Thohawi,1/511).

       Perowi-perowi hadits di atas semuanya perowi-perowi kitab shohih kecuali Abul Aubar Ziyad AlHaritsi dinyatakan amanah oleh Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban sebagaimana disebutkan dalam kitab Ta’jilul Manfa’ah.

       Adapun ucapan AlHafidz AlHaitsami dalam kitabnya Majma’ AzZawaid, 2/54,” Perowi-perowinya amanah selain Ziyad Abul Aubar AlHaritsi, aku tidak menemukan orang yang menyatakan amanah maupun melamahkannya dalam biografinya”, maka ucapannya telah dibantah oleh Ibnu Hajar dalam kitab Ta’jilul Manfa’ah dengan membawakan rekomendasi Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban.

  

Hadits Keenam :

       Ibnu Majah berkata dalam Sunanya (1/330):

سنن ابن ماجه – (ج 3 / ص 327)

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَقَدْ رَأَيْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي النَّعْلَيْنِ وَالْخُفَّيْنِ

“Telah mengatakan kepada kami ‘Ali bin Muhammad, telah mengatakan kepada kami Yahya bin Adam, telah mengatakan kepada kami Zuhair dari Abi Ishaq dari ‘Alqomah dari Ibnu Mas’ud, ia berkata,”Sungguh aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat memakai sandal dan khufnya“.[10]

       Dikeluarkan oleh Abu Dawud AthThoyalisi, 1/84, Ibnu Abi Syaibah, 2/416, Ahmad 1/461 dan Thohawi 1/511.

       Di sebagian kitab ditegaskan bahwa Abu Ishaq tidak mendengar dari ‘Alqomah

       AlBushiri mengatakan dalam kitab Mishbah AzZujajah fi Zawaid Ibni Majah, 125,”Sanadnya terdapat Abu Ishaq AsSabi’I yang pada ahir umurnya mengalami pikun, Zuhair adalah Mu’awiyyah bin Khudaij diriwayatkan darinya hadits setelah ia pikun sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Zur’ah”.

       Dengan sanad ini hadits dinilai lemah akan tetapi bisa dipakai sebagai penguat.

 

Hadits Ketujuh :

     Abu Dawud berkata dalam Sunannya (1/247,248) berkata :

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي حَافِيًا وَمُنْتَعِلًا

Telah mengatakan kepada kami Muslim bin Ibrohim, telah mengatakan kepada kami ‘Ali bin Mubarok dari Husain AlMu’allim dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata,”Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَterkadang sholat tidak beralas kaki dan terkadang memakai sandal”.

       Hadits dikeluarkan oleh Ibnu Majah (1/330), Ahmad (2/174,178,190,210), Ibnu Abi Syaibah (2/425), Ibnu Sa’d (1/ ق 2,168) Thohawi (1/512) dan AlBaihaqi (1/4121).

Dan hadits ini hasan.[11]

 

Hadits Kedelapan :

      Imam Ahmad berkata dalam Musnadnya (4/307):

حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ السُّدِّيِّ حَدَّثَنِي مَنْ سَمِعَ عَمْرَو بْنَ حُرَيْثٍ قَالَ رََأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي نَعْلَيْنِ مَخْصُوفَيْنِ

“Telah mengatakan kepada kami Waki’, telah mengatakan kepada kami Sufyan dari AsSudi dari orang yang mendengar dari ‘Amr bin Huraits, ia berkata,”Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat dengan sandalnya – dalam jalan yang lainnya – dengan sandalnya yang ditambal “.

     Hadits dikeluarkan oleh Tirmidzi dalam Syamail Muhammadiyyah, 66, ‘Abdurrozaq (1/386), Ibnu Abi Sayibah (2/415), Ibnu Sa’d (1/ق 2, 167) dan Thohawi, 1/512.

     Hadits ini dalam sanadnya ada perowi yang tidak dikenal.

     Penulis Syarah Syamail Muhammadiyyah berkata,”Berkata AlQistholani, aku tidak mengetahui pada satu riwayat ketegasan nama orang yang meriwayatkan hadits dari AsSudi[12], dan aku perkirakan namanya ‘Atho bin AsSaib, di ahir umurnya ia pikun. Dan AsSud termsuk orang mendengar darinya setelah usia pikunnya lalu namanya disamarkan agar tidak diketahui kelamahan sanadnya.

  

Hadits Kesembilan

 

       AlBaihaqi dalam Sunannya (2/420) berkata :

)انبأ) أبو بكر بن الحارث الفقيه انبأ أبو محمد بن حيان ثنا على بن سعيد ثنا محمد بن سنان القزاز ثنا أبو غسان العنبري ثنا شعبة عن حميد بن هلال عن عبد الله بن الصامت عن ابى ذر قال رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يصلى في نعلين مخصوفتين من جلود البقر

“Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar bin AlHarits AlFaqih, telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad bin Hayyan, telah mengatakan kepada kami ‘Ali bin Sa’id, telah mengatakan kepada kami Muhammad bin Sinan AlQozaz, telah mengatakan kepada kami Abu Ghossan Al’Anbari, telah mengatakan kepada kami Syu’bah dari Humaid bin Hilal dari ‘Abdulloh bin AshShomit dari Abi Dzar, ia berkata,”Aku melihat Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat dengan sandalnya yang ditambal dari kulit sapi”.

     AlBaihaqi berkata,” Abu Ghossan Al’Anbari Yahya bin Katsir menyendiri meriwayatkan hadits ini”.

 

Hadits Kesepuluh

     Imam Ahmad berkata dalam Musnadnya (3/502):

قَالَ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا الْعَطَّافُ قَالَ حَدَّثَنِي مُجَمِّعُ بْنُ يَعْقُوبَ عَنْ غُلَامٍ مِنْ أَهْلِ قُباءٍ أَنَّهُ أَدْرَكَهُ شَيْخًا أَنَّهُ قَالَ جَاءَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقُبَاءٍ فَجَلَسَ فِي فَيْءِ الْأَحْمَرِ وَاجْتَمَعَ إِلَيْهِ نَاسٌ فَاسْتَسْقَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسُقِيَ فَشَرِبَ وَأَنَا عَنْ يَمِينِهِ وَأَنَا أَحْدَثُ الْقَوْمِ فَنَاوَلَنِي فَشَرِبْتُ وَحَفِظْتُ أَنَّهُ صَلَّى بِنَا يَوْمَئِذٍ الصَّلَاةَ وَعَلَيْهِ نَعْلَاهُ لَمْ يَنْزِعْهُمَا

“Telah mengatakan kepada kami Yunus bin Muhammad, ia berkata, telah mengatakan kepada kami Al’Atho, ia berkata, telah mengatakan kepadaku Majma’ bin Ya’qub dari Ghulam dari penduduk Quba bahwa ia menjumpai seorang Syaikh yang berkata,”Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ mendatangi kami di Quba lalu beliau duduk di….dan manusia berkumpul di sekelilingnya, Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ meminta air minum, lalu beliau diberi air minum dan meminumnya sedangkan aku di samping kanannya, aku orang yang paling muda……dan aku menghapal bahwa ketika beliau bersama kami sholat memakai sandalnya tidak melepasnya”.

     Hadits ini dikeluarkan Ahmad juga dalam juz 4 halaman 221, 334, Thohawi, 1/512 dan menyebutkan antara Majma’ bin Ya’qub dan seorang sahabat, Muhammad bin Ismail dan menyebutkan nama sahabatnya Abdulloh bin Abi Habibah dan diriwayatkan Ibnu Sa’d juz 1/ ق 2/167)

       AlHafidz AlHaitsami dalam Majma’ Zawaidnya (2/53) berkata,”Diriwayatkan oleh Ahmad dan beliau menyebutkan nama sahabatnya Abdulloh bin Abi Habibah dalam riwayat lainnya, demikian juga diriwayatkan oleh Thobroni dalam AlKabir dan perowi-perowi Ahmad amanah semuanya”.

 

Hadits Kesebelas :

 

     AlBaihaqi dalam Sunan Kubronya (2/431) berkata :

(انبأ) أبو الحسين بن بشران العدل ببغداد انبأ اسمعيل بن محمد الصفار ثنا سعدان بن نصر ثنا أبو بدر عن زياد ابن خيثمة عن عبد الله بن عيسى عن عبد الله بن عطاء عن عائشة رضى الله عنها قالت رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلى حافيا ومتنعلا ويشرب قائما وقاعدا وينصرف عن يمينه وعن شماله ولا يبالى أي ذلك كان

“Telah mengabarkan kepada kami Abul Husain bin Busyron Al’Adl di Baghdad, telah mengabarkan kepada kami Ismail bin Muhammad AshShoffar, telah mengatakan kepada kami Sa’dan bin Nashr, telah mengatakan kepada kami Abu Badr dari Ziyad bin Khoitsamah dari ‘Abdillah bin ‘Isa dari ‘Abdillah bin ‘Atho dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ ,”Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat terkadang tidak beralas kaki dan terkadang tidak memakai sandal, minum berdiri dan minum dengan duduk…

         AlHafidz AlHaitsami dalam Majma’ Zawaidnya (2/55) berkata,”Diriwayatkan Thobroni dalam AlAusath”, dan perowi-perowi amanah.

         Akan tetapi dalam kitab Majma’ Zawaid kalimat وينصرف عن يمينه وعن شماله diganti dengan و ينفتل  ……

 

Hadits Keduabelas :

 

جدثنا إبراهيم بن مرزوق قال حدثنا حماد بن سلمة عن الحجاج بن أرطأة عن عبد الله عن سعيد بن فيروز عن أبيه أن وفد ثقيف قدموا على رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قالوا :فرأيناه يصلي وعليه نعلان متقابلتان

Berkata Thohawi (1/512),” Telah mengatakan kepada kami Ibrohim bin Marzuq, ia berkata, telah mengatakan kepada kami Abu Rabi’ah, ia berkata,’telah mengatakan kepada kami Hammad bin Salamah dari AlHajjaj bin Arthoh dari ‘Abdil Malik dari Sa’id bin Fairuz dari ayahnya bahwa utusan Tsaqif menemui Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ lalu berkata,’Kami melihat beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sedang sholat memakai sandal berpasangan”.

     Dalam sanad hadits terdapat AlHajjaj bin Arthoh seorang mudallis .[13]

     Akan tetapi AlHaitsami berkata dalam Majma’ Zawaidnya (2/55),”Diriwayatkan oleh Thobroni dalam AlAusath dan perowi-perowinya amanah”.

Maka perlu dilihat apakah ia punya jalan lain atau AlHajjaj dengan tegas mendengar langsung dari perowi yang ia ambil haditsnya atau AlHafidz AlHaitsami yang menggampang-gampangkan penshohihan hadits ?”

      

Hadits Ketigabelas

     ‘Abdurrozaq dalam Mushonnafnya (1/386) berkata:

عبد الرزاق عن عبد الله بن عبد الرحمن بن يزيد قال حدثني محد بن عباد بن جعفر عن شيخ منهم قال : رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي في نعليه

Dari ‘Abdillah bin ‘Abdirrohman bin Yazid, ia berkata, telah mengatakan kepadaku Muhamamd bin ‘Ibad bin Ja’far dari seorang Syaikh dari mereka,”Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat memakai sandal dan mengisyaratkan ke makam Ibrohim”.

 

Hadits Keempatbelas

 

       Imam Abu Dawu dalam Sunannya (1/247) berkata :

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْفَزَارِيُّ عَنْ هِلَالِ بْنِ مَيْمُونٍ الرَّمْلِيِّ عَنْ يَعْلَى بْنِ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَالِفُوا الْيَهُودَ فَإِنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ وَلَا خِفَافِهِمْ

Telah mengatakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah mengatakan kepada kami Marwan bin Mu’awiyyah AlFazari dari Hilal bin Maimun ArRomli dari Ya’la bin Syaddad bin Aus dari ayahnya, ia berkata, Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda :”Selisihilah Yahudi, sesungguhnya mereka tidak sholat dengan sandal dan khuf “.[14]

     Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Mawaridul Dhoman, 107 di dalam sanadnya ada tambahan “dan Nasrani”, AlBaihaqi, 2/432, AlHakim, 1/26, ia berkata,”Ini hadits shohih sanadnya dan tidak dikeluarkan Bukhori dan Muslim”, dan Dzahabi tidak berkomentar apa-apa.

     Al’Iroqi berkata,”Sanadanya hasan”, sebagaimana disebutkan dalam Faidhul Qadir dan Thobroni dalam AlKabir, 7/348 dengan kalimat hadits,

صَلُّوا فِي نِعَالِكُمْ، وَلا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ” “Sholatlah kalian dengan sandal dan jangan menyerupai Yahudi !”.

Hadits Kelimabelas

       AlHakim dalam Mustadroknya (1/139) berkata,

حدثنا محمد بن صالح ، وإبراهيم بن عصمة ، قالا : ثنا السري بن خزيمة ، ثنا موسى بن إسماعيل ، وأنبأ أبو الوليد الفقيه ، ثنا الحسن بن سفيان ، ثنا إبراهيم بن الحجاج ، قالا : ثنا عبد الله بن المثنى الأنصاري ، عن ثمامة ، عن أنس ، أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يخلع نعليه في الصلاة قط إلا مرة واحدة خلع فخلع الناس ، فقال : « ما لكم » قالوا : خلعت فخلعنا ، فقال : « إن جبريل أخبرني أن فيهما قذرا – أو أذى » . « هذا حديث صحيح على شرط البخاري ، فقد احتج بعبد الله بن المثنى ولم يخرجاه ، وشاهده الحديث المشهور عن ميمون الأعور »

“Telah mengatakan kepada kami Muhammad bin Sholih dan Ibrohim bin ‘Ishmah keduanya berkata, telah mengatakan kepada kami AsSurri bin Khozimah, telah mengatakan kepada kami Musa bin Isma’il dan mengabarkan kepada kami Abul Walid AlFaqih, telah mengatakan kepada kami AlHasan bin Sufyan, telah mengatakan kepada kami Ibrohim bin AlHajjaj keduanya mengatakan, telah mengatakan kepada kami ‘Abdulloh bin AlMutsanna AlAnshori dari Tsumamah dari Anas bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ tidak pernah melepas sandalnya dalam sholat kecuali sekali saja lalu sahabat melepasnya, beliau bertanya,’Ada apa dengan kalian ?’ Mereka menjawab,’Anda melepas sandal maka kami melepasnya’. Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda :”Sesungguhnya Jibril mengabarkan kepadaku bahwa di sandalku ada kotoran atau najis lalu aku melepasnya”.

       AlHakim berkata,”Hadits ini shohih sesuai syarat Bukhori, ia memakai perowi ‘Abdulloh AlMutsanna dan Bukhori – Muslim tidak mengeluarkan hadits ini dalam kitab mereka”. Dan Dzahabi tidak berkomentar apa-apa.

       AlHafidz AlHaitsami mengatakan dalam Majma Zawaid (juz 1/56),”Diriwayatkan Thobroni dalam AlAusath dan perowi-perowinya perowi kitab Shohih dan diriwayatkan AlBazzar dengan ringkas”.

 

Hadits Keenambelas

       AlHakim dalam Mustadroknya (1/181) berkata,

حدثناه أبو جعفر محمد بن محمد بن عبد الله البغدادي ، ثنا المقدام بن داود بن تليد الرعيني ، ثنا عبد الغفار بن داود الحراني ، ثنا حماد بن سلمة ، عن عبيد الله بن أبي بكر ، وثابت ، عن أنس ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، قال : « إذا توضأ أحدكم ولبس خفيه (1) فليصل فيهما ، وليمسح عليها ، ثم لا يخلعهما إن شاء إلا من جنابة (2) » . « هذا إسناد صحيح على شرط مسلم ، وعبد الغفار بن داود ثقة غير أنه ليس عند أهل البصرة عن حماد »

“Telah mengatakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Muhammad bin ‘Abdillah AlBaghdadi, telah mengatakan kepada kami AlMiqdam bin Dawud dari Talid ArRo’ini, telah mengatakan kepada kami ‘Abdul Ghoffar bin Dawud Alharani, telah mengatakan kepada kami Hammad bin Salamah dari ‘Ubaidillah Ibni Abi Bakar dan Tsabit dari Anas bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Jika salah seoarang dari kalian telah wudhu dan memakai khufnya maka sholatlah dengan keduanya dan usaplah (ketika wudhu) kemudian jangan ia lepas jika ia kehendaki kecuali karena ia junub”.

Sanadnya shohih sesuai syarat Muslim, ‘Abdul Ghoffar bin Dawud amanah akan tetapi tidak ada penduduk dari Bashroh yang meriwayatkan dari Hammad”.

     Hadits ini diriwayatkan AlBaihaqi (1/279) dan menyebutkan penguat bagi ‘Abdul Ghoffar yaitu Asad bin Musa yang digelari Asadus Sunnah (Singa Sunnah). Dan haditsnya syadz (ganjil).

     AlBaihaqi berkata,”Berkata Ibnu Sho’id,’Aku tidak mengetahui seorang yang datang membawa hadits ini kecualil Asad bin Musa”. AlBaihaqi berkata,”Hadits ini dikuatkan oleh ‘Abdul Ghoffar bin Dawud AlHaroni akan tetapi tidak ada penduduk dari Bashroh yang meriwayatkan dari Hammad dan hadits ini tidak terkenal, wallohu a’lam.

     Itulah hadits-hadits yang bisa aku sampaikan, meski aku tinggalkan beberapa hadits yang menunjukkan disyari’atkannya sholat memakai sandal dalam kitab Majma Zawaid, Mushonnaf ‘Abdurrozaq dan selain keduanya karena terdapat kritikan pada kedua kitab tersebut meskipun sebagiannya bisa dijadikan penguat.

     Terlebih Thohawi dalam Musykil Atsar juz 1/511 menyatakan dengan tegas bahwa hadits-hadits yang menunjukkan disyari’atkannya sholat memakai sandal mencapai mutawatir, beliau mengatakan,”Hadits-hadits datang, menunjukkan bahwa disyari’atkannya sholat memakai sandal mencapai mutawatir dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dari perbuatan beliau yang memakai sandal dalam sholatnya, melepas sandalnya waktu melepasnya karena najis dan pembolehannya sholat memakai sandal”.

     Dan ulama رَحِمَهُمَ اللهُ tidak mensyaratkan kemutawatiran dalam menentukan hadits shohih atau hasan bahkan mereka hanya menyebutkan hadits shohih, hasan dan dho’if.

 

Bab Bila Seorang Sedang Sholat Melepas Sandalnya Di Manakah Ia Meletakannya ?

 

Hadits Pertama :

Abu Dawud dalam Sunannya (2/248) berkata :

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ رُسْتُمَ أَبُو عَامِرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلَا يَضَعْ نَعْلَيْهِ عَنْ يَمِينِهِ وَلَا عَنْ يَسَارِهِ فَتَكُونَ عَنْ يَمِينِ غَيْرِهِ إِلَّا أَنْ لَا يَكُونَ عَنْ يَسَارِهِ أَحَدٌ وَلْيَضَعْهُمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ

“Telah mengatakan kepada kami AlHasan bin ‘Ali, telah mengatakan kepada kami ‘Utsman bin ‘Umar, telah mengatakan kepada kami Sholih bin Rustam Abu ‘Amir dari ‘Abdirrohman bin Qois dari Yusuf bin Malik dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ bahwa Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda :’Jika salah seorang dari kalian hendak sholat maka janganlah meletakkan sandalnya di samping kanan maupun samping kirnya, sehingga menjadi di samping kanan temannya[15] kecuali bila tidak ada seorang di samping kirinya (maka letakkanlah di samping kirinya), tetapi letakkanlah di depannya”.

       Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Mawaridul Dhoman, 107 dan AlHakim dalam Mustadroknya juz 1/259 dan berkata,”Shohih sesuai syarat Bukhori dan Muslim dan keduanya tidak mengeluarkannya dalam kitab mereka”. Dikeluarkan juga AlBaihaqi juz 2/432.

 

Hadits Kedua :

     Abu Dawud dalam Sunannya (2/246) berkata :

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ عَنْ ابْنِ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ السَّائِبِ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي يَوْمَ الْفَتْحِ وَوَضَعَ نَعْلَيْهِ عَنْ يَسَارِهِ

“Telah mengatakan kepada kami Musaddad, telah mengatakan kepada kami Yahya dari Ibni Juraij, telah mengatakan kepadaku Muhammad bin ‘Abbad bin Ja’far dari Ibni Sufyan dari ‘Abdillah bin AsSaib, ia berkata,”Aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ meletakkan sandalnya di samping kirinya”.[16]

     Hadits ini perowi-perowinya perowi kitab shohih.

       Dikeluarkan juga oleh Nasai (2/58), Ibnu Majah (1/416), Ibnu Abi Syaibah (2/418), AlHakim (1/259) dan AlBaihaqi (2/432)

Hadits Ketiga :

     Abu Dawud dalam Sunannya (2/246) berkata :

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ نَجْدَةَ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ وَشُعَيْبُ بْنُ إِسْحَقَ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْوَلِيدِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَخَلَعَ نَعْلَيْهِ فَلَا يُؤْذِ بِهِمَا أَحَدًا لِيَجْعَلْهُمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَوْ لِيُصَلِّ فِيهِمَا

“Telah mengatakan kepada kami ‘Abdul Wahhab bin Najdah, telah mengatakan kepada kami Baqiyyah dan Syu’aib bin Ishaq dari AlAuza’I, telah mengatakan kepadaku Muhammad bin AlWalid dari Sa’id bin Abi Sa’id dari ayahnya dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ, beliau bersabda,”Jika salah seorang dari kalian hendak sholat lalu melepas sandalnya maka janganlah ia mengganggu seorang pun dengannya, hendaklah ia letakkan di antara kedua kakinya atau ia sholat memakai sandalnya”.

     Hadits dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah juz 2 hal 418, Thobroni dalam AshShoghir juz 2/hal 8, AlHakim juz 1/259 dan AlBaihaqi juz 2 hal 432.

     Al Hakim berkata,”Hadits shohih sesuai syarat Muslim dan Bukhori – Muslim tidak mengeluarkan dalam kitab mereka”. Dan Dzahabi tidak mengomentari penshohihanya.

Hadits Keempat :

Ibnu Abi Syaibah berkata dalam kitabnya juz 2 hal 418 :

حدثنا عفان قال ثنا حماد بن سلمة قال انا أبو نعامة السعدي عن أبي نضرة عن سعيد قال بينما رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي فخلع نعليه فوضعها عن يساره.

“Telah mengatakan kepada kami ‘Affan, ia berkata, telah mengatakan kepada kami Hammad bin Salamah, ia berkata, telah mengatakan kepada kami Abu Na’amah AsSa’di dari Abi Nadhroh dari Abi Sa’id, ia berkata,” Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat, lalu melepas sandalnya, beliau letakkan di samping kirinya”.

     Hadits ini sanadnya sesuai syarat Muslim.

 

 

Bab Bagaimana Mensucikan Khuf dan Sandal

 

Hadits Pertama :

   Abu Dawu dalam Sunannya juz 1 halaman 148 berkata :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ يَعْنِي الصَّنْعَانِيَّ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَعْنَاهُ قَالَ إِذَا وَطِئَ الْأَذَى بِخُفَّيْهِ فَطَهُورُهُمَا التُّرَابُ

“Telah mengatakan kepada kami Ahmad bin Ibrohim, telah mengatakan kepadaku Muhammad bin Katsir AshShon’ani dari AlAuza’I dari Ibni ‘Ajlan dari Sa’id bin Abi Sa’id dari ayahnya dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ dari Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ,”Jika khuf salah seorang kalian menginjak najis maka tanah berikutnya adalah pensuci baginya”.[17]

       Dikeluarkan oleh Ibnu Majah juz 1 halaman 148, Ibnu Hibban dalam Mawaridudh Dhoman halaman 8, AlHakim juz 1 halaman 11 dan berkata,”Hadits shohih sesuai syarat Muslim”, AlBaihaqi juz 2 halaman 430 dan Ibnu Hazm dalam AlMuhalla juz 1 halaman 93.

  

Hadits Kedua :

   Abu Dawu dalam Sunannya juz 1 halaman 247 berkata :

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ أَبِي نَعَامَةَ السَّعْدِيِّ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ

بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ قَالَ مَا حَمَلَكُمْ عَلَى إِلْقَاءِ نِعَالِكُمْ قَالُوا رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ جِبْرِيلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا أَوْ قَالَ أَذًى وَقَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَنْظُرْ فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ قَذَرًا أَوْ أَذًى فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا

“Telah mengatakan kepada kami Musa bin Ismail, telah mengatakan kepada kami Hammad bin Yazid dari Abi Na’amah AsSa’di dari Abi Nadhroh dari Abi Sa’id AlKhudri,”Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersama sahabatnya, tiba-tiba beliau melepas sandalnya lalu meletakkannya di samping kirinya. Ketika sahabat melihat perbuatan Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ maka mereka melemparkan sandal mereka. Ketika Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ menyelesaikan sholatnya bertanya,’Apa yang menyebabkan kalian melemparkan sandal-sandal kalian ?’ Sahabat menjawab,’Kami melihat anda melemparkan sandal anda maka kami melemparkan sandal-sandal kami’. Maka Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda :’Sesungguhnya Jibril عَلَيْهِ السَّلاَمُ mendatangiku lalu mengabarkan bahwa di sandalku najis’ ada atau adza[18] (kotoran). Dan Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Jika salah seorang kalian datang ke masjid maka lihatlah, jika ia melihat di sandalnya ada kotoran atau najis maka bersihkanlah dan sholatlah dengannya”.[19]

     Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya juz 1 halaman 384, Ibnu Hibban dalam Mawaridudh Dhoman halaman 108, Musnad Ahmad juz 3 halaman 20, AlHakim juz 1 halaman 260, ‘Abdurrozaq juz 1 halaman 388, Ibnu Abi Syaibah juz 2 halaman 416, Abu Dawud Thoyalisi juz 1 halaman 84, Darimi juz 1 halaman 32, Thohawi juz 1 halaman 511, AlBaihaqi juz 2 halaman 431 dan Ibnu Hazm dalam AlMuhalla juz 1 halaman 93.

     AlHakim berkata,”Hadits shohih sesuai syarat Muslim”. Dan Dzahabi tidak mengomentari apa-apa.[20]

Bahaya-bahaya Sholat Tidak Memakai Sandal

 

Pertama : Bahaya terbesar sholat tidak memakai sandal kaum muslimin menjadi tidak mengetahui sunnah ini dan menganggap orang yang sholat memakai sandal melakukan dosa yang amat besar dan mereka menghalalkan darinya sebagaimana menghalalkan pada orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar.

     Aku pernah mendengar seorang petugas masjid bercerita,”Lelaki itu dahulu pernah di Saudi kemudian pulang ke Yaman, ia hendak masuk masjid. Aku katakan padanya katakan,’Demi Alloh kalau kamu masuk masjid dengan sandalmu pasti kaki akan dipatahkan”. Ia sendiri mengaku orang berilmu padahal ia tidak mengetahui madzhabnya.

     AsySyaukani رَحِمَهُ اللهُ berkata[21] mengatakan tentang disyari’atkannya sholat memakai sandal,”Dan termasuk orang yang berpendapat sunnahnya sholat memakai sandal adalah AlHadawiyyah, meskipun orang-orang awamnya mengingkarinya. Imam Mahdi berkata dalam kitabnya AlBahr,’ Msalah, dan disunnahkan memakai sandal yang suci ketika sholat berdasarkan sabda Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ,’ صَلُّوْا فِيْ نِعاَلِكُمُ Sholatlah kalian dengan sandal kalian”.

     Aku melihat sekelompok orang di tanah di Masjidil Haram Makkah mengerumi seorang lelaki di bahwa pengeras suara, mereka mengingkarinya sholat memakai sandal. Seorang di antara mereka berkata,”Ini setan “.– orang yang sholat memakai sandal – Sangat disesalkan orang yang bicara tersebut termasuk orang yang rajin berjama’ah di Masjidil Haram. Tidak diragukan seandainya ia mengetahui hukumnya pasti ia tidak akan berani mengatakan setan kepada saudaranya sesama muslim.

     Aku melihat di Bisyah seorang lelaki berpenampilan sholih dan baik mengingkari orang yang sholat memakai sandalnya. Dikatakan kepadanya,”Ia sunnah “. maka ia membantah,”Aku berlindung kepada Alloh dari sunnah ini !”.

     Dan yang lebih besar daripada kenyataan itu semua bahwa sebagian ikhwan yang hendak sholat di salah satu masjid di Madinah diingkari dengan keras.[22]

     Semua itu disebabkan tidak ada amalan ahli ilmu terhadap sunnah ini. Kalau ahli ilmu mengamalkannya niscaya kami tidak perlu mengumpulkan hadits-hadits ini dan menyebarkannya di antara manusia.

     Sebab lainnya, kebanyakan kaum muslimin berpaling dari kitab-kitab sunnah. Seandainya mereka merujuk kepada kitab-kitab tersebut pasti tidak akan timbul keraguan tentang disyari’atkannya sholat memakai sandal dan sesungguhnya ia sunnah yang diperintahkan.

     Kedua : Termasuk bahaya tidak sholat memakai sandal, sebagian orang yang sholat mengumpulkan sandal-sandal di satu tempat, maka terkadang sandal-sandal itu sebagai sebagai sebab bengkokonya barisan sholat yang diperintahkan untuk meluruskannya dan ada ancaman neraka atas kebengkokannya. Kami menyaksikan kebengkokan shoff (barisan) di Masjidil Haram disebabkan banyaknya tumpukan sandal karena tidak ditemukan satu tempat di shooff

     Ketiga : Banyak dari orang yang mau sholat tidak mau melihat sandal di depan pintu masjid ketika akan masuk masjid karena mereka tidak menginginkan sholat dengan sandal. Sehingga terkadang sandalnya terkena najis, jika meletakkan di dalam masjid maka najis berjatuhan di dalamnya. Ini semua dengan sebab meninggalkan sunnah yaitu melihat sandal di depan pintu masjid ketika hendak masuk masjid dan menggosoknya dengan tanah bila ada najis atau kotorannya.

     Keempat : Terkang orang yang sholat hawatir sandalnya dicuri, lalu pikirannya kacau ketika ia sedang sholat yang menghilangkan kehusyuannya. Sedangkan khusyu adalah otaknya (inti) sholat sebagaimana yang Alloh firmankan :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2)

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu`[23] dalam shalatnya”.[24]

     Banyak hadits yang menganjurkan untuk menghilangkan kekacauan pikiran dalam sholat :

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shohihnya dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ baha Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ

“Tidak ada sholat di hadapan makanan maupun menahan buang air dan kentut”.

     Imam Bukhori dan Imam Muslim mengeluarkan dalam kitab mereka dari Anas رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

عَنْ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قُدِّمَ الْعَشَاءُ وَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَابْدَءُوا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوا صَلَاةَ الْمَغْرِبِ

“Jika telah disungguhkan makan malam maka mulailah dengannya sebelum kamu sholat maghrib”.

       Perintah dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ini dalam rangka menjaga kekhusyu’an.

 

 

Kerancuan Orang-orang yang Mengingkari Sholat Memakai Sandal

 

         Orang-orang yang mengingkari sholat memakai sandal mempunyai kerancuan berpikir (syubhat) yang harus dibicarakan sampai jelas kebenaran. Insya Alloh.

         Meskipun aku tidak perna seorang alim pun yang berhujjah denga syubhat mereka dan orang-orang jahil bukanlah dalil bagi syari’at yang suci.

         Adapun Syubhat mereka di antaranya :

        Pertama :

       Sesungguhnya masjid-masjid sekarang telah dihiasi dan diberi hamparan karpet tidak seperti masjid-masjid di jaman Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ.

         Jawaban : Sesungguhnya kebaikan itu pada apa yang Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ di atasnya. Kalau masjid-masjid sekarang tetap seperti masjid di jaman Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ niscaya lebih baik. Adapun hiasan masjid-masjid maka telah ada nash yang melarangnya.

       Dikeluarkan oleh Abu Dawud juz 1/hal. 171, Ibnu Majah juz 1/ hal. 244, Darimi juz 1/hal 327, Ahmad juz 3/hal 134, 145, 152,230,283 dan Ibnu Hibban dalam Mawaridudh Dhom’an dari Anas رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ : Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ

“Tidak terjadi hari kiamat sampai manusia saling membanggakan bangunan masjidnya”.[25]

     Dan dalam sebagian jalan hadits disebutkan,

Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ melarang manusia bermegah-megahan membangun masjid”.[26]

     Dikeluarkan oleh Abu Dawud juz 1/hal. 170 dari Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ, Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أُمِرْتُ بِتَشْيِيدِ الْمَسَاجِدِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتْ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

“Aku tidak diperintahkan meninggikan dan memperpanjang bangunan masjid”. Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ berkata,”Kalian benar-benar akan menghiasinya sebagaimana Yahudi dan Nasrani menghiasinya”.

     Perowi-perowinya perowi kitab Shohih kecuali Syaikh (guru) Abu Abu Dawud, Muhammad bin Shobbah bin Sufyan, jujur (shoduq)

     Imam AshShon’ani رَحِمَهُ اللهُ berkata,”AlMahdi berkata dalam kitab AlBahr,’Sesungguhnya hiasan masjid Haramain bukan usul dari ahli halli wal ‘aqdi (ulama dan umara) dan bukan dari diam keridhoaannya ulama akan tetapi dilakukan oleh penduduk negeri yang diktator tanpa persetujuan seorang pun dari orang yang utama. Dan kaum muslimin diam tidak ridho’. Ini adalah perkataan yang bagus”. Selesai ucapan Shon’ani.

     Aku (Syaikh Muqbil) katakan,”Adapun penghaparan masjid dengan sajadah yang berwarna warni jelas menyibukkan orang yang sholat dan melalaikannya darinya. Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dalam kitab mereka dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي خَمِيصَةٍ لَهَا أَعْلَامٌ فَنَظَرَ إِلَى أَعْلَامِهَا نَظْرَةً فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ اذْهَبُوا بِخَمِيصَتِي هَذِهِ إِلَى أَبِي جَهْمٍ وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلَاتِي وَقَالَ هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْتُ أَنْظُرُ إِلَى عَلَمِهَا وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ فَأَخَافُ أَنْ تَفْتِنَنِي

bahwa Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat di atas kain miliknya yang bergambar-gambar, beliau melihat banyak gambarnya, setelah selesai sholat beliau berkata,

“Bawalah kain ini kepada Abi Jahm dan berikan aku kain tebal Abi Jahm yang yang tidak bergambar, sesungguhnya kainnya (yang bergambar) melalaikanku dari sholat “. Berkata Hisyam dari ‘Urwah dari ayahnya dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata,”Aku melihat gambar-gambarnya ketika aku sedang sholat lalu aku takut terganggu”.[27]

       Ini kalimat riwayat Bukhori.

       Dan dikeluarkan Bukhori dari Anas Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ , ia berkata,

كَانَ قِرَامٌ لِعَائِشَةَ سَتَرَتْ بِهِ جَانِبَ بَيْتِهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمِيطِي عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا فَإِنَّهُ لَا تَزَالُ تَصَاوِيرُهُ تَعْرِضُ فِي صَلَاتِي

“Adalah qirom[28] milik ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ menutupi salah satu sisi rumahnya, lalu Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata,”Singkirkan dariku kain sitarmu ini karena gambar-gambarnya menghalangiku dalam sholatku”.[29]

     Dan dikeluarkan juga dari ‘Uqbah bin ‘Amir,

أُهْدِيَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرُّوجُ حَرِيرٍ فَلَبِسَهُ فَصَلَّى فِيهِ ثُمَّ انْصَرَفَ فَنَزَعَهُ نَزْعًا شَدِيدًا كَالْكَارِهِ لَهُ وَقَالَ لَا يَنْبَغِي هَذَا لِلْمُتَّقِينَ

“Dihadiahkan kepada Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ kain-kain dari sutera, lalu beliau mengenakannya, beliau sholat dengannya kemudian berpaling dan melepasnya dengan keras seperti tidak suka dan berkata,”Tidak sepantasnya pakaian ini untuk orang-orang bertakwa”.

     Imam AshShon’ani رَحِمَهُ اللهُ berkata mengenai hadits ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ di atas dalam Subulus Salam,”Dalam hadits ada dalil atas dimakruhkannya apa-apa yang menyibukkan diri dari sholat seperti ukiran dan yang semisal dengannya dari perkara yang menyibukkan hati, Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersegera melindungi sholat dari apa yang melalaikannya dan menghilangkan apa yang menyibukkan dari konsentrasi sholat”.

     AthThibi رَحِمَهُ اللهُ berkata,”Padanya terdapat pemberitahuan bahwa gambar-gambar dan benda-benda yang terlihat berpengaruh jelek bagi hati-hati yang suci dan jiwa-jiwa yang bersih terlebih bagi hati yang kurang bersih, dimakruhkan sholat di atas hamparan-hamparan dan sajadah-sajadah yang berhias dan dimakruhkannya mengukir masjid serta yang semisalnya”. Selesai ucapannya رَحِمَهُ اللهُ .

 

Kerancuan Kedua :

     Sebagian mereka terkadang berdalil dengan firman Alloh تَعاَلىَ yang memerintahkan Musa عَلَيْهِ السَّلاَمُ (فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى) ” maka lepaslah kedua terompahmu sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.

“.[30]

     Pendalilan yang amat jauh. Dan semoga Alloh Ibnu Mas’ud رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ ketika mengatakan kepada Abu Musa AlAsy’ari ketika menjadi imam manusia lalu melepas sandalnya,”Mengapa kamu melepas sandalmu ? Apakah kamu berada di lembah yang suci ?”[31]

     Berkata Abu Muhammad bin Hazm رَحِمَهُ اللهُ dalam kitabnya AlIhkam fi Ushulil Ahkam,”Dan termasuk syi’ar Musa عَلَيْهِ السَّلاَمُfirman Alloh تَعاَلىَ(فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى) ” maka lepaslah kedua terompahmu sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa”.[32] Dan kami tidak melepas sandal kami di tanah suci tersebut “. Selesai ucapan beliau.

     Maksud Ibnu Hazm bahwa kita tidaklah beribadah dengan syari’at orang-orang sebelum kita. Dan aku tidak mengetahui satu kerancuan yang serupa dengannya yang sepantasnya disebutkan. Adapun kekacauan dan anggapan baik orang-orang bodoh, maka tidak ada manfaat padanya kecuali amalan orang-orang yang mengetahui AsSunnah. Maka mereka jika melihat orang yang alim terhadap AsSunnah mengamalkannya pasti mereka akan mengamalkannya.

 

Penginkaran Terhadap Orang yang Menolak AsSunnah Dengan Akal dan Anggapan Baik

 

       Karena banyak manusia menolak sunnah-sunnah dengan akal dan anggapan baik, dan termasuk sunnah yang mereka tolak adalah disyari’atkannya sholat memakai sandal, maka aku memandang perlunya menyebutkan dalil-dalil dan ucapan ulama yang menjelaskan kerusakan perbuatan mereka dan menejelaskan bahaya-bahayanya terhadap agama :

 

Hadits pertama :

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى فِي امْرَأَتَيْنِ مِنْ هُذَيْلٍ اقْتَتَلَتَا فَرَمَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى بِحَجَرٍ فَأَصَابَ بَطْنَهَا وَهِيَ حَامِلٌ فَقَتَلَتْ وَلَدَهَا الَّذِي فِي بَطْنِهَا فَاخْتَصَمُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَضَى أَنَّ دِيَةَ مَا فِي بَطْنِهَا غُرَّةٌ عَبْدٌ أَوْ أَمَةٌ فَقَالَ وَلِيُّ الْمَرْأَةِ الَّتِي غَرِمَتْ كَيْفَ أَغْرَمُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ لَا شَرِبَ وَلَا أَكَلَ وَلَا نَطَقَ وَلَا اسْتَهَلَّ فَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الْكُهَّانِ

 

Dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُbahwa Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memutuskan hukum terhadap dua orang wanita dari Hudzail yang saling membunuh. Salah satunya melempar dengan satu batu mengenai perut wanita lawannya yang sedang hamil hingga mematikan janinnya yang di dalam perutnya. Lalu masyarakat mengadukan kepada Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ, lalu Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memutuskan bahwa diat/tebusan janin yang di dalam perutnya karena mati terbunuh adalah membebaskan satu budak laki-laki atau satu budak perempuan. Wali perempuan yang didenda berkata ,”Ya rosululloh bagaimana kami membayar denda atas orang yang belum makan dan minum, belum bicara dan menangis ? Maka yang semisal ini adalah sia-sia”. Maka Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata,”Sesungguhnya ini termasuk teman-teman dukun”.[33]

     Diriwayatkan oleh Bukhori juz 1 hal 328, Muslim juz 11 hal. 177 dan padanya ada tambahan setelah sabda Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَإِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الْكُهَّانِ “Sesungguhnya ini termasuk teman-teman dukun”, مِنْ أَجْل سَجْعه الَّذِي سَجَعَ “Karena sajaknya yang ia bersajak dengannya”.

   Dan dikeluarkan oleh Abu Dawud juz 4 hal. 318, Nasai juz 8 hal. 43 dan Ibnu Majah juz 2 hal. 882.  

Hadits Kedua :

 

عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ امْرَأَةً قَتَلَتْ ضَرَّتَهَا بِعَمُودِ فُسْطَاطٍ فَأُتِيَ فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَضَى عَلَى عَاقِلَتِهَا بِالدِّيَةِ وَكَانَتْ حَامِلًا فَقَضَى فِي الْجَنِينِ بِغُرَّةٍ فَقَالَ بَعْضُ عَصَبَتِهَا أَنَدِي مَنْ لَا طَعِمَ وَلَا شَرِبَ وَلَا صَاحَ فَاسْتَهَلَّ وَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ قَالَ فَقَالَ سَجْعٌ كَسَجْعِ الْأَعْرَابِ

Dari AlMugiroh bin Syu’bah,”Seorang wanita memukul istri yang lain dari suaminya dengan tongkat tenda. Lalu Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dipanggil untuk memutuskan hukum. Maka beliau صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memutuskan hukum atas keluarga wanita yang dilempar – dan dia sedang hamil- dengan denda atau ganti rugi, maka Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ menghukumi bahwa janinnya terbunuh. Lalu sebagian wali dari wanita yang terkena denda berkata,’ Apakah kami membayar denda kepada orang yang belum makan dan minum, belum teriak dan menangis, maka yang semisal ini sia-sia’. Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,”Ini adalah salah satu sajak orang-orang Arab Badui”.

     Diriwayatkan Muslim juz 11 hal. 179 dan Nasai juz 8 hal. 44.

     Maka anda melihat bahwa Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ mengingkarinya karena ia menentang hadits dengan akalnya dan mengatakan,” Sesungguhnya ini termasuk teman-teman dukun”. Karena sajaknya.

 

Hadits Ketiga :

 

عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ كَادَ الْخَيِّرَانِ أَنْ يَهْلِكَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا رَفَعَا أَصْوَاتَهُمَا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَدِمَ عَلَيْهِ رَكْبُ بَنِي تَمِيمٍ فَأَشَارَ أَحَدُهُمَا بِالْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ أَخِي بَنِي مُجَاشِعٍ وَأَشَارَ الْآخَرُ بِرَجُلٍ آخَرَ قَالَ نَافِعٌ لَا أَحْفَظُ اسْمَهُ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ لِعُمَرَ مَا أَرَدْتَ إِلَّا خِلَافِي قَالَ مَا أَرَدْتُ خِلَافَكَ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا فِي ذَلِكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ } يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ    {الْآيَةَ قَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ فَمَا كَانَ عُمَرُ يُسْمِعُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ هَذِهِ الْآيَةِ حَتَّى يَسْتَفْهِمَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ ذَلِكَ عَنْ أَبِيهِ يَعْنِي أَبَا بَكْرٍ

“Hai orang-orang beriman janganlah kalian meninggikan suaramu….” Dari Ibni Abi Mulaikah,”Hampir-hampir dua orang pilihan binasa, Abu Bakar dan ‘Umar, keduanya meninggikan suaranya di sisi Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ketika rombongan Bani Tamim. Salah satu dari keduanya mengisyaratkan kepada Aqro’ bin Habis saudara lelaki Mujazyi’ dan yang lainnya menunjuk kepada seorang lelaki yang lainnya, Nafi mengatakan, aku tidak hapal namanya. Maka Abu Bakar berkata kepada ‘Umar,”Kamu hanya menginginkan beda pendapat denganku”. Umar berkata kepada Abu Bakar,”Kamu hanya menginginkan perselesihan”. Lalu suara keduanya terdengar keras, kemudian turunlah firman Alloh : } يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ    { “Hai orang-orang beriman janganlah kamu mengeraskan suaramu…”

Ibnu Zubari berkata,’Tidaklah Umar mendengar perkataan Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ setelah turun ayat ini kecuali ia meminta penjelasannya”, dan ia (Ibnu Abi Mulaikah) tidak menyebutkan Abu Bakar dari ayanya (Abu Mulaikah).

     Dikeluarkan oleh Bukhori juz 10 hal 212, 214, padanya terdapat riwayat Ibnu Abi Mulaikah dari ‘Abdillah bin Az Zubair, dan juz 17 hal. 39, Tirmidzi juz 4 hal. 185 dan terdapat ketegasan ‘Abdulloh bin Abi Mulaikah bahwa ‘Abdillah bin Az Zubair menyampaikan hadits kepadanya, Ahmad dalam Musnadanya juz 4 hal. 6, Thobari juz 26 hal. 119, dan padanya terdapat ucapan Nafi’ : Telah mengatakan kepadaku Ibnu Abi Mulaikah dari ibni Az Zubair”, maka diketahuilah hadits ini bersambung sebagaimana diisyaratkan oleh AlHafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Barinya juz 10 hal. 212.

 

Hadits Keempat :

 

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي مَرَضِهِ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ يُصَلِّي بِالنَّاسِ قَالَتْ عَائِشَةُ قُلْتُ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِي مَقَامِكَ لَمْ يُسْمِعْ النَّاسَ مِنْ الْبُكَاءِ فَمُرْ عُمَرَ فَلْيُصَلِّ فَقَالَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ لِلنَّاسِ قَالَتْ عَائِشَةُ لِحَفْصَةَ قُولِي لَهُ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِي مَقَامِكَ لَمْ يُسْمِعْ النَّاسَ مِنْ الْبُكَاءِ فَمُرْ عُمَرَ فَلْيُصَلِّ لِلنَّاسِ فَفَعَلَتْ حَفْصَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْ إِنَّكُنَّ لَأَنْتُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ لِلنَّاسِ قَالَتْ حَفْصَةُ لِعَائِشَةَ مَا كُنْتُ لِأُصِيبَ مِنْكِ خَيْرًا

 

       Dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَUmmul Mukminin bahwa Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata saat sakitnya,”Perintahkan Abu Bakar sholat dengan manusia (menjadi imam)”. ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ berkata,’Sesungguhnya Abu Bakar jika berdiri sholat pada posisi anda manusia tidak mendengar suaranya karena tangisannya waktu sholat maka perintahkanlah ‘Umar untuk sholat bersama manusia (menjadi imam)’. Maka Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Perintahkan Abu Bakar untuk sholat bersama manusia’. ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ berkata kepada Hafshoh,’Katakanlah kepada beliau, sesungguhnya Abu Bakar jika berdiri sholat pada posisi anda manusia tidak mendengar suaranya karena tangisannya waktu sholat maka perintahkanlah ‘Umar untuk sholat bersama manusia (menjadi imam)’. Hafshoh melaksanakan perintah ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ , lalu Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ berkata,’ Sesungguhnya kalian ini showahib (saudara-saudara )[34] Yusuf, perintahkan Abu Bakar untuk sholat mengimami manusia”. Hafshoh berkata kepada ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ,’Tidaklah aku ditimpa kebaikan darimu”.

   Diriwayatkan Bukhori juz 17 hal. 39 dan Muslim juz 5 hal. 140,141.

 

Hadits Kelima :

 

عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ عَنْ عُرْوَةَ قَالَ حَجَّ عَلَيْنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْزِعُ الْعِلْمَ بَعْدَ أَنْ أَعْطَاكُمُوهُ انْتِزَاعًا وَلَكِنْ يَنْتَزِعُهُ مِنْهُمْ مَعَ قَبْضِ الْعُلَمَاءِ بِعِلْمِهِمْ فَيَبْقَى نَاسٌ جُهَّالٌ يُسْتَفْتَوْنَ فَيُفْتُونَ بِرَأْيِهِمْ فَيُضِلُّونَ وَيَضِلُّونَ

Dari ‘Abdillah bin ‘Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهُماَ ,”Aku mendengar Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Sesungguhnya Alloh tidak mencabut ilmu (agama ) setelah Ia memberikannya kepada kalian dengan sekali cabutan akan tetapi Ia mencabutnya dari manusia bersamaan dengan mematikan para ulama dengan ilmu mereka lalu tinggallah manusia-manusia bodoh yang diminta fatwa lalu mereka berfatwa dengan akal mereka lalu mereka menyesatkan dan sesat”.[35]

 

Diriwayatkan Bukhori juz 17 hal. 145 dan Muslim, lafadznya dari Bukhori.

 

 

Atsar (Jejak) Salaf

 

        Adapun atsar salaf tentang pengingkaran terhadap orang yang menolak sunnah-sunnah dengan akal tak terhitung, akan tetapi aku isyaratkan saja sebagiannya:

 

Atsar pertama :

لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أسفل الخف أولى بِالْمَسْحِ مِنْ أعلاها وَقَدْ رأيت النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمَْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

“Kalau agama ini ditentukan dengan akal pasti bagian bawah khuf lebih utama diusap daripada bagian atasnya, dan sungguh aku melihat Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ mengusap bagian atas khufnya”.

     Dikeluarkan Abu Dawud juz 1 hal. 63, perowi-perowinya perowi kitab Shohih kecuali ‘Abdu Khori, ia amanah sebagaimana disebutkan dalam kitab “AtTaqrib”.

     Dan berkata AlHafidz Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom,”Sanadnya hasan”. Dan berkata dalam Talkhishnya,”Diriwayatkan Abu Dawud dan sanadnya shohih”.

 

Atsar kedua :

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا

قَالَ فَقَالَ بِلَالُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَاللَّهِ لَنَمْنَعُهُنَّ قَالَ فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ فَسَبَّهُ سَبًّا سَيِّئًا مَا سَمِعْتُهُ سَبَّهُ مِثْلَهُ قَطُّ وَقَالَ أُخْبِرُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقُولُ وَاللَّهِ لَنَمْنَعُهُنَّ

Bahwa ‘Abdulloh bin ‘Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ berkata,”Aku mendengar Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Jangan sekali-kali kamu menghalangi wanita-wanita pergi masjid-masjid jika mereka meminta ijin kamu pergi ke masjid- masjid’. Ia, Salim bin ‘Abdulloh, berkata,’Berkata Bilal bin ‘Abdulloh, anaknya, ‘Demi Alloh kami akan menghalngi wanita-wanita pergi ke masjid-masjid’. Lalu ‘Abdulloh bin ‘Umar menoleh kepadanya, kemudian mencelanya dengan celaan yang jelek yang aku belum pernah mendengar celaan yang semisal dengannya dan berkata,’Aku kabarkan kepadamu dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan kamu bantah,”Demi Alloh kami akan menghalngi wanita-wanita pergi ke masjid-masjid ?’.[36]

     Diriwayatkan Muslim juz 4 hal. 161 dan Jami’ Bayan ‘Ilmi wa Fadhlihi juz 2 hal 139 karya AlHafidz ibnu ‘Abdil Barr bahwa Ibnu Umar berkata kepada anaknya,

لعنك الله لعنك الله لعنك الله تسمعني أقول : إن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمر ألا يمنعن ، وقام مغضبا

‘Alloh melaknat kamu, ‘Alloh melaknat kamu, ‘Alloh melaknat kamu, aku katakan : Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ memerintahkan mereka tidak menghalangi mereka’. Dan ia berdiri dengan marah.”

 

Atsar Ketiga :

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ َنَّهُ رَأَى رَجُلًا يَخْذِفُ فَقَالَ لَهُ لَا تَخْذِفْ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْخَذْفِ أَوْ كَانَ يَكْرَهُ الْخَذْفَ وَقَالَ إِنَّهُ لَا يُصَادُ بِهِ صَيْدٌ وَلَا يُنْكَى بِهِ عَدُوٌّ وَلَكِنَّهَا قَدْ تَكْسِرُ السِّنَّ وَتَفْقَأُ الْعَيْنَ ثُمَّ رَآهُ بَعْدَ ذَلِكَ يَخْذِفُ فَقَالَ لَهُ أُحَدِّثُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنْ الْخَذْفِ أَوْ كَرِهَ الْخَذْفَ وَأَنْتَ تَخْذِفُ لَا أُكَلِّمُكَ كَذَا وَكَذَا

Dari ‘Abdillah bin Mughofal bahwa ia melihat seorang lelaki melempar binatang buruan dengan batu kecil, maka ia berkata kepadanya,”Janganlah kamu melemparnya dengan batu kecil, sesungguhnya Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ melarangnya atau beliau tidak menyukainya dan bersabda,’Melempar itu tidak bisa menangkap binatang buruan dan tidak bisa menyakitkan musuh akan tetapi hanya memecahkan gigi dan mencongkel mata”. Beberapa waktu kemudian ia melihat lelaki itu melempar buruan lagi dengan batu kecil, maka ia berkata kepadanya,’Aku katakan dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bahwa beliau melarang yang demikian atau tidak menyukainya dan kamu tetap melemparnya, maka aku tidak akan bicara kepadamu selamanya !”.[37]

 

Atsar Keempat :

 

عَنْ أََبِيْ قَتَادَةَ حَدَّثَ قَالَ كُنَّا عِنْدَ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ فِي رَهْطٍ مِنَّا وَفِينَا بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ فَحَدَّثَنَا عِمْرَانُ يَوْمَئِذٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ قَالَ أَوْ قَالَ الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ فَقَالَ بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ إِنَّا لَنَجِدُ فِي بَعْضِ الْكُتُبِ أَوْ الْحِكْمَةِ أَنَّ مِنْهُ سَكِينَةً وَوَقَارًا لِلَّهِ وَمِنْهُ ضَعْفٌ قَالَ فَغَضِبَ عِمْرَانُ حَتَّى احْمَرَّتَا عَيْنَاهُ وَقَالَ أَلَا أَرَانِي أُحَدِّثُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُعَارِضُ فِيهِ قَالَ فَأَعَادَ عِمْرَانُ الْحَدِيثَ قَالَ فَأَعَادَ بُشَيْرٌ فَغَضِبَ عِمْرَانُ قَالَ فَمَا زِلْنَا نَقُولُ فِيهِ إِنَّهُ مِنَّا يَا أَبَا نُجَيْدٍ إِنَّهُ مِنَّا لَا بَأْسَ بِهِ

Dari Abi Qotadah Tamim bin Nadzir Al’Adawi bahwa ia berkata,”Kami pernah di sisi ‘Imron bin Hushoin dalam satu kelompok manusia dan Busyair bin Ka’ab, lalu ‘Imron menyampaikan hadits, ia berkata, ‘ Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bersabda,’Malu semuanya baik’. Maka Busyair bin Ka’ab berkata,’Kami menemukan pada sebagian kitab bahwa di antara malu ada ketenangan, kewibaan dan di di antaranya ada kelemahan’. Lalu ‘Imron marah sampai memeraha wajahnya dan berkata,’Bukankah aku memperlihatkan pada diriku, aku menyampaikan hadits padamu dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan kamu bantah’. Abu Qotadah berkata,’ ‘Imron mengulang hadits tersebut’. Busyair membantah lagi, ‘Imron marah besar’. Abu Qotadah berkata,’Maka kami tetap mengatakan hai Abu Nujaid (‘Imron), sesungguhnya di antara kami tidak mengapa”.[38]

       Diriwayatkan oleh Muslim juz 2 hal 7, Ahmad juz 4 hal. 436, 440, 442, 445 dan Thoyalisi juz 2 hal. 41).

 

Atsar Kelima :

عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ : قَالَ عُرْوَةُ لِابْنِ عَبَّاسٍ حَتَّى مَتَى تُضِلُّ النَّاسَ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ أَضْلَلْتَ النَّاسَ, قَالَ : وَ مَا ذَاكَ يَا عُرَيَّةُ قَالَ تَأْمُرُنَا بِالْعُمْرَةِ فِي هَؤُلاَءِ الْعَشَرُ وَ لَيْسَتْ فِيْهِنَّ عُمْرَةٌ ! قَالَ : أَوَ لاَ تَسْأَلُ أُمَّكَ عَنْ ذَلِكَ ؟ قاَلَ عُرْوَةُ : فَإِنَّ أَباَ بَكْرٍ ، وَعُمَرَ لَمْ يَفْعَلاَ ذَلِكَ قَالَ ابْنُ عَباَّسٍ : هَذاَ الَّذِيْ أَهْلَكَكُمْ . وَ اللهِ مَا أَرَى إِلاَّ سَيُعَذِّبُكُمْ إِنِّيْ   أُحَدِّثُكُمْ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ تَجِيؤُنِيْ بِأَبِيْ بَكْرٍ ، وَ عُمَرَ ؟

 

Dari Abi Mulaikah bahwa ‘Urwah bin Az Zubair berkata kepada Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ: Kamu menyesatkan banyak manusia. Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَbertanya :’Mengapa hai ‘Urwah ? ‘Urwah menjawab,’Kamu memerintahkan ‘umroh pada sepuluh hari bulan haji padahal tidak ada perintah ‘umroh ! Maka Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَberkata,’Mengapakah kamu tidak bertanya kepada ibumu tentang masalah ini ? ‘Urwah berkata,’Sesungguhnya Abu Bakar dan ‘Umar tidak mengerjakannya’. Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَberkata,’ Inilah yang membinasakan kalian, demi Alloh aku tidak melihat kecuali Ia akan mengazab kalian, aku menyampaikan hadits dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan kalian bantah dengan Abu Bakar dan ‘Umar….”.

 

Diriwayatkan Ahmad juz 1 hal. 337 dan Ishaq bin Rohawaih sebagaimana dalam kitab AlMatholib Al’Aliyyah juz 1 hal. 360 dan padanya terdapat perkataan, نجئيكم برسول الله صلى الله عليه و سلم وَ تَجِيؤُنِيْ بِأَبِيْ بَكْرٍ ، وَ عُمَر ؟َ

“Kami mendatangkan hadits Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan kalian membatahnya dengan Abu Bakar dan ‘Umar ?”

       Diriwayatkan AlKhothib dalam AlFaqih wal Mutafaqih juz 1 hal. 145, Ibnu Hazm dalam Hajjatul Wada’ hal. 268 dan 269 dari jalan-jalan yang sanadnya sampai ke Ibni Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمُاَ dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al’Ilmi wa Fadhlihi juz 2 hal. 239 dan 240.

 

Atsar Keenam :

 

أنا محمد بن أحمد بن رزق ، أنا عثمان بن أحمد الدقاق ، نا محمد بن إسماعيل الرقي ، أنا الربيع بن سليمان ، قال : سمعت الشافعي ، وسأله ، رجل عن مسألة ، فقال : يروى فيها كذا وكذا عن النبي صلى الله عليه وسلم ، فقال له السائل : يا أبا عبد الله تقول به ؟ فرأيت الشافعي أرعد (1) وانتقص ، فقال : « يا هذا ، أي أرض تقلني (2) ، وأي سماء تظلني ، إذا رويت عن النبي صلى الله عليه وسلم حديثا فلم أقل به ؟ نعم على السمع والبصر ، نعم على السمع والبصر »

BerkataAlKhothib AlBaghdadi رَحِمَهُ اللهُ,“Mengabarkan kepada kamiMuhammad bin Ahmad bin Rizq, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Utsman bin Ahmad AdDaqoq, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Isma’il ArRoqi, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami ArRobi ‘ bin Sulaiman, ia berkata, ‘Aku mendengar AsySyafi’i ditanya seorang lelaki tentang satu masalah, lalu beliau berkata, ‘Diriwayatkan pada masalah ini demikian dan demikian dari Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ’. Lelaki itu berkata,‘Hai Abu ‘Abdillah, apa yang anda katakan tentangnya ? Maka aku melihatAsySyafi’i bergetarbadannya karena takutkepada Allohdan bangkit dari duduknya, lalu berkata,’Apa ini, bumi mana yang akan membawaku dan langit mana yang akan menaungikujika aku meriwayatkan dari Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ satu hadits lalu aku tidak berpendapat dengannya ? Ya, atas pendengaran dan penglihatan, ya, atas pendengaran dan penglihatan (wajib menerimanya).

     Dan AlKhothib berkata,”Telah mengabarkan kepada kami ArRobi, ia berkata, aku mendengar AsySyafi’I meriwayatkan satu hadits dan sebagian orang yang hadir berkata kepadanya,’Apakah anda mengambil hadits ini ?’ Maka beliau berkata,’Jika aku meriwayatkan satu hadits yang shohih lalu aku tidak mengambilnya, maka aku mempersaksikan pada kalian bahwa akalku telah hilang’, dan beliau membentangkan kedua tangannya.

     Atsar ini dikeluarkan oleh AlHafidz AlBaihaqi dalam Manaqib AsySyafii juz 1 hal. 474, 475 dan Abu Nu’aim dalam AlHilyah juz 9 hal. 106. Dan AlKhothib telah menyebutkan dalam kitab AlFaqih wal Mutafaqih satu ucapan yang bagus dalam membantah orang yang mengagungkan akal, beliau رَحِمَهُ اللهُ berkata,”Dan demi umurku, sungguh sunnah-sunnah dan sisi-sisi kebenaran banyak datang menyelisihi dan menjauhi akal dengan sangat jauh, maka kaum muslimin haruslah mengikuti dan tunduk kepadanya. Untuk yang semisal ini ahli ilmu dan agama sangat berhati-hati. Lalu kehati-hatian mereka menahan dari mendahulukan akal dan menunjukkan pada mereka atas kebutaan dan hilang akalnya, bahwasanya kebenaran itu datang menyelisihinya dalam banyak sisi, di antaranya :

     Bahwa memotong jemari tangan seperti memotong tangannya dari pundak maka didenda ribu dinar.

     Memotong kaki pada paling sedikit daruratnya seperti memotong kaki dari pangkal pahanya maka dendanya ribu dinar.

     Dua mata jika tercongkel maka keadaan daruratnya seperti bagian tubuh yang dipotong dari ujung telinganya didenda duabelas ribu dinar .

     Dula luka kecil di kepala dendanya duaratus dinar……

     Wanita yang haidl mengqodho puasa tidak mengqodho sholat.

     Maka sisi-sisi manakah dari hukum Islam di atas yang masuk akal ? Namun sunnah-sunnah dari Islam, di mana Alloh menjadikannya sebagai inti dan tiang agama yang dibangun di atasnya Islam dan ucapan mana yang lebih berbahaya daripada apa yang disabdakan Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dalam haji perpisahannya ketika beliau berkhutbah di hadapan ratusan ribu manusia :”Dan sungguh akau tinggalkan kalian wahai manusia, selama kalian berpegang teguh dengan maka kalian tidak akan sesat selamanya, dua perkara di antara kita : kitabulloh dan sunnah nabiNya”, maka Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ mengaitkan di antara keduanya. Demi Alloh, jika kita memungut sunnah-sunnah dari ahli fiqih dan orang-orang yang terpercaya dan mempelajarinya seperti kita mempelajari ayat-ayat AlQur’an. Kita senantiasa menjumpai orang-orang utama dan ahli fiqih dari orang-orang terpilih sangat mencela orang-orang yang suka berdebat dan mendahulukan akalnya, melarang kita bertemu dengan mereka dan bermajlis dengan mereka, memperingatkan kita dengan keras agar menjauhi mereka dan mengabarkan kepada kita bahwa mereka adalah orang-orang sesat, tukang menyimpangkan makna dalil dengan menafsirkan kitabulloh dan sunnah Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dengan kesesatan. Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ tidaklah wafat sampai beliau membenci banyak pertanyaan dan membahas urusan-urusan yang tidak bermanfaat dalam agama hingga ucapan beliau yang menunjukkan ketidaksukaannya : Biarkan aku, apa yang aku tinggalkan pada kalian, sesungguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kalian banyaknya pertanyaan dan penyelisihan terhadap nabi mereka, jika aku larang sesuatu pada kalian maka jauhilah, jika aku perintahkan sesuatu pada kalian maka ambillah darinya semampu kalian”, maka perkara apa yang lebih mencukupi daripada melebihkan akal atas perkataan Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ? Kaum yang dikatakan Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ tidak akan mencapai satu persenpun dari seratus persen pengetahuan syariat yang telah dicapai oleh kaum yang bersama beliau صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ. Bukankah pengikut hawa nafsu atau ahli bid’ah dan orang-orang yang menyelisihi kebenaran binasa dengan sebab perdebatan dan pemikiran mereka ? Maka mereka itu tiap hari di atas agama yang sesat dan kesamaran yang baru, tidak tegak di atas satu agama. Yang paling menakjubkan mereka hanyalah berdebat dan memikirkan selain agama ini. Seandainya mereka berpegang teguh dengan sunnah-sunnah, agama sahabat, mengambil urusan yang diperintahkan dan diridhoi Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan meninggalkan perdebatan pasti hilanglah kesamaran agama mereka. Namun mereka memaksakan diri pada apa yang telah dicukupkan hasilnya dan mereka memikul di atas akal-akal mereka penelitian dalam urusan Alloh yang akal mereka tidak mampu menelaahnya. Dan hak akal adalah mencukupkan diri di bawah syariat Alloh. Maka di sanalah mereka menempatkan diri pada posisi yang sulit. Di manakah ilmu……

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Mereka bertanya kepadamu tentang roh.[39] Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan husus Robbku, dan kamu hanyalah diberi sedikit ilmu Allah “.[40]

 

Alloh telah mengkisahkan Musa yang mencela urusan seorang yang ia jumpai

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آَتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

“Lalu keduanya bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”.[41]

     Lelaki ini melubangi sebuah perahu, membunuh seorang anak kecil dan membangun sebuah dinding sebagaimana yang telah Alloh kisahkan dalam kitabNya, lalu Musa mengingkari perbuatannya, tindakan-tindakan yang terlihat aneh oleh Musa dan diingkari hati dan tidak bisa dicapai oleh pikiran manusia sampai Alloh menyingkapkan rahasianya kepada Musa hingga ia mengetahuinya. Demikianlah syari’at yang datang dari sunnah-sunnah Islam dan syari’at-syari’at agama yang tidak sesuai dengan pikiran dan akal manusia. Seandainya disingkapkan kepada manusia pokok-pokonya pasati ia datang dengan jelas tidak ada kesulitan apa pun seperti perbuatan Khodhir yang diperlihatkan kepada Musa. Sesungguhnya syari’at yang dibawa Muhammad َصلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ mirip apa yang dibawa oleh Musa. Dan tidak ada yang lebih bodoh, sedikit mengenal hak Alloh, rosulNya, cahaya Islam dan keterangannya daripada orang yang mengatakan, aku tidak menerima AsSunnah maupun urusan kaum muslimin yang dahulu (sahabat) sampai tersingkap kepadaku hal ghoib dan aku mengetahui pokok-pokoknya ? Atau ia tidak mengucapkan penolakannya tetapi demikianlah perbuatan dan pikirannya. Padahal Alloh تَعاَلىَ berfirman :

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا 

” Maka demi Rabbmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian hati mereka tidak merasa keberatan[42] terhadap hukum yang kamu putuskan dan mereka menerima dan tunduk secara lahir dan batin”.[43]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Ali Imron :102.

[2] Misal,”Aku meminta atau bertanya kepadamu dengan nama Allah”.

[3] Hubungan kekerabatan yang satu nasab..

[4] AnNisa :1.

[5] AlAhzab :70-71.

[6]. AlAhzab :21.

[7] AlHasyr :7.

[8] AlAhzab :36.

[9] AnNur :63.

[10] Kaos kaki terbuat dari kulit yang menutupi mata kaki – penerj.

[11] Karena ‘Amr bin Syu’aib jika sanad haditsnya benar darinya maka haditsnya hasan. Dan telah benar sanad hadits disandarkan kepadanya.

[12] AsSudi yang lebih tua Ismail bin ‘Abdirrozaq dari perowi Muslim, adapun AsSudi muda cucu dari Ismail namanya Muhammad bin Marwan, ia dituduh pendusta.

[13] Yaitu menyamarkan sanad hadits seolah dari orang yang mendengarnya langsung padahal melalui perantara orang lain atau menyembunyikan orang yang ia ambil riwayatnya dengan memakai nama kunyahnya agar orang tidak mengetahuinya karena ia perowi lemah – penerj.

[14] Paling tidak hadits di atas menunjukkan sunnah memakai sandal dalam sholat demikian juga hadits Abi Sa’id AlKhudri di depan dan hadits-hadits yang lainnya menunjukkan atas sunnahnya memakai sandal dalam sholat. Dan mungkin mengambil dalil bagi tidak disunnahkannya memakai sandal dalam sholat dengan hadits ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya dan Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ berikutnya (dalam Sunan Abi Dawud). Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dengan sanadnya sendiri sampai kepada ‘Abdirrohman bin Abi Laila, berkata,”Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ sholat dengan sandal dan sahahabat sholat dengan sandal, lalu beliau melepas sandalnya maka sahabat melepas sandalnya, ketika akan sholat lagi beliau berkata,’Bagi yang mau sholat dengan sandalnya maka sholatlah dan bagi yang mau melepas sandalnya maka lepaslah”. Al’Iroqi mengatakan,”Ini hadits mursal shohih”. Dan bila dikompromikan antara hadits-hadits bab ini dengan menjadikan hadits ‘Amr bin Syu’aib dan setelahnya sebagai pemaling dari perintah memakai sandal dengan alasan untuk menyelisihi Yahudi, dari wajib kepada sunnah karena memilih dan membiarkan kehendak sahabat setelah adanya perintah tersebut tidak menghilangkan sunnah memakai sandal sebagaimana disebut dalam hadits, ” بَيْن كُلّ أَذَانَيْنِ صَلَاة لِمَنْ شَاءَ ” ‘Di antara dua adzan (adzan dan qomat ) ada sholat bagi yang mau”, dan ini adalah madzhab yang paling adil dan kuat menurutku. (Pensyarah kitab ‘Anul Ma’bud 2/ 173 – penerj )

[15] Yakni sandalnya menjadi di samping kanan temannya. AthThibi berkata,”Ini adalah jawaban larangan meletakkan sandal di samping kirinya bila ada orang lain di samping kirinya sehingga sandalnya di samping kanan temannya (orang lain) dan ini merupakan tindakan tidak sopan. Maka seorang mukmin hendaklah mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya”. (   ‘Aunul Ma’bud 2/17, penerj)

 

[16] Yakni jika di samping kirinya tidak ada orang lain. ( ‘Aunul Ma’bud 2/17, penerj)

 

[17] AlBaghowi berkata dalam Syarhus Sunnahnya,” Kebanyakan ahli ilmu berpendapat sesuai dengan teks hadits ini, mereka mengatakan jika najis mengenai kebanyakan khuf atau sandal digosok dengan tanah sampai hilang mayoritas najisnya maka sandal suci dan boleh sholat dengannya dan ini adalah pendapat Syafii yang lama….( ‘Aunul Ma’bud 1/432 – penerj )

[18] Kotoran apahakah najis atau tidak. ( ‘Aunul Ma’bud 2/171 – penerj )

[19] Imam Shon’ani dalam Subulus Salam berkata,”Dalam hadits ini terdapat dalil atas disyari’atkannya sholat memakai sandal, menggosok sandal dari najis mensucikan dari najis dan kotoran apakah najis yang basah atau kering…..AlKhothobi berkata,”Padanya ada fiqih baha orang yang sholat dan di bajunya ada najis yang tidak ia ketahui maka sholatnya sah cukup dan tidak perlu diulang, mencontoh perbuatan Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ wajib seperti mencontoh ucapan terbukti sahabat ketika meliht Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ melepas sandalnya mereka ikut melepasnya, terdapat ada yaitu seorang yang sholat sendiri dan melepas sandalnya maka ia letakkan di samping kirinya dan jika ia sholat berjama’ah dan di samping kanan kirinya ada orang lain maka ia letakkan sandalnya di di antara kedua kakinya dan gerakan sedikit dalam sholat tidak membatalkannya”. ( ‘Aunul Ma’bud 2/171 – penerj ).

[20] Faidah : dalam catatan kaki kitab Muhalla disebutkan : Thoyalisi, AlHakim dan AlBaihaqi meriwayatkan dari Hammad bin Salamah, dan Abu Dawud meriwayatkannya dari Hammad bin Zaid, menurut pendapat kami ini salah disebabkan mereka bersepakat pada satu perowi yaitu Hammad bin Salamah dan tidak disebutkan Hammad bin Zaid dari Abi Na’amah demikian juga tidak disebutkan riwayat Musa bin Ismail dari Hammad bin Zaid bahkan ia meriwayatkan dari Hammad bin Salamah, mungkin kesalahannya pada Abu Dawud atau perowi-perowi kitabnya. Dan AlHakim telah menshohihkannya sesuai syarat Muslim. Selesai secara ringkas.

[21] Dalam Nailul Author, 2/135.

[22] Dan ia dibawa ke kantor Masjidil Haram dan diadakan perjanjian untuk tidak memakai sandal dalam sholatnya.

[23] Khusyu’ adalah takut dalam hati yang nampak di gerakan dan badan, tenang, menghadirkan hati, merendahkan diri, memperhatikan apa yang diucapkan dan dibaca dan menundukkan pandangan ke arah sujud dalam shalat. Pendapat yang kuat khusyu wajib dalam shalat. (Ibnu Katsir dan Taisir, Fathul Qadir, 1181 alKarimir Rahman, AsSa’dy, 637)

[24] AlMukminun :12.

[25] Yakni masing-masing orang membanggakan keadaan dan bangunan masjidnya, yakni mereka mengatakan,”Masjidku lebih tinggi, indah, luas dan bagus”, mereka riya, sum’ah dan ingin dipuji. Ibnu Ruslan mengatakan,”Hadits ini mu’jizat yang nampak sekali karena berita beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ terhadap apa yang akan terjadi sepeninggalnya. Penghiasan dan pemegahana masjid dengan hiasan dan ukirannya dan pendirian madrasah-madrasah dalam bentuk bangunan yang modern banyak dilakukan oleh para raja dan penguasa di jaman ini di Mesir, Syam dan Baitul Maqdis dengan mengambil harta manusia dengan cara dholim. Kami memohon kepada Alloh kesalamatan dan ampunananNya. (‘Aunul Ma’bud 1/484 – penerj )

[26] AlMunawi berkata dalam Faidhul Qodir,”Manusia berbangga-bangga dalam membangun masjid, mengukir dan menghiasinya seperti perbuatan ahli kitab terhadap gereja mereka. Dan dikatakan, yang dimaksudkan adalah memakmurkannya dengan sholat bukan dengan bangunannya”. Aku (Syaikh Muqbil) katakan ,”Berbangga-bangga (tabaha) mencakup dua hal di atas dan selainnya”.

[27] Dalam Riwayat Malik dalam Muwatho’nya disebutkan hampir-hampir menggangguku. (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 2/78) Jadi gambar-gambarnya belum sampai mengganggu dan melalaikan Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ . – penerj

[28] Sitar tipis dari wol yang berwarna-warni. (Fathul Bari, Ibnu Hajar 2/80).

[29] Hal ini menunjukkan sholat di hadapan kaim bergambar dan berwarna-warna tidak membatalkan sholat karena Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ tidak memutus dan mengulangi sholatnya. (Fathul Bari, Ibnu Hajar 2/80)

[30] Thoha :12.

[31] Abdurrozaq juz 1/hal. 386 dan Ibnu Abi Syaibah juz 2 hal. 418 dan perowi-perowinya perowi kitab Shohih. Bunyi haditsnya adalah :

عَنْ ابنِ مَسْعُوْدٍ أَنَّ أَبَا مُوْسَى أَمَّهُمْ فَخَلَعَ نَعْلَيْهِ ، فَقَالَ لَهُ عَبْدُ اللهِ : لِمَ خَلَعْتَ نَعْلَيْكَ ؟ أَبِا لْوَادِيْ الْمُقَدَّسِ أَنْتَ ؟ “Dari Ibnu Mas’ud رَضِيَ اللهُ عَنْهَُ bahwa Abu Musa AlAsy’ari ketika menjadi imam manusia lalu melepas sandalnya, Ibnu Mas’ud berkata kepadanya, “Mengapa kamu melepas sandalmu ? Apakah kamu berada di lembah yang suci ?” – penerj.

[32] Thoha :12.

[33] Ibnu Bathol berkata,”Padanya terdapat celaan terhadap orang-orang kafir dan orang-orang yang suka meniru-niru ucapan orang-orang kafir, Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ tidak menghukum orang tersebut karena beliau diperintahkan Alloh untuk memaafkan orang-orang bodoh”. Dengan hadits ini sebagian ulama yang membenci sajak dalam berbicara. Padahal tidak secara mutlak sajak dibenci, bahkan dibenci apabila memberat-beratkan diri dalam suasana membela kebenaran. Adapun apabila terjadi tanpa memberat-beratkan diri dalam masalah-masalah yang mubah maka dibolehkan. Dan pada yang demikian dimaknakan kalam Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ yang terkadang bersajak….Wal hasil jika mengumpulkan dua perkara yaitu memberat-beratkan diri dan mengalahkan kebatilan maka tercela, jika mencukupkan diri pada salah satu dari keduanya maka lebih ringan tercelanya. Dan yang tidak termasuk dalam ketercelaan terbagi menjadi empat : terpuji bila terjadi tanpa sengaja dalam membela kebenaran, kurang terpuji jika memberat-beratkan diri dalam membela kebenaran dan selain keduanya tercela. Faidah lainnya wajib diat pada janin meskipun keluar dalam keadaan mati….(Fathul Bari, juz 16 hal. 292)

[34] Showahib, jama’ dari dari shohibah (satu teman), dan yang dimaksudkan bahwa mereka seperti teman-teman Yusuf di dalam menampakkan perbedaan apa yang di batin. Kemudian kata ganti ini (antunna, kalian wahai perempuan-perempuan/istri-istri Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ) meskipun dengan bentuk jamak tapi yang dimaksudkan adalah satu yaitu ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ saja sebagaimana kata Showahib berbentuk jama dan yang dimaksud satu yaitu Zulaikho yang menggoda Yusuf. Dan sisi persamaan di antara keduanya, Zulaikho memanggil wanita-wanita dan menampakkan pemuliaan kepada mereka dengan menjamu mereka tetapi yang ia maksudkan lebih dari itu yaitu agar mereka melihat ketampanan Yusuf dan agar ia diberi maaf dalam mencintai Yusuf, sementara ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَmenampakkan keadaan lahirnya bahwa sebab keinginannya memalingkan keimaman dari ayahnya disebabkan ia tidak bisa memperdengarkan makmum dari bacaannya karena tangisannya waktu sholat, dan yang dimaksud ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ lebih daripada itu yaitu agar manusia tidak merasa sial karenanya. Dan setelah itu ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهاَ dengan terang-terangan berkata, ” لَقَدْ رَاجَعْته وَمَا حَمَلَنِي عَلَى كَثْرَة مُرَاجَعَته إِلَّا أَنَّهُ لَمْ يَقَع فِي قَلْبِي أَنْ يُحِبَّ النَّاس بَعْدَهُ رَجُلًا قَامَ مَقَامَهُ أَبَدًا ” الْحَدِيث “Sungguh aku merayu Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ dan tidak ada yang mendorongku untuk merayu beliau kecuali tidak ada di hatiku kecintaan kepada seorang lelaki setelah Nabi صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ untuk menduduki posisi beliau selamanya”. (Fathul Bari, Ibnu Hajar, juz 2 hal.142. – penerj)

[35] Makna hadits, tercelanya berfatwa dengan kebodohan oleh karena itu mereka disifati dengan sesat dan menyesatkan. Jika tidak, maka akal yang sesuai dengan AsSunnah atau ijma’ maka terpuji dan yang tidak sesuai dengan salah satu dari keduanya maka tercela. (Fathul Bari, Ibnu Hajar, juz 20 hal.363 – penerj)

 

[36] Dibolehkannya menghukum orang yang berpaling dari AsSunnah dan menentang AsSunnah dengan akalnya dan orang tua menghukum anaknya meski sudah dewasa. (Syarah Muslim, Nawawi, juz 2 hal 185 – penerj )

[37] Hadits ini membolehkan memutus hubungan atau mendiamkan dan tidak mau bicara pada orang yang menyelisihi AsSunnah. (Fathul Bari, Ibnu Hajar, juz 15 hal. 412 – – penerj )

[38] Maknanya, di antara kami tidak ada orang yang dicurigai munafik, zindiq, ahli bid’ah atau selain itu dari perbuatan yang menyelisihi orang-orang yang istiqomah. (Syarah Muslim, Nawawi, juz 1 hal 116 – penerj ).

[39] Ruh adalah bahan dasar dan materi jiwa. Jiwa tersusun dari ruh dan badan. Ruh adalah satu bagian jiwa. Ruh yang ditanyakan menurut Ibnu Abbas adalah ruh manusia. Wallahu a’lam – penerj .

[40] AlIsro :85. Artinya ilmumu dibandingkan ilmu Allah sangat sedikit, ruh yang kamu tanyakan termasuk perkara kehususanNya, mahluk ciptaanNya, tidak diberitahukan kepada siapa pun kecuali sedikit. Ayat ini merupakan jawaban yang membungkam terhadap pertanyaan yang tidak bermanfaat dan sebaiknya bagi yang ditanya berpaling dari pertanyaan yang semisal ini kemudian menunjukkan kepada pertanyaan yang lebih penting dan bermanfaat. (Ibnu Katsir dan Taisir AlKarimir Rahman, AsSa’dy, 534 – penerj )

[41] AlKahfi :65. Dialah Khodhir sebagaimana yang disebutkan banyak hadits shahih. Nash-nash menunjukkan ia bukan rasul maupun nabi akan tetapi ia seorang shalih untuk menunjukkan kepada Musa bahwa tidak semua ilmu ia miliki. Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu ghaib yang tidak diketahui manusia bukan ilmu kenabian. (Ibnu al’Utsaimin)

[42] Termasuk sikap keberatan terhadap hukum Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ adalah : merasa berat AlQur’an turun dari sisi Allah عَزَّ وَ جَلّ dan kebenaran dariNya, berat untuk berdalil dengannya, menyatakan bahwa AlQur’an adalah mahluk, meragukan bahwa AlQur’an dapat menjamin keselamatan hidup hamba bahkan hamba masih membutuhkan ilmu-ilmu filsafagt, kias atau politik yang tidak syar’i, berat dilihat dari sisi pendalilannya dan hakikatnya, menginginkan penafsirannya dan mengeluarkannya dari hakikatnya kepada tafsiran yang tidak dibenarkan…..(Ibnul Qayyim AlFawaid, 95 – penerj )

[43] AnNisa :65.

 

 

April 12, 2014 at 3:30 am Leave a comment

Faidah Hadits Arba’in

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Hadits no. 1

1. عَنْ عُمَرَ – رضي الله عنه – ، قال : سَمِعْتُ رَسولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -يقولُ : (( إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ )) . رواهُ البُخاريُّ ومُسلِمٌ .

 

1.Dari Amiril Mukminin Abi Hafshin Umar bin Khothob rodhialloh ‘anhu,berkata,”Aku mendengar rosulallohu ‘alaihi wa sallam berkata,’Sesungguhnya amal-amal seseorang tergantung dengan niatnya, barangsiapa hijrahnya kepada Alloh dan rosulNya maka hijrahnya kepada Alloh dan rosulNya dan barangsiapa hijrohnya kepada dunia dan wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan”. (HR.Bukhori dan Muslim).[1]

 

[1] FAIDAH : Pentingnya niat yang baik dan besar keutamaannya di mana seluruh amalan perputarannya di atas niat, manusia berbeda-beda dalam diterima dan ditolak amalannya sesuai dengan perbedaan niatnya, perputaran pahala di sisi Alloh terikat dengan niat-niat tidak sekedar amalan dari sini amalan orang munafik tidak bermanfaat karena tidak ada niat yang lurus, faidah niat dilihat dari sisi amalan yaitu membedakan antara ibadah dan kebiasaan, antara satu ibadh dengan ibadah lainnya dan maksud amalan apakah untuk Alloh atau bukan, dengan niat yang lurus amal-amal mubah berubah menjadi sunnah, hadits menunjukkan wajibnya terus menerus memperbaharui dan memperhatikan niat, niat yang lurus haruslah disertai dengan petunjuk Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam, termasuk cara mengajar adalah menyebutkan kaidah kemudianmenjelaskannya, terkadang amal besar menjadi kecil karena niat yang jelek, perkara yang paling melalaikan adalah dunia dan yang paling mengurangi agama adalah syahwat, oleh karena itu Nabi menghususkan dalam menyebutkannya, was-was dan betikan-betikan hati tidak mempengaruhi niat.

April 12, 2014 at 3:15 am Leave a comment

Older Posts


Insya Allah,segera terbit..!

Arsip

Blog Stats

  • 15,038 klik
Yang sedang online:
counter
Jumlah pengunjung:
wordpress hit counter sejak Maret 2009
Tentang Anda:
IP Anda

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.